Fake Love

Fake Love
Bendera Kuning


__ADS_3

Pagi tadi saat Bara sedang membersihkan diri, pintu apartemen itu terketuk. Sandra yang membukanya. Melihat ada seorang wanita berada di dalam apartemen anaknya, apalagi melihat Sandra yang hanya memakai kemeja kebesaran milik anaknya membuat Nyonya Mariska penasaran.


Awalnya sikap Nyonya Mariska biasa saja. Ia malah seperti ramah terhadap Sandra. Melihat wajah cantik dan body aduhai Sandra Nyonya Mariska mengira gadis di hadapannya adalah gadis dari keluarga kaya raya.


Tak lama Bara selesai membersihkan diri. Pria itu menghela napas kasar melihat keberadaan Nyonya Mariska di sana. Ia menyuruh Sandra untuk mengganti pakaiannya.


"Ganti pakaianmu, aku sudah pilihkan yang ukurannya lebih kecil dari itu, pakaiannya ada di dalam tapi sory tidak ada pakaian dalaman di sana!" titah Bara dan langsung di ikuti oleh Sandra.


"Tidak pa-pa, aku tidak masalah jika tidak pakai itu." Sandra lekas masuk ke dalam kamar Bara untuk berganti pakaian.


Selagi Sandra berganti pakaian, Nyonya Mariska banyak bertanya tentang Sandra. Siapa gadis itu, tinggal dimana, pekerjaanya apa dan siapa orang tuanya.


Bara hanya menjelaskan sedikit tentang Sandra bahwa dia hanya wanita sederhana dengan kebaikan hati yang memuliakan orang tuanya.


Nyonya Mariska terlihat tidak terima, Bara dekat dengan Sandra.


"Harusnya kamu mencari wanita yang lebih dari dia, Bara! Wanita seperti dia hanya akan memanfaatkan mu saja untuk keluarganya. Paling dia hanya menjual tubuhnya hanya untuk uang," sindir Nyonya Mariska.


"Aku tidak masalah jika itu berguna dan membantu keluarganya, Mah. Toh setelah menikah bukanlah kita harus sama sama saling menerima kekurangan dan kelebihan, bukan hanya pada diri wanita itu tapi juga keluarganya, Bagaimanan kalau aku sangat mencintainya," tutur Bara.


"Tapi ibu tidak setuju kamu dekat dengannya. Jauhi dia mulai sekarang ini!" titahnya pada Bara dengan suara tinggi.


Sandra tidak berani keluar kamar. Dia mendengarkan perdebatan antara Bara dan mamanya.


Mendengar bahwa Sandra bukanlah siapa-siapa bagi Bara sedikit mengusik hatinya.


Kamu bodoh Sandra berharap ada sesuatu setelah kejadian tadi malam. Ternyata antara dia dan Bara benar hanya sebatas memenuhi kebutuhan saja tidak lebihDia tidak berarti apa-apa. Dia hanya wanita yang sekilas datang mengharapkan bantuan dan bekas kasihan dan Bara membantunya.


Perlahan Sandra keluar kamar. Ia berjalan menunduk mendekati Nyonya Mariska. Pakaian yang Bara pilihkan cukup nyaman untuk ia pakai.


"Berani sekali kamu mendekati putraku, harusnya kamu sadar siapa dirimu. Saya kira kamu berasal dari keluarga terpandnag dan kaya, heh... ternyata rakyat jelata," sindir Nyonya Mariska kepada Sandra.


"Mama... Dia temanku, Mama tidak berhak berkata seperti itu kepadanya," sarkas Bara tidak terima dengan ucapan mamanya.


"Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, Bara. Begitu juga Nama," balas Nyonya Mariska dengan suara lebih diperhalus.


Bara tersenyum miris mendengarnya. "Baik untuk Mama atau untukku. Bukankah selama ini yang mama lakukan hanya untuk kepentingan Mama seorang. Mama Tidak pernah memikirkan perasaan kami. Aku dan Kartika."


"Bara...," Sentak Nyonya Mariska.


Sandra yang melihat pertengkaran ibu dan anak itu merasa bersalah.


"Saya minta maaf sudah membuat Tante dan kamu bertengkar." Sandra melirik ke arah Nyonya Mariska dan Bara kemudian menatap Nyonya Mariska lagi. "Tante tenang saja, Saya dan Bara bukanlah siapa-siapa.Saya hanya kebetulan berada di sini. Saya paham dan tahu diri, bagaimana posisi dan status saya. Maaf sudah membuat gaduh di sini!" Sandra sedikit membungkuk lalu keluar dari apartement Bara.


Sandra melupakan rasa takutnya pada Tuan Burns saat keluar dari sana.


Bara melayangkan tatapan tidak sukanya kepada Nyonya Mariska. "Mama tidak berhak mengatur dengan siapa aku berhubungan," ucap Bara kesal seraya meraih topi dan kunci mobilnya di atas meja. Pria itu segera menyusul Sandra.


"Bara... Kamu harus dengarkan Mama... Bara!" teriak Nyonya Mariska tapi tidak dipedulikan oleh putranya itu.


Seburuk ini kah nasibku Tuhan.


Kapan diri-Mu memberiku kebahagiaan.


Bahkan harga diri dan derajat pun aku tak punya. Rasanya diri ini selalu rendah di mata orang lain.


Ibu... Hanya dia kekuatanku saat ini.

__ADS_1


Tidak ada yang lebih penting selain dirinya.


Sandra tersenyum miris untuk dirinya sendiri. Sejenak wanita itu berdiam diri di depan lift.


Ting...


Lift terbuka. Segera Sandra masuk ke dalamnya. Wanita itu masih belum sadar kalau dia masih di incar oleh Tuan Burns di bawah sana. Sandra memencet tombol satu sebagai tujuannya.


Lift yang sempat menutup itu kembali terbuka. Bara meringdek masuk ke dalam lift.


"Kenapa kamu menyusulku?" ucap Sandra seraya menggeser tubuhnya agar sedikit menjauh dari Bara.


Bara yang baru masuk ke dalam lift langsung memindahkan topi yang dipakainya kepada Sandra. lalu mengukung tubuh Sandra dengan kedua tangannya.


Wajah mereka begitu dekat bahkan hembusan napas hangat dari Bara bisa Sandra rasakan.


Bara sedikit menundukkan kepala agar sejajar dengan Sandra.


"Apa kamu mau Tuan Burns menangkapmu di bawah sana!" bisik Bara di telinga Sandra sontak membuat wanita itu menatapnya.


Keduanya saling menatap dalam.


Manik mata itu seakan meminta diriku untuk melindungimu.


Matanya sembab, apa dia habis menangis?


Bara memperhatikan Sandra. Perlahan ia mendekatkan wajahnya membuat Sandra langsung menunduk dan menurunkan topi yang dipakainya.


"Terima kasih sudah memperingati ku, aku lupa kalau aku masih membutuhkan bantuanmu," ucap Sandra canggung.


Mereka berdua keluar dari lift. Dan ternyata benar beberapa orang suruhan Tuan Burns masih berjaga di lobi. Satu persatu pengunjung yang keluar dari gedung itu memeriksa orang-orang yang keluar dari sana.


"Bersikaplah santai! Aku akan melindungimu!" Bara meraih jemari Sandra lalu menggenggamnya erat.


Mereka melangkah bersama. Security yang berjaga melihat Bara dan memberi sapaan hormat kepada pengusaha muda itu.


"Selamat pagi, Tuan!" sapa security yang berjaga pagi itu.


"Pagi," jawab Bara singkat. Dia memang jarang bicara banyak kepada orang lain.


"Maaf, Saya sedang mencari seseorang yang kabur dari gedung ini. Dia adalah pekerja Tuan Burns yang kabur membawa uangnya. Dari rekaman CCTV belum ada seorang wanita yang keluar semalam. Jadi saya mau---," ucapan Security tiu terpotong oleh Bara.


"Dia adalah calon istriku." Bara menatap tajam kepada semua yang mau memeriksa Sandra.


"Maaf, Tuan! Kalau begitu silakan melanjutkan perjalanan Anda." Security itu mengulurkan tangan untuk mempersilakan Bara dan wanita yang ada di sampingnya untuk lewat.


"Syukurlah aku bisa terbebas dari sana," ucap Sandra sambil membuang napas lega saat berada dalam mobil.


Bara hanya tersenyum menanggapinya.


Tanpa menunggu lagi Bara menjalankan mobilnya membelah jalanan menuju rumah Sandra.


Tak ada pembicaraan lagi. Sandra memilih diam, ia memikirkan ucapan Bara yang menyebutnya sebagai calon istri di hadapan security tadi. Bukan merasakan senang tapi Sandra malah gelisah dan takut mengingat betapa tidak sukanya Nyonya Mariska kepadanya.


Sandra teringat Bu Sarah, Apakah ibunya itu masih berada di rumah atau pergi diantar Pak Budi tetangga samping rumahnya.


'Aku harus menghubungi Ibu, tapi ponselku?'

__ADS_1


Sandra menatap Bara, ia berpikir untuk meminjam lagi ponsel milik pria itu.


"Aku boleh pinjam ponselmu?" pinta Sandra ragu.


Bara mengangguk pelan sembari terus fokus dengan kemudinya. "Tunggu!" Bara meraba saku celana depannya, beralih ke saku celana sebelahnga mencari ponsel miliknya tapi tidak ia temukan.


"Sepertinya ponselku tertinggal. " Ya... Aku meninggalkan ponselku di kamar, bahkan ibu ku juga ku tinggalkan." celetuk Bara membuat Sandra tersenyum.


"Dasar anak durhaka. Tega meninggalkan mamamu sendiri di sana!" balas Sandra.


Seketika mereka saling pandang kemudian tertawa bersama.


Rasanya ada saja keceriaan yang terselip diantara kesedihan saat bersama Bara.


Sepanjang perjalanan Sandra dan Bara melanjutkan obrolan kecil tanpa membahas kejadian semalam dan kejadian tadi pagi saat kedatangan Nyonya Mariska.


"Sampai di sini saja!" Ucap Sandra.


Bara menepikan kendaraannya di pinggir jalan.


"Dimana rumahmu?" tanya Bara.


"Masuk ke gang sana!" Sandra menunjuk sebuah gang tak jauh dari hadapan mereka."


"Aku antar?" Bara menawarkan diri.


"Aku takut kamu tidak nyaman dengan tempat tinggalku!" sahut Sandra.


"Aku tidak akan menginap di sana, hanya berkunjung kalaupun ingin numpang tidur, aku bisa cari hotel sekitar sini!" balas Bara yang membuat Sandra sadar diri.


"Ya, aku tahu. Orang berduit seperti kamu bisa mendapatkan tempat tinggal yang nyaman!"


"Ya, itu kamu tahu!"


Sandra jengah, Tuan Bara yang biasa ia temui di kantor Galen telah kembali menunjukan sifatnya


Sandra kemudian turun dari mobil di ikuti Bara.


Mereka berjalan ber-iringan masuk ke dalam gang rumah Sandra. Wanita itu merasa heran kenapa gang rumahnya itu sedikit ramai.


"Kenapa ada banyak orang yang berlalu lalang di tempat ini? Ada apa ya?" ucap Sandra pekan tapi masih bisa di dengar oleh Bara.


"Sepertinya ada warga yang meninggal dunia." Bara menunjuk bendera kuning yang terpasang di sebuah rumah kontrakan.


Deg...


Jantung Sandra seakan berhenti saat melihat bendera kuning yang terpasang pada tiang besi, tepat di samping rumahnya.


.


.


Baca kelanjutan ceritanya ya...


Mampir ke karya temanku yuk.


ambil nunggu cerita ini berlanjut.

__ADS_1



__ADS_2