Fake Love

Fake Love
Melumpuhkan Ferdi


__ADS_3

Foto yang ada di tangannya langsung terjatuh saat tangan kanannya terkena tembakan oleh Galen.


Ferdi meringis kesakitan, tangan kirinya memegangi tangan kanan yang terkena peluru panas. Tubuh tersungkur sambil bersujud. "Maafkan saya, Tuan! Tolong jangan bunuh saya, ijinkan saya hidup." Pria itu memohon ampun agar minta diberi kesempatan untuk hidup.


Galen menyeringai tipis, baru kali ini ia melihat bajingan itu memohon. Ia penasaran apa yang membuat Ferdi meminta ampun dan meminta belas kasihan Galen. Yang Galen tahu, Ferdi adalah orang yang tidak mau meminta maaf dan memohon.


Galen melirik Aldo, tatapan mata Galen menunjuk ke arah map yang ada di hadapan Ferdi. Lekas asistennya iu mengambil kertas dan selembar foto tersebuttersebut lalu menyerahkan kedua barang tersebut kepada Galen.


Seringai tipis dari bibir Galen seakan mengejek pria yang kini bertekuk lutut di hadapannya itu.


"Kenapa apa perasaanmu sebagai manusia telah kembali setelah melihat anakmu." Galen menggeleng pelan.


"Ck..., kasian sekali anak ini, jika dia tahu bagaimana kelakuan dan biadabnya ayah kandungnya. Apa dia masih mau mengakuimu sebagai ayahnya?" ucap Galen sarkas ketika melihat foto anak kecil bertuliskan Aksa gemintang.


Galen kembali membuka kertas putih berisikan pernyataan bahwa Wina Andriyani telah sah bercerai dengan Ferdi.


"Kasian sekali hidupmu, Ferdi. wanita yang selalu berada di sampingmu, wanita yang kamu jadikan alat mendapatkan uang. Kini bukan lagi istrimu. Tepat sekali jika dia mengambil keputusan seperti ini. Lebih baik hidup sendiri daripada hidup dengan manusia tidak punya perasaan yang hiduphya hanya bisa memaksa dan berbuat jahat saja." Galen makin menyudutkan Ferdi agar bajingan itu makin merasa tak berguna.


Galen sangat hapal betul dengan sifat Ferdi. Meskipun pria itu bajingan dan jahat. Tapi ketika keluarganya tersakiti, pria itu akan melawan.


Musuhnya itu makin tertunduk menahan sakit di tangannya, di tambah lagi setelah menerima sebuah surat tertulks yang menyatakan dirinya bukan lagi suami dari Wina, wanita yang selama ini sabar bertahan hidup dengan pria sepertinya.


Dari dulu Wina selalu berusaha membujuk Ferdi untuk berubah. Tapi kesenangan duniawi telah menguasai dirinya. Ia tidak peduli dengan apapun yang terpenting untuk bajingann itu ia bisa mendapatkan uang dengan mudah. Untuk apalagi, kalau bukan untuk judi dan berpesta miras.


Cairan berwarna merah itu terus keluar dari telapak tangannya. Tangannya gemetar, pria itu mengeratkan gigi menahan sakit.


Dia berusaha mendongak menatap Galen.


Pria yang masih berdiri tegap di hadapannya itu memberikan tatapan tajam.


Galen menunggu apa yang akan Ferdi ucapkan setelah ini. "Bunuh saya saja, Tuan! Benar apa yang Anda bicarakan. Tak ada gunanya saya hidup, tak kan ada pengakuan seorang anak kepada ayah, seperti saya." Ferdi menarik napas dalam lalu menutup mata perlahan sambil kembali menunduk. Berharap Galen akan melanjutkan pelepasan tembakan selanjutnya. Ia sudah tidak ada keinginan lagi untuk hidup.


Hancur harapannya setelah membaca pesan terakhir Wina. Dalam surat yang Wina tulis, jangan pernah muncul kembali dihadapan wanita itu. Wina juga memberitahu keberadaan Aksa, Putra yang lahirkan setelah lima bulan Ferdi mendekam di penjara.


Calon bayi yang awalnya tidak pernah diakuinya. Melihat senyuman dari Aksa, anak yang baru diungkapkan Wina membuat rasa penyesalan itu hadir.


Ferdi merasa puas setelah melampiaskan dendamnya kepada Galen, dengan bermain-main dengan kemolekan tubuh Aline. Kalau saja waktu itu mereka belum di serang anak buah Galen, mungkin Kesucian Aline sudah terenggut.


"Baguslah kalau kamu sadar akan hal itu," Galen kembali menarik pelatuk pada pistol yang masih ia genggam. Di arahkannya kepada Ferdi. Pria yang tertunduk menahan sakit itu kini pasrah.


"Tuan," panggil Aldo sembari mendekati galen pria itu hendak mencegah tindakan yang akan dilakukan oleh tuannya tersebut.

__ADS_1


"Diam di tempatmu, Do!" Aldo menghentikan langkahnya.


Ketegangan Ferdi rasakan saat ini. Ia sudah mendapat kesakitan tidak akan terasa sakit jika satu tembakan langsung menembus jantungnya. Bajingan itu tidak mau suatu saat nanti anaknya tahu siapa ayahnya.


"Kenapa penyesalan baru saya rasakan saat ini, Tuan aku berharap satu tembakan darimu bisa membuatku melewati akhir hidupku kali ini." batin Ferdi yang sambil menahan sakit yng teramat.


Dorr...


Satu peluru lepas dari senapannya. Aldo menunduk tak berani menoleh, ia tahu Galen pasti tepat sasaran jika tuannya itu menginginkan Ferdi lenyap. Tapi tembakan itu bukan ke arah Ferdi melainkan ke langit-langit ruangan tersebut.


"Terlalu mudah untuk mu, pergi dari dunia ini, Bajingan....!" hardik Galen seraya melemparkan pistolnya ke arah Aldo.


Dengan tepat asistennya itu menangkap benda tersebut. Lalu memasukannya kembali ke tempat dimana seharusnya benda itu bersembunyi.


Galen mendekati Ferdi yang terus meringis kesakitan. Tubuh Galen menurun, sedikit berjongkok dengan satu lutut menempel di lantai dan satu lagi menahan berat tubuhnya. Tangannya terulur menyentuh wajah Ferdi yang masih tertunduk agar menatapnya.


"Kamu harus merasakan penyesalan besarmu di balik jeruji besi. Jangan kira Saya tidak tau bisnis haram yang kamu jalankan satu tahun ini. Kamu telah membuat calon istriku mengalami trauma.Kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya. Jangan harap kamu akan cepat terbebas kali ini," ucap Galen dengan penuh emosi lalu melepas kasar wajah bajingan itu.


"Kehormatan calon istri Anda masih..., Aargggh... " ucapanya terpotong berubah menjadi jeritan Ferdi. Ia merasakan sakit pada tangan yang terkena tembakan itu.


Galen mencekal tangan itu lalu memutarnya.


Jeritan kesakitan makin terdengar, permohonan ampun pun berulang kali Ferdi ucapkan tapi Galen tak memperdulikannya. pria itu sudah tersulut emosi mendengar kata kehormatan Aline.


"Selamat malam, Tuan!" sapa salah satu polisi hormat kepada Galen, yang mereka ketahui sebgai Tuan Alex.


"Malam."


"Saya mendapatkan laporan, buronan yang sedang kami cari berada di sini! Apa benar, Tuan?" tanya petugas itu.


" Ya, benar dia ada di dalam. Saya baru saja melumpuhkanya, silakan bawa dia!"


"Siap, Tuan." petugas itu dengan tegap dan cepat mengajak beberapa polisi untuk memasuki ruang di mana Ferdi berada.


Galen merasa lega. Ferdi akan kembali mendekam di penjara. Bajingan itu akan mempertanggung jawabkan semua yang ia lakukan selama ini. Galen sengaja tidak menghabisi nyawanya. Pria itu berpikir,


biarlah perlahan penyesalan dalam diri Ferdi lah yang akan membuat bajingan itu tertekan.


"Bagaimana, Bang? Apa si Ferdi sudah lewat... " tanya Pras. Maksud dari pria itu, Ferdi sudah meninggal.


"Pras, Wendi" panggil Galen, dengan cepat keduanya mendekat. "Kalian bersihkan kekacauan di dalam ruangan itu. Jangan sampai ada yang tertinggal." Galen bergegas meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Siap, Bang!" Pras dan Wendi masuk kedalam ruangan. Mereka berdua terkejut dengan kekacauan yang terjadi.


Tuan Galen Alexander, Pria itu memang tak pernah memberi ampun kepada siapa saja yang menyakiti orang terdekatnya. Meski kejam, Galen adalah orang yang sangat berperasaan dan banyak mempertimbangkan semua tindakan yang ia ambil.


Sebenarnya ia ingin menghabisi Ferdi karena telah membuat wanita tercintanya mengalami kesakitan dan trauma. Tapi pemikiran cepatnya mengatakan ia tidak akan membuat anak kecil berumur tiga tahun yang ia lihat dalam foto meski hanya sekilas itu kehilangan sosok ayah. Walaupun ayahnya bajingan dan brengsek.


Bangku dan meja yang berantakan. Cairan berwarna merah yang berbau anyir berceceran di dalam ruangan adalah pemandangan yang saat ini Pras dan Wendi lihat.


Kedua polisi terlihat tengah memapah Ferdi. Dilewatinya begitu saja Ferdi dan Wendi.


"Nasib... nasib, mentang-mentang kita sering bersihin ini tempat. Sekarang kita juga yang harus membersihkan lantai yang bau anyir ini," ucap Wendi dengan suara terbata. Ia merasa jijik dengan darah yang sudah mengental di lantai. Sesekali terlihat Wendi menahan mual hentak memuntahkan sesuatu.


Pras membuang napas berat. "Mau bagaimana lagi, Wen? Orang berduit dan berkuasa lah yang bisa mengatur kita. Selagi kita masih dapat kucuran dana dari Bang Galen. Kita terima saja dengan lapang dada, segala perintah darinya." ujar Pras pasrah.


"Gue berdoa semoga kelak gue juga banyak duit dan berkuasa. Biar bisa tunjuk sana, sini. Sambil perintah ini dan itu." harap Wendi.


"Gak Amin.."


"Loh, ko lu gitu?" Serang Wendi karena Pras tidak mengaminkan doanya.


"Lu doa hanya buat sendiri, nggak ngajak-ngajak gue." ketus Pras.


Pras dan Wendi masih berdebat berdua. Meskipun dalam perdebatan mereka tetap melakukan perintah Galen dengan ikhlas sampai tempat itu bersih kembali.


...***...


Beberapa saat berlalu. Galen pulang sendiri tanpa Aldo. Bos dan asistennya itu pulang masing-masing dengan membawa kendarannya sendiri-sendiir. Galen tidak kembali ke Kediaman Tuan Wijaya. Ia mengabari Tuan Wijaya mengenai tertangkapnya penjahat yang sudah melecehkan Aline. Galen meminta Papanya untuk memberitahu Oma Ratih.


Meskipun Oma Ratih adalah mantan mertua Tuan Wijaya, tapi kehadirannya sudah menjadi keluarga dan sangat dibutuhkan sosok tertua di sana.


"Kenapa tidak kau habisi saja, Gal? kalau Papa jadi dirimu sudah Papa pastikan dia sudah tidak bisa berbapas lagi." omel Tuan Wijaya dari seberang telepon.


"Aku bukanlah Papa yang mengambil tindakan tanpa dipikir akibatnya. Aku tidur di apartement sampaikan kepada Oma!" Tanpa menunggu balasan dari Tuan Wijaya. Galen langsung menutup sambungan teleponnya.


Tuan Wijaya menarik ponsel dari telinganya setelah tiba-tiba terdengar suara sambungan telepon yang terputus.


"Anak kurang ajar, tidak mengucap salam dulu!" omelnya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung>>>>


__ADS_2