
Zayn langsung menurunkan penyangga sepeda. Bocah laki-laki berumur 9 tahun itu berjalan mendekati gadis yang sudah berdiri sendiri dengan usahanya.
“Maaf, aku tidak sengaja!” ucap Zayn padanya.
Zara hanya tersenyum tipis membalasnya.
“Gak pa-pa! Lagian tadi aku juga terlalu tengah jalannya.” Balas Zara menjaga keseimbangannya berdiri sebab tongkat miliknya penyok akibat terlindas sepeda milik Zayn.
“Zara!” panggil seseorang.
Zara, Zayn dan Zia menoleh ke sumber suara.
“Papa!” Sahut Zara.
“Biar Zia bantu!” ucap gadis manisnya yang berdiri di samping Zayn.
“Terima kasih! Aku bisa sendiri!” Zara berjalan sambil berjinjit.
Derald ayah dari Zara lekas turun dari motornya. Berjalan mendekati putri kesayangannya.
“Loh, tongkat kamu mana?” tanya Derald pada Zara.
Zayn, bocah laki-laki itu berjalan cepat menghampiri keduanya.
“Ini tongkatnya, Om! Maaf karena saya tidak seimbang mengendarai sepeda, dia jadi tertabrak!” Zayn menyerahkan tongkat yang sedikit penyok kepada ayah dari gadis yang ia tabrak. Kemudian melirik Zara sekilas. “Saya minta maaf!”
Derald tersenyum pada anak lelaki yang ada di hadapannya ini. Masih kecil sudah berani mengakui kesalahannya dan meminta maaf sendiri.
“Tidak pa-pa, yang penting putri Om, baik-baik saja!”
“Saya akan menggantinya, nanti!” lanjut Zayn.
Derald kembali menyunggingkan senyuman.
Zara hanya bisa terunduk malu sebab Zia, gadis yang bersama Zayn selalu menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
Zara memegangi tubuh Derald kemudian sedikit menggeser tubuhnya dengan satu kaki. Bersembunyi di balik tubuh sang ayah.
Derald paham kalau Zara sedang merasa tidak nyaman.
“Tidak perlu, Zara masih punya dua tongkat lagi di rumah, benarkan, Nak?”
Zara pun mengangguk pelan.
‘Oh... Namanya Zara.’
Batin Zayn yang mencuri pandangan ke arah gadis yang bersembunyi di balik tubuh ayahnya.
“Kami permisi, lain kali jangan bermain di jalanan,” ucap Derald menasihati Zayn.
“Maaf, Om!” Zayn sedikit menundukkan kepalanya.
Derald mengajak putrinya untuk pulang.
“Kita pamit dulu ke bibi-mu!” ucap Derald kepada Zara dan mendapat anggukan dari gadis itu.
“Iya, Ayah!”
Zara pun ikut naik ke atas motor.
Saat motor melaju pelan. Zara menoleh ke belakang.
Anggukan pelan dengan bibir yang terlihar bergerak, mengucap kata maaf tapi tak bersuara Zayn berikan.
Zara membalas dengan anggukan pelan dan senyumannya hingga motor itu masuk ke dalam sebuah rumah di ujung jalan.
__ADS_1
“Apa dia tinggal di sana ya Kak?” ucap Zia yang ternyata fokus menatap gadis tadi. “Kasihan sekali ya, dia tidak punya kaki!” oceh nya.
Selagi Zia berbicara, Zayn sudah meninggalkannya. Zayn mengambil sepeda yang ia parkirkan di pinggir jalan. Zia tidak sadar kalau Zayn sudah tidak ada di sampingnya.
“Kakak dengar aku ngomong gak sih?” teriak Zia yang menghentakkan kakinya kemudian menyusul Zayn.
“Kamu jalan saja!” Zayn bergegas menggoes pedal sepeda miliknya. Melesat cepat meninggalkan Zia yang berteriak memanggil namanya.
“Kak Zayn... Tunggu! Jangan ninggalin aku!” teriak Zia. “Kak Zayn... Jahat!” Zia kembali menghentakkan kakinya.
Gadis itu berjalan kesal menyusul Zayn yang sudah jauh meninggalkannya.
Tin... Tin...
Suara klakson mobil terdengar oleh Zia mobil tersebut juga berhenti tepat di sampingnya.
Sreettt..
Kaca mobil sedikit terbuka.
Seorang wanita cantik terlihat melambaikan tangan kepada Zia.
“Aunty...” teriak Zia kemudian segera mendekatinya.
“Zia kenapa ada di jalan sendirian? Kalau ada yang culik, gimana?” tanya Kartika pada Zia. Wanita cantik itu sendirian di dalam mobil.
“Kak Zayn ninggalin aku, Aunty!” Zia menunjuk luruh ke arah di mana Zayn masih terlihat sedang menggoes sepedanya.
Wajah Zia yang tadinya sedih langsung berubah senang.
“Kita susul, mau?” ajak Kartika.
Zia mengangguk cepat. “Mau... Aunty!”
“Let's go!”
Wushh....
Mobil mewah milik Kartika pun langsung melesat dengan kecepatan kilat melewati Zayn yang sedang berusaha terus menggoes sepedanya.
Kartika membuka sunroof mobilnya. Zia langsung menyembulkan kepalanya di sana.
“Kak Zayn tertinggal!” teriak Zia seraya menjulurkan lidahnya ke arah Zayn. Gadis kecil itu terlihat sangat puas sudah membalas Zayn.
“Yeay... Kita sampai lebih dulu!” Zia berteriak girang saat dia dan Kartika lebih dulu sampai di kediaman Wijaya.
Kartika hanya tersenyum melihat tingkah keponakannya itu.
Kedua gadis berbeda usia itu kemudian berjalan masuk ke dalam rumah mewah yang selalu jadi tempat Kartika pulang setiap minggunya. Keduanya terus berjalan menuju ruang keluarga.
Ya, Kartika wanita cantik yang kini sudah berumur 28 tahun itu berkunjung ke sana.
Semenjak memegang kendali perusahaan yang sempat di kendalikan oleh Bara. Kartika memilih tinggal di apartemen mewahnya. Dengan alasan ingin mandiri.
Padahal ia ingin menghindari Tuan Wijaya yang selalu meminta Kartika untuk segera menikah. Usianya saat ini sudah terbilang cukup bahkan lebih dari cukup untuk menikah. Entah mengapa Kartika selalu takut mendengar kata pernikahan.
“Ada apa sih? teriak- teriak begitu,” ucap Aline yang datang dari arah dapur dengan membawa satu piring besar puding cokelat di tangannya.
“Waw... Kak Aline tahu banget ya kalau aku mau datang, sudah disiapin ini segala!” Kartika langsung mengambil satu potongan puding lalu duduk di sofa. Tapi dengan cepat Aline memukul pelan punggung tangan itu.
Plak...
“Aww..., Kak Aline, sakit!” rintis Kartika.
“Lebih sakit mana kalau kami sakit perut karena tidak cuci tangan sebelum memegang makanan.”
__ADS_1
“Cuci tangan dulu!” titah Aline.
“Iya...” sahut Kartika yang berjalan ke arah wastafel yang berada di tak jauh dari ruang keluarga.
“Kamu dari mana?” tanya pada Zia.
“Cuci tangan!” jawab gadis itu singkat.
Zia sudah paham dengan ketika Aline membawa makanan, gadis itu pasti di suruh cuci tangan lebih dulu.
Padahal makan puding itu pun harus pakai sendok tapi tetap harus bersih saat makan.
“Tuh, kalah sama anak kecil,” Sindir Aline.
Tak dipedulikan Kartika.
“Mommy, kapan mama jemput aku?” tanya Zia pada Aline.
Zia terbiasa memanggil Aline dengan mommy sama dengan Zayn. Sebab gadis kecil itu sudah seperti putrinya sendiri.
Sandra sering sekali menitipkan Zia di sana jika wanita itu pergi mengecek
“Sebentar lagi juga mama kamu jemput!” sahut Aline sambil mengusap pucuk kepala Zia.
“Yah, di jemput!” keluh Zia sambil mengerucutkan bibirnya.
“Nginap di apartemen Aunty mau?” Tiba-tiba Kartika menawarkan ajakan menginap pada Zia.
“Mau!” teriak Zia.
Gelengan kepala Aline berikan membuat Zia langsung terdiam.
“Pamit dulu sama mama!”
“Iya, mommy!” sahut Zia yang langsung duduk manis setelah satu potong puding yang di beri cream fla rasa vanilla di atasnya.
“Ngomong-ngomong, Zayn mana?” Aline mengedarkan pandangannya baru sadar putranya tidak ada bersama mereka.
“Paling tuh anak lewat belakang. Dia ninggalin Zia di ujung jalan komplek. Sampai nih bocah cengeng, nangis. Untung ada aku coba kak! Kalau Zia diculik gimana?” tutur Kartika.
“Anak itu benar-benar deh!” Aline menggelengkan kepalanya kemudian hendak mencegat Zayn dari pintu samping.
Zia dan Kartika terkekeh kemudian saling menyatukan kepalan tangan, ber tos ria.
“Hihihi... Rasain Kak Zayn, pasti mommy marahin dia. Siapa suruh ninggalin aku, iya gak Aunty?”
Kartika hanya mengangguk pelan membalasnya. Wanita itu sedang menikmati puding buatan kakak iparnya.
.
.
Bersambung
Hai readers terima kasih untuk kalian yang sudah setia membaca karya ku sampai sejauh ini.
Tolong bantu karya baruku ya.
bantu ramaikan di sana.
"Pemilik Kehormatanku"
kasih bintang 🌟🌟🌟🌟🌟
like+favorit
__ADS_1
tinggalkan jejak kalian di sana.