
Sentuhan lembut yang Galen berikan Mampu membawa Aline dalam kenyamanan. Tak terlihat wajah takut dan cemas lagi di raut wajah Aline. Galen jelas melihatnya ketika Ia terus memainkan lidah, bermain manis di dalam penyatuan bibirnya dengan Aline.
Aline tanpa ragu melingkarkan tangannya di leher suaminya seakan berharap lebih, tapi keduanya sama sama menyadari kalau yang mereka lakukan tidak bisa melangkah lebih jauh.
Galen lebih dulu melepaskan pugutannya. lalu menatap Aline yang tertunduk karena ketahuan menikmati permainan suaminya.
"Mau lagi?"
"Apa sih, Mas ...!" Alin makin tertunduk malu.
"Andai saja tamu mu sudah pulang, betah banget sih singgahnya. Suruh cepetan pergi deh!" Aline tersenyum geli mendengarnya. Ucapan suaminya seakan mengusir orang yang sedang berkunjung.
"Ini alami, Mas. Sesuka hatinya mau datang dan pergi kapan saja," Aline terkekeh kecil."
"Tapi aku sangat tersiksa, Sayang"
Ungkapan suaminya membuat Aline merasa bersalah. Ia paham yang di rasakan suaminya. Ingin rasanya membantu tapi Aline tidak tahu harus berbuat apa. Ia sama sekali belum berpengalaman membantu seorang suami saat istri sedang palang merah.
"Apa yang harus aku lakukan untuk meringankan bebanmu, Mas! apa ada cara untuk itu, Aline melirik ke bagian bawah Galen. Celana boxer yang suaminya kenakan terlihat ada perubahan di sisi tengahnya. Aline merona lalu memalingkan wajahnya ke samping.
Seakan mendapat angin segar, mendengar Aline ingin sekali membantunya dalam menuntaskan hasrat yang sering tertunda. Ia ingat ucapan ayah mertuanya. Banyak jalan menuju Roma, timbul ide dalam benak Galen. mengajari istrinya yang polos dalam hal itu.
Sebelum mengajari Aline agar ia tidak selalu bermain solo. Galen menghubungi Aldo perihal rencananya yang akan pergi ke Ora Beach Resort, Maluku. Maldives nya Indonesia yang akan ia kunjungi bersama Aline hadiah pernikahannya dari Bara.
***
Galen memutar video panas itu dengan persetujuan Aline sendiri. Tidak mau memaksa, Galen memberikan link dan menyuruh Aline membukanya.
"Ih, ko begitu. Gak mau ah, geli liatnya juga. Ko itu cewek mau sih, apa ngga mual? di masukin ke sana?" cerocos Aline saat video hareudang dari laptopnya terputar. Ia menutup mata lalu membukanya kembali saat permainan seorang wanita kepada laki-laki dalam video itu berlangsung.
Wanita dalam video itu dalam keadaan yang sama seperti dirinya sedang mengalami siklus menstruasi. Tapi tetap bisa melayani keinginan suaminya. Karang banyak cara agar untuk menuntaskannya.
Sambil menutup kedua mata dengan jemarinya. Sesekali mengintip video tersebut. Galen yang baru saja kembali dari kamar mandi tersenyum melihat Aline yang merasa jijik tapi penasaran karena suara dari video itu secara tidak langsung membuatnya berdesir.
Aline lekas menutup laptop yang masih memutarkan video itu. Rasanya geli sendiri melihatnya.
"Apa harus seperti itu, tapi ... Ih... gak mau ah, ih geli," pikir Aline sambil bergidik ngeri-ngeri sedap.
Aline salah tingkah setelah melihat video itu. Lekas ia bangun dari tengkurapnya. Hendak mengambilkan pakaian untuk suaminya di ruang pakaian. Tapi panggilan dari Galen yang hanya mengeluarkan kepalanya dari balik pintu membuat Aline menghentikan langkahnya.
"Sayang, tolong ambilkan handuk!" titahnya pada Aline.
__ADS_1
"Emang gak ada di kamar mandi?" seru Aline sedikit berteriak.
"Kalau ada di sini, enggak akan manggil kamu, Yang!" balas Galen sedikit berteriak.
Aline berpikir sejenak." Oh, iya. Tadi aku jemur di balkon. Sebentar, Mas. Aku ambil handiknha dulu di balkon depan." Aline berlari kecil menuju balkon di depan kamarnya.
Tadi pagi Aline sengaja menjemur semua handuk di jemuran kecil di balkon depan kamarnya. Karena handuk yang ia gunakan tadi pagi sedikit lembab. Sekalian saja ia jemur semua handuk yang ada di kamar mandi.
Tok tok tok
Aline mengetuk pintu kamar mandi. "Mas, ini handuknya!" Pintu kamar mandi terbuka setengahnya. Aline menyodorkan handuk di tangannya.
"E-eh... Mas!" Aline terkejut karena Galen malah menarik tangan Aline sampai tubuhnya ikut masuk ke dalam kamar mandi lalu menubruk tubuh Galen.
"Mas ..." pekik Aline sambil menutup matanya dengan satu tangan yang terbebas dari genggaman.
Tak ada satu kain pun yang menutupi tubuh Galen. Itu yang membuat Aline menutup matanya.
"Kenapa tidak pakai baju sih," omel Aline.
"Baju ku basah, mau pakai handuk pun tidak ada!" Galen mendukung Aline dengan kedua tangannya membuat istrinya itu tak bisa berkutik.
Kain tebal yang bisa menyerap air itu sudah jatuh ke lantai kamar mandi. Jadilah kain itu basah juga. Manik mata Aline terbuka cepat, wajah suaminya sangat jelas karena jaraknya hanya beberapa centi dari wajahnya.
Tatapan mendamba, Aline lihat dari manik mata suaminya. Ada Rasa tidak tega membiarkannya terus bermain solo sendiri. Sebenarnya hari ini Aline tidak merasakan ada cairan yang keluar dari goa miliknya. Karena sudah hampir seminggu tamu bulanan itu singgah, seharusnya sih sudah selesai. Tapi Aline belum memastikannya sore ini.
Galen perlahan memiringkan kepalanya. Ia kembali meraup bibir manis istrinya. Perlahan tapi pasti. Dengan manis dan pelan serta penuh kelembutan, lidah Galen kembali bermain-main di dalam mulut Aline. Saling menyesapi rasa, saking memanggut. Setelah puas bermain lidah, Bibir Galen terus bergerak menelusuri leher putih istrinya itu. Memberikan kecupan yang membuat Aline mendongakkan kepalanya.
Aline memajukan tubuh bagian depannya. Membusungkan dada, posisi ini sangat memudahkan Galen untuk bermain di gunung kembar itu.
Kecupan Galen terus turun, perlahan Galen membuka kancing baju yang menghalangi kegiatannya. Dua gunung kembar dengan puncak merah muda kecil menjadi mainan baru Galen.
Suara indah yang lolos dari Aline karena sentuhan dan hisap an yang di lakukan Galen di gunung kembarnya membuat gelora laki-laki yang ada dalam tubuh Galen menegangkan pusakanya. Suasana kamar mandi berubah menjadi panas karna hawa yang mereka timbulkan.
"Yang, bantu aku!" ucap Galen dengan suara serak mendambanya.
Tanpa menunggu persetujuan Aline. Galen menuntuk tangan Aline ke tubuh bagian bawah Galen. Sesuatu yang menegang itu meminta si pemilik baru menyentuhnya.
"Akhh ..." jerit puas Galen akhirnya lolos dari bibirnya. Kepalanya bersandar pada bahu Aline. Meski harus menunduk tapi kepuasan itu ia dapatkan, bukan permainan jemarinya tapi hasil karya istri cantiknya yang melakukan senam jari pada benda pusakanya. Wajah Aline merah merona karena kegiatan yang ia lakukan kepada Galen.
Dikecupnya kening Aline dengan penuh sayang. "Terima kasih sudah membantuku. Sini, aku bersihkan tanganmu!" Galen memutar kran air lalu membilas tangan Aline. Ada sedikit cairan kental manis yang menempel pada jemarinya.
__ADS_1
"Sayang sekali, aku harus membuang sia-sia benih berkualitas ku ini. Harusnya benih ini bekerja sempurna untuk membentuk bibit-bibit keturunanku." celetuk Galen membuat ia mendapatkan cubitan kecil di perutnya.
"Mas ... ih,!" Aline merasa malu sendiri.
Hal baru yang ia lakukan, buka pergulatan. Tapi cara mengetahui jalan menuju Roma. Itu yang sering di ucapkan oleh Ayah Zaki juga. Waktu itu, Aline belum paham arti kata itu. Sekarang ia mengerti maksudnya.
Aline menarik tangannya dari Galen. Buru-buru Aline keluar kamar mandi.
"Hati - hati, Yang! Licin!"
"Hm."
Selagi Aline keluar kamar mandi, Galen kembali membersihkan tubuhnya sambil bernyanyi ria. Merasa bahagia karena kali ini dia tidak bermain solo lagi. Pelajaran baru untuk ia dan Aline kedepannya. Saat kedatangan tamu bulanan Aline, Pria itu sudah punya cara untuk mengatasinya.
Galen senyum-senyum sendiri membayangkan permainan nya tadi.
"Mas, handuknya aku gantung di gagang pintu kamar mandi," teriak Aline agar Galen mendengarnya.
Ia takut kalau membuka pintu kamar mandi kejadiannya akan seperti tadi.
.
.
.
.
.
.
๐คฃ๐คฃ๐คฃ๐คฃ Takut di tarik lagi ya Aline...
Asek dong udah pintar senam jarinya....๐๐๐
Ya ampun bikin bab ini, Author merinding disko loh.... bagaimana bikin bab unboxing ya.... Alamat Pak Su jadi sasaran nantinya. ๐คซ...
Buat yang belum mampir ke karya pertama Author, mampir yuk mau end di sana. tinggal beberapa bab lagi.
"Satu Cinta Dua Keyakinan" Mampir ya...
__ADS_1