
Hampir setengah jam Aline berada di kamar mandi. Gadis itu terisak dalam diam. Meratapi nasibnya yang hancur berantakan dalam semalam.
Aline memandangi wajahnya sendiri di cermin. Pantulan tubuh setengah badannya, ia pandangi tanpa kedip. Ia melihat banyak tanda merah di tubuhnya. Kulit putih Aline membuat tanda itu makin terlihat jelas.
Sekelebat bayangan kejadian malam itu kembali muncul dalam benak Aline. Bagaimana Ferdi menjamah tubuhnya, menciumi setiap bagian tubuh itu.
Dengan ganasnya pria brengsek itu memainkan dan menghisap dua gunung sintal miliknya, memainkan jemarinya di tempat paling berharga untuk seorang perempuan.
Aline tak bisa melawan saat itu. Bahkan untuk berteriak saja ia tidak bisa, mulutnya yang di sumpal kain dengan kaki dan tangan yang terikat di ujung tempat tidur. Membuat gadis itu tidak bisa memberontak.
Aline membuka paksa baju pasien yang ia pakai saat ini. Rasa sesal, jijik pada tubuhnya sendiri ia rasakan. Melihat beberapa tanda merah keunguan yang ada di tubuhnya membuat Aline ingin menghapusnya.
"Tubuh ini kotor." Aline menyalakan shower yang ada di kamar mandi itu, membasahi tubuhnya tanpa membuka celana dan penutup dadanya.
Melihat bekas tanda merah di dada dan sekitar lehernya, Aline dengan sekuat tenaga menggosok-gosok tanda merah tersebut sehingga membuat kulitnya lecet.
"Semua harus hilang, aku jijik dengan tanda ini, semua mengingatkan ku dengan pria itu." Aline terus mengoceh dengan derai air mata yang terus mengalir. Ia kembali menggosok semua tanda merah dengan tangannya secara kasar, sesekali ia mulai tubuhnya dengan kuku panjangnya.
Dengan isak tangis dan air mata yang terus membasahi pipi bersatu dengan guyuran air yang turun dari shower membuat tubuh Aline merosot bersimpuh di lantai kamar mandi.
Gadis itu menekuk kedua kakinya. "Kamu wanita kotor, gak pantas untuk Galen," cemoohnya pada diri sendiri dengan isak tangis yang membuat napasnya sesak, Aline mengusap wajahnya di bawah kucuran air.
Tubuh Aline terasa perih di beberapa bagian, gosokan yang ia berikan terlalu kencang. Goresan bekas kuku juga terlihat dan membekas di kulit putihnya.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Aline.
"Neng, udah kelar belum mandinya?" teriak Zainab dari luar kamar mandi.
"Belum, Teh!" jawab Aline agar tidak membuat Zainab cemas. Ia teringat Ibunya yang sedang beristirahat.
Ingin menjerit mengeluarkan sesak di dadanya, tapi Aline tak sanggup. Ia hanya menutup mulut, sesekali meukul dada agar sesak itu sedikit berkurang.
Aline menelungkupkan kepala di atas kedua lutut yang ditekuknya. Gemericik air yang keluar dari shower masih terus berjatuhan membasahi tubuh Aline.
Kini, Aline sudah tidak menangis lagi, isak tangisnya sudah mereda.
Hampir satu jam Aline berasa di kamar mandi. Zainab yang menunggu di luar, terlihat begitu cemas. Dua kali mengetuk pintu kamar mandi Aline hanya menjawab belum selesai.
Tapi rasa khawatir makin terus melanda Zainab. Takut terjadi sesuatu kepada Aline.
Wanita itu mencoba menempelkan telinganya di daun pintu kamar mandi. Dengan pelan, Zainab mengetuk kembali pintu itu, tetapi tidak ada jawaban.
Hanya terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi tersebut.
Bu Winda terbangun mendengar kegaduhan yang di buat Zainab. Suara ketukan itu mengusik tidurnya.
__ADS_1
"Kenapa, Nab?" tanya Bu Winda kepada Zainab. Melihat saudara seibunya itu mondar-mandir di depan kamar mandi membuat Bu Winda curiga.
"Sudah satu jam Aline berada di kamar mandi, terakhir kali aku ketuk masih ada jawaban. Tapi tadi kucoba tak ada respon lagi," ujar Zainab.
Bu Winda lekas berdiri lalu mendekat ke pintu kamar mandi, menempelkan telinganya di sana. Bu Winda pun hanya mendengar gemericik air dari dalam sana.
"Apa dari tadi tidak ada jawaban?" tanya Bu Winda dengan nada cemas.
"Setengah jam yang lalu Aline menjawab, tapi ini sudah hampir satu jam. Aku sudah ketuk beberapa kali tak ada respon untuk yang terakhir ini!" ujar Zainab.
Penjelasan Zainab makin membuat Bu Winda khawatir.
Bu Winda mengerutkan Alis. Dengan pelan Ia juga mencoba mengetuk pintu tersebut. "Aline, Sayang! buka pintunya, Nak! ini ibu, kamu baik-baik saja di dalam 'kan? Aline... " teriak Bu Winda setelah mengetuk pintu kamar mandi, sambil mencoba membuka gagang pintu itu.
Tak ada jawaban. Pintu terkunci dari dalam. Bu Winda dan Zainab makin khawatir dengan kondisi Aline di kamar mandi.
"Aline, Sayang, dengarkan Ibu! Jangan berbuat sesuatu yang merugikan diri sendiri. Ibu dan Ayah sayang sama kamu. Aline...," ucap Bu Winda sambil menggedor pintu kamar mandi, ia merapatkan tubuhnha bersandar pada daun pintu tersebut.
Ceklek...
Pintu ruangan terbuka oleh seseorang, Bu Winda dan Zainab menoleh ke arah yang sama. Ternyata Galen yang memasuki ruangan itu.
Dengan langkah cepat Galen menghampiri keduanya. "Ada apa, Bu?" tanya Galen heran melihat keduanya menunjukkan wajah cemas.
"Dari jam dua tadi, Aline berada di dalam! sampai sekarang belum keluar. Tante sudah mengetuk pintu, awalnya menjawab. Tapi untuk yang sekarang tak ada jawaban," jawab Zainab, Bu Winda hanya diam saja sambil terisak.
"Nak..., Buka pintunya!" bujuk Bu Winda.
"Permisi, Bu! biar saya coba bujuk Aline."
Bu Winda mundur, bergantian Galen yang berada di depan pintu.
"Sayang... ini aku! kamu dengar?" Galen menggedor pelan daun pintu kamar mandi.
Aline mendongak saat mendengar suara Galen. Tubuhnya sudah menggigil saat ini. Hampir satu jam lebih, gadis itu memeluk tubuhnya sendiri. Air yang masih mengalir dari shower masih terus membasahi tubuhnya. Rasa perih akibat gosokan dan bekas cakaran kukunya di kulit putihnya tidak ia hiraukan.
"Galen... " ucap Aline pelan. Ia ingin bangkit berdiri, tapi ia urungkan saat melihat tanda merah di lengan kanannya.
Menganggap dirinya kotor dan tak pantas untuk Galen kembali terbayang.
"Pergi... " teriak Aline.
Mendengar respon dari Aline. Bu Winda lekas mendekat kembali ke depan pintu.
Berdiri bersisian dengan Galen. "Nak, kamu baik-baik saja? Keluarlah, Sayang!" Bu Winda sambil menangis membujuk Aline.
"Suruh Galen pergi dari sini, Bu! Aku tidak pantas untuknya, aku kotor, aku sudah ternoda ibu. Tolong, Bu!" jerit Aline dengan Isak tangis sangat terdengar dari luar.
__ADS_1
Bu Winda menatap Galen. Pria itu menggeleng lemah, seakan tidak menyetujui permintaan Aline
"Sayang... dengar aku! aku akan selalu ada buat kamu dalam keadaan apapun, aku yang bersalah, aku yang menyebabkan semua ini terjadi. Andai saja aku tidak mengajakmu bertemu, kejadian ini tidak mungkin kamu alami, Sayang!" Galen menggedor pelan daun pintu itu.
Aline menggelengkan kepalanya, lalu menjambak rambutnya yang basah oleh air yang masih berjatuhan dari shower.
"Aargghh..... " Aline menjerit histeris.
Galen, Bu Winda dan Zainab yang mendengar jeritan itu makin khawatir dengan keadaan Aline.
"Sayang .... "
"Aline ...."
Semuanya bersamaan memanggil Aline.
Ayah Zaki, dan Tuan Wijaya tergesa memasuki ruangan. Zainab yang sudah menghubungi nya, memberitahu kondisi Aline saat ini.
Keduanya menghampiri Galen dan Bu Winda. Saat itu Galen terlihat mundur beberapa langkah dari pintu, hendak mendobrak pintu kamar mandi itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Ayah Zaki entah kepada siapa dia bertanya.
"Minggir dulu, Yah. Galen mau mendobrak pintunya. Aline ada di dalam dari tadi," masih dengan air mata yang membasahi pipi Bu Winda menarik tubuh suaminya agar tidak menghalangi Galen.
Galen mulai ancang-ancang mengumpulkan tenaga untuk mendobrak pintu.
Brakkk....
Pintu kamar mandi terbuka.
Ukuran kamar mandi di kamar VVIP itu termasuk luas. Sehingga Galen harus masuk dulu ke dalam untuk memastikan kondisi Aline.
"Sayang ....!"
.
.
.
.
Bersambung>>>>
Kenapa buat part ini, Author agak nyesek ya, ngebayangin berada di posisi Aline kayak gimana., ๐ญ๐ญ
Terima kasih kalian yang masih setia sampai part ini. ๐๐
__ADS_1