Fake Love

Fake Love
Selamat Berbahagia


__ADS_3

Tak butuh waktu lama untuk kedua asisten kebangaan Galen dan Tuan Wijaya itu mengurus semua persiapan pernikahan malam ini.


Surat kelengkapan dan data diri yang diajukan di KUA sudah terdaftar, hanya waktu yang mereka tarik lebih cepat. Semua bisa saja dilakukan asal ada uang yang melicinkan semuanya.


Waktu terasa begitu lama untuk Galen. hanya menunggu beberapa jam saja bagaikan bertahun-tahun untuknya.


"Gugup, ya, Ka?" tanya Kartika yang masuk ke dalam kamar Galen tanpa permisi.


Kartika duduk bersihkan di tepi tempat tidur. "Kalau kakak sudah menikah, apa kakak akan pindah dari rumah ini?" Kartika berucap sedih.


Semenjak kepergian Nyonya Mariska, adiknya itu terlihat lebih diam dan lebih banyak menyendiri. Gadis itu tak pandai bergaul. Ia terlalu serius dengan sekolahnya. Ia ingin menjadi pebisnis hebat seperti Papanya.


"Kenapa bicara seperti itu?" Galen menimpali. "Kakak tidak akan pernah melupakanmu. Kamu adikku!"


Kartika tersenyum miris. "Terima kasih sudah sangat baik padaku, walaupun kakak tahu aku adalah anak dari wanita yang sudah membuat mama kakak meninggal." Kartika menunduk sedih. Desakan air mata sudah tak terbendung. lolos sudah pertahanannya. Gadis itu menangis di hadapan Galen.


"Hei... Kenapa menangis?" Galen menyentuh dagu Kartika agar menatapnya.


"Aku terlahir dari sebuah kesalahan. Pantas saja Papa selama ini acuh kepadaku. Meskipun aku selalu mendapatkan apa yang ku mau, tapi aku merasa sendiri, Kak! Tak tahu harus berbagi kesedihan ini." Kartika semakin menangis tersedu.


"Jangan berpikiran seperti itu, Papa sayang sama kamu, mungkin karena selama ini Papa lelah bekerja, dia tidak ada waktu untuk bersamamu! Setelah Kakak menikah, akan ada Kak Aline yang menemanimu di sini!"


"Kalian tidak tinggal di apartement?"


"Tidak, kakak akan tinggal di sini menemanimu." Kartika berhambur memeluk tubuh sang kakak. "Sudah jangan menangis lagi, nanti make up mu luntur! Kakak tidak mau di hari bahagia ini ada kesedihan."


Kartika lekas melepas pelukannya, ia mengusap air matanya yang masih membasahi pipi.


Di balik dinding dekat pintu, ada sesosok pria berumur mendengar semua percakapan Kartika dan Galen. Ada penyesalan di hatinya, selama ini ia telah mengabaikan Kartika. Ya, benar waktunya sibuk karena pekerjaan. Bukan... lebih tepatnya dia yang menyibukan diri, tidak mau sering bertemu dengan Nyonya Mariska saat itu. Sehingga secara tidak langsung, ia juga mengabaikan Kartika.


Malam ini, dia bahagia melihat putranya akan segera bersanding dengan wanita yang dicintainya, tapi hatinya sedih mendengar Kartika, putrinya yang berucap sendiri, ia lahir dari sebuah kesalahan. Kata-kata yang pernah Tuan Wijaya ucapkan pada Mariska. Berarti Kartika pernah mendengar pertengkarannya bersama Mariska. Lagi-lagi sebuah kata penyesalan di lain masalah menyinggahinya.


"Papa tidak bermaksud menyakiti hatimu, Nak! Kenapa hidupku selalu penuh dengan penyesalan." Tuan Wijaya menyisir rambutnya sendiri dengan kedua tanganya. Ia mengurungkan diri menghampiri Galen. Pria berumur itu malah melangkahkan kakinya menuju balkon di sisi kiri kamar Galen. Sejenak menenangkan diri. Ia tidak mau merusak suasana bahagia putranya.


ceklek


Pintu kamar terbuka, Oma Ratih berjalan di bantu tongkat nya masuk ke kamar Galen.


"Kenapa kalian lama sekali? apa kamu mau, Aline merubah keputusannya karena calon mempelai pria datang terhambat." Omel Oma Ratih.

__ADS_1


Galen lekas mendekati Oma Ratih. "Jangan, Oma. Ayo aku sudah siap!" Galen memapah Oma Ratih untuk keluar kamar. Ia menoleh ke arah Kartika, mengajaknya tanpa bersuara.


Kartika mengangguk. "Duluan, nanti kartika menyusul." balasnya pelan, lekas ia menghirup udara pelan lalu membuangnya kasar, berharap kesedihannya sedikit berkurang. Gadis itu lekas memasang wajah cerianya kembali. Ia sangat pintar menyembunyikan rasa sedihnya.


Saat keluar dari kamar Galen, dirinya berpapasan dengan Tuan Wijaya. Tanpa menunjukan wajah sedihnya Kartika malah bermanja dengan keceriaan di hadapan sang Papa. "Papa, nyari Kak Galen?"


Tuan Wijaya mengangguk sambil memperhatikan wajah sang putri. "Putri Papa, maafkan Papa, Nak!"


"Kakak sudah turun sama Oma, ayo nanti malah kita yang ketinggalan." Kartika mengapit tangan Tuan Wijaya, menuntunnya agar melangkah bersama. "Papa kenapa mukanya kusut begini sih, kan mau ketemu Tante Zainab, harus segar dong!" ledeknya dengan kekehan kecil.


Tuan Wijaya menatap Kartika sekilas. Gadis itu hanya tersenyum dengan memperlihatkan dereetan giginya. lalu mengacungkan dua jari telunjuk dan Jari tengahnya.


"Kamu berani meledek Papa," Tuan Wijaya mecubit hidung mancung Kartika. Mereka berdua lekas berjalan beriringan sambil tertawa dan saling mengejek.


"Aku harap selamanya kita akan seperti ini, Pah!" Kartika berucap dalam hati.


"Ke depannya Papa akan memperbaiki semuanya, Nak! Maaf sudah banyak waktu yang terbuang untuk bersamamu." Papa Wijaya mengecup ujung kepala Kartika saat mereka berjalan bersama.


Mereka sama-sama mengantarkan Galen pada kebahagiaan nya.


...***...


"Bang, kalau ketiga kalinya lo gagal, nanti gue yang gantiin buat ijab kabulnya sama mbak Aline," celetuk Pras yang sengaja mendekati Galen di tempatnya mengucap ijab kabul.


Tatapan mata elangnya langsung mengarah kepada Pras. Itu membuat nyalinya menciut.


"Heheh... ampun, Bang!" Pras beringsut kembali ke tempat duduknya.


"Bagaimana saksi, sah?" tanya Pak penghulu setelah Galen menjawab ijab yang ketiga kalinya.


"Sah"


"Sah"


Sahutan dari beberapa kerabat membuat Galen merasa lega.


Rasa syukur juga terucap oleh Oma Ratih dan Tuan Wijaya.


"Alhamdulillah, lega rasanya mendengar kata sah." Galen mengusap wajahnya dengan penuh syukur.

__ADS_1


"Kamu, payah! masa ijab kabul aja harus pake ngulang. Papa dulu tidak begitu, sekali ucap langsung, Sah...!" Tuan Wijaya membanggakan dirinya. "Benar 'kan, Bu?" Tuan Wijaya menatap Oma Ratih meminta pembenarannya.


"Pernikahan ini mendadak, Pah! aku belum persiapan." sungut Galen kesal mendnegar Tuan Wijaya membanggakan dirinya.


"Sudah yang penting kan, sekarang sudah Sah!" Oma Ratih melerai keduanya.


Setelah kata Sah terdengar, pengantin wanita dipapah oleh Zainab menuju ruangan tamu, ruangan yang secara mendadak dihias sedemikian indahnya untuk acara pernikahan Aline dan Galen.


Tak banyak yang datang di acara itu. hanya keluarga inti dan orang terdekat saja. Aline juga tidak ingin pihak Galen membawa banyak barang seserahan seperti saat melamarnya. Aline hanya ingin kesederhanaan saat ini. Dirinya masih malu dengan kondisi dirinya. Dia tidak tahu akan ada kejutan untuknya sendiri nanti.


Ayah Zaki telah menerima hasil visum dari pihak rumah sakit. Dokter pun sudah menjelaskan hasilnya Ada rasa syukur yang teramat dalam dari Ayah Zaki dan Bu Winda. Putrinya masih perawan, selaput dara milik putrinya masih terjaga. Ternyata penjahat hanya bermain-main di area sensitif itu.


Hanya Aline dan Galen yang belum mengetahui hasilnya. Biarlah pengantin baru itu akan merasakan sesuatu yang berbeda saat mereka malam pertama mereka nanti. Entah kapan, karena Galen harus ekstra sabar untuk menghadapi trauma Aline.


Ferdi, penjahat itu telah mendapatkan hukuman yang berat untuk segala kejahatannya. Tangan kanannya lumpuh akibat tembakan dari Galen, ditambah harus di penjara selama dua puluh tahun tanpa ada yang menjamin.


Penderitaan Ferdi makin bertambah dimana ia mengetahui kehadiran seorang putra tanpa bisa bertemu dengannya. Sungguh sesuatu yang sangat dan paling menyakitkan untuknya, dibanding panasnya peluru yang ia dapat dari Galen.


Kini Aline dan Galen telah resmi menjadi suami istri. Mereka saling berhadapan, keduanya saling melempar senyum kebahagiaan.


Galen dituntun untuk memasangkan cincin pernikahan mereka. Selanjutnya pria itu juga dibantu untuk membaca doa setelah menikah. ternyata tanpa di bantu Galen sudah hapal doa tersebut.


Galen memegang ubun-ubun wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu. Sambil membaca dia dengan suara lantang ia ucapkan.


 "Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."


Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.


Setelah itu Galen mendekati wajah Aline diciumnya kening istrinya itu dengan penuh cinta. Rasa bahagia begitu terpancar di kedua wajah mereka.


Selamat berbahagia. Semoga pernikahan kalian sakinah, mawadah, warahmah.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung>>>>>


__ADS_2