
*****
Tiga bulan telah berlalu tak ada perubahan dari Rara. Anak itu tiap harinya hanya diam di kamar memeluk kedua lutut yang ditekuk sambil memandang keluar jendela yang terbuka. Terkadang saat Rara melihat seorang pria melintas di dekat kamarnya. Dengan cepat ia menutup daun jendela tersebut. Trauma masih ia rasakan saat berhadapan dengan setiap laki-laki terkecuali Pak Budi.
Hati orang tua mana yang tidak sedih melihat putri bungsunya mengalami perubahan drastis seperti itu.
Bu Mirna dan Pak Budi sempat berdiskusi untuk pindah dari desa itu. Agar Rara bisa sembuh dan tidak mengingat kejadian itu terus menerus jika tinggal di sana.
Sebuah keputusan sudah didapat. Tawaran Sandra untuk bekerja di rumahnya menjadi pilihan Pak Budi, paviliun yang berada di belakang kediaman Bara bisa mereka tempati untuk tempat tinggal. Mereka akan tinggal di sana sambil mengobati Rara.
Seperti sore ini, Bu Mirna mengajak Rara berbicara setelah anaknya itu mandi sore.
Bu Mirna membantu menyisir rambut Rara yang sudah bertambah panjang.
Perlahan dan sangat hati-hati Bu Mirna dengan penuh kasih sayangnya merawat Rara yang saat ini mengalami trauma akibat pelecehan yang ia alami tempo hari.
Bu Mirna dengan sabar merawat Rara yang masih belum stabil kondisi kejiwaannya. Kadang ia menjerit dan menyakiti tubuhnya sendiri. Rara lebih banyak melamun kemudian menangis sendiri. Ia tidak pernah mengungkapkan sedikitpun apa yang di rasa pada Bu Mirna karena itulah Rara tidak bisa ditinggal sedikit pun.
Anjuran dokter untuk membawa Rara ke rumah sakit jiwa di tolak oleh Pak Budi dan Bu Mirna. Sebab keadaan Rara tidak menyakiti orang lain. Ia masih bisa di kendalikan.
Kedua orang tua Rara ingin menggantikan waktu mereka yang hilang akibat dulu bekerja di Jakarta meninggalkan Rara dalam asuhan Kakaknya yang tidak bisa menjaga dan lebih memanjakannya.
“Neng... Buuk-na ntos panjang kie, dicukur, nya?” tanya Bu Mirna pelan seraya terus menyisir rambut panjang Rara.
(Neng... Rambutnya sudah panjang gini. Dicukur, ya?)
Tak ada jawaban dari Rara. Dia tetap diam, matanya memandang jauh ke depan dengan tatapan kosong.
“Ntos iye, Neng ngiring Ibu nya! Ibu, Neng sareng Bapa bade kontrol kondisi Neng! Ntos aya sabulan Neng teu datang bu... lan,” ucap Bu Mirna ragu di akhir ucapannya.
(Habis ini, Neng ikut sama Ibu, ya! Ibu, Neng sama Bapak mau kontrol kondisi Neng! Sudah sebulan Neng tidak datang bulan)
Bu Mirna terdiam saat Rara menoleh ke arahnya. Posisi yang sedang memeluk lutut yang di tekuk ia lepaskan.
“Bu...,” panggil Rara seraya menatap sedih ke arah ibunya.
“Umpami Rara hamil, kumaha? Bapak sareng Ibu pasti na era pisan? Semua salah Rara nu teu ngadanguken nasehat Bapak sareng Ibu! Iyeu karma keun Rara nya, Bu?” lirih Rara sambil berurai air mata.
(Kalau Rara hamil, bagaimana? Bapak sama Ibu pasti malu? Semua salah Rara yang tidak mendengarkan nasehat Bapak sama ibu! Ini karma buat Rara ya, Bu?)
Bu Mirna langsung menarik Rara dalam pelukannya. Putrinya yang selama ini diam, kini mau berbicara.
“Bapak jeng Ibu teu malu pisan. Bapak sareng Ibu malah bersyukur Neng bisa selamet tina kejadian eta. Umpami emang Neng hamil, urang babarengan rawat anak Neng!” ucap Bu Mirna disela pelukannya.
Rara melepaskan pelukan itu. Dengan cepat menggelengkan kepala. “Neng teu hoyong hamil, Bu!” tolak Rara.
Bu Mirna langsung menenangkannya.
“Makanan yuk, kontrol ka rumah sakit! Engkin di rumah sakit kanyahoan, Neng teh hamil atawa henteu?”
Rara menatap Bu Mirna.
__ADS_1
“Rara malu, Bu! Rara teu hoyong tinggal di desa iyeu deui,” ucap Rara kemudian tertunduk sambil menangis.
(Rara malu, Bu! Rara nggak mau tinggal di desa ini lagi!)
“Neng... Danguken Ibu! Ibu sareng Bapak bakal aya terus keun Neng. Umpami hasil pemeriksaan Neng negatif, Urang ka Jakarta.”
(Neng, dengarkan Ibu! Ibu sama Bapak akan ada terus buat Neng. Kalau hasil pemeriksaan Neng negatif, kita ke Jakarta)
Rara langsung mendongak menatap Bu Mirna.
“Jakarta?”
“Bapak sareng Ibu bade ngajak Neng berobat di ditu. Teh sandra masih nawarken pagawean ka Bapak jadi sopir di bumina. Urang buka lembaran hirup baru di Jakarta. Tapi ingat Neng kudu jaga sikap!” Bu Mirna menasehati dengan pelan.
Anggukan pelan Rara berikan.
Sore itu pun Rara bersama kedua orang tuanya pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.
Mulai saat itu Rara perlahan berkomunikasi dengan Ibu dan bapaknya.
Hasil pemeriksaan menyatakan Rara tidak dalam keadaan hamil. Pak Budi dan Bu Mirna merasa bersyukur. Mereka pun kembali pulang kw rumah dan menghubungi Sandra bahwa mereka akan ke Jakarta esok hari.
“Ya sudah Pak, saya tunggu kehadiran kalian di rumah saya. Rara akan aman berada di sini. Kita obati Rara di sini!” ucap Sandra setelah beberapa saat mengobrol dengan Pak Budi soal rencana kedatangannya ke Jakarta.
“Iya, Sand! Terima kasih atas bantuan kamu dan suamimu atas bantuannya kepada keluarga Bapak. Terima kasih juga, kamu sudah memaafkan kesalahan Rara selama ini.”
“Rara sudah seperti adikku sendiri, Pak!” Balas Sandra.
“ucapkan salam dariku kepadanya Pak! Selamat atas pernikahannya. Maaf aku dan Mas Bara tidak bisa datang. Kandunganku masih muda jadi Mas Bara melarangku untuk bepergian jauh!” ungkapnya.
“Nanti Bapak sampaikan.”
Obrolan mereka pun berakhir. Tepat dengan kedatangan Bara.
“Habis teleponan sama siapa?” tanya Bara sambil memeluk Sandra dari belakang.
Suaminya itu baru saja selesai mandi. Handuk kecil masih bertengger di bahu, menahan agar air yang menetes dari rambut yang basah tidak membasahi bajunya.
Tiap hari Bara tidak pernah pulang kerja terlambat. Rasanya selalu ingin menghabiskan waktu bersama Sandra.
“Pak Budi, Mas!” balas Sandra seraya memutar tubuhnya agar menghadap Bara.
Sandra mengambil handuk yang ada di bahu Bara. Menentukan suaminya agar duduk di bangku rias tak jauh dari tempatnya berdiri.
Perlahan Sandra mengeringkan rambut Bara dengan handuk kecil tadi. Sesekali memintanya pelan.
Sentuhan dari Sandra membuat Bara merasa nyaman. Reaksi pijat oleh istrinya itu selalu menenangkan, apalagi setelah lelah bekerja seperti sekarang ini.
Rasa pusing akibat bekerja di kantor hilang seketika setelah mendapat pijatan lembut itu. Apalagi pijatan pada anggota tubuh yang lain, Bara sangat menyukainya bahkan merasa puas dan membuatnya terbang ke nirwana.
“Kenapa? Apa dia mau menerima tawaran dari kita?”
__ADS_1
“Hm... Pak Budi dan Bu Mirna akan datang besok!” jawab Sandra tanpa menghentikan pijatannya di kepala Bara.
“Sama Rara?” tanya Bara seakan takut kalau Rara akan berbuat ulah di rumahnya.
“Iya Mas, Tidak pa-pa ‘kan?” tanya Sandra yang terus menggerakkan jemarinya memijat pelan kepala Bara terus menurun ke tengkuk lehernya.
“Ugh... Nikmat sekali memang pijatan istriku ini! Nanti malam pijat yang lain ya, Sayang?” celetuk Bara sambil memejamkan matanya.
Sandra langsung menghentikan gerakannya, mendengar ucapan Bara.
“Mas...”
Bara terkekeh pelan. Sebab semenjak Sandra mengalami flek setelah resepsi pernikahannya tempo hari, Bara harus menahan diri agar tidak sering-sering berhubungan suami istri dengan Sandra. Sebab dokter melarangnya, kondisi kandungan Sandra masih muda dan sedikit lemah.
Jalan satu-satunya adalah bermain senam jari sesuai ajaran Galen kepadanya. Galen juga banyak membisikan berbagai jalan menuju roma yang ia sering gunakan saat Aline sedang palang merah.
Kedua kakak beradik lain ayah dan lain Ibu itu semakin kompak. Mereka berdua jadi lebih sering bertukar pikiran dan berkomunikasi semenjak berumah tangga.
Hubungan Sandra dengan Galen dan Aline juga semakin baik. Sandra sesekali berkunjung ke kediaman Wijaya untuk mengunjungi Oma Ratih dan baby Zayn.
Zayn yang sudah bisa merangkak cepat itu semakin lucu dengan tingkah dan gayanya yang menggemaskan.
Melihat kebersamaan kakak-kakaknya dengan para pasangannya kadang membuat Kartika yang berada di sana teringat akan mama-nya.
Ia menginginkan keluarga yang utuh. Tapi harapan dan keinginannya rasanya tidak akan terkabul. Kartika harus menahan diri untuk itu.
Untuk mengobati rasa rindunya kepada Mama Mariska, akhir-akhir ini Kartika sering berkunjung ke apartemen wanita itu. Sebelum waktu liburan yang berakhir, cuti liburan yang tersisa satu minggu lagi itu akan ia habiskan untuk dekat bersama mamanya.
Meskipun sikap dan perilaku Mama Mariska tidak bai, tapi dia adalah wanita yang telah melahirkannya. Kartika akan selalu hormat kepada beliau seperti apa yang Bara lakukan.
.
.
...Bersambung...
Hai para readers tercinta ku. Terima kasih sudah menemaniku sampai detik ini. setia membaca karya recehku.
Tanpa kalian apa artinya karya ini.
Author mau ajak kalian mampir juga di karya baruku. karya baru ini akan berjalan pelan dulu menunggu Galen dan Aline tamat.
Jangan lupa mampir ya gaes..
ramaikan komentar kalian di sana.
Jangan lupa kalau sudah mampir di karya baru tambah ke daftar favorit kalian kasih rating bintang ⭐ juga di awal.
Author tunggu kehadiran kalian.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ya... bantu like dan favorit nya🥰🥰😘😘😘😘