Fake Love

Fake Love
Berkenalan dengan Oma Ratih


__ADS_3

...Jangan lupa setelah membaca, dukungannya untuk karya ku ini. 😘😘😘...


Aktifitas setelah berhenti bekerja, membuatnya sibuk dengan jadwal pemotretan yang padat. Di tambah harus beradu akting di Film layar lebar.


Aline memang tidak mengambil pekerjaan untuk bermain sinetron. Tapi Ia berani beradu akting untuk film layar lebar. Tak memakan waktu banyak menurutnya. Hanya sibuk sesaat saja, sehingga Aline masih bisa menjalani pemotretan yang di lakukan dengan desainer yang sudah membantunya sampai bisa terkenal seperti saat ini.


Empat bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk Aline menimba ilmu modeling dan akting. Dia harus bekerja keras sampai berada di posisinya saat ini.


Nama Aline Barsha kini makin di kenal banyak orang. Karir nya terus merangkak naik secara cepat.


Ayah dan ibu merasa bangga padanya. Bahkan tetangga yang dulu merendahkannya, kini seakan lebih bersikap mencari perhatian kepada mereka. Dengan ketenaran Aline saat ini, Warung soto Betawi milik ayah Zaki pun makin di kenal banyak orang. Meskipun sudah menjadi bintang terkenal tak membuat mereka merubah kehidupannya.


Ayah Zaki dan Ibu Winda tetap memilih berjualan soto di simpang tiga Jakarta. Saat Aline dalam kesuksesan. Ayah dari model plus artis terkenal itu, hanya menambah beberapa karyawan untuk membantunya. Warung soto yang sebelumnya berukuran kecil sekarang berhasil dirombak menjadi warung soto besar dengan tempat makan yang nyaman untuk pembeli.


Ayah Zaki dan Bu Winda cukup mengawasinya saja. Banyak yang datang ke warung soto mereka karena sesekali Aline berada di sana.


Keramahan dan sikap santun, Aline tunjukan kepada para penggemar yang sengaja datang ke warung soto itu untuk bertemu dengannya. Membuat warung soto milik ayahnya itu makin ramai setiap harinya.


Keberkahan yang dirasakan oleh Aline dan keluarganya pun dirasakan oleh para pedagang di samping warung soto itu.


“Wah ... coba ya, Neng Aline setiap hari berkunjung ke warung soto ayahnya, tiap hari jualan kita pasti laku!” ucap Bu Linda salah satu pedagang yang berjualan kopi seduh tak jauh dari warung soto Pak Zaki.


“Enggak bakal bisa, Bu! secara dia 'kan sekarang terkenal, jadwalnya pasti sibuk. Tapi saya salut sama dia meskipun sudah menjadi artis, enggak malu gitu Bu, bantuin ayahnya di sana. Ngelayanin yang beli gitu,” sahut Mbok Rahmi tukang jamu panggul yang sedang duduk istirahat di warung kopi, dia sedang meracik jamu pesanan Bu Linda.


“Dari dulu dia memang baik, nurut sama orang tuanya, cuman sayang penampilannya dulu jelek, norak, banyak jerawatnya juga. Jadi banyak yang mengejek dan merendahkannya,” sambung Bu Linda setelah meneguk habis jamu buatan Mbok Rahmi.


“Kehidupan tuh berputar, tak selamanya orang di bawah dan direndahkan, Bu! buktinya Neng Aline bisa merubah dirinya dan sekarang dia berada diatas kesuksesan, tapi dia masih bisa bersikap rendah hati. Banyak artis baru ketika kehidupannya berada di puncak mereka lupa akan kehidupan sebelumnya,” tutur Mbok Rahmi seraya mengangkat bakul jamunya, bersiap untuk berkeliling kembali.


“Bener banget Mbok. Ya udah, sana! Keliling lagi biar cepat habis jamunya, nih kembaliannya ambil saja buat si Mbok,” usir Bu Linda dengan nada bercanda seraya menyerahkan uang bayaran segelas jamu yang ia minum.


“Alhamdulillah rejeki, matur suwun Bu Linda. Semoga makin berkah jualannya,” ucap Mbok Rahmi bersiap pergi dari warung itu, lalu meraih ember kecil berisi air biasanya digunakan untuk membilas gelas bekas minum jamu.


“Amin ...,” jawab Bu Linda.


Mbok Rahmi pun melangkah meninggalkan warung kopi milik Bu Linda, Ia siap berkeliling kembali menjajakan jamu yang dijualnya.


“Jamu ... Jamu ... Jamu mbok Rahmi. Bikin sehat dan kuat, siapa yang mau? Jamu ....” Mbok Rahmi berteriak dengan logat jawanya.


***


Aline merasa senang saat melayani pengunjung yang datang untuk menikmati makanan di warung soto milik ayahnya. Banyak di antara mereka meminta untuk berfoto bersama, karena mengetahui Aline adalah artis, model pendatang baru yang beritanya viral di media sosial. Meski merasa lelah tetapi Aline tetap memberikan sikap ramah dan santun kepada mereka.


Aline berjalan mendekat ke arah Bu Winda. Aline mulai merasa lelah dengan aktifitasnya di sana.


“Bu ...,” panggil Aline.


“Kenapa, Nak? cape ya? Ibu sudah bilang tak usah kemari. Waktu libur mu harusnya beristirahat, malah ikut membantu di sini!” Bu Winda menghampiri Aline yang mendaratkan bokong di kursi dekat meja kasir.


“Daripada di rumah, sepi!” sahut Aline.


Aline meneguk jus jeruk yang disediakan Ibu Winda untuknya. Sesaat dia terdiam, merasakan kerinduan pada orang yang beberapa Minggu ini tak dijumpainya. Meski kadang mereka bertegur sapa melalui pesan WA tapi berbeda rasanya jika mereka bertemu.


“Galen sedang apa ya, kerjaan dia apa sih? Ko gue gak pernah tau kegiatannya apa selama ini! Kangen ih, kalau enggak debat sama dia!” batin Aline.


“E-eh ... Ko kangen sih! tapi, emang betul gue kangen ingin ketemu tuh anak! masa iya, gue suka sama dia?” Aline bergumam sendiri sambil sesekali tersenyum membayangkan kebersamaannya dengan Galen.

__ADS_1


Ibu Winda mengerutkan alis melihat tingkah Aline.


“Nak ... itu ponsel mu berdering terus, kenapa tidak diangkat? malah senyum-senyum sendiri,” tegur Bu Winda.


“Iya, Bu. Ini mau Aline angkat!” Aline tersadar dari lamunannya merasa malu sendiri dengan tingkahnya.


“Kenapa, Sa?” sapa Aline tanpa basa basi kepada manager -nya dari sebrang telpon.


“Mbak Aline di mana? Saya lagi di rumah Mbak, ada hal yang harus kita bicarakan mengenai undangan dari acara Ajang Penghargaan Film Indonesia (APFI),” ucap Risa.


“Ok, tunggu di dalem aja Sa, ada pak Joko ‘kan di sana?”


“Iya, Mbak ini saya lagi nunggu di dalem. Pak Joko udah bukain pintu buat saya. Tapi maaf, orang rumah enggak ada, jadi saya ambil minum sendiri.” Riri masih memegang ponsel yang masih menempel di telinganya laku menuangkan air putih dingin ke dalam gelas yang baru saja diambilnya dari lemari pendingin.


“Saya gak lama, sebentar lagi pulang! tunggu ya?" ucap Aline kepada Risa lalu menutup sambungan telpon mereka.


“Ya, Mbak! Saya tunggu!” Risa memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas. Lalu melangkah ke ruang tamu membawa gelas berisi air dingin di tangannya.


Risa adalah manager artis yang sudah beberapa bulan ini menghandle jadwal kerja Aline. Jarak usia mereka yang tak jauh berbeda membuat Aline dan Risa dekat seperti saudara. Risa kerap kali datang dan menginap di rumah Aline. Kebetulan Aline tak bisa mengemudikan mobil baru yang di belinya dari penghasilan menjadi model dan membintangi beberapa film layar lebar.


Rumah sederhana yang di tempati Aline dan keluarganya sudah di rombak sedikit demi sedikit seiring naiknya karir Aline di bidang modeling. Penghasilan yang di dapatnya, ia alihkan untuk merenovasi rumah dan merombak warung soto milik ayahnya. Aline berpikir tidak akan selamanya ia bergelut di dunia entertainment. Keinginannya nanti jika menemukan pria yang mencintai nya secara tulus, dirinya akan mundur dari dunia model dan artis. Aline hanya ingin menjadi ibu rumah tangga yang bahagia.


***


Aline segera pamit kepada Ibu dan Ayahnya, setelah mendapat telpon dari Risa. Bu Winda hanya menggelengkan kepalanya melihat Aline yang cuek meski sudah menjadi model dan Artis yang namanya menjadi trending topik di media.


Bagi Aline itu hanya ketenaran sesaat dan ada masanya. Ia ingin menjalani kehidupan seperti biasanya. Tak apa jika harus dikerubuni ibu-ibu atau anak remaja yang sekedar ingin berfoto dengannya. Ia tidak mempermasalahkan itu.


Jarak dari warung soto dengan rumahnya tak begitu jauh. Hanya sekitar lima belas menit sudah sampai.


Tin ... Tin ...


Rumah yang dulunya sederhana kini berubah jadi hunian indah dan nyaman untuk kedua orangtuanya.


Aline masuk melewati gerbang yang dibukakan oleh Pak Joko. Pria paruh baya itu menyapa sopan kepada Aline. Beliau membantu berjaga di rumahnya. Selain Pak Joko, Aline juga mempekerjakan asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan Ibu Winda di rumah. Datang pagi dan pulang menjelang sore hari.


Risa yang sedang memainkan ponsel miliknya dikagetkan dengan kedatangan Aline yang tanpa permisi langsung mendaratkan tubuhnya di sofa.


“Ngagetin aja sih, Mbak!” seru Risa.


“Lagian serius banget sih, sampe enggak liat Mbak Dateng!” sambung Aline.


“Ok, kebetulan Mbak Aline sudah datang, Risa hanya mau menyampaikan besok ada undangan, jangan sampai enggak datang. Untuk gaun yang dipakai besok nanti Bu Syahrani akan mengirimkannya kesini. Beliau berpesan agar Mbak harus memakai gaun rancangan terbarunya itu. Sekalian buat promosi!” ucap Risa tanpa basa basi kepada Aline.


“Kamu mau kemana sih, Sa. Buru-buru begitu?” Aline bertanya dengan heran melihat Risa merapihkan barang bawaannya hendak pergi setelah memberi informasi dan mengantarkan perlengkapan pribadi milik Aline yang tertinggal di tempat syuting kemarin.


Dua hari ini Aline mendapat jatah libur dari pekerjaannya. Sehingga dirinya bisa berkunjung ke warung soto dan menghabiskan waktu libur dengan bersantai. Tapi bukan Aline jika harus berdiam diri di rumah. Ia merasa kangen dengan penampilannya dulu. Aline mempunyai ide untuk kembali berpenampilan Cepol dengan kacamata dan berpakaian jadul seperti dulu.


“Tunggu, Sa! Mbak ikut, sampai di taman kota aja,” ucap Aline seraya berdiri hendak naik ke kamarnya di lantai dua dengan sedikit berlari.


“Ok. Cepet ya, Mbak!”


Risa menunggu Aline tak sabar. Tak lama Aline turun dengan penampilan yang membuat Riri tercengang melihatnya.


“Mbak yang bener aja. Masa mau keluar dengan penampilan begitu,” cemooh Risa.

__ADS_1


“Jangan banyak bicara, yuk!” Aline melangkah mendahului Risa yang masih menganga melihat penampilan Aline.


Rambut Cepol, kacamata besar pakaian jadul serba longgar. Benar-benar penampilan Aline tempo dulu. Aline bergegas masuk kedalam mobil yang tak pernah dikemudikannya. Lucu ya, sudah menjadi artis punya kendaraan sendiri tapi tak bisa mengendarainya.


”Makanya kursus setir mobil, kenapa sih? Duit banyak juga!” Risa dengan malas masuk ke dalam mobil. Niat hati mengembalikan kendaraan itu kepada pemiliknya. Dirinya malah menjadi supir kembali di saat hari liburnya.


“Bukannya enggak ada niat, males aja, Sa! enakkan duduk manis daripada nyetir!” Aline nyengir ke arah Risa membuat Risa cemberut melihatnya.


Mobik hitam baru milik Aline keluar dari halaman rumahnya, melaju menuju taman kota.


Sesampainya di sana, Aline pamit kepada Risa. Suasana sore hari di taman itu begitu ramai. Banyak sekali orang yang bersantai di sana.


“Mbak yakin mau turun? Ramai banget loh!” Risa melihat suasana taman kota yang ramai pengunjung. Ia takut mereka akan mengerubungi Aline jika tau keberadaanya.


“Tenang aja, enggak akan ada yang kenal sama Mbak, kalau penampilannya seperti ini! Mobilnya bawa dulu aja, besok jemput Mbak ya!” Aline keluar dari mobil dengan perasaan senang.


“Nasib ... Nasib, jadi manager merangkap jadi supir,” gumam Risa saat Aline meninggalkannya.


Aline hanya tersenyum mendengar ocehan Risa.


Rasa senang dan bahagia bisa datang ke taman kota yang sudah lama tak dikunjungi. Keramaian dan keindahan danau yang ada di sana membuat hatinya menghangat. Keceriaan anak kecil yang berlari mengejar balon sabun yang di tiup oleh ayah mereka menjadi pemandangan seru untuk Aline.


Mata Aline terus memperhatikan suasana di sekitar taman, di ujung taman Aline melihat wanita paruh baya sedang membagikan es krim dari pedangan asongan di sana. Sepertinya wanita paruh baya itu sengaja membeli es krim untuk di bagikan kepada anak-anak yang sedang bermain di taman. Ingin sekali Aline membantunya.


“Permisi Nyonya, boleh Saya bantu membagikannya?” Sapa Aline ramah, anggukan pelan di dapat dari wanita paruh baya itu. Sampai es krim dari pedagang asongan itu habis, barulah Aline dan Wanita paruh baya itu beristirahat.


“Kenalkan, Saya Aline nyonya!” Aline mengulurkan tangan untuk menyalimi wanita paruh baya itu.


“Panggil saya Oma Ratih,” jawabnya seraya membalas uluran tangan Aline kemudian di ciumnya tangan yang sudah terlihat keriput itu dengan takzim.


Mereka berdua tertawa bersama setelah Aline bercerita lucu dan banyak berbicara. Oma Ratih menyukai sikap dan perilaku sopan yang ditunjukkan gadis ceria di hadapannya itu.


“Aline belikan minum dulu, ya? Oma tunggu di sini sebentar.” Aline pamit mencari pedagang minuman.


Baru beberapa langkah dirinya berjalan. Aline melihat Bu Leli dan Siska berjalan ke arahnya. Mereka tak sadar dengan keberadaan Aline.


Aline panik, ia harus bersembunyi dari Bu Leli dan Siska. Akhirnya dia bersembunyi di balik tembok dekat toilet yang tak jauh dari sana. Terdengar jelas obrolan mereka berdua saat berada di dalam toilet umum itu.


Taman kota sangat dekat dengan tempat tinggal Derald mungkin Bu Leli dan Siska sedang jalan santai di sana.


“Kalau tau, Chyntia pelit begini. Ibu enggak akan restui mereka berpacaran. Buat apa cantik tapi tak sopan sama ibu. Coba saja Derald balikan lagi sama Aline bakal senang banget deh ibu, Aline tuh royal! Derald pasti mau deh balikan sama Aline, sekarang 'kan dia udah cantik terkenal lagi. Andai saja Aline berubah cantik dari dulu, enggak bakal ibu pilih Chyntia. Baru pacar aja udah ngatur-ngatur Derald apalagi kalau mereka menikah,” gerutu Bu Leli saat Merkea berdua keluar dari toilet.


Aline tersenyum sinis mendengarnya.


“Maaf, Bu meski memohon pun Aku tak akan pernah mau kembali bersama Derald,” batin Aline.


.


.


.


.


**Jangan lupa dukungan nya untuk Aline...

__ADS_1


like komen vote juga agar karya ini ikut nangkring di rak favorit.


Salam hangat dari teteh Author Mayya_zha😘😘😘😘**


__ADS_2