
Hanya butuh waktu setengah jam untuk Galen sampai di rumah Aline. Dengan tergesa Pria tampan itu keluar dari mobil. Ia melihat bukan Pak Joko yang membuktikan pintu gerbang untuknya.
"Dimana, Pak Joko?" tanya Galen kasar kepada pemuda yang merupakan anak dari Pak Joko. Pemuda itu menggantikan sementara tugas Pak Joko.
"Bapak tadi nganter Teh Aline, Tuan!" Ucap pemuda itu sambil menunduk, ia merasa takut dengan nada bicara Galen yang terdengar membentak.
Suara Galen terdengar oleh Bu Winda dari dalam rumahnya. Ibu dari Aline itu melangkah keluar rumah, dari dalam rumah ia berpikir dan merasa heran dengan kehadiran Galen.
"Galen? bukannya dia mau ketemuan sama Aline, kenapa malah ke sini?" pikir Bu Winda, karena penasaran Bu Winda mempercepat langkahnya menghampiri Galen yang juga berjalan dengan sedikit berlari menuju teras rumah Aline.
"Ada apa, Nak Galen, kenapa lari begitu?" tanya Bu Winda saat Galen sampai di depannya.
"Apa Aline ada di rumah, Bu?" Galen bertanya dengan tak sabar.
Bu Winda mengerutkan Alis mendengar pertanyaan Galen.
"Bukannya Aline pergi ketemuan sama kamu?"
"Tapi Aline tak ada di tempat janjian kami, Bu!" ungkap Galen.
'Deg
Perasaan khawatir menyelimuti hati Bu Winda. Semenjak ia melihat tulisan dalam kertas kecil itu perasaannya terus gelisah sampai Aline pergi dari rumah. Perasaan seorang ibu terhadap anaknya.
Suara klakson mobil membuat perhatian kedua orang yang saat ini tegang memperhatikan mobil yang masuk ke halaman rumah Aline.
__ADS_1
Mobil yang tadi dipakai Pak Joko mengantarkan Aline telah kembali. Tapi tak terlihat keberadaan Aline di dalamnya.
Pak Joko turun dari mobil lalu berjalan mendekat ke arah Bu Winda dan Galen. Pria tua itu juga merasa heran, mengapa Galen maha berada di sini.
"Loh, Aden ko ada di sini? Neng Aline kan udah Bapak anterin ke restoran sana?" ucap Pak Joko membuat Galen heran.
"Restoran mana, Pak? tadi saya ke tempat yang saya booking untuk sore ini, Tapi Aline tak ada di sana! makanya saya ke sini, Sya kira Aline marah karena menunggu terlalu lama."
Pak Joko menggelengkan kepalanya. "Tadi begitu sampai sana, Bapak langsung disuruh pulang smaa Neng Aline. Padahal tempatnya lumayan jauh!"
"Dari tadi ngomongin tempatnya jauh terus, Saya booking tempat di restoran itu tak jauh dari sini, Bu, Pak!" Galen menatap Bu Winda dan Pak Joko bergantian.
"Tapi memang ibu lihat, alamat yang tertulis di kertas itu jauh dari sini, Nak Galen!" tutur Bu Winda.
Galen diam sesaat, ada yang aneh di sini pikirnya.
"Saya masih simpan foto kertas yang di kirim Neng Aline." Pak Joko mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya. Lalu memperlihatkan alamat yang ada dalam foto tersebut.
Galen terkejut melihat alamat dalam foto tersebut. Kemudian menggelengkan kepalanya pelan. "Ini bukan tempat yang akan aku jadikan tempat kejutan buat Aline, Bu! Restaurant Rainbows ..., di sanalah aku membooking tempat untuk sore ini bersama Aline. Bukan Restaurant Billcurt." Galen menoleh ke arah Bu Winda dan Pak Joko.
"Berarti Aline berada di sana, Pak?" tanya Galen kepada Pak Joko.
"Iya, Den," sahut Pak Joko.
"Aku harus menyusulnya ke sana! Saya pinjam ponselnya sebentar, Pak!" Pak Joko menyodorkan ponselnya kepada Galen. Calon suami Aline itu mengirimkan foto berisikan alamat itu ke nomernya." Terima kasih."
__ADS_1
"Apa, Nak Galen sudah menghubungi Aline?" cegah Bu Winda.
"Nomernya sudah tidak aktif, Bu! Saya harus ke sana sekarang! Tolong kabari Ayah Zaki, Bu!" titah Galen kepada Bu Winda.
"Baiklah, Nak Galen, hati-hati!" ucap Bu Winda terlihat khawatir dan cemas. "Ya Allah lindungi putriku," lirih Bu Winda lalu segera ia masuk ke dalam rumah untuk menghubungi suaminya.
Sedangkan Galen dengan cepat memasuki mobil menuju alamat yang salah itu.
Sepanjang perjalanan ia menghubungi Aldi, memerintahkannya untuk menyelidiki siapa dalang di balik ini semua. "Cari tau siapa yang mengganti alamat restoran yang di ganti itu, toko bunga itu harus kamu datangi! Saya tidak mau tau, kamu harus mendapatkannya segera!" titah Galen tegas. Terlihat amarah dan sorot mata kebencian di sana.
"Siap, bos!" sahut Aldo
"Aku akan menghabisi orang yang sudah melakukan ini kepadaku. Jangan harap dia hidup, kalau berani menyentuh sedikit saja calon istriku," ucap Galen seraya terus fokus mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung>>>>