Fake Love

Fake Love
Gagal Melindungi Aline.


__ADS_3

Kantor Aksara grup


Galen menjatuhkan tubuhnya di sofa empuk yang berada dalam ruangannya, setelah melemparkan jas yang di pakainya di sandaran sofa.


Setelah menghadiri beberapa rapat penting dan memeriksa beberapa pekerjaan yang menumpuk. Akhirnya pekerjaan hari ini hampir selesai, tinggal beberapa yang masih tertinggal.


"Apa sih kerjaan pria tua itu, sampai kerjaannya dilimpahkan semua kepada ku?" Galen masih saja menggerutu kesal karena Tuan Wijaya sengaja melimpahkan pekerjaan kepadanya.


Awalnya hanya ingin membuat Galen dan Aline agar tidak terlalu sering bertemu sampai seminggu jarak pernikahan mereka dilaksanakan. Jika Galen sudah libur bekerja ada Oma Ratih yang gantian mencegahnya.


Galen memijat keningnya yang terasa pusing. Pikirannya harus terbagi antara pekerjaan dan peristiwa yang menimpa Aline.


"Sejauh mana pencarian Ferdi, Do?" Galen bertanya sembari memejamkan matanya dengan tangan yang masih betah memijit kepalanya.


Aldo yang masih sibuk menyelesaikan sisa pekerjaan Galen terhenti karena ucapan bosnya itu.


"Masih dalam pencarian, Tuan. Satu orang yang sudah tertangkap lebih dulu, masih enggan berbicara dimana keberadaan Ferdi. Padahal orang suruhan kita sudah membuatnya babak belur." Aldo memberitahu.


Galen menegakkan badannya. Ia menggulung kemeja yang dipakainya sebatas siku, lalu berdiri. Galen memikirkan cara agar Ferdi si pria brengsek itu cepat tertangkap. Ia mondar mandir sambil berpikir.


"Bagaimana sayembara yang saya perintahkan. Apa ada perkembangan?" tanya Galen penasaran. Ia sudah kehabisan akal agar bisa menangkap Ferdi. Penjahat itu ternyata seperti belut begitu sulit untuk ditangkap.


"Belum, Tuan. Menurut saya cara itu kurang efektif. Cara itu hanya mengundang penipu yang mengaku sudah menangkap penjahat seperti Ferdi."


Sesaat mereka terdiam. Galen teringat dengan keluarga Ferdi yang sudah meninggalkan dirinya. sebuah ide muncul di benaknya kali ini.


"Cepat cari tau dimana istri dan anak-anak pria brengsek itu! Jadikan mereka umpan. Saya tidak mau tahu, malam ini kita harus menjebak penjahat itu." Galen mengepalkan tangannya di atas meja. Matanya menatap lurus ke luar jendela dengan tatapan tajamnya.


"Siap, Tuan." Aldo dengan sigap dan cepat menghubungi beberapa anak buahnya untuk segera melakukan pencarian terhadap istri dan anak Ferdi.


"Do, selesaikan sisa pekerjaan yang ada. Saya akan kembali ke rumah sakit. Maaf saya kembali merepotkan dirimu."


"Bukannya Tuan selalu merepotkanku," batin Aldo, tapi ia tetap hormat kepada Galen. Karena Galen merupakan bos yang selalu baik dan tidak berkata kasar saat memerintah dirinya.


Galen berjalan hendak keluar ruangan lalu menyambar jas yang tadi diletakkan di sandaran sofa. Saat ia membuka pintu ruangan, Sandra yang baru saja mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu kembali diurungkannya.


Sandra mundur beberapa langkah. "Maaf, Pak. Ini berkas yang kemarin sudah selesai dirapikan," ucap Sarah.

__ADS_1


"Berikan saja sama Aldo, saya harus ke rumah sakit, sekarang!" Tanpa banyak berkata lagi, Galen melewati Sandra begitu saja.


Pandangan wanita yang pernah ditolongnya itu sampai mengikuti gerak langkah Galen.


"Rumah sakit? siapa ya yang sakit, apa Oma?" Sandra bertanya pada dirinya sendiri.


Melihat ada Aldo di dalam ruangan. Sandra lekas mendekatinya. Rasa penasarannya tantang Galen akan ia coba tanyakan kepada Aldo.


"Permisi, Mas Aldo," sapa Sandra saat memasuki ruangan Galen.


Wanita itu tidak tahu kalau Aldo sedang melakukan sambungan telepon dengan seseorang.


Aldo memberikan isyarat kepada Sandra untuk tidak mengganggunya. Dan menyuruh nya menunggu sampai ia selesai menelepon. "Baiklah, cepat temukan mereka! Kalau bisa malam ini bawa mereka ke hadapan Tuan muda Alex. Jangan beritahu apapun tentang Ferdi. Biar nanti Tuan Muda Alex yang akan berbicara denganya." Aldo berbicara tegas pada seseorang melalui sambungan ponselnya.


"Saya tungu kabar baiknya." Aldo memasukkan ponsel miliknya ke dalam kantong celananya setelah mematikan ponselnya.


"Ada apa, San?" tanya Aldo yang kembali duduk di bangku yang berhadapan dengan bangku kebesaran Galen.


"Ini file yang kemarin. Semua sudah tersusun rapi, sesuai dengan kontrak kerja dan tanggal pembuatannya." Sandra menyerahkan file di tangannya di atas meja.


Sesaat Aldo memeriksa semua filenya. Aldo mengangguk pelan. "Ok, bagus. Tolong sekarang kamu susun yang itu." Aldo menunjuk tumpukan file yang ada di hadapannya. "Saya sedang menyelesaikan pekerjaan ini, sedikit lagi!" titahnya.


Beberapa menit berlalu. Aldo masih serius dengan pekerjaannya. Sandra terlihat juga sibuk menyusun file yang sudah ditanda tangani bosnya, Galen Alexander Wijaya.


Aldo kalah cepat dengan Sandra.


"Mas, semuanya sudah selesai." Aldo melirik sesaat kepada Sandra. "Yang ada di rumah sakit siapa ya? apa Oma Ratih? Maaf tadi saya dengar dari Galen, dia mau ke rumah sakit. Apa yang terjadi?" tanya Sandra membuat Aldo menatapnya tajam.


"Maaf... Mas Aldo, saya hanya khawatir. Kalau Oma Ratih yang berada di sana, saya mau menjenguknya," ucap Sandra pelan. wanita itu dengan cepat mengklarifikasi pertanyaannya. Ia tahu Aldo sangat tidak suka kalau bawahan terlalu banyak bertanya mengenai atasan mereka.


"Oma Ratih baik-baik saja! Nona Aline yang berada di sana," sahut Aldo. Pria itu kembali fokus dengan pekerjaannya yang sedikit lagi selesai itu.


Sandra manggut-manggut mendengarnya. "Aline..., sakit apa dia, Mas?" Sandra kembali bertanya saking penasarannya.


"Sakit, biasa," jawab Aldo datar. Ia tidak mau memberitahu lebih jelas kejadian yang menimpa Aline. "Kalau sudah selesai silakan keluar ruangan. Bukankah sudah jam istirahat?" Aldo menatap Sandra.


"Iya, Mas. Kalau begitu saya permisi." Sandra undur diri dari ruangan itu.

__ADS_1


Tak jauh dari ruangan Galen Sandra terus melangkah menuju lift sambil berpikir tentang Aline. " Aline sakit apa ya? Galen kelihatannya khawatir sekali." Sandra berjalan tanpa melihat jalan di depannya. Ia tak sadar lift sudah di depan mata.


Saat lift terbuka, seorang pria tinggi dan berkharisma keluar dari lift tersebut. baru dia langkah ia keluar dari lift wanita di depannya melangkah maju tanpa melihat jalannya.


Bugg


"Aduh...," pekik Sandra sambil mengelus keningnya. "Mas kalau jalan liat-liat dong?" Sandra mendongak menatap tubuh kekar yang ada di hadapannya.


"Yang jalan tidak pakai mata siapa? Hah!Kamu jalan sambil berbicara sendiri. Pas nabrak nyalahin yang di tabrak. Dasar cewek aneh." Bara melangkah melewati Sandra yang tidak bisa melawan. Kenyataannya ia sadar, disini dirinyalah yang bersalah.


"Ganteng, berkharisma tapi galak banget." celetuk Sandra kemudian wanita itu memasuki lift menuju kantin. Karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang untuk para karyawan.


Bara berjalan dengan langkah tegap ke arah ruangan Galen. Ia ingin mengklarifikasi berita yang di bawa oleh anak buahnya. Salah satu dari mereka melaporkan kalau ada peristiwa yang menimpa calon istri dari adik tirinya itu.


Bara merasa Galen gagal melindungi Aline. Wanita yang ia dambakan menjadi pendampingnya.


"Dimana Galen?" tanya Bara saat ia memasuki ruangan Galen. Suaranya terdengar meninggi ada tidak suka dalam perkataannya.


.


.


.


.


Bersambung. >>>>


Abang Bara, jangan marah dulu.. mending bantuin deh bang Galen...


.


.


.


Author bakalan rajin kayaknya ni. Bantu Favorit ❤ like 👍 ✍ komen sebanyak-banyaknya ya. Biar Author makin semangat buat up. beri rating bintang 5 juga ya....

__ADS_1


Hatur nuhun.


__ADS_2