Fake Love

Fake Love
Meninggalkan Kenangan


__ADS_3

Oma Ratih, dan Aline melambaikan tangan usai mengantarkan Sandra dari pemakanan.


Galen tetap seperti biasa bersikap dingin dan acuh, tidak ada sapaan perpisahan darinya.


Sunyi dan sepi setelah para pelayat dan tetangga yang membantu mengurus jenazah ibunya tadi kembali ke rumahnya masing-masing.


Hanya ada Bara. Pria itu masih setia menemani Sandra.


Hening, tidak ada pembicaraan saat Sandra dan Bara duduk bersebrangan di sofa yang ada di dalam rumah kontrakan yang menjadi tempat tinggal Sandra selama ini.


Ingin memulai obrolan tapi Bara bingung harus mulai dari mana. Sandra hanya diam dengan tatapan kosong mengarah ke sebuah kursi roda yang biasa di pakai Almarhumah Bu Sarah. Hingga sebuah panggilan dari ponsel Bara memecah keheningan diantara mereka berdua.


"Aku angkat telepon dulu," ujar Bara tanpa mendapat reaksi apapun dari wanita di hadapannya itu.


Bara bangkit berdiri kemudian melangkah keluar rumah menerima panggilan telepon entah dari siapa.


Cukup lama Bara berada di luar, Sandra yang dari tadi hanya diam penasaran dengan pria yang masih setia menemaninya itu. Ia pun bangkit berdiri, tapi tidak berani bertanya. Sandra mendengar ucapan Bara kepada seseorang di sebrang teleponnya. Ia kembali ke kamar teringat sesuatu yang akan ia kembalikan kepada Bara.


"Mundurkan saja waktunya. Saya akan kantor paling cepat pukul tiga siang nanti," ucap Bara seraya melirik jam di pergelangan tangannya."


Usai menutup sambungan teleponnya Bara berbalik badan hendak masuk lagi ke dalam rumah Sandra.


"Terima kasih sudah menemaniku sampai pemakamannya selesai," ucap Sandra datar seraya menyodorkan sesuatu dalam bungkusan amplop berwarna cokelat. Isinya adalah uang yang ia Bara janjikan semalam. Uang itu diberikan tadi pagi. Sebelum Nyonya Mariska datang ke apartemen Bara.


"Ini uang yang saya sempat pinjam. Sepertinya uang ini tidak berguna sekarang ini." Sandra meraih tangan Bara membalikkan tangannyalalu memindahkan ampop berisi uang itu ke telapak tangan Bara.


"Aku tidak mau berhutang banyak kepadamu. Terima kasih sudah membantuku, Maaf... Sebaiknya kamu pulang, aku tidak mau warga salah paham akan kehadiranmu yang terlalu lama di sini."


"Sebaiknya aku antar kamu ke tempat Oma! Bukankah beliau meminta kamu tinggal bersama dengannya."


Sandra menggelengkan kepalanya pelan. "Aku mau di sini saja!" serah Sandra.


Bara membuang napas berat. Ia tidak bisa memaksa Sandra. "Kamu pasti membutuhkan uang ini anggap saja ini sebagai---,"


"Bayaran karena kita tidur bersama semalam!" Sandra memotong ucapan Bara seraya tersenyum kecut menanggapinya


Sebenarnya Bara tidak bermaksud menyinggung kejadian semalam. Tapi Sandra malah membahasnya.


Bara sudah bertekad akan bertanggung jawab atas perbuatannya.


"Aku tidak akan meminta bayaran atas itu, kita melakukannya karena saling membutuhkan. Meskipun tidak ada perasaan di dalamnya. Jadi, kamu tidak perlu ada perasaan ingin bertanggung jawab terhadapku. Aku bukanlah wanita baik-baik untukmu." Sandra berucap lirih, rasanya sakit. Ia telah menghancurkan sesuatu yang belum tumbuh.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu!" Bara seakan tidak terima.


"Aku sadar diri, Bara! Derajat dan status kita berbeda. Benar kata Ibumu, setiap orang tua pasti ingin mendapatkan pasangan yang baik untuk putranya. Kita bukan siapa-siapa, kita hanya terjebak dalam situasi yang tidak tepat saja. Terima kasih! Aku tidak membutuhkan uang itu saat ini! Aku hanya butuh sendiri!" Sandra membungkuk hormat kepada Bara kemudian membalikkan badan lalu masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Bara yang mematung tanpa membalas ucapan Sandra.

__ADS_1


Sandra menempelkan punggung di daun pintu. Berharap Bara segera pergi dari rumahnya.


Bara mematung menatap Sandra menutup pintu rumahnya.


Mengapa takdir seakan mempermainkan perasaanku.


Disaat hati ini mencoba membuka diri untuk wanita lain. Dan di saat yang bersamaan pula hati ini terpatahkan.


Bara pun meninggalkan rumah Sandra dengan perasaan kecewa. Sesekali ia menengok ke belakang. Berharal Sandra mempunyai perasaan yang sama dengannya.


"Maafkan aku, Bara. Aku sadar siapa diri ini. Tidak hanya kepadamu tapi kepada siapapun, aku merasa tidak pantas berbagi hati." Tubuh Sandra runtuh. Ia duduk di lantai sambil menelungkupkan kepala di atas lutut yang ditekuk.


Tangisnya kembali pecah. Sandra merasa menjadi wanita yang rendah. Dua kali melakukan hubungan terlarang tanpa ikatan pernikahan. Membuatnya merasa semakin berdosa.


"Aku ingin menyusul mu, Bu!" lirih Sandra dengan isak tangis.


***


Semalam adalah malam ketujuh meninggalnya Bu Sandra. Acara tahlilan sudah selesai. Dan pagi ini Sandra berjiarah ke pemakaman yang tak jauh dari rumahnya.


Berjongkok di depan gundukan tanah yang masih merah. Bunga di atas tanah itu sudah terlihat layu.


Sandra mulai menaburkan bunga dan air yasin yang ia bawa dari rumah. Air doa dari pengajian tujuh hari Almarhum ibunya. Sandra mulai berdoa singkat memajatkan doa demi doa untuk ibunya. Setelah itu dia tersenyum manis seraya memegangi Papan yang tertancap di atas gundukan tanak dengan tulisan nama Sarah Amalia, nama lengkap dari Ibunya. Di bawahnya juga tertulis binti dari sang kakek beserta tanggal lahir dan wafat pun tercatat pada papan nisan sederhana itu.


Bu... Apa kabar? Sedang apa di sana?


Meski hati ini sudah ikhlas melepas kepergianmu, tapi jiwa ini seakan rapuh tak ada ragamu di sisiku.


Hanya bersamamu setiap hari aku bersemangat menjalani hari, berkorban apapun agar kamu bisa terus bertahan melawan sakitmu.


Tak pernah peduli dengan keinginan hati yang terpenting bisa menyelamatkan dirimu dari rasa sakit yang menggerogoti tubuhmu.


Kini, Ibu sudah tenang. Rasa sakit itu sudah sirna. Tinggalah Sandra di sini sendiri, Bu.


Aku harus kuat, menjalani hidup sendiri tanpa dirimu.


Batin Sandra dalam diam.


Tak terasa pacaran sinar yang hangat menerpa tubuhnya menandakan ia sudah hampir tiga jam berada di pemakaman.


Sandra ingat hari ini ia akan ikut bersama Pak Budi ke Bandung, orang yang selama ini baik kepada Sandra dan Bu Sarah.


"Bu... Hari ini aku pergi ke Bandung. Aku tidak bisa tinggal di Jakarta. Begitu menyakitkan buatku. Maaf jika aku akan jarang mengunjungi makan ibu. Tapi Sandra janji akan menyempatkan waktu ke sini." Sandra memegangi nisan yang terbuat dari papan kayu yang sudah di beri tulisan itu sesekali mengecupnya. berusaha sekuat tenaga untuk lebih mengikhlaskannya lagi karena hari ini adalah hari terakhirnya berada di Jakarta.


Sandra meniggalkan pemakaman dengan perasaan sedih. Sesampainya di rumah, Pak Budi dan Bu Miran sudah bersiap dengan beberapa koper di depannya.

__ADS_1


"Maaf, aku terlalu lama berada di makam ibu," ucap Sandra merasa tidak enak hati.


"Tidak pa-pa... Mobil travel nya juga belum datang kok!" sahur Bu Mirna. "Mana tas yang akan kamu bawa Sand?"


"Sebentar, aku ambil dulu, Bu!" Sandra masuk ke dalam rumahnya.


Semalam Sandra sudah menyiapkan pakaian yang akan ia bawa. Beberapa barang berharga yang ada di rumah kontrakannya sudah ia lelang dengan harga murah. Seperi televisi, kulkas dan barang elektronik yang masih bagus sudah laku terlelang sedangkan yang lainnya ia memberikan kepada para tetangga yang mau menerima barang bekas pakainya itu.


Saat Sandra hendak kelaur dari kamarnya. Ia melihat baju hoodie yang tergantung di balik pintu. Baju milik Bara. Sandra tersenyum miris mengingatnya.


"Ternyata aku memang bukanlah siapa-siapa," gumam Sandra mengingat terakhir kali dirinya bersama Bara.


Semenjak hari pertama ibunya meninggal, Bara tidak lagi menemuinya. Mereka tidak pernah bertemu lagi setelah itu. Bara sibuk dengan perusahaan barunya. Perusahaan yang memproduksi produk olahan urnuk makanan dan minuman.


Hanya Oma Ratih dan Aline yang beberapa kali mengantarkan makanan untuk membantu acara tahlilan.


Oma Ratih juga berkali-kali mengajak Sandra tinggal bersamanya di rumahnya, bukan di kediaman Wijaya. Tapi lagi-lagi Sandra menolak dengan halus. Tidak mau membuat wanita paruh baya itu merasa kecewa.


Sandra hanya berjanji akan selalu datang mengunjunginya jika Oma Ratih sedang berada di rumahnya sendiri. Sandra sangat menghindari bertemu dengan Galen. Padahal Aline sudah berbicara berusaha dengannya. Dia dan Galen sudah melupakan semua yang terjadi.


Panggilan dari Pak Budi membuat Sandra harus segera bersiap. Ia menarik hoodie milik Bara. Ia berniat akan membawanya.


Pak Budi, Bu Mirna dan Sandra menaiki mobil travel yang sudah dicarter sebelumnya meninggalkan kota Jakarta yang penuh dengan kenangan pilu bagi Sandra.


***


Tiga minggu berlalu, Sandra merasa senang dengan kegiatan barunya saat ini.


Meninggalkan kota Jakarta dengan banyak kenangan bersama almarhumah ibunya Sandra pergi ke tempat baru, Dimana ia menjadi pengawas untuk beberapa ibu ibu yang sedang memerah sapi di peternakan milik Tuan Braja.


Sandra beruntung memiliki tetangga seperti Pak Budi. Beliau asli orang Bandung, melihat kesedihan dan keterpurukan yang dialami Sandra. Pak Budi mengajaknya ke Bandung bersama sang Istri karena pria tua itu sudah tidak berkerja sebagai supir lagi.


Pak Budi memilih kembali ke kota Lembang untuk melanjutkan usaha yang ia bangun dari hasil uang pesangonnya.


Sandra membantu membawa hasil perlahan yang di dapat beberapa ibu yang bekerja memerah susu sapi secara manual ke dalam wadah bersih untuk ia saring.


Sandra menyaring susu hasil perahan dengan kain penyaring untuk memisahkan bulu, kotoran, atau sisa makanan yang masuk ke dalam susu. Setelah itu susu diukur dengan alat penakar, memindahkan susu ke dalam wadah atau kantung plastik bersih.


Susu pun siap didistribusikan untuk dijual.


Sandra sangat nyaman dan menyukai kegiatan barunya saat ini, meskipun gaji yang ia dapat hanya sedikit tapi cukup untuk menghidupi dirinya sendiri.


.


.

__ADS_1


.


Baca kelanjutan ceritanya ya...


__ADS_2