Fake Love

Fake Love
Perasaan Takut Dan Cemas


__ADS_3

Lima bulan telah berlalu, kehamilan Aline saat ini memasuki usia 28 minggu atau 7 bulan. Baby bump semakin terlihat. Tapi kebiasaan Aline saat hamil masih belum hilang. Selama kehamilan Aline suka sekali tidur. Untuk makan jangan di tanya lagi, ibu hamil ini semakin lahap dalam hal menyantap makanan. Dan untuk calon Ayah, entah mengapa sampai sekarang masih mengalami mual dan pusing meskipun frekuensinya sudah berkurang.


Semenjak pengunduran diri Sandra beberapa bulan lalu, Galen mencari pengganti nya, tapi kali ini bukan seorang perempuan melainkan seorang laki-laki. Ia tidak mau kembali menyakiti perasaan Aline padahal istrinya itu sudahberulang kali berucap percaya padanya. Tapi Galen lebih memilih jalur aman.


"Do, bagaimana kondisi istrimu kapan hari perkiraan lahirnya?" tanya Galen kepada asisten nya saat mereka menuju perjalanan pulang dari kantor.


Karena memiliki istri yang sama-sama sedang hamil besar Galen tidak pernah memerintahkan Aldo lembur sampai malam. Karena ia sendiri merasakan kecemasan yang luar biasa pada istrinya, dan tidak bisa dipungkiri Aldo pun pasti merasakan hal yang sama apalagi saat ini Rima sudah memasuki waktu persalinan, Ia hanya menunggu saat waktu itu tiba.


"Harusnya sih hari minggu ini perkiraan lahirnya, tapi menurut dokter bisa maju, bisa juga mundur waktunya," ucap Aldo dan banyak yang ia jelaskan kepada Galen soal istri yang mendekati persalinan. Perasaan takut dan cemas Aldo rasakan. Karena hampir tiap malam Rima mengeluh sakit pinggang dan susah tidur. Itulah penjelasan Aldo kepada Galen.


Galen mengangguk-ngangguk mendengar penjelasan Aldo.


"Sepertinya kamu tenang sekali, Do. Kenapa saya yang merasa gelisah, padahal kehamilan istriku baru meninjak usia 7 bulan."


Aldo tersenyum samar. "Tuan tidak tahu saja, bagaimana perasaan takut ini menghantui. Setiap malam saya tidak bisa tidur karena Rima selalu gelisah, kegerahan dan panas di bagian pinggang." Aldo tidak pernah menunjukan kecemasan di depan Galen. Tapi saat bersama Rima semua sikap asli Aldo terbongkar. Sikap yang selama ini tak pernah ia umbar. Semua orang hanya tahu sikap Aldo diam dan tegas saja. Di balik itu semua hanya Rima lah yang tahu.


Aldo kembali fokus mengendarai mobilnya menuju kediaman Wijaya.


Semenjak tahu cucunya yang di kandung Aline adalah bayi laki-laki, Tuan Wijaya sangat memanjakan Aline. Calon kakek itu selalu membawakan oleh-oleh untuk calon cucunya dan tidak terlewatkan untuk bundanya juga. Karena Aline akan memasang wajah cemberut mode waspada jika ia dilupakan.


"Wah, banyak sekali oleh-olehnya Pah!" ucap Aline dengan wajah berbinar senang melihatnya.


Ibu hamil yang baru saja keluar dari lift itu langsung berucap kagum melihat barang-barang yang ada di ruang tamu.


Semenjak mengetahui kehamilan pada Aline, Galen merombak kediaman Wijaya dengan menambahkan lift memudahkan si ibu hamil naik dan turun dari kamar ke lantai bawah. Dan itu khusus untuknya. Perlakuan terhadapnya pun semakin istimewa.


"Ya, ini untuk cucuku dan ini untuk mamanya!" ucap Tuan Wijaya kepada Aline.


Galen yang baru saja tiba melihat heran ke arah ruang tamu yang lagi-lagi dipenuhi peralatan bayi. Padahal Aline dan dia belum mempersiapkan apapun.


Rencananya Galen baru akan mempersiapkan semuanya setelah kamar bayi yang ada di sebelah kamarnya rampung. Sebab Galen kembali merombak kamar tidurnya. Kamar bayi yang bersebelahan dengannya mempunyai pintu yang tersambung dari dalam sehingga Galen dan Aline bisa memudahkan untuk mengontrolnya bayinya nanti.


"Sepertinya semua kebutuhan Baby boy sudah lengkap sama kakeknya!" celetuk Galen yang baru saja pulang dari kantor.


"Mas... Maaf aku tidak lihat Mas pulang!" Aline hendak bangun untuk menghampiri Galen yang memasuki ruang tamu.


Terlihat Aline begitu kesulitan saat terbangun dari duduknya. "Tidak perlu bangun, Sayang!" Galen yang lebih dulu menghampiri Aline. Kecupan di kening selalu Galen berikan kepada Aline.


Galen menyalami Papanya lebih dulu, Tuan Wijaya juga undur diri ingin segera beristirahat. Rasanya perjalanan dari kampung ke kota begitu melelahkan. Karena Beliau baru selesai meninjau pembangunan yayasan di sana.


Dan bulan depan Tuan Wijaya akan meninjau pembangunan yayasan beserta masjid besar di daerah cianjur, Tuan Wijaya sempat menyampaikan ini kepada Ayah Zaki dan beliau berencana untuk ikut. Sekalian mampir mudik ke kampung halaman keluarga istrinya, Bu Winda.


"Papa ke kamar dulu!" ucap Tuan Wijaya kepada Galen dan Aline.

__ADS_1


Mereka berdua mengangguk bersamaan.


"Hai... Baby boy," Galen beralih mencium perut buncit Aline, lalu berbicara dengan sang buah hatinya. "Bagaimana kabar Baby boy Daddy, merepotkan mommy tidak!" tanya Galen seakan ber-interaksi dengan bayi tersebut seraya meletakkan tangannya di perut Aline.


Galen begitu terkejut saat bayi dalam perut Aline merespon sentuhannya.


Perut Aline terlihat menyembul sedikit akibat gerakan bayinya. Galen begitu senang bisa melihat sendiri perut Aline yang bergerak-gerak. Biasanya hanya bersama Aline dan saat diajak berbicara berdua saja bayi itu merespon.


"Wah... Baby boy pinter ya udah bisa respon sentuhan Daddy?" Galen merasa senang sekali mengetahuinya.


Aline hanya tersenyum kemudian minta tolong kelapa Galen untuk membantunya berdiri dari duduknya.


"Kita ke kamar Mas," ajak Aline.


Galen mengangguk. Aline menggandeng tangan Galen, Wanita dengan perut besar itu sedikit kesusahan saat berjalan. Perubahan pada tubuh Aline benar-benar nyata terlihat. Berat badannya naik banyak. Tapi Galen suka semakin seksi menurutnya.


Mereka berdua berjalan menuju lift.


Sesampainya di kamar, Galen mendapat pesan chat dari Aldo kalau Rima masuk rumah sakit. Beruntung Aldo sampai rumah dengan cepat, ia melihat Rima yang duduk sambil meringis menahan sakit. Pembantu yang menemaninya sudah pulang karena dia hanya datang pada pagi dan pulang saat sore hari.


Galen lekas menghubungi Aldo. Tak lama sambungan telepon tersambung.


"Do, bagaimana keadaan istrimu?" tanya Galen.


Sudah terdengar jelas kegelisahan Aldo meski hanya suaranya saja.


"Semoga operasinya lancar, Saya doakan yang terbaik untuk Rima dan bayinya." ucap Galen memberi semangat.


"Apa Rima akan melahirkan, Mas!" tanya Aline yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Semakin besar kandunganya, Aline jadi sering buang air kecil.


"Ya, Rima akan menjalani operasi secar." Galen lekas memeluk Aline.


Aline terkekeh karena saat ini saat di peluk dari depan oleh Galen ada sesuatu yang menghalanginya.


"Di dalam perut saja, Kamu bisa menghalangi Daddy memeluk mommy mu, bagaimana nanti saat kamu lahir, Boy!" Galen menurunkan posisinya, berjongkok sejajar dengan perut Aline.


"Hei... Boy kamu sehat-sehat ya, yang kuat dalam perut mommy-mu," Galen mencium perut Aline yang menonjol itu lalu memeluk Aline, menempelkan pipinya di kulit perut Aline.


Aline melihat raut kekhawatiran pada suaminya. Lekas Alie merangkup wajah Galen agar mendongak menatapnya. "Mas, kenapa?" tanya Aline.


"Aku takut terjadi sesuatu kepadamu dan bayi kita saat persalinan nanti," ucap Galen kemudian berdiri menatap Aline dengan wajah sedih.

__ADS_1


"Apa yang kamu takuti, Mas? Aku dan bayi kita baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir."


"Kalau bisa biar nanti aku yang merasakan rasa sakitmu saat melahirkan nanti, aku dengar dari Aldo, Rina merintih kesakitan sebelum di bawa ke rumah sakit." cetus Galen membuat Aline tersenyum simpul.


Ternyata Galen begitu mengkhawatirkan nya.


"Mas... Rasa sakit yang dirasakan oleh seorang ibu saat melahirkan adalah anugerah terindah untuk kami nantinya. Itu adalah kontrak yang harus dijalani seorang wanita saat akan melahirkan. Sakit yang luar biasa tidak akan terasa saat melihat bayi yang selama ini di rawat dengan baik dalam kandungan bisa lahir sehat dan selamat."


"Tapi tetap saja aku takut, Sayang!" Galen memeluk Aline meski terhalang perut besar.


Aline menghela napas, mencoba mengerti kecemasan yang di rasakan suaminya. Seharusnya saat ini yang merasakan takut dan cemas itu Aline, tapi ini berbeda. Galen jadi lebih sensitif soal kehamilan Aline, yang takut dengan persalinan juga malah dia.


Usia kandungan yang semakin mendekati persalinan Aline terlihat lebih santai dan tenang. Ia makin menikmati setiap gerakan dari bayinya.


Lebih sering berinteraksi dengan si cabang bayi dan memutar musik klasik agar lebih rileks.


Aline mengusap pelan pundak Galen, memberikan ketenangan di sana. "Mas tidak perlu khawatir, aku dan bayi kita baik-baik saja! Nanti kita ke rumah sakit ya, Kita lihat Rima di sana, pasti sangat lucu sekali bayinya nanti. Laki-laki apa perempuan, Mas!"


Galen menarik diri dari pelukannya lalu mengangkat bahu. "Tidak tahu, Aldo tidak pernah cerita soal jenis kelamin anaknya."


"Kamu ini, apa soal pekerjaan saja yang kalian bahas saat bersama? Masalah di luar kantor sama sekali tidak bercerita."


Galen mengangguk pelan. "Aldo sangat tertutup, dia jarang sekali bercerita. Malah aku yang lebih banyak meminta saran dan cerita kepadanya."


"Pantas, Aldo lebih tau tentang kamu, Mas!"


"Harus... Dia harus tau banyak tentangku karena itu adalah tugasnya sebagai asisten seorang G. Alexander," ucap Galen dengan bangganya pada diri sendiri. "Kenapa kamu tidak memakai baju mu, apa tidak masuk angin hanya memakai pakaian seperti ini saja?" ucap Galen sambil meraba perut yang tanpa penutup itu.


"Mas lupa kalau malam juga kadang Mas yang bukain baju aku, tidak kenapa-napa tuh!" cetus Aline karena tiap malam meskipun tidak bertempur tapi Galen sangat senang saat melihat tubuh polos Aline dngan bentuk tubuhnya saat ini. Itu jadi mainannya saat tidur.


Dan Aline tidak menolak, entah mengapa tubuh Aline sangat suka sentuhan dari suaminya itu. Bahkan sebelum tidur Aline selalu minta Galen mengelus dulu perutnya sampai ia tertidur. tanpa sadar itulah yang memuat kenakalan Galen padanya.


Galen menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal mengingat kelakuannya pada istrinya saat tidur.


.


.


.


Sambil nunggu up bisa baca cerita temanku.


Mampir yuk ke karya author Teh Ijo. judul karyanya Menikahi ketua osis.

__ADS_1



__ADS_2