Fake Love

Fake Love
Kondisinya Saat Ini


__ADS_3

Luka di tangannya sudah diobati, Saat ini Galen berada di sebuah ruangan tepat di samping ruang rawat Aline. Pria itu mencoba untuk beristirahat sejenak. Tubuhnya sudah lelah, tapi ia tak bisa tenang sebelum penjahat brengksek seperti Ferdi masih belum tertangkap.


"Sebarkan sayembara untuk menangkap bajingan itu! pasang fotonya di semua sudut kota. Saya tidak mau dia masih bisa bernapas di tengah menderitanya calon istriku, Al." Galen duduk bersandar di sofa setelah perawat mengobati lukanya.


"Baik, Tuan!" sahut Aldo yang baru saja kembali setelah mengantarkan perawat keluar dari kamar itu.


Galen lekas berdiri lalu berjalan melewati Aldo, mendekati jendela dengan tirai yang masih terbuka. Menampilkan Kemerlip lampu, yang terpancar dari gedung dan jalanan ibukota subuh itu, pemandangan aktivitas kendaraan pun masih terbilang sepi. Hanya ada beberapa yang hilir mudik.


Galen termenung melihat pemandangan di luar jendela. Pria tampan yang wajahnya terlihat lelah itu nampak berpikir keras, sayembara yang ia perintahkan kepada Aldo harus segera dilakukan untuk menangkap Ferdi.


Galen membalik tubuhnya hendak mengajak Aldo kembali bertukar pikiran untuk langkah selanjutnya.Tapi ia urungkan mana kala saat itu, ia lihat Aldo tertidur di sofa yang tadi ia duduki tadi. Asistennya itu terlihat lelah.


Galen urung membangunkan Aldo, dibiarkannya asistennya itu beristirahat. Galen meraih selimut yang berada di ujung tempat tidur. melangkah mendekati Aldo lalu menyelimutinya.


"Terima kasih, sudah setia membantuku, Al," gumam Galen usai menyelimuti tubuh Aldo dari udara dingin dalam ruangan itu.


...***...


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Tiga jam sudah Galen beristirahat. Pria itu terkejut tak mendapati Aldo di kamar itu.


Galen lekas beranjak dari tempat tidurnya. bergegas untuk membersihkan diri. Ia ingin segera menemui Aline.


Setelah membersihkan diri, dilihatnya pakaian kerja lengkap sudah berada di tempat tidur berukuran single bad itu. Rupanya asistennya Aldo begitu sigap dengan kinerjanya. Tak hanya pekerjaan kantor, segala sesuatu yang berurusan dengan Galen, ia persiapkan dengan baik.


Sangatlah beruntung Galen memiliki asisten seperti Aldo. Seulas senyum bangga tarpancar dari Galen.


"Kamu memang bisa diandalkan."


Setelah beberapa menit sibuk merapikan diri. Galen bergegas pergi ke luar ruangan itu. Dengan langkah cepat menuju ruangan Aline.


Betapa bahagianya ia melihat sang kekasih telah sadarkan diri. Galen juga melihat Bu Winda sedang menyuapinya dengan pelan dan hati-hati.


"Selamat pagi, Bu," sapa Galen kepada Bu Winda lalu ia mendekat ke arah Aline.


"Bagaimana keadaanmu sekarang, Yang?" Galen hendak menyentuh Aline ingin mendaratkan sebuah kecupan di keningnya. Tapi Galen mengerutkan Alis dengan tingkah Aline. Kekasihnya itu menghindari sentuhan darinya.

__ADS_1


Galen terkejut mendapat balasan tersebut. Pria itu menatap Aline, tatapan kekasihnya itu kosong dengan manik mata yang memandang lurus kedepan.


Rasa sesal makin besar pada Galen. Betapa sakitnya ia melihat kondisi Aline saat ini.


Galen beralih menatap Bu Winda seakan ingin minta penjelasan kepadanya.


Bu Winda yang mengerti arti tatapan Galen hanya memberi anggukan sekilas lalu berbicara kepada Aline dengan pelan dan lembut.


Sebelumnya Bu Winda berbicara kepada Galen hanya dengan gerakan mulut saja tanpa bersuara, agar Galen menunggunya dengan duduk di sofa.


Bu Winda meletakkan mangkuk berisi bubur ke atas nakas, lalu meraih air putih di sana. "Sayang, minum dulu!" Titah Bu Winda, Aline manut dengan ucapan lembut dari ibunya itu. Lalu memberikan obat yang harus diminum Aline.


"Kamu istirahat dulu! Dari selepas subuh tadi kamu belum tidur, loh." tegur Bu Winda.


Aline melirik Bu Winda sekilas. "Istirahat, ya, Sayang!" titah Bu Winda lembut.


Aline mengangguk pelan. Dengan hati-hati Bu Winda membantu Aline merebahkan tubuhnya di brankar yang ia tempati saat ini. Aline hanya bisa menurut tanpa suara. Perlahan matanya terpejam seiring usapan lembut di bahunya dari Bu Winda.


Galen memperhatikan kondisi Aline sambil duduk di sofa. Kehadirannya sama sekali tak dianggap oleh Aline, berbeda dengan beberapa jam lalu. Kekasihnya itu sama sekali tak ingin lepas dari genggamannya.


Bu Winda mendekati Galen saat Aline sudah terlelap.


"Apa dia histeris lagi, Bu?"


"Sebentar saat ada dokter ke sini! .Tapi ayah bisa menenangkannya. Aline terpukul dengan kejadian yang menimpanya."


"Ya, Bu. Dokter sudah menjelaskannya semalam. Maaf belum bisa memberitahu ibu. Tapi saya tidak menyangka sikapnya akan diam seperti ini." Galen menatap Aline sendu. Rasa iba, kasian pasti ada terlebih dengan rasa penyesalan yang sangat mendalam ia rasakan.


"Ibu boleh minta tolong sama Nak Galen?"


Galen menoleh kepada Bu Winda lalu mengangguk untuk mengiyakan.


"Tolong jangan tinggalkan Aline untuk sekarang ini!"


Galen mengerutkan alis tak mengerti apa yang sedang dibicarakannya.

__ADS_1


"Maksud Ibu, apa?" Galen masih belum mengerti.


"Aline tidak mau di visum. Tadi pagi saat dokter melakukan pemeriksaan untuk laporan kepolisian. Aline histeris saat mendengarnya. Bagaimana kalau putri ibu sudah tidak... "


"Saya akan terus bersamanya, tidak akan pernah meninggalkannya karena kejadian ini, Bu" pekik Galen memotong ucapan Bu Winda karena ia tahu arah pembicaraan Bu Winda kemana. "Maaf, Bu." Galen menunduk, ia merasa tak enak hati, nada biacaranya sedikit tinggi saat memotong ucapan Bu Winda.


Suara tangis dari Bu Winda terdengar pelan. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Ibu dari Aline itu tak kuasa menahan tangisnya. Melihat keadaan Aline dengan kondisi fisik yang banyak lebam di sekitar wajah, semakin membuat hatinya makin sedih dan sakit.


"Apapun kondisinya setelah ini. Saya akan bertanggung jawab sepenuhnya atas Aline," Ucap Galen tegas membuat Bu Winda semakin sedih.


Bu Winda membayangkan kehidupan Aline setelah pelecehan itu. Pemikiran Aline akan hamil oleh orang yang telah melecehkannya terbesit dalam benak Bu Winda. Dan Galen memahami itu. Hamil atau tidak Galen akan terus maju mempertahankan cintanya.


Semua tidak tahu kejadian yang sebenarnya pada Aline. Hanya Pria brengksek itu yang mengetahuinya.


Aline wanita yang tak pernah merasakan tersentuh pun tidak mengetahui bahwa kesuciannya masih terjaga.


"Tapi aku tidak pantas untuk mendapatkan tanggung jawab kamu, Galen. Aku sudah kotor. Tubuhku sudah terjamah oleh pria brengksek itu." Air mata Aline membasahi pipinya.


Aline hanya berpura-pura tertidur. Dalam diamnya Aline terus berpikir. Bahwa dia wanita kotor. Perasaanya campur aduk saat ini. Merasa jijik dengan tubuhnya sendiri. Bayangan sentuhan yang diberikan pria brengsek itu masih membayangi pikirannya. Rasanya ingin mengakhiri hidupnya saat ini.


Ucapan Galen makin membuat Aline gusar. rasanya tidak adil untuk Galen jika terus mempertahankan dirinya yang sudah tak suci lagi. Perasaan Insecure pada diri sendiri, kini terlintas dalam benaknya. Pantaskah ia untuk Galen. Bagaimana dengan nasib pernikahannya yang tinggal menghitung hari.


.


.


.


.


Semoga kejelasan segera terungkap.


Sabar Aline. Menuju bahagia itu tidak mudah. Saat kita bisa melewati ujian hidup. akan lebih berharga saat kita berhasil menempuh rintangan itu.


.

__ADS_1


.


Bersambung>>>


__ADS_2