Fake Love

Fake Love
Naluri Mengalahkan Nalar


__ADS_3

"Anak kurang ajar, anak itu tidak mengucap salam dulu!" omelnya.


Tuan Wijaya duduk di balkon kamarnya. Malam ini ia tak bisa memejamkan mata. Kejadian tadi sore di rumah sakit masih menyita di pikirannya. Merasa tak enak hati perihal sikapnya tadi sore terhadap Zainab.


"Kenapa penyesalan kepadamu tidak pernah hilang, Sayang! Apa kamu tidak mau memaafkanku,, aku sangat menderita selama ini. Ijinkan aku lepas dari bayang penyesalan ini, Indira!" batin Tuan Wijaya sambil menatap langit malam yang indah. Tapi tidak seindah hatinya.


Kerap kali penyesalan datang secara tiba-tiba saat itu pula rasa sesak terasa olehnya. Yang Tuan Wijaya lakukan adalah pergi, menyendiri saat penyesalan itu melanda dirinya. Selama dua puluh delapan tahun ia merasakan itu. Bahkan melihat Galen bayi pun ia selalu menyalahkan dirinya sendiri, atas kepergian istrinya. Maka dari itu, Tuan Wijaya menutup hatinya untuk Nyonya Mariska.


Tuan Wijaya menyalakan pematik api, menyalakan satu barang roko di jarinya. Biasanya perasaannya akan lebih baik setelah ini.


...***...


Awal rencana, Galen ingin melepaskan penat dengan tidur sejenak di apartement miliknya.


Setelah membersihkan diri. Galen berbaring di tempat tidurnya. Apartement yang sudah lama tidak berpenghuni tapi masih rapi terawat kini jadi tempat Galen melepas lelah.


Mata elang itu tidak bisa terpejam. Sama seperti papanya, Galen juga memikirkan kekasihnya. Ia takut trauma Aline datang lagi.


Naluri mengalahkan nalarnya. Jiwa ingin beristirahat tapi hati tetap memaksanya ke rumah Aline.


Rasa ingin menjaga Aline sangatlah besar. Tanpa memikirkan rasa lelahnya, Galen meraih kunci mobil lalu bergegas menuju rumah Aline.


Setelah sampai, Galen menepikan mobilnya di seberang rumah berpagar besi yang di dominasi kayu alam itu, Padahal kalaupun ia mengetuk pintu gerbang, Pak Joko pasti akan membukakan pintu untuknya, meskipun waktu sudah menunjukan tengah malam. Tapi Galen tidak melakukan itu cukup berada di sana ia sudah merasa tenang. Kalau pun ada sesuatu yang terjadi pria itu pasti langsung turun dan membantu.


Di aturnya posisi bangku kemudi menjadi posisi agar pria tampan itu bisa berbaring. Dari dalam mobilnya Galen bisa melihat jelas kamar Aline yang berada di lantai dua.


Lampunya masih menyala. Galen pikir Aline masih terjaga, tapi dugaannya salah. Setelah menghubungi Bu Winda, pria itu mendapati kabar bahwa Aline sudah tertidur di sampingnya. Gadis itu tidak mau tidur dalam keadaan gelap. Padahal itu adalah salah satu kebiasaan nya, tetapi tidak untuk sekarang ini. Trauma yang masih di alami Aline membuatnya tidak ingin tidur sendiri. gadis itu juga meminta Bu Winda agar tetap menyalakan lampu kamarnya.


Mata elang itu makin lama terpenjam, di temani sunyi nya malam dan rintik hujan yang turun, Galen terlelap di dalam mobilnya.


...***...


Menjelang subuh, Ayah Zaki membangunkan Bu Winda untuk melaksanakan subuhnya. Ternyata istrinya sudah terbangun lebih dulu.


"Mah... " panggil Ayah Zaki membuat Bu Winda menoleh ke arahnya.


Sengaja pintu kamar Aline tidak ditutup rapat. Agar Ayah Zaki bisa mendengar, takut kalah Aline histeris di malam hari.


Lekas Ayah dari Aline itu masuk, memastikan keadaan putrinya.


Ayah Zaki menatap lekas wajah Aline, putri kesayangannya. "Apa dia tidak terbangun semalam?"

__ADS_1


Bu Winda menggeleng. "Tidak, tapi Aline tidur gelisah. Selalu berkeringat dan mengigau," ujar Bu Winda.


Di usapnya kening dari putrinya. Masih terlihat keringat yang masih basah di sana.


Alam bawah sadarnya masih membawanya pada kejadian itu.


"Temani dia terus Bu, semalam Ayah dapat kabar dari Galen, penjahat itu telah tertangkap. Hasil visum akan keluar pagi ini, dan akan segera dikirimkan kepada pihak kepolisian. Tapi sebelumnya kita diminta untuk datang ke rumah sakit guna mendengarkan penjelasan dokter mengenai hasil visum tersebut." Ayah Zaki menatap Aline. "Kita bisa tinggalkan dia bersama Zainab sebentar."


Bu Winda mengangguk. Wanita yang melahirkan Aline juga ikut menatap putrinya sejenak. Ayah Zaki pamit untuk solat ke majlis yang tak jauh dari rumahnya.


Sedangkan Bu Winda membangunkan Aline untuk ikut jamaah bersama dirinya.


Langkah Ayah Zaki menghentikan langkahnya, ia memicingkan mata melihat kendaraan roda empat yang ia kenal di sebrang jalan. Di dekatnya kendaraan tersebut.


Mesin mobil yang menyala menandakan ada seseorang di dalam sana.


Tok tok tok


Suara ketukan kaca mobil membuat Galen terusik, pria yang tidur dalam posisi terlentang sambil melipat kedua tangan di atas perutnya itu perlahan membuka matanya. Kesadaran masih belum sepenuhnya kembali. Galen belum menyadari keberadaanya.


Toktoktok


Ayah Zaki tidak akan melihat ke dalam mobil karena mobil tersebut, hanya orang yang berada di dalam mobil lah yang bisa melihat situasi di luar mobil.


"Galen... " Ayah Zaki sedikit tersentak melihat seseorang yang ada di dalam mobil setelah kaca mobil terbuka.


"Iya, Yah!" Galen tersenyum kikuk ketahuan Ayah Zaki.


"Kenapa kamu tidur di sini?"


"Saya tidak tenang jauh dari Aline, Yah. Saya takut Aline kembali histeris." akunya.


Galen mempunyai perasaan yang sama seperti dirinya, mengkhawatirkan kondisi Aline. Senyum tersirat di wajah Ayah Zaki, berharap rasa Galen tak pernah berubah untuk putrinya.


"Semoga perasan mu akan selamanya sama kepada putri Ayah, Gal" harap Ayah Zaki dalam hati.


"Kenapa tidak membangunkan Pak Joko, kamu bisa tidur di dalam."


"Saya tidak mau menganggu, semalam sudha sangat larut saat saya tiba di sini" ungkap Galen.


Ayah Zaki menggeleng kepala pelan. "Kamu ini, nanti kalau sakit bagaimana?"

__ADS_1


"Ayah mau kemana" tanya Galen mengalihkan pembicaraan.


"Ayah mau ke masjid dekat sini, kamu mau ikut?" ajak Ayah Zaki.


Galen mengiyakan tapi pria itu meminta Ayah Zaki mau meminjamkan sarung dan pecinya. Lekas Ayah Zaki masuk ke dalam rumah, meminta istrinya untuk mengambilkan dua benda tersebut.


Sebelumnya Galen berpesan agar tidak memberitahukan keberadaannya saat ini kepada Aline jika gadis itu bertanya. Ayah Zaki pun menyetujuinya.


Di balik tirai di lantai dua,Aline menatap kepergian Galen bersama Ayahnya. Ada rasa senang saat melihat Galen pagi ini. gadis itu berpikir Galen akan meninggalkannya.


"Nak... " Panggil Bu Winda yang datang kembali ke kamar Aline. Beliau membawakan teh hangat jahe, agar perut Aline terasa hangat.


"Terima kasih, Bu!" Aline menerimanya lalu meminumnya perlahan selagi hangat. "Bu, apa itu artinya Aline tidak akan hamil kalau saat ini sedang menstruasi," tanya Aline setelah meneguk pelan jahe yang ada di tangannya. Gadis itu lekas menunduk dengan banyak pemikiran dalam benaknya.


Bu Winda bingung harus menjawab apa. Karena beliau juga tidak tahu akan hal itu. Tapi yang ia tahu tidak ada pembuahan sehingga tidak akan terjadi kehamilan. kecuali, jika melakukan hubungan setelah menstruasi itu akan mempercepat pembuahan sehingga kehamilan akan terjadi.


Penjelasan dari ibunya sedikit membuatnya lega, berarti ia tidak akan mengandung anak dari pria brengsek yang telah melecehkan dirinya. Tapi Aline sedikit ragu, apakah Galen mau melanjutkan pernikahan dengannya. Aline merasa dirinya tidak pantas untuk Galen.


Bu Winda mengerti akan lamuan Aline. Perlahan ibunya itu, mengajak Aline untuk mengutarakan semua pemikirannya. Ia ingin putrinya berbagi dengannya. Ia tidak mau Aline tertekan dengan masalahnya sendiri.


"Bu... " panggil Aline sambil terus menunduk.


"Kenapa, Nak!" Aline mendongak menatap ibunya. "Ceritakan apa yang ada di pikiranmu kepada Ibu, barangkali ibu bisa membantu mu meringankannya." Bu Winda mengelus lembut kepala Aline.


"Bagaimana kalau pernikahan Aline dan Galen di batalkan saja?" cetus Aline.


.


.


.


.


.


.


Bersambung


Semoga kalian yang hadir masih setia ya membaca ceritaku.

__ADS_1


__ADS_2