
Hari demi hari telah berlalu, Galen hanya bisa bertukar kabar melalui sambungan telepon dengan Aline. Hal yang begitu berat untuk seorang Galen.
Menjelang hari pernikahan, pekerjaan yang Galen kerjaan malah semakin banyak. Beberapa tender dimenangkan oleh perusahaannya. Sehingga Galen harus turun tangan sendiri untuk mengawasinya, tanggung jawab besar harus ia jalankan sebagai CEO perusahaan.
Aline sudah menyelesaikan sisa kontrak pekerjaannya dengan beberapa tabloid dan beberapa desainer yang telah mengontraknya. Kini kegiatannya saat ini hanya bersantai di rumah seperti nyonya besar saja. Sesekali ia ikut ke warung soto milik Ayah Zaki untuk membantunya.
Aline ingin menjalani rumah tangga tanpa ada tanggung jawab lagi pada pekerjaannya. Ia telah memutuskan mundur dari karier keartisannya. Ia ingin fokus membina rumah tangga sesuai keinginan Galen, calon suaminya.
Di depan meja rias gadis yang sebentar lagi akan jadi nyonya Alex itu baru saja selesai memakai skincare malam nya, tiba-tiba saja ponsel milikya berdering.
Aline bangkit dari duduknya, lalu segera meraih ponsel yang tergeletak di atas tempat tidurnya.
Senyum mengembang terbesit di wajah cantiknya saat nama yang muncul di layar ponselnya. tanpa ragu Aline menggeser ke tombol hijau.
π²"Yang, Kangen!" sapa Galen tanpa basa basi saat tahu teleponnya telah tersambung dengan Aline.
π±"Dih, to the point banget. Gak basa basi dulu!" jawab Aline seraya duduk bersandar di heardboard tempat tidurnya.
π²"Lagi males basa basi, pengen cepet ketemu kamu." Galen menghela napas berat.
π±"Cape ya?" tanya Aline lembut.
π²"Sudah resikoku, Yang! Si tua itu benar melepas semua tanggung jawabnya kepadaku," sindir Galen untuk papanya, Tuan Wijaya.
π±"Eh, jangan seperti itu, dia papamu loh! emang Papa Wijaya sudah benar-benar menyerahkan semua pekerjaan sama kamu?"
π²"Ya, dia hanya datang sesekali untuk melihat kondisi kantor. Sepertinya pria tua itu sengaja membuat aku sibuk sebelum hari pernikahanku," desis Galen sebal.
Malam ini, Pria yang masih rapi dengan kemeja kerjanya itu duduk bersandar di bangku sebuah cafe. Ia baru saja melakukan pertemuan bisnis dengan salah satu rekan bisnisnya.
π²"Maaf, Yang! belakangan ini, kita gak bisa ketemu," ujar Galen seraya melonggarkan dasi yang dipakainya. Merebahkan tubuh yang terasa lelah ke sofa empuk di dalam cafe tersebut sambil terus berbicara dengan Aline di telepon.
π±"Nanti kita akan sering ketemu ko, tapi tunggu waktunya tiba." sahut Aline menenangkan.
π²Terdengar helaan napas dari Galen. "Rasanya rindu di hati ini udah numpuk banget, Yang. Aku gak kuat nahannya! perlu bertemu karena kamulah penyembuh rasa rindu itu."
Hening sesaat, Aline terdiam. Ia tidak tega mendengar keluhan calon suaminya itu. Andai saat ini mereka sudah menikah, Aline bisa mengurus dan memberi semangat pada Galen.
π²"Besok sepertinya jadwal kerjaku lebih longgar, kita ketemu ya, bantu aku ringankan beban rindu ini?" ucap Galen merayu dan memohon.
π±"Jadi, aku hanya jadi beban di hatimu?" tanya Aline terdengar sedih dan mengerucutkan bibirnya tanpa dilihat Galen.
__ADS_1
π²"Iya, kamu tuh beban rindu yang menjadi kebutuhan buat hidup ku! rasanya tak bertemu sebentar saja, tak bersemangat."
Ucapan Galen membuat Aline tersenyum tipis mendengarnya.
π±"Gombal, banget." Aline merubah posisinya jadi tengkurap masih setia mendengarkan ocehan calon suaminya itu.
π² "Yang, besok kita ketemu ya," aja Galen.
π±"Ngapain? 'kan gak boleh berduaan!" sahut Aline membuat Galen seakan tak terima.
π² "Cuma makan siang aja, Yang! nanti aku yang ijin sama Ayah Zaki. Nanti ku kabari tempatnya!"
Obrolan pun terus berlanjut, Galen menanyakan perihal persiapan apa saja yang sudah selesai untuk pernikahan mereka. Karena Galen menyerahkan semua kepada Aline, gadis itu dibantu Oma Ratih dan Kartika. Ketiganya sering bertemu untuk membahas semua persiapan. Aline menjelaskan semua sudah selesai dengan rapi. Tinggal beberapa acara yang akan dilaksanakan tiga hari sebelum pernikahan tiba.
π²"Dengan Oma aja kamu sering bertemu, kenapa denganku susah sekali?" Galen masih saya mengeluh.
π± Aline terkekeh kecil mendengarnya, "Yang sibuk kamu, Gal. Tak apa sekarang sibuk, asal jangan setelah kita menikah kamu sibuk dengan pekerjaanmu, dan menelantarkan aku di rumah!" protes Aline.
π±"Kamu masih di cafe? belum pulang?Hoaamm ... " tanya Aline sambil membuka mulutnya lebar, rasa kantuk sudah menyerangnya.
π²"Belum, sebentar lagi! kamu ngantuk?" tanya Galen balik dari seberang telepon.
π± "Hmm, tapi masih mau ngobrol sama kamu!" Galen tersenyum mendengarnya.
π± "Baiklah, jangan terlalu cape, Gal. Kamu harus beristirahat, jangan sampai mendekati pernikahan kita, kamu sakit," ucap Aline dengan nada khawatir.
π² "Iya, Sayang! kamu tau, Papa sengaja menyuruhku terlibat langsung dengan proyek kerja ini supaya tidak sering bertemu sama kamu. Ayah dan Papa sengaja bekerja sama membuat kita terpisah sementara."
Galen akhirnya memberitahukan apa yang pernah ia dengar di kamar papanya kepada Aline.
Pria itu pernah mendengar obrolan Tuan Wijaya dan Ayah Zaki di telepon. Ayah Zaki menyuruh Tuan Wijaya agar Galen mulai bertanggung jawab atas jabatannya saat ini, sekalian agar Galen tidak terlalu sering bertemu Aline menjelang pernikahannya, tak baik menurut Ayah Zaki.
π±"Kita ambil hikmahnya aja, Gal. Kamu jadi lebih bertanggung jawab. Dan itu membuat aku bangga, mempunyai calon suami seperi itu. Sabar ya, kita akan menikmati hasil kesabaran kita, nanti!"
ucapan Aline yang begitu membuat Galen nyaman. Itu membuat Galen kembali bersemangat, ia berjanji akan segera menyelesaikan semua tanggung jawabnya minimal sebelum berbagai prosesi adat Sunda yang harus mereka jalankan menjelang acara pernikahan. Karena banyak yang akan mereka lewati. Semua susunan acara yang sudah di buat harus dilaksanakan dengan baik dan sesuai jadwal.
π² "Ya sudah, istirahat sana! Jangan lupa mimpiin aku!" titah Galen.
π±"Hm ..., Kamu juga, langsung pulang, hati-hati ya! kamu sama Aldo kan?" tanya Aline takut kalau Galen sendiri di sana.
Galen melirik ke arah Aldo yang sibuk dengan ponselnya. "Ya."
__ADS_1
π± "Sandra?"
π² "Dia tidak ikut, ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantor," seru Galen.
π±"Oh, aku tutup teleponnya ya? sampai bertemu besok! Love you, Gal." ucap Aline.
π² "Iya, Sayang! Love you too,"
Panggilan pun berakhir tak terasa hampir satu jam Galen melakukan panggilan telepon dengan Aline. Niat awal hanya ingin menanyakan kabar, tapi malah kebablasan.
Hingga Aldo, asisten Galen memilih memisahkan dirinya untuk duduk di tempat lain tak jauh dari Galen duduk. Ia tahu jika bisnya sedang berbicara dengan Aline membutuhkan ruang bebas. Jadi, ia lebih memilih menghindar.
"Sorry, udah buat kamu nunggu lama. Kita pulang sekarang," ucapan Galen yang tiba-tiba datang membuat Aldo terkejut langsung berdiri dan membungkuk sopan.
"Tidak masalah Tuan, maaf saya tidak menyadari kedatangan Anda ke sini!" ucap Aldo sopan.
"Hm," Tanpa banyak kata Galen melangkahkan kakinya untuk keluar dari cafe tersebut.
Aldo dengan sigap langsung mengikutinya dari belakang.
"Al, tolong besok belikan satu buket bunga untuk Aline. Tulis alamat restaurant yang akan saya pesan untuk makan dengan Aline besok." titah Galen sambil jalan pelan menuju parkiran.
"Siap, Bos!" sahut Aldo.
Keduanya berjalan menuju mobil yang sudah siap menunggu mereka berdua.
"Aku akan beri kamu sedikit kejutan untukmu Tuan muda. Kita lihat saja, masih bisakan kamu tersenyum setelah apa yang akan aku berikan padamu!" ucap seseorang dari balik tembok sambik menyeringai licik.
Ia mendengar semua obrolan Galen dengan Aline. Pria ini berada tepat di belakangnya, Sebuah rencana terbesit saat itu juga olehnya.
.
.
.
.
Mohon maaf, akhir akhir ini. Author jadi pemalas sekali. Bukan malas tapi rasanya terlalu banyak hal yng dipikirkan di real life, sehingga buat ngehalu tuh rasanya alot banget.
Author paksakan karna ingat ada beberapa dari kalian para pembaca yang selalu setia dan memberi semangat untuk Author. love sekebon buat kalian.
__ADS_1
>>bersambung