Fake Love

Fake Love
Apa Dia Mencariku?


__ADS_3

Obrolan panjang yang mereka bicarakan cukup berlangsung lama. Banyak hal yang Bara dapatkan dari Tuan Wijaya. Ternyata menjadi seorang pemimpin perusahaan yang baru saja berdiri tidaklah mudah.


Banyak halnya yang harus Bara pelajari kembali agar dirinya siap dan sanggup membawa perusahaan barunya menuju kesuksesan.


Beberapa cara dan trik menjadi pemimpin tangguh Tuan Wijaya ajarkan. Semua didengarkan baik oleh Bara.


“Terima kasih, Pah! Atas semua nasehat dan wejangan yang Papa berikan kepadaku. Aku tidak akan menjadi seperti ini kalau bukan karena bantuan darimu!” ucap Bara usai memeluk pria berumur yang begitu ia hormati.


Tepukan pelan di bahu menjadi penyemangat Bara.


Mobil Jeep Wrangler keluaran terbaru yang dikendarai oleh Bara keluar dari rumah mewah itu dengan kecepatan tinggi. Seakan menembus jalanan untuk segera sampai rumah.


Raga Bara masih berada di Jakarta tapi pikiran dan hatinya sudah berada di Bandung. Tidak sabar rasanya ingin segera melesat ke kampung itu.


Sesampainya di rumah, Bara kembali dihadapkan dengan hal yang membuatnya ingin cepat pergi saat itu juga.


Nyonya Mariska dan Seno berada diruang tamu sedang menunggu kepulangannya.


“Dari mana saja kamu, Bara. Tengah malam baru pulang! Mama sampai bosan menunggu kepulanganmu, ” tanya Nyonya Mariska sarkas kepada Bara.


“Aku tidak minta ditunggu oleh Mama,” balas Bara acuh kemudian berlalu dari hadapan mereka berdua.


“Bara dengar! Mama mau bicara sama kamu!” teriak Mama Mariska karena Bara mengacuhkannya.


Bara merasa muak dan benci ketika melihat Seno berada di rumahnya. Kali ini Bara benar-benar kecewa. Sudah habis batas kesabarannya menghadapi mama Mariska.


Bara sudah mengingatkan agar mamanya itu meninggalkan Seno, dengan imbalan semua kebutuhan mamanya akan ditanggung olehnya.


Tapi ucapan Bara sama sekali tidak di dengar. Itu membuat Bara semakin murka. Cukup sudah Bara tidak akan memenuhi lagi apapun yang diminta mamanya.


Bara kembali dengan satu koper di tangannya. Nyonya Mariska yang melihat itu pun merasa heran dan kembali bertanya.


“Kamu mau kemana lagi, Bara? Jangan pergi dulu! Bagaimana permintaan mama waktu itu, kamu janji akan membahasnya setelah perusahaan baru itu beroperasi.” Ucapannya sama sekali tidak digubris oleh Bara. “Kamu dengar kalau bukan karena Mama yang membawamu tinggal bersama dengan Wijaya, kamu tidak akan seperti ini.” Teriak Nyonya Mariska mampu menghentikan langkah putranya.


Bara berbalik badan menatap tajam ke arah mamanya. “Aku berterima kasih, Mama sudah membawaku ke rumah itu. Dimana aku bisa mengenal mana orang-orang yang tulus kepadaku dan orang yang hanya memanfaatkanku saja.”


“Apa maksud kamu, Bara? Kamu berpikir mama memanfaatkan kamu karena selama ini selalu meminta bantuan dan uang darimu?”


“Mama merasa seperti itu, berarti memang mama memanfaatkan Bara selama ini. Dan saat ini, karma sedang berbalik. Mama di manfaatkan oleh seseorang yang hanya mendapatkan modal usaha tanpa ingin bekerja keras.” Bara melirik sekilas ke arah Seno.


“Apa maksud dari ucapan mu?” Seni berdiri tidak terima saat Bara menatapnya dengan tatapan merendahkan.


“Aku tidak bermaksud apapun, kalau kamu memang tidak memanfaatkan mamaku, untuk apa kamu berada di sini? Menunggu aku mengeluarkan belas kasihan dan mau menggelontorkan dana untuk bisnis kosongmu itu,” hardik Bara.


Ingin rasanya ia membongkar kebusukan Seno sekarang ini. Tapi rasanya percuma berkali-kali ia mengungkapkan yang sebenarnya kepada mamanya, Nyonya Mariska seakan tutup mata dengan semua itu.


“Kamu jangan seperti ini, Bara. Ini bukan keinginan Seno. Ini murni usaha mama, hanya saja dia ikut membantu.”

__ADS_1


Seringai licik Seno berikan ketika mendapat pembelaan dari Nyonya Mariska.


Bara menggelengkan kepala pelan. Merasa heran lagi dan lagi, wanita itu terus membela Seno.


“Maaf, kali ini bara tidak bisa, Mah! Sudah cukup Bara mengeluarkan uang yang tidak jelas untuk apa! Sebaiknya Mama dan pria mama itu angkat kaki dari rumah ini.” Bara tidak mau memperpanjang masalah.


Hari ini cukup lelah rasanya. Satu masalah belum kelar sudah muncul lagi masalah.


“Kamu mengusir mama?” tanya Nyonya Mariska tak percaya dengan tindakan Bara.


Selama ini Bara selalu sopan dan hormat kepadanya meskipun hatinya merasa kesal dan lelah.


“Untuk kali ini, iya! Pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar hanya untuk mama tidak untuk pria parasit seperti dia!” Bara menunjuk Seno dengan tatapan sinis.


Bara sudah merasa muak dengan pria itu.


Seno yang merasa kesal dengan Bara mengepal tangan erat hendak membalas ucapan Bara dengan pukulan. Tapi Nyonya Mariska menghadangnya.


“Jangan, Sen. Kita pergi dulu sekarang! Sepertinya putraku sedang dalam masalah. Aku akan bicarakan ini lagi dengannya nanti. Kita pergi dulu!” Nyonya Mariska menarik Seno agar segera berlalu dari rumah Bara.


“Pak Udin ...,” teriak Bara.


Seorang pria yang bertugas berjaga di rumah itu terlihat berlari tergesa masuk ke dalam rumah.


“Ada apa, Tuan!” sahut Pak Udin seraya sedikit menunduk hormat.


“Lain kali jika Mama saya datang dengan pria tadi atau dengan siapa pun. Jangan biarkan mereka masuk ke dalam rumah ini, kecuali mama sendiri!” titah Bara yang mendapat anggukan dari pria berumur yang ia perkerjakan sebagai satpam di rumah itu.


“Sudahlah, lain kali tolong di perketat siapa saja yang masuk ke rumah ini kalau saya tidak ada.” Bara memijat pelan keningnya merasa pusing dengan kelakuan mamanya.


'Ingin kembali sama Papa tapi kelakuan mama sama sekali tidak berubah, apa sebenarnya yang mama lihat dari pria itu.’


Bara menggelengkan kepala pelan kemudian berlalu meninggalkan rumahnya kembali pada tujuan awal. Ingin segera menemui Sandra.


---


Perjalanan Jakarta-Bandung malam ini tidak menghabiskan banyak waktu. Hanya sekitar 3 jam Bara dan Joni sampai di kota Lembang, Bandung.


Tepatnya pukul 6 pagi, mereka berdua sampai di kota tersebut. Sebab Bara dan Joni mulai start perjalanan pukul setengah dia pagi.


Udara pagi di kota itu sungguh menusuk kulit. Beberapa kali Bara menggosok telapak tangannya yang kebas karena dingin.


“Masih jauh apa tidak peternakannya?” tanya Bara kepada Joni.


Asistennya itu menguap kembaki fokus ke map Google yang menunjukkan jalan ke Peternakan Greenfills.


“Sebentar lagi sampai, Pak!” Jawab Joni dengan mata yang ia paksakan terbuka. “Hoaahhh...,” Joni kembali menguap, rasa kantuk yang begitu berat karena asistennya itu baru merebahkan tubuhnya beberapa menit yang lalu setelah sebelumnya mengemudikan mobil dari Jakarta- Bandung.

__ADS_1


Bara melihat Joni begitu mengantuk. Ia mengambil alih ponsel Joni untuk ia amati jalan yang akan mereka lewati.


“Tidurlah! Biar saya yang lanjutkan perjalanannya,” ucap Bara menjadi angin segar untuk Joni.


Tanpa menunggu lama, Joni langsung ngorok damai di samping bangku kemudi.


Bara menggelengkan kepala melihat Joni yang *****, baru nempel langsung molor. Matanya kembali fokus ke arah jalanan. Tapi di ujung jalan, Bara melihat seorang wanita sedang berjalan seraya menjinjing keranjang di tangannya.


Wanita itu jalan berdua. Satu wanita lagi melenggang tanpa membawa apapun.


Bara hendak bertanya kepada kedua wanita itu.


“Permisi, Mbak!” sapa Bara kepada keduanya.


Satu wanita yang berjalan lenggang tanpa membawa apapun berhenti mendadak membuat wanita yang bersama dengannya menabrak tubuh itu.


Kedua wanita itu adalah Sandra dan Rara.


Sandra harus berjongkok memunguti beberapa makanan jualan Bi Marni yang akan ia titipkan di beberapa warung.


Sandra terbiasa pergi pagi, sebab setelah mengantarkan jualan Bi Mirna Sandra langsung ke peternakan. Sedangkan Rara, hari ini ia ingin ikut ke perternakan ingin mencari perhatian dari Tuan Braja.


Rara mengedipkan mata saat melihat siapa yang menyapanya pagi-pagi begini.


“Ada apa ya, A?” jawab Rara dengan senyum yang ja buat semanis mungkin. Rara terpesona melihat ketampanan dari Bara.


“Maaf, tau tempat Peternakan greensills?” tanya Bara sambil melirik ke arah wanita yang sedang berjongkok membelakanginya.


Deg...


Sandra terkejut mendengar suara itu. Ia sangat kenal dengan suaranya.


‘Bara... Apakah itu dia? Untuk apa dia ke sini? Apa dia mencariku? Ah... Tapi rasanya tidak mungkin. Seperti dia hanya ingin memantau tempat peternakan sapi Tuan Braja saja.’


Batin Sandra tidak mau berharap lebih. Ia sengaja berlama-lama berjongkok agar Bara tidak melihat wajahnya.


.


.


.


Baca kelanjutan ceritanya.


Maaf nama kampungnya harus di ubah dari Kampung Merundu jadi Kota Lembang.


Untuk selebihnya aman.

__ADS_1


Semoga kalian masih betah bacanya.


Jangan lupa like komen dan gift kalian buat karyaku ini.


__ADS_2