Fake Love

Fake Love
Menolak Tawaran


__ADS_3

Sandra hanya bisa diam selama perjalanan Jakarta- Bandung.


Begitu juga dengan Tuan Braja. Mereka sama-sama dengan pemikirannya masing-masing.


'Apa yang terjadi sebenarnya dengan Sandra. Pria brengksek mana yang sudah melakukan ini kepadanya? Apa karena kehamilan yang ini dia kabur ke kampung Marundu untuk menghindar dari masalahnya. Tapi sepertinya Sandra juga baru tahu mengenai kehamilannya ini. Andai saja dia mau membuka hati untukku. Aku mau bertanggung jawab atas kehamiannya.'


Batin Tuan Braja yang sesekali menoleh kearah Sandra.


Wanita itu termenung menatap ke luar jendela mobil. Sangat terlihat jelas kesedihan di wajahnya.


Tuan Braja tidak berani banyak bertanya. Dirinya cukup terkejut dengan pernyataan dokter klinik yang menyatakan bahwa Sandra sedang hamil muda.


Baru saja tadi pagi wanita itu memberi lampu hijau padanya. Dan saat ini kenyataannya dia telah berbadan dua.


"Jangan terlalu banyak berpikir. Kasihan bayi yang ada dalam kandunganmu. Stress tidak baik untuk perkembangannya. Saya tidak akan banyak bicara masalah kehamilanmu kepada siapapun. Sebab saya tidak tahu apa yang terjadi padamu. Maaf bukannya saya memaksa tapi kamu harus pikirkan ini untuk kedepannya. Semakin lama kandungan mu semakin besar, orang pasti bertanya-tanya siapa ayah dari bayi yang kamu kandung," ucap Tuan Braja menasihat Sandea serius.


Tidak ada tanggapan dari Sandra. Wanita itu masih saja bergeming. Tetapi ia mencerna setiap perkataan Tuan Braja.


"Sand," panggil Tuan Braja membuat pandangan mereka bertemu. "Saya ijinkan saya memberi solusi atas apa yang kamu hadapai saat ini," ucapnya.


"Apa, Pak?" Sandra akhirnya mau bersuara. Mungkin berbicara dengan Tuan Braja bisa meringankan beban pikiranya.


Ia sadar setiap ucapan yang Tuan Braja katakan tadi semuanya benar. Sandra sangat bingung harus berbuat apa. Wanita itu sudah nyaman tinggal di Kampung Merundu.


Berada di sana membuat hati dan pikirannya tenang. Tapi semenjak mendengar kondisi kehamilannua saat ini. Suasana hati Sandra kembali kalut.


Hal yang sangat ia pikirkan adalah Bara. Pria itu sama sekali tidak peduli denganya. Janin yang ada dalam rahimnua saat ini adalah darah dagingnya. Akankah Sandra meminta pertanggungjawabannya atau membesarkan bagi itu seorang diri.


Sempat berpikir untuk menggugurkan kandungannya. Tapi Sandra ingat dirinya sudah terlalu banyak dosa. Ia tidak mau menambah dosa lagi dalam hidupnya.


"Jika kamu menyetujui, aku akan bertanggung jawab atas dirimu! menikahimu dan mengakui anak itu sebagai keturunanku jika pria yang sudah menghampirimu tidak kunjung datang untuk bertanggung jawab," ucapannya sontak membuat Sandra menatap Tuan Braja tak percaya.


Pria di hadapannya itu ingin bertanggung jawab atas apa yang tidak ia perbuat. Sandra tahu, saat ini perasaan Tuan Braja tertuju kepadanya. Berusaha mengambil hati dan membuat Sandra bersandar kepadanya, tapi apa Tuan Braja serius akan menerima dan mengakui bayi ini setelah dia lahir nanti.


Sandra tidak bisa menjawabnya.


"Saya berbicara seperti ini salah satunya untuk menghindari gunjingan warga terhadap kamu dan saya. Kita sering bersama selama ini. Mendiskusikan perkembangan peternakan greenfills juga membahas beberapa hal untuk di promosikan yang mengahabksakan waktu berjam-jam dan itu kita lakukan berdua." Tuan Braja terdiam sejenak. "Saya tidak mau jika warga berpikir negatif yang akan berakibat pada kesehatan Ibu."


Sandra membenarkan ucapan Tuan Braja. Pria itu pasti sangat berhati-hati dengan kesehatan ibunya.


Tuan Braja menduga Sandra pasti akan memikirkan ucapannya. Dalam hatinya, Tuan Braja merasa senang meskipun memanfaatkan keadaan ia bisa mendapatkan wanita yang telah membuka hatinya lagi dengan cara menikahinya, selagi usia kandungannya masih muda. Warga tidak akan pernah tahu jika itu bukanlah anak darinya.


Tidak ada jawaban apapun dari Sandra. Wanita itu masih diam tak bersuara. Semua ini terlalu membuatnya terkejut.


Tak terasa mereka berdua sampai di Kampung Merundu. Suasana kampung sudah sangat gelap hanya lampu kecil berwarna kuning temaram yang menyinari jalanan. Beruntung jalan menuju desa tersebut sudah aspal semua. Jadi tidak ada kendala dalam perjalanan. Hanya saja Tuan Braha harus berhati-hati saat melewati jalanan takut mobil yang mereka kendarai masuk ke dalam selokan air.


Sepi, tidak ada warga yang berlalu lalang seperti pagi hingga sore hari. Usai maghrib jarang ada warga yang keluar rumah. Semua warga sudah berada di dalam rumah mereka masing-masing.

__ADS_1


Sandra mengusap tangannya. Udara di kampung itu sangat dingin menyentuh kulit. Tidur saja tidak perlu memakai AC.


Tuan Braja memperhatikan Sandra. Ia meraih jaket yang ada bangku belakang.


"Pakai ini!" Disodorkannya jaket tersebut kepada Sandra. Wanita itu tidak langsung menerimanya.


Tuan Braja sangat memahami apa yang Sandra rasakan. "Mulai sekarang kamu harus lebih memikirkan kesehatanmu, ada nyawa yang harus kamu jaga. Meskipun keberadaanya tidak diharapkan tapi dia tidak berdosa. Ijinkan dia tumbuh!" ucapan Tuan Braja sontak membuat Sandra menatapnya.


Perkataan bijak dan menenangkan. Di saat kalut seperti ini Sandra beruntung mendapatkan teman bicara seperti Tuan Braja.


"Terima kasih, Pak!" Sandra menerima laku memakai jaket tersebut.


***


Sandra termenung memikir ucapan Tuan Braja kepadanya. Saat ini memang Sandra belum memberikan jawaban. Tapi cepat atau lambat ia harus membuat keputusan.


Hoodie warna hitam yang tergantung di depan lemarinya membuat Sandra kembali teringat dengan pemiliknya. Pria yang telah menanamkan benih pada rahimnya.


Apa yang hari aku lakukan?


Apa aku harus menutupi keberadaanmu dari dia atau memberitahu nya.


Entah mengapa perlahan hati ini menerima keberadaan mu, Nak!


Sandra mengelus pelan perutnya yang masih rata. Lalu meraih hoodie yang menjadi teman di setiap tidurnya.


Sandra menatap dirinya sendiri di depan cermin.


Mama akan mempertahankan dirimu, Nak


Kita berjuang bersama. Mama sudah putuskan tidak akan membiarkan seseorang terlibat hanya untuk menyelamatkan Mama dari gunjingan orang lain.


Jadilah penguat untuk Mama.


Sandra sudah mengambil keputusan, ia akan menolak tawaran dari Tuan Braja. Rasanya tidak adil jika dia yang harus bertanggung jawab.


Meski suatu saat nanti harus mendapat cibiran dan gunjingan dari warga ia sudah siap menanggung resikonya.


Tok... tok... tok...


Ketukan pintu membuyarkan lamunan Sandra. Ia lekas bergegas keluar untuk membuka pintu.


Rumah kontrakan Sandra bersebelahan dengan rumah Pak Budi. Awalnya Sandra memang tinggal di sana. Itupun hanya beberapa hari saja karena Sandra merasa tidak enak hati dengan anak gadis Pak budi yang umurnya berbeda enam tahun darinya. Rara, putri dari Pak Budi selalu merasa kalau Bu Mirna selalu membedakan mereka.


Sandra pasti akan mendapatkan perhatian dengan disiapkan makanan setelah pulang bekerja sedangkan Rara, tidak.


Wajar saja sikap Bu Mirna berbeda. Sandra yang bukan siapa-siapa mereka selalu memberikan sedikit dari gajinya untuk Bu Mirna sedangkan Rara, hanya bisa minta tanpa mau bekerja. Tapi gaya dan style yang ia pikirkan.

__ADS_1


Seperti malam ini, Bu Mirna mengantarkan makanan ke rumah kontrakan Sandra. Kontrakan tiga petak hanya terdiri dari ruang tamu, kamar, dapur dan kamar mandi. Itu sudah sangat cukup bagi Sandra.


"Sandra...," panggil Bu Mirna setelah ketukan pintu yang kedua kalinya.


"Iya, Bu, sebentar!" ucap Sandra yang bergegas membuka pintu.


Krekk....


Sandra mencium aroma sop ayam saat pintu terbuka membuat perutnya yang memang belum makan mendadak minta di isi.


"Hmm... Wangi sekali, Bu! Sandra jadi laper nyium wangi masakan Ibu." Sandra membuka lebar pintu kontrakannya, Bu Mirna lekas masuk ke dalamnya.


"Ya, makan kalau laper! Ibu 'kan sengaja bawain sayur sop ayam ini buat kamu! Tadi Ibu dengar suara mobil berhenti, pasti itu mobil Tuan Braja. Ibu kira dia mau mampir dulu ke sini. Mau Ibu ajak makan dulu, eh... Taunya langsung pulang." Bu Mirna terlihat kecewa. Pasalnya dia sangat berharap bisa mengobrol dengan Tuan Braja. Bu Mirna ingin menjodoh-jodohkan Sandra dengan duda kaya di kampungnya itu.


Sandra tersenyum kecil saat mendengar dugaan Bu Mirna, lekas Sandra masuk ke arah dapur untuk mengambil piring dan nasi yang sudah ia masak tadi pagi di mejikom. Masih hangat dan utuh karena belum ada yang menyentuhnya.


Sayur sop yang dibawa Bu Mirna diletakkan di atas karpet yang sengaja Sandra gelar di ruang tamu. Tak ada sofa di sana. Maklum belum sebulan ngontrak jadi belum ada banyak barang di kontrakan itu.


Hanya ada karpet, mejikom, kasur busa yang ukurannya muat untuk satu orang saja dan beberapa peralatan makan dan masak yang Sandra punya. Itupun baru ia beli dari upah yang belum lama ia dapat dari Tuan Braja.


"Tidak enak Bu, sudah malam juga. Apa kata warga nantinya kalau Tuan Braja masih berada di sini."


"Warga tidak akan ngmong apa-apa kan ada ibu yang menemani kalian di sini. Jadi tidak hanya berdua. Kamu ini cocok dengan dia Sand! Kalian sama-sama sendiri. Tidak ada salahnya 'kan kalau kalian itu jadian."


Sandra menggelengkan kepala pelan.


"Kami tidak cocok, Bu!"


"Kata siapa?" tanya Bu Mirna.


"Kata aku, Bu!" sahut Sandra sambil menyiuk sayur sop ke dalam piringnya. Meski hanya makan dengan sayur sop, rasanya nikmat.


"Kalian cocok, percaya deh sama Ibu!"


Sandra hanya bisa tersenyum mendengar ocehan Bu Mirna. Di balik jendela yang tertutup tirai. Seorang wanita muda dengan paras cantik mendengarkan obrolan mereka.


Aura wajahnya terlihat memendam rasa kesal mendengar ucapan Bu Mirna.


"Ibu kenapa sih, selalu mengojok-ngojik Sandra kepada Tuan Braja. Kenapa tidak aku saja. Aku juga mau jadi istri dia, meskipun umurnya terpaut jauh. Tapi parasnya terlihat muda, duitnya banyak. Ibu ini nyebelin banget, gak peka sama keinginan anaknya!" gerutu Rara kesal seraya menghentakkan kaki ke tanah, lalu berbalik ke rumahnya.


.


.


.


Baca kelanjutan cerita nya ya.

__ADS_1


jangan lupa like dan komen.


__ADS_2