Fake Love

Fake Love
Hanya Berpura-pura


__ADS_3

Nyonya Mariska merasa kesal berada di pesta itu. Sebab Tuan Wijaya terus menghindarinya. Satu jurus jitu agar bisa berbicara dengan mantan suaminya itu. Nyonya Mariska meminta bantuan Kartika.


Awalnya memang berhasil tapi Tuan Wijaya hanya berbicara singkat tanpa ingin memperpanjang obrolannya.


“Harusnya kamu bersyukur, putramu mengambil keputusan seperti ini. Dia jadi lelaki yang bertanggung jawab atas perbuatannya,” ucap Tuan Wijaya yang merasa sebal mendengar mantan istrinya menyayangkan pernikahan ini sebab ia tidak menyetujuinya.


“Tapi keluarganya tidak jelas asal-usulnya Mas, Saya yakin kalau wanita itu hanya menginginkan hartanya saja,” lanjut Nyonya Mariska.


Merasa tidak tahan dengan obrolan itu. Tuan Wijaya hendak pergi dari hadapan Nyonya Mariska.


“Mas... Tunggu! Apa kita tidak bisa seperti dulu, kembali bersama?” pinta Nyonya Mariska dengan wajah memelasnya sambil menarik tangan Tuan wijaya.


“Lepaskan, Mariska!” pekik Tuan Wijaya masih dengan nada pelan. Ia tidak mau merusak suasana pesta itu.


“Dengar, kita tidak akan pernah bersama lagi. Dan jangan pernah menggunakan Kartika sebagai alasan aku dan kamu bersatu lagi. Dia, putriku itu sudah dewasa. Kartika pasti tahu kenapa aku tidak mau kembali bersamamu,” ucap Tuan Wijaya sengit dengan tatapan tidak suka.


Nyonya Mariska merasa malu, terlebih ada beberapa orang yang mendengar ucapan Tuan Wijaya.


Acara demi acara sudah selesai.


Semua tamu undangan pun satu persatu meninggalkan ruangan. Termasuk Oma Ratih dan Aline. Mereka sudah pamit pulang. Oma Ratih menunggu kehadiran Sandra di kediaman Wijaya.


“Oma tunggu kehadiran keluarga baru di keluarga Wijaya.” Oma Ratih memeluk Sandra setelah berucap bergantian dengan Aline.


Baby Zayn sudah terlelap dalam gendongan mommy nya.


Nyonya Mariska tidak berani memunculkan batang hidungnya lama-lama di hadapan Galen dan Oma Ratih.


Aline dan Oma pulang bersama supir sebab Galen dan Tuan Wijaya akan bera


Ia banyak mengobrol dengan para istri dari rekan bisnis anaknya.


Sandra duduk di sofa menunggu Bara yang sedang mengambilkan minum untuknya. Dan saat itu Nyonya Mariska mendekatinya.


“Huh... Wanita penggoda, saya tidak yakin kalau anak yang kami kandung adalah benih dari putra saya. Bisa saja kamu melakukannya dengan orang lain dan kamu minta pertanggung jawaban Bara,” Celetuk Nyonya Mariska kepada Sandra.


Sandra lekas berdiri. Ia tidak menyangka Nyonya Mariska ternyata masih membencinya. Sangat berbeda dengan sikapnya tadi pagi. Sikap yang penuh keibuan agar menjaga janin yang ada dalam kandungannya dengan baik.


“Ibu hanya berpura-pura menyetujui pernikahan kami?” tanya Sandra.


Nyonya Mariska membalas dengan tatapan sinis dan meremehkan.


“Saya tidak akan pernah setuju sampai kapan pun. Kamu adalah menantu yang tidak jelas asal usulnya. Apa kamu pakai ilmu magic supaya Bara begitu memperlakukan kami dengan baik.” Lanjut Nyonya Mariska masih tetap dengan nada sinis dan tidak suka. Banyak hinaan dan ucapan yang dilontarkannya kepada Sandra.


Sakit hati memang. Nyonya Mariska bahkan meminta Sandra bercerai setelah anak yang ada dalam kandungannya lahir. Ucapan yang ia dengar itu semakin membuat Sandra sedih.


“Saya tidak serendah itu, Mah! Mama bisa tes DNA anak ini kalau sudah lahir untuk membuktikan siapa ayahnya,” balas Sandra lirih. Sesak rasanya selalu direndahkan. Apalagi saat ini mertuanya lah yang mengucapkannya.


Sikap Manis dan baik dari Nyonya Mariska hanya palsu belaka.

__ADS_1


Bara kembali menghampiri keduanya.


“Ada apa?” tanyanya pada kedua wanita yang saling berhadapan.


“Ah.. Tidak ada pa-pa. Mama Hanya mengingatkan Sandra gar tidak terlalu lelah kalian bayi kalian. Sebaiknya kamu ajak Sandra beristirahat. Usia kandungannya masih muda, jangan terlalu lelah,” balas Nyonya Mariska membuat Sandra mengerti. Mama mertuanya itu ternyata sedang mencari muka di hadapan Bara.


Bara mengangguk setuju. “Ya, benar kata Mama sebaiknya kamu beristirahat. Aku antar ke kamar. Biar tamu yang masih ada di sini aku yang menemaninya.”


Sandra mengangguk pelan. Ada rasa sesal di hatinya. Apakah Bara akan percaya dengan sikap mamanya itu. Bagaimana jika Nyonya Mariska menjadi penghalang keharmonisan rumah tanganya nanti. Sandra terus berpikir sehingga membuat sikapnya sedikit diam.


Bara mengantar Sandra ke kamar untuk beristirahat. Sikap Sandra yang diam selama dari ruangan pesta ke kamar hotel ia rasakan.


Bara hendak membantu Sandra mengganti pakaiannya. Tapi Sandra menolak.


“Aku bisa sendiri, Mas! Kembalilah ke sana. Masih banyak tamu yang harus kamu sapa. Maaf aku tidak bisa menemani!” ucap Sandra pelan sambil duduk sesaat di pinggir tempat tidurnya.


“Ya, Mas pasti kembali ke sana. Tapi ada sesuatu yang mengganggu pikiranku!” Sandra lekas mendongak menatap Bara.


“Apa?”


Bara meraih kedua tangan Sandra. Menatap wajah istrinya lekat.


“Jangan dibawa beban ucapan Mama. Yang menjalani rumah tangga di sini aku dan kamu. Tidak akan ada yang bisa memaksa kita untuk berpisah. Kita akan membesarkan anak ini sama-sama. Percayalah padaku!” ucap Bara meyakinkan Sandra.


“Kamu dengar Mama bicara apa padaku, Mas!” tanya Sandra.


Bara mengangguk pelan. Ada kelegaan di hatinya Sandra.


“Banyaklah berpikir hal yang menyenangkan saja. Bukankah itu saran dokter. Setelah ini kita 'kan senang-senang berdua saja.”


Sandra menghamburkan diri ke hadapan Bara. Pria itu menyambutnya hangat.


“Aku takut kamu akan lebih menuruti mama mu, Mas!” Sandra memeluk erat tubuh Bara.


Bara berusaha menenangkannya. Seperti kata dokter suasana hati wanita yang sedang hamil pasti sensitif. Beruntung Bara menanyakan itu kepada dokter tempo hari saat Sandra dirawat di rumah sakit Bandung.


“Tidak akan, kita akan terus sama-sama. Sekarang istirahat lah. Mau aku bantu membersihkan diri?” goda Bara langsung mendapat cubitan di perutnya oleh Sandra.


Wajah sedih Sandra seketika berubah sumringah. Ada kelegaan di sana.


“Aku bisa sendiri,” Tolak Sandra. Wanita itu lekas berjalan menuju kamar mandi, Bara pun mengikutinya. “Mas, mau ngapain?” tanya Sandra penuh curiga.


“Aku hanya mau memastikan kamu tidak kenapa-napa. Hati-hati di kamar mandi licin.” Mas tunggu kamu mandi, setelah itu baru Mas kembali ke tempat pesta.” Bara kekeh ingin memastikan keadaan Sandra.


Tidak ingin membuat para tamu penting Bara menunggu. Sandra cepat membersihkan diri. Saat ia menyentuh bagian perut. Ada rasa hari dan bahagia sangat bahagia ia rasakan.


‘Nak, mama sangat bersyukur akan kehadiranmu. Adanya dirimu membuat hidup ini serasa berarti. Semoga papamu terus bersikap seperti ini. Kami akan berusaha menjadi orang tua yang baik untukmu.


Ucap Sandra dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

__ADS_1


Sandra mengira suaminya adalah pria yang bisa menahan hasrat. Jika pria lain di saat ada kesempatan berdua seperti ini pasti yang di inginkan adalah langsung bermesraan. Tapi Sandra merasa Bara berbeda.


Saat Sandra keluar dari kamar mandi. Ia tidak menyangka ternyata suaminya masih setia menunggunya hingga selesai mandi.


“Loh, aku kira Mas sudah kembali ke ruangan?” Sandra berjalan mendekati Bara.


“Cape, Ya?” tanyanya sambil mengelus pelan rahang yang saat ini bersih dari bulu-bulu halus membuat wajah Bara terlihat semakin tampan.


Bara tersenyum menjawabnya. Lekas ia berdiri kemudian mencium kening Sandra dalam.


“Tidak akan terasa lelah jika melihat wajah kamu. Sekarang istirahat lah, jangan lupa makan dulu. Aku sudah buatkan susu untukmu di minum, ya!” Bara melirik sesaat ke atas meja.


Sandra pun ikut menoleh ke arah pandangan Bara. Di mana makanan dan susu sudah tersedia di sana.


“Terima kasih, Mas.”


“Sama-sama. Aku balik lagi ke tempat pesta.” Bara melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Satu jam lagi acaranya bubar, jadi aku gak akan lama!”


Sandra mengangguk pelan. Bara meninggalkan Sandra di kamar hotel sendiri. Baru beberapa langkah ia berjalan. Sandra kembali memanggilnya.


“Mas!” panggil Sandra. Bara lekas berbalik badan.


“Kenapa?” tanya Bara.


“Kartika dan Mama apa ikut menginap juga di hotel ini?”


“Mereka akan pulang ke apartemen mama, nanti supir akan mengantarkan mereka,” ujar Bara.


“Oh...”


“Jangan lupa, makan dan minum susunya!” Bara mengingatkan.


“Iya, Mas...”


Bara kembali melangkahkan kakinya. Baru sampai di Koridor dekat ruangan. Joni menghampirinya.


“Pak Bara!” panggil Joni yang berjalan menghampirinya.


“Kenapa Jon?”


“Tuan Braja mencari Anda!”


“Tuan Braja?” Bara begitu heran mendengarnya. Ternyata lelaki yang sempat menjadi rivalnya itu hadir juga ke pernikahannya meski sebentar lagi acara akan selesai.


“Ya, Saya akan ke sana untuk menemuinya.” Kemudian Bara segera menuju ruangan di mana para tamu undangan termasuk ruan Braja masih setia menunggunya di sana.


...Bersambung....


Jangan lupa dukungan kalian

__ADS_1


🥰🥰🥰


__ADS_2