Fake Love

Fake Love
Peristirahatan Terakhir


__ADS_3

Seno berbangga diri saat Nyonya Mariska sudah menandatangani surat pemindah kepemilikan toko berlian atas namanya.


Seno menyeringai licik ke arah dia wanita yang saling berpelukan itu.


Sesuai rencana ia akan menyingkirkan Nyonya Mariska. Melihat pisau yang tergeletak tak jauh dari dirinya. Seno meraih pisau tersebut kemudian dengan cepat menusukkan ke tubuh wanita yang sedang memeluk erat Kartika.


Clebbb....


Pisau mendarat sempurna di bagian punggung sebelah kiri Nyonya Mariska hampir mengenai jantung dari arah belakang. Cairan kental berbau anyir pun keluar dari tubuh wanita itu.


Seno kemudian menarik kembali pisaunya lalu melempar asal pisau tersebut.


“Maaf, aku harus melakukan ini padamu! Kamu akan menghambat kehidupanku jika kubiarkan dirimu hidup!” bisik Seno ditelinga Nyonya Mariska.


Nyonya Mariska langsung terkulai lemas dalam pelukan Kartika. Gadis itu terkejut, mendapati mama-nya lemas tak berdaya.


Kartika menangkup wajah Nyonya Mariska. “Mama akan selamat, nama pasti baik-baik saja, Kartika yakin sebentar lagi Kak Abbas atau Papa akan datang. Mama harus bertahan!” ucap Kartika dengan panik.


Nyonya Mariska menggeleng kepalanya pelan. “Maaf jika selama ini mama tidak bisa jadi orang tuan yang baik untukmu!”


Seno menyeringai licik menatap kedua wanita di hadapannya dan mendengarkan ucapan perpisahan dari keduanya.


Pria itu kembali berdiri kemudian meraih berkas yang ia letakkan sebelumnya. Ia sama sekali tidak peduli dengan Nyonya Mariska yang merintih kesakitan akibat ulahnya.


Berkas bukti kepemilikan toko berlian yang baru telah menjadi miliknya beserta semua perhiasan mewah yang di investasikan Nyonya Ariska pada toko tersebut.


Melihat Seno akan pergi Kartika lekas berdiri memberanikan diri untuk melawan pria berengsek itu.


“Jangan harap kamu bisa lolos dari sini, bajingan!” ucap Kartika membuat Seno yang tadinya hendak beranjak dari sana berhenti seketika kemudian berbalik badan menghadap Kartika.


“Kenapa cantik! Apa kamu ingin melanjutkan permainan kita yang sempat tertunda,” Balas Seno dengan senyum liciknya.


Kartika menyandarkan Mamanya yang terkulai lemas. Banyak darah yang keluar dari lukanya.


Kartika memberanikan diri menghadapi Seno. Gadis itu tidak terima dengan apa yang sudah dilakukan pria itu.


Pisau yang di lempar Seno usai menusuk tubuh Nyonya Mariska diraihnya. Kemudian dihampirinya Seno. Dengan tubuh yang lemah Kartika mencoba melawan Seno.


“Aku akan membalasmu bajingan!” hardik Kartika yang langsung mengarahkan pisau berlumur cairan merah kental itu kepada Seno.


Plak...


Seno menepisnya, sehingga pisau yang ada di tangan Kartika terlempar begitu saja. Seno malah mendekati Kartika lalu mendorong tubuh gadis itu ke tempat tidur.


Nyonya Mariska yang melihatnya berusaha berdiri tapi apalah daya ia sudah tidak sanggup untuk membantu Kartika. Bahkan napasnya sudah mulai tersengal.


“Lebih baik aku merasakan tubuhmu, dulu sebelum aku pergi dari sini!” Seno semakin mendekati Kartika.


“Jauhi putriku, bajingan!” teriak Nyonya Mariska dengan sisa tenaga yang ada.


“Heh... Masih bisa kamu mencegahku, Mariska! Kamu akan lihat bagaimana aku bermain panas dengan putrimu.”


Kartika menggelengkan kepala saat Seno semakin mendekatinya.

__ADS_1


Kartika melemparkan ludah ke wajah Seno, dan itu semakin membuat Seno murka.


Pria itu kembali melayangkan tamparan di wajah Kartika.


Lemas sudah tubuh gadis itu.


“Selamat menyaksikan permainanku yang sangat kamu sukai ini dengan putrimu!” ucap Seni kepada Nyonya Mariska kemudian mengukung kembali tubuh Kartika merobek pakaian bagian atas gadis itu.


Brak...


Dor...


Dor...


Dor...


Tembakan tepat mengenai tubuh Seno. Pria itu langsung tidak berdaya saat anak buah Bara menembaknya.


“Kartika!” Tuan Wijaya berlari dengan tergesa-gesa mendekati putrinya.


Tuan Wijaya membuka jas yang dipakainya langsung ia sampaikan ke tubuh Kartika.


Anak buah Bara membawa Seno dari sana. Membereskan situasi agar tidak banyak orang yang tahu kejadian ini.


Tuan Wijaya akan menutupinya sebab ini berakibat fatal untuk Kartika ke depannya. Ia takut, putrinya mengalami trauma mendalam atas kejadian ini.


“Papa,” lirih Kartika dengan tangis yang mengiringi. Raut kesedihan dan ketakutan tergambar jelas dari wajahnya.


Kartika sedikit meregangkan pelukan kemudian menatap Papanya. “Tolong Mama!” Kartika melirik ke arah mamanya.


Tuan Wijaya mengikuti arah lirikan dari Kartika. “Mariska!”


Tuan Wijaya menyuruh seseorang bergantian membantu Kartika. Lekas ia berdiri kemudian mendekati Nyonya Mariska yang sudah terkapar lemas.


Dengan sisa tenaga yang Kartika miliki. Ia berjalan menyusul Papanya.


“Mas Wijaya!” panggil Nyonya Mariska dengan sisa tenaga yang ada.


“Kami akan membawamu ke rumah sakit, bertahanlah!” Tuan Wijaya hendak mengangkat tubuh mantan istrinya itu.


Tapi Nyonya Mariska menolak.


“Maafkan semua kesalahanku, padamu, Mas!”


“Sudahlah jangan banyak bicara dulu, pikirkan Kartika yang membutuhkanmu!”


“Aku sudah tidak tahan, Mas!” ucapnya lirih.


“Mama tolong bertahanlah, mama sudah berjanji akan berubah lebih baik lagi!” Kartika mendekat sambil menangis tersedu.


Seulas senyum terukir di wajah Nyonya Mariska. Matanya sudah mulai terpejam dengan perlahan.


“Mama jangan tinggalkan Kartika. Kita bisa memulai hidup sama-sama.” Kartika makin terlihat panik.

__ADS_1


“Aku memaafkan semua kesalahanmu, Mariska!” ucap Tuan Wijaya membuat Nyonya Mariska kembali menatapnya.


“Terima kasih, Mas!” balas Nyonya Mariska dengan suara yang makin menghilang disertai mata yang tertutup.


“Inalillahi wainalillahi roji’un.” Lirih Tuan Wijaya ketika melihat Nyonya Mariska menghembuskan napas terakhirnya.


“Mama....” teriak Kartika disertai isak tangis. Tuan Wijaya dengan cepat menarik Kartika ke dalam pelukannya.


*****


Kabar meninggalnya Nyonya Mariska dan kejadian yang dialami Kartika sudah didengar oleh Bara dan Galen.


Bara meminta jenazah mamanya di bawa ke rumahnya.


Sandra juga sangat terkejut dengan apa yang terjadi pasalnya belum lama Nyonya Mariska pulang dari rumahnya dan sempat cekcok dengan dirinya.


Kartika, gadis itu seperti mengalami trauma yang sangat dalam. Hampir saja dilecehkan oleh Seno dan mengalami kejadian yang telah mengguncang jiwanya. Terlebih ia menyaksikan sendiri bagaimana mamanya tertusuk oleh Seno.


Kartika harus mendapat perawatan khusus di rumah. Seorang dokter datang langsung ke rumah Bara. Sebab kartika enggan beranjak dari tetapi tidur dan diajak ke rumah sakit.


Di bawah sana proses pemandian Jenazah sudah selesai. Dan akan menuju ke tempat pemakaman.


Tuan Wijaya menghampiri putrinya, berbicara pelan dan hati-hati. Memberitahu bahwa jenazah mamanya akan dibawa ke pemakaman. Mungkin saja Kartika ingin ikut menyaksikannya.


Tapi tak ada respon dari Kartika. Tuan Wijaya menitipkan air mata melihat keadaan putrinya.


“Sungguh berat apa yang kamu alami, Sayang! Maafkan Papa! Setelah ini Papa janji akan selalu ada bersamamu!” Tuan Wijaya mengecup kening putrinya kemudian meninggalkan Kartika bersama Bu Mirna.


“Tolong jaga putri saya!”


“Baik, Tuan.”


Tuan Wijaya berlalu dari kamar itu. Sebab semua sudah bersiap menuju pemakaman di mana tempat peristirahatan terakhir untuk seorang Mariska Rahmat.


.


.


... Bersambung...


.


.


Karya ini masih butuh dukungan. mampir untuk bantu like dan Favorit nya ya.



.


.


Di tunggu kehadiran kalian.

__ADS_1


__ADS_2