Fake Love

Fake Love
Berbagi Sakit Dan Sedih


__ADS_3

"Kenapa dia cuek banget begitu, biasanya juga senyum meski senyumnya tipis. Apa dia marah?" Tuan Wijaya bertanya-tanya dalam hati.


Zainab terus berjalan melewati Tuan Wijaya. Ayah Zaki sempat menegur Zainab. wanita itu hanya mengangguk pelan tanpa menatap siapa yang menegurnya. Setelah tak terlihat lagi, Zainab baru menoleh ke belakang. Wanita itu tersenyum miris. Ia sadar dirinya siapa.


"Gar," panggil Ayah Zaki membuyarkan lamunannya. "Ayo, Oma sudah menunggu!"


"Oh, iya." Tuan Wijaya mempercepat langkahnya menyusul Oma Ratih dan Kartika.


Ayah Zaki terbiasa memanggil Tuan Wijaya dengan sebutan Gar. Diambil dari nama lengkap Tuan Wijaya adalah Anggara Wijaya.


Tuan Wijaya meninggalkan kediaman Ayah Zaki dengan perasaan mengganjal di hatinya. Semuanya memberikan lambaian tangan melepas kepulangan mereka.


Bu Winda dan Ayah Zaki mengajak Aline untuk segera beristirahat. Karena ada Galen bersama Aline, Bu Winda tidak membantu putrinya. Biarlah Galen yang menemani dia saat ini. Membebaskan pasangan yang sudah halal tersebut.


"Aku bantu, Yang!" Galen perlahan membantu Aline berjalan di beberapa anak tangga. Gadis cantik itu telah menganti pakaian nikahnya dengan gaun biasa yang tertutup.


Perlahan Aline mulai bisa menerima sentuhan dari Galen. Meski awalnya terlihat ragu, tapi Galen terus berusaha meyakinkan Aline. Mereka berdua berjalan beriringan memasuki rumah.


"Permisi, Tuan!" panggil Aldo saat Galen hendak melewati pintu depan.


Keduanya menghentikan langkah.


"Ya, Do." Galen sedikit memutar tubuhnya menghadap Aldo.


"Ini titipan dari Tuan Bara! Tadi asistennya datang untuk memberikan ini kepada Anda." Aldo lekas menyodorkan sebuah amplop ke hadapan Galen.


Galen menerimanya, lalu beralih menatap Aline. "Tunggu sebentar," titahnya pada Aline. Gadis cantik itu mengangguk pelan, setia berdiri menunggu Galen melihat isi amplop tersebut.


"Cih, dia kira aku tidak bisa membeli tiket berlibur ke sana. Bahkan ke Maldives, aslinya pun aku sanggup," decak Galen saat melihat isi dalam amplop tersebut segera ia memasukan kembali tiket liburan ke tempat liburan yang banyak di sebut Maldives khas Indonesia ke dalam amplop.


"Tapi, boleh juga sih, sebelum yang jauh kita coba yang dekat dulu." Galen tersenyum penuh arti sambil menatap Aline yang berdiri di sampingnya.


Untung saja gadis itu tidak memperhatikan Galen. Dimasukkannya ampop tersebut ke dalam saku jas nya. Lalu melanjutkan langkahnha untuk pergi beristirahat.


Aldo pun pamit pulang, karena tugasnya sudah selesai. Esok hari asistennya itu harus bersiap untuk bekerja extra karena Galen sudah mendapatkan jadwal cutinya selama seminggu lebih.


Dalam waktu singkat keadaan rumah Aline sudah kembali bersih seperti semula. Tak sia-sia kedua asisten itu bekerja. Ternyata semuanya sudah terurua dengan baik dan tepat waktu.


"Yang, tolong siapkan baju gantiku. ada di koper itu." Galen menunjuk koper yang berada di sudut kamar.


Perlengkapan beberapa pakaian untuk tinggal di rumah Aline sudah di siapkan dengan baik oleh asisten rumah tangga Galen itu pun sesuai perintah Oma Ratih.


"Ya," jawab Aline singkat.


Lekas pria yang kini telah resmi menyandang status sebagai suaminya itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Aline pun segera menyiapkan keperluan Galen.


Tak lama Galen selesai membersihkan diri. Pria tampan itu hanya keluar menggunakan handuk setengah pinggangnya. Menampilkan bentuk tubuh yang bagitu mencemari pemandangan Aline. Ada rasa kagum tapi takut saat melihatnya. Gadis itu tertunduk saat Galen mendekat padanya.

__ADS_1


"Terima kasih," seru Galen sambil menyambar pelan baju yang berada di tangan Aline.


Aline menunduk tak berani menatap Galen.


"Kamu tidak mau mandi, Yang?"


Aline mendongak lalu mengangguk pelan. "Ya," jawabnya gugup. Gadis itu segera memasuki kamar mandi,melewati Galen yang menghalangi jalannya. Gadis itu lupa membawa handuk yang biasa ia pakai. Karena handuk itu terlihat masih tergantung di jemuran khusus handuk di kamar itu.


Galen tersenyum melihat sikap gugup Aline.


Setelah memakai baju santainya. Galen mengetuk pintu kamar mandi, memberitahu Aline kalau dia mau ke bawah.


"Sayang... aku mau ke dapur, kamu mau ku buatkan teh, sekalian?" Galen sedikit berteriak agar Aline mendengar.


"Apa tidak merepotkanmu?"


Galen tersenyum tipis. "Tidak, Sayang."


"Kalau boleh, aku minta teh jahe hangat," seru Aline.


"Ok. Oh, ya jangan terlalu lama di kamar mandi, nanti kedinginan. Kamu bisa masuk angin, nanti!" Galen memperingatkan.


"Hm," jawaban pelan tapi masih terdengar oleh Galen.


"Aku tahu, kenapa kamu begitu lama di dalam sana, Sayang! kamu pasti takut. Aku tidak boleh terburu-buru. Aline pasti masih merasakan traumanya." gumam Galen saat hendak meninggalkan Aline di kamar.


Pria itu lekas bergegas ke lantai bawah. berjalan ke arah dapur.


"Belum tidur, Tan" sapa Galen saat Zainab hendak kembali ke kamar dengan satu botol air dingin yang ia ambil di dalam kulkas.


"E-eh, Galen. Belum, ini ambil minum dulu." Zainab menunjukan botol di tangan kanannya. "Kamu sendiri kenapa belum istirahat?" tanyanya balik.


"Saya mau membuatkan teh jahe hangat dulu untuk Aline." Galen lekas mencari gelas dan teh agar segera ia buat. "Tan... Apa bisa bantu saya?"


Zainab mengangguk. Janda itu mengurungkan niatnya kembali ke kamar. Zainab segera membantu Galen yang memang tak tahu cara membuatkan teh jahe hangat. Yang ia tahu hanya membuat teh manis saja.


Setelah teh jahe hangat jadi, tak lupa Galen membawa air putih untuknya sendiri.


Aline terkejut saat Galen membuka pintu kamarnya. Gadis itu telah rapi dengan piyama tidurnya.


Ada kecanggungan dalam diri Aline. Berada dalam satu kamar bersama pria yang selama ini dicintainya itu.


"Ini minuman yang kamu minta, Sayang." Galen meletakkan dua gelas di atas nakas. lalu memberikan satu gelas berisi teh jahe hangat kepada Aline.


"Terima kasih," Gelas itu beralih ke tangan Aline. Perlahan ia hirup kepulan asap beraroma jahe yang menguar dalam teh tersebut. Wangi dan terasa hangat.


"Hati-hati masih panas! Duduklah!" Galen menuntun Aline agar duduk di pinggiran tempat tidur. Pria itu juga ikut duduk bersama Aline.


Aline mengangguk dan mengulas senyum, di ikutinya perintah suaminya itu. Meski ada perasaan takut, tapi Aline meyakinkan dirinya kalau pria yang saat ini bersamanya adalah Galen. Orang yang akan selalu melindungi dirinya. Perlahan Aline meniup teh agar panasnya sedikit berkurang. Ia sesap sedikit demi sedikit minuman hangat itu.

__ADS_1


Nikmat, manis dan sangat berasa aroma jahenya. Membuat perutnya yang tengah sakit karena menstruasi sedikit berkurang.


"Apa terlalu panas, airnya?" tanya Galen saat Aline terus meniup-niup teh yang ia pegang.


Aline mengeleng. "Tidak, lebih enak seperti ini, kalau airnya terlalu dingin jadi kurang berasa jahenya." Aline kembali menyeruput teh miliknya.


Tatapan Galen tak lepas sedikitpun dari Aline.


"Kenapa liatin terus?" Aline bertanya tanpa menatap Galen.


Galen tertawa pelan, merasa lucu telah tertangkap basah saat memperhatikan Aline. Galen mengambil alih gelas yang Aline tangkup dengan kedua tangannya. Kini gelas berisi teh jahe hangat itu sudah tersimpan di atas nakas.


Diraihnya kedua tangan Aline. Hangat yang tertinggal masih terasa di telapak tangan wanita yang amat dicintainya itu. di genggamnya erat tangan tersebut. Aline mendongak, tatapan mereka bertemu.


Sesaat keduanya saling menatap saling mendalami arti tatapan masing-masing.


Aline melihat rasa pancaran bahagian di mata Galen. Ketulusan dan cinta memang selalu terpancar di mata elang suaminya itu. Rasa bersalah kembali hadir dalam diri Aline. Lekas ia memutus pandangan itu. Ditundukkannya wajah manis itu.


"Apa salah aku memperhatikan istriku sendiri. Wanita yang selama ini aku harapkan telah sah menjadi miikku." Galen meraih dagu Aline agar kembali menatapnya.


"Maaf kalau kamu akan kecewa dengan kondisi ku," Mata Aline sudah berkaca-kaca saat berucap.


Lekas Galen menarik Aline ke dalam rengkuhan pelukannya. Dipeluknya erat tubuh langsing wanita itu. Pria yang kini sah menjadi suami Aline pun merasakan apa yang Aline rasakan saat ini.


Galen tak pernah mempermasalahkannya kondisi fisik Aline usai kejadian itu. Tapi Galen merasa dirinya juga ikut bersalah dengan apa yang menimpa Aline.


"Sshh... " lirih Aline sast Galen terlalu erat memeluknya.


"Maaf.... Maaf!" Galen meregangkan pelukannya. "Yang mana yang masih terasa sakit?" Galen hendak menyentuh tubuh Aline, Tapi cepat Aline mencegahnya. Rasanya malu harus mengungkapkan rasa nyeri itu masih terasa di bagian beberapa tanda merah yang mulai memudar itu. Tanda yang di tinggalkan Ferdi, pria brengksek yang sudah mendekam di penjara itu.


Galen paham Aline malu terhadapnya. Tangan Galen beralih pada kedua bahu Aline lalu menangkupnya. "Tolong, jangan pernah menutupi kesakitan yang kamu rasakan. Berbagilah dengan ku dengan segala sakit dan sedih yang ada." Galen menelisik penuh harap sambil menatap Aline.


Gadis itu mengangguk pelan sambil perlahan menutup mata.


Galen mendekati Aline, tangannya berpindah pada tengkuk leher menariknya pelan agar sama-sama mendekatkan wajah mereka.


.


.


.


.


.


Bersambung


Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para readers yang selalu kasih like dan dukungannya.

__ADS_1


komen-komenlah, nge bala in komen komentar.. biar keliatan rame.... ๐Ÿ˜๐Ÿ˜†


__ADS_2