
Tiga bulan berlalu.
Sesuai jadwal yang sudah ditentukan Dokter Laila. Dokter yang menangani kehamilan Sandra. Bahwa malam nanti, istri dari sorang pengusaha sukses, Bara Indrawan akan melakukan operasi sesar terhadap kehamilannya.
Sandra yang sedang mempersiapkan beberapa keperluan untuk bayinya nanti terlihat begitu bahagia. Warna-warna cantik sudah ia persiapkan untuk putri kecilnya nanti. Ya, jenis kelamin calon bayi mereka adalah perempuan.
“Aku gugup sekali, Sayang!” bisik Bara seraya melingkarkan tangannya di pinggang Sandra.
Tangan kekarnya memberi elusan lembut pada perut besar Sandra. Seakan memberi tahu kepada sang buah hati bahwa sang ayah tengah gugup menantikan kehadirannya.
Sandra tersenyum mendengar keluhan suaminya.
“Aku loh, yang mau di operasi kenapa Mas Bara yang gugup!” Sandra terkekeh kecil tanpa menghentikan gerakannya.
Satu tas penuh yang telah berisi berbagai pakaian dan keperluan bayinya sudah siap. Sandra berbalik menghadap Bara.
Sandra kembali terkekeh saat Bara tidak bisa memeluknya dari depan. Sebab perit besarnya menghalangi.
Bara lekas berjongkok.
“Masih dalam kandungan saja kamu menghalangi, papa, Nak! Sudah lahir nanti jangan ya!” ucap Bara pelan seraya mencium perut Sandra, elusan dan celotehan kembali Bara ucapkan seakan tengah berbicara dengan bayinya.
“Cepatlah hadir, Papa sudah tidak sabar ingin bertemu kamu, Cantik!”
Sandra terharu dengan setiap kelembutan Bara padanya. Sungguh ia tidak menyangka Bara sebegitu tak sabarnya menantikan kehadiran buah hati mereka.
Dari tadi pagi Bara sudah tidak mau berangkat bekerja, dia ingin menemani Sandra. Padahal kondisi istrinya itu baik-baik saja.
Sandra harus melakukan operasi sesar dikarenakan tulang panggul yang sempit dengan berat badan bayi besar.
Bara tidak menginginkan Sandra melakukan diet kehamilan karena menurut dokter perkiraan berat badan bayi sudah melebihi ukuran normal.
Jadi, Sandra harus mengontrol makanannya. Dan Bara melarang itu. Tidak tega saat awal kehamilan yang susah makan. Giliran tak ada kendala harus menjaga makanan.
Bara memilih opsi kedua untuk kelahiran putrinya daripada harus melihat Sandra menahan keinginan untuk makan.
“Mas tidak bosen dari tadi di rumah terus?” tanya Sandra sambil mengelus pelan rambut Bara yang sedang berjongkok di hadapannya.
Bara menggelengkan kepala kemudian berdiri mencium kening Sandra singkat.
“Tidak akan ada kata bosan asal bersamamu!”
“Gombal banget!”
Sanda berjalan menuju tempat tidurnya. Kakinya yang sedikit bengkak membuat Sandra sulit saat berjalan.
Bara merasa tidak tega dengan kondisi istrinya saat ini. Apa setiap wanita hamil akan seperti ini.
“Sayang, apa kakimu sakit?” tanya Bara yang berjalan mendekati Sandra.
Istrinya juga kelihatan sangat sulit untuk bergerak. Berat badannya sungguh naik drastis.
“Sedikit,” balas Sandra menaikkan kakinya di tempat tidur. Ibu hamil itu sering merasa cepat sekali lelah padahal hanya mengandung satu bagi bagaimana jika ada dua.
__ADS_1
“Biar aku pijat”
Sandra mengangguk pelan. Bara mulai memijat pelan kaki Sandra yang terlihat bengkak. Pijatan lembut itu membuat Sandra merasa nyaman. Tak terasa ibu hamil itu tertidur.
Meskipun melihat istrinya memejamkan mata tapi gerakan pijatan Bara tidak berhenti begitu saja. Tangannya terus melakukan pijatan nyaman untuk Sandra.
Baju tipis yang Sandra pakai membuat Bara harus menelan ludahnya sendiri.
Tubuh berisi itu terlihat begitu seksi di balik balutan lingerie ibu hamil. Yang paling membuatnya tidak tahan adalah si gunung kembar berpucuk merah muda yang ukurannya makin membuat Bara semakin betah saat berlama-lama bermain di sana.
“Eugh...” lengkuhan indah lolos begitu saja dari bibir Sandra saking merasakan nikmatnya pijatan Bara yang terus memberikan sensasi pijatan lembut itu.
Jiwa laki-laki Bara pun merasa terpanggil. Ingin sekali menyentuh si buah montok nikmat itu tapi kasihan melihat istrinya tengah hamil besar seperti ini.
Sandra merasakan pijatan Bara terhenti lekas ia membuka mata.
“Mas! Kok berhenti?” tanya Sandra menatap Bara.
“Ah... Kamu mau lanjut?”
Sandra mengangguk pelan. Ibu hamil itu menginginkan lebih dari sentuhan.
Bara dan Sandra sama-sama ingin lebih dari sentuhan. Bara merasa kasihan dengan kondisi Sandra takut jika berbuat lebih dari sentuhan akan menyakitinya.
Sedangkan Sandra malu untuk memulainya.
Saat Bara meletakkan tangannya di perut Sandra berniat untuk mengoleskan cream pencegah stretch mark.
“Mas...” panggil Sandra dengan suara manja dan mendes ah nya.
Mendapat lampu hijau Bara tidak mau menyia-nyiakan hal itu. Keberuntungan baginya.
Pertempuran pelan tapi menyenangkan terjadi sudah. Bara begitu menikmatinya sebelum ia harus berpuasa setelah Sandra melahirkan nanti meskipun dengan cara sesar.
****
Delapan tahun berlalu.
Tangisan bayi perempuan masih teringat jelas oleh Sandra. Bayangan saat melahirkan Zia selalu jadi kenangan terindah untuknya.
Saat ia Sandra sedang mengajari putrinya bermain sepeda di taman belakang rumahnya.
Zia Almeera Indrawan gadis berumur tujuh tahun itu begitu bersemangat memanggil mama-nya ketika gadis itu berhasil menaiki sepeda tanpa roda bantuan di belakangnya.
“Mama... Lihat! Dia bisa!” sorai gadis kecil bernama Zia.
Lamunan Sandra terpecah ia kembali menatap putri kecilnya.
“Yeay.... Zia bisa!” Sandra ikut bersorai sambil bertepuk tangan menanggapi Zia.
Zia menggoes sepedanya mendekati Sandra.
“Berarti Zia bisa ikut Kak Zayn main sepeda ‘kan, Ma!” tanya Zia yang mendapat anggukan dari Sandra.
__ADS_1
“Bisa sayang! Nanti kita ke rumah Kak Zayn ya!” balasnya lembut.
“Yeay....” Zia begitu senang mendengarnya. Sebab Zayn tidak mau mengajak Zia bermain jika gadis itu belum bisa naik sepeda.
Zayn tidak mau membonceng Zia jadi gadis kecil itu bertekad agar bisa menaiki sepeda lebih tepatnya bermain sepeda.
Zayn dan Zia sering bermain bersama di kediaman Wijaya.
Zia, gadis kecil itu selalu ikut bermain dengan Zayn kemana pun ia pergi.
Seperti sore ini saat Zayn mengajak Zia berkeliling di sekitar rumahnya menggunakan sepeda milik Zayn. Zia berdiri di belakang sepeda, menginjak jalu yang dipasang di bagian belakang.
“Kenapa tidak pakai boncengan Kak Zayn. Aku pegel harus berdiri!” keluh Zia saat ikut naik sepeda bersama Zayn.
“Suruh siapa tadi ikut!” gerutu anak lelaki yang mempunyai siap dingin, judes entah turunan dari siapa bocah kecil itu.
“Kak berhenti aku pegel,” Zia tidak bisa diam membuat Zayn sedikit kehilangan keseimbangannya.
“Diam kita bisa jatuh!” Zayn memperingati.
“Kak Zayn, rok ku nyangkut di jari-jari.
“Ah... Ribet banget sih!” omel Zayn.
Keseimbangan makin tidak bisa ditahan. Membuat Zayan kesulitan untuk membawa sepeda itu. Tiba – tiba sepeda yang di bawa Zayn keluar dari jalur sepeda. Ia menabrak seorang gadis di depannya.
Bruk...
“Aw...,” jerit gadis yang tertabrak oleh Zayn.
Zayn dan Zia tidak terjatuh beruntung Zayn bisa menghentikannya segera.
“Turun! Gara-gara kamu mau ikut terus jadi begini ‘kan! Bantu dulu dia bangun.” titah Zayn membuat Zia mengerucutkan bibirnya.
“Iya... Iya!” Zia segera turun dari sepeda lekas menghampiri gadis yang sepertinya seumuran dengan Zayn.
“Kakak,” panggil Zia.
“Eh, kamu bukannya bantuin dia bangun, malah kesini.” Omel Zayn lagi.
“Kakak, ngomel mulu. Aku gak bisa ngebantuin dia berdiri, kakinya hanya ada satu! Tongkatnya patah gara-gara sepeda kakak!” ucap Zia membuat Zayn langsung menatap gadis yang di tabraknya itu.
.
.
.
.
...bersambung
...
__ADS_1