Fake Love

Fake Love
Sama Sama Keras Kepala


__ADS_3

Aline dan Galen tiba di depan hunian mewah dengan halaman taman yang luas, menampilkan keadaan bangunan yang begitu indah. Sore menjelang malam, saat pasangan pengantin baru tiba di sana. Aline di suguhkan keindahan rumah yang sangat menakjubkanya.


Sinar cahaya lampu yang makin membuat pantulan cahaya makin bersinar pada bangunan tersebut. Dulu, Aline ke rumah itu saat siang hari. Jadi, ia tidak melihat keindahannya di sore hari.



"Mas ... bagus banget suasananya!" ucap Aline takjub saat mobil mereka tiba di sana.


Galen menghentikan mobilnya tepat di depan anak tangga. Dua orang pelayan wanita dan pria sudah menunggu mereka.


"Kamu senang melihatnya?" ucap Galen. Mereka tidak langsung turun dari mobil.


"Heemm...," jawab Aline sambil melempar senyum kepada Galen.


"Kita akan tinggal di sini, nantinya!"


Aline dengan cepat menoleh ke arah Galen.


Menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Itupun kalau kamu mau tinggal di sini!" ucap Galen seakan takut kalau Aline tidak menyetujui keputusannya.


"Aku akan ikut kemanapun kamu tinggal, Mas ... Termasuk tinggal di sini, asalkan bersama kamu!"


Galen merasa lega mendengarnya. Ia sangat bahagia dengan jawaban Aline.


"Kamu setuju tinggal di sini?" tanya Galen menatap Aline meminta penjelasan lebih.


Aline mengangguk pasti. "Iya, Mas...!"


"Terima kasih, Sayang! Ayo... Kita turun, ada Oma yang sudah menunggu kedatangan kita!" ajak Galen yang mendapat anggukan dari Aline.


Galen turun terlebih dulu dari mobil. Berjalan memutar lalu membuka pintu mobil depan, Aline turun dari dalam sana. Tatapan nya masih menatap takjub ke sekeliling bangunan memperhatikan cahaya lampu yang menyinari bangunan tersebut menambah kesan mewah sangat melekat pada hunian mewah itu.


Galen sedang berbicara pelan kepada kedua kedua pelayan itu agar tidak perlu memberikan penyambutan berlebih. Ia dan Aline tidak perlu di ikuti sampai ke dalam rumahnya.


"Kalian kembalilah bekerja. Tidak perlu menemani kami!" ucapnya kepada para pelayan itu.


Kedua pelayan mengangguk paham.


"Jika ada yang Tuan Muda Alex butuhkan, bisa panggil saya, Tuan!" ucap pelayan pria sopan sambil membungkuk hormat.


"Hm ..." hanya deheman balasan dari Galen.


Kedua pelayan pun meninggalkan pasangan pengantin itu.


Galen lekas mendekati Aline. Meraih jemari Aline lalu menggenggam nya erat. Mereka berjalan perlahan menaiki tangga hingga tiba di depan pintu depan. Karena orang di kediaman itu sudah mengetahui kedatangan Aline dan Galen. Pintu rumah yang besar itu sudah terbuka lebar. Dua orang pelayan wanita kembali menyambut kedatangan mereka. Mbok Yem, pelayan sesepuh yang sudah seperti orang tua bagi anak-anak Tuan Wijaya ikut menyambutnya .

__ADS_1


"Selamat malam, Tuan muda Alex, Nona Aline. Senang melihat kedatangan pasangan pengantin baru ini!" sapa Mbok Yem tanpa canggung tetap dengan suara sopan dan sedikit menundukkan kepala sebagai tanda kehormatan untuk tuan mudanya.


Seulas senyum terpancar dari wajah Galen. Sikapnya terlihat dingin di hadapan dua pelayan yang lain tidak termasuk kepada Mbok Yem. "Terima kasih, Mbok Yem!" ucap Galen sambil menundukkan kepala, sebagai rasa hormat Galen terhadap orang yang lebih tua darinya.


Aline yang berdiri di samping Galen hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala saat dirinya di apaa oleh para pelayan.


"Selamat datang ... Cucu menantuku!" sapa Oma Ratih, yang datang mendekat dengan kursi roda. Di dorong kartika di belakang nya.


"Oma ...!" Aline terkejut saat melihat Oma Ratih, lekas ia berjalan cepat ke arahnya. Menyaliminya lalu memeluk tubuh wanita paruh baya itu. "Oma sehat?" tanya Aline sambil meregangkan pelukan.


"Sehat, Sayang...!"


"Hai, Kartika!" sapa Aline kepada gadis yang berdiri di belakang kursi roda setia menemani Oma Ratih meski beliau bukanlah nenek kandungnya.


Tapi kasih sayang nya sudah layaknya nenek kepada cucu kandungnya sendiri maupun sebaliknya.


"Hai, juga Kak Aline." Kartika terseyum menanggapinya.


"Kenapa baru ke sini? Oma tunggu kalian dari tadi!" ucap Oma Ratih sedih.


Entah kenapa sikap Oma Ratih akhir-akhir ini jadi lebih manja, kadang sikapnya seperti anak kecil yang harus dituruti.


Mereka memaklumi karena umur Oma Ratih yang sudah sepuh. Kadang orang tuan yang sudah sepuh akan kembali bersikal seperti anak kecil.


"Maaf, Oma. Galen habis antar Aline dulu ke psikiater. Setelah itu ada urusan sebentar. Maaf ya, buat Oma menunggu!"


"Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Oma Ratih terlihat khawatir.


"Alhamdulillah, Aline sembuh dari rasa traumanya, Oma. Dokter bilang dia harus di ajak ke tempat yang tenang dan nyaman. Yang bisa merilekskan hati dan pikirannya!" ujar Galen berlebihan.


"Benarkah?" Oma mengerutkan alis merasa tak percaya. Padahal tak perlu dikerutkan alis Oma Ratih memang sudah berkeriput.


"Benar, makanya nanti malam Galen mau mengajaknya ke pulau Maluku, Oma. Ke suatu tempat yang bakalan membawa hasil saat kami kembali nanti." celetuk Galen berhasil mengecoh Oma Ratih. Sikap jahilnya sudah mulai beraksi.


"Hasil apa?" Oma Ratih masih terlihat bingung.


Aline yang sangat mengerti arah pembicaraan Galen memberikan tatapan tajam kepada suaminya itu.


Galen melihat tatapan Aline, lalu mengacuhkannya saja. Ia beralih kembali menatap Oma Ratih.


"Hasil kerja keras Galen yang akan membuat Oma senang nantinya. Oma setuju kan kalau aku mengajak Aline honeymoon . Biar Oma cepat dapat cucu." bisik Galen lembut ke telinga Oma Ratih.


Oma Ratih mengangguk pelan. "Iya, Oma Setuju. Memang kalian harus melakukan itu, harus pergi ke tempat tenang tanpa gangguan. Yah... Oma tidak jadi dong mengadakan pesta makan bersama teman-teman Oma!" ucap Oma Ratih kecewa, tapi wajahnya tidak terlihat bersedih. "Tidak pa-pa setelah kalian pulang berbulan madu, kita harus adalah resepsi!" usul Oma Ratih kepada Galen dan Aline.


Aline kembali menatap Galen. Kartika hanya tersentum melihat Galen yang sedang merayu Oma Ratih.


"Hehehe... Aku terpaksa bilang, kalau tidak kita tidak diijinkan pergi malam ini!" bisik Galen berganti kepada Aline dengan suara pelannya.

__ADS_1


Benar kata Galen kalau Oma Ratih tidak segera di beritahu kalau meraka akan pergi honeymoon, bisa jadi berbagai acara akan segera di gelar.


"Kalian sudah datang." sapa Tuan Wijaya yang berjalan menuruni anak tangga.


Papa dari Galen terlihat memakai pakaian santai, penampilan jadi terlihat lebih muda. Apalagi Tuan Wijaya mencukur bulu halus yang ada di wajahnya.


Tuan Wijaya dan Galen jadi terlihat seperti Kakak beradik.


"Kami baru saja datang." sahut Galen.


"Mbok Yem, siapkan makan malam," ucap Tuan Wijaya tegas, orang yang di panggil namanya mengangguk lalu mengajak kedua pelayan yang lain, segera bersiap untuk menyiapkan makan malam.


"Lebih baik kalian bersihkan diri dulu, setelah itu kita makan malam bersama. Jam berapa jadwal penerbangan ke Maluku?" Galen melirik papanya.


"Papa tau dari Aldo, karena besok adalah rapat penting, ia menghubungi Papa untuk bisa menggantikan kamu yang akan pergi berbulan madu! Papa masih ada wewenang jabatan di sana, ingat itu! Jadi posisi papa masih terbilang penting," ucap Tuan Wijaya sombong.


"Oh, Ya... kalau masih memegang kendali kenapa harus meminta tanda tanganku untuk pencairan dana sumbangan pembangunan masjid." Galen menggelengkan kepala mendengar ucapan Tuan Wijaya. "Berarti jabatan ku sekarang lebih tinggi dari Papa. Ingat Papa tidak bisa semau papa mengeluarkan uang yang tidak ada gunanya lagi seperti dulu, semua harus dengan ijinku." Galen ikut menyombongkan diri.


Sifat dan sikap yang begitu terturun dari Tuan Wijaya. Sangat terlihat jelas saat ini. Tapi jahilnya Galen, menurun dari siapa ya.


Oma Ratih, Aline dan Kartika hanya ikut mendengarkan ucapan anak dan papa yang sepertinya saling serang itu.


"Mereka memang seperti itu kalau bicara tidak mau saling mengalah. Sama-sama kerasa kepala." Oma Ratih memberi tahu.


"Sayang ... sini! Kita harus mandi dan bersiap untuk pergi berbulan madu." ucap Galen dengan nada penekanan pada kalimat terakhirnya. Seakan tengah meledek Tuan Wijaya.


"Aline ke sana dulu, Oma!" pamit Aline dan Oma Ratih pun mengangguk. Tak lupa Aline pamit juga kepada Kartika dan Tuan Wijaya untuk membersihkan diri.


Galen meraih jemari Aline lalu menariknya untuk ikut ke kamarnya di lantai dua. Tanpa menghiraukan papanya.


Semua kamar tidur ada di lantai dua. Kamar Tuan Wijaya, dan tiga kamar lagi milik anak-anaknya. Pasti kalian sudah tau kan siapa saja anak-anak dari Tuan Wijaya. he.. di lantai bawah hanya ada dua kamar. satu kamar di pakai Oma Ratih karena beliau tidak bisa menaiki tangga.


"Dasar bocah, lihat saja, nanti juga Papa akan pergi bulan madu. Bahkan Papa akan sewa pulau untuk tempat kami berdua!" oceh Tuan Wijaya sewot seakan tidak terima Galen berbangga.


"Bulan madu dengan siapa, Pah?" celetuk Kartika. "Apa Papa sudah ada pengganti Mama?" tanyanya lagi.


Tuan Wijaya menggaruk lehernya yang tidak gatal.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Hahah.... kasian banget Tuan Wijaya.. Sama aku aja yuk.... ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2