Fake Love

Fake Love
Perasaan Tidak Enak


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti yang telah direncanakan kemarin malam oleh Galen. Kiriman bunga kesukaan Aline sudah di pesan oleh Aldo. Terselip kata indah dan alamat tempat mereka bertemu.


Aline sudah memutuskan akan pergi di antar Pak Joko ke tempat tersebut. Galen pun sudah menghubungi Ayah Zaki dan meminta maaf kalau ijin kepada calon mertuanya itu tanpa bertemu langsung.


Ayah Zaki pun mengijinkannya, ia mengerti dengan tanggung jawab yang tengah Galen jalani saat ini.


Galen sudah merubah sedikit rencananya. Ia akan menjemput sendiri Aline, tapi gadis itu menolak. Karena menurut Aline akan lebih menghemat waktu jika bertemu di tempat tujuan saja.


Galen agak heran mendengar Aline yang mengatakan alamat itu agak jauh, padahal menurut Galen tempat itu dekat dengan kediaman Aline. Ada keganjalan di sana, tapi Galen tak menanyakannya kepada Aline, karena saat ia berkomunikasi dengan calon istrinya itu, meeting akan segera di mulai.


"Ya sudah, aku ada meeting dulu. Sampai bertemu nanti sore. Maaf aku undur lagi waktunya. Aku pastikan dua hari lagi semua pekerjaan selesai, setelahnya kita fokus untuk acara pernikahan kita," ucap Galen tegas dari seberang telepon.


"Ya, Benar, kamu janji loh, Gal."


"Aku janji, Sayang! Aku sungguh tidak sabar ingin bertemu kamu."


"Ya sudah, sana! ditunggu yang lain loh. Satu lagi."


"Apa, " tanya Galen heran.


"Terima kasih untuk bunga cantiknya! semangat ya kerjanya!" Semangat dari Aline menjadi moodbooster untuk Galen.


"Sama-sama, Yang! aku juga berterima kasih sama kamu. Sampai berjumpa nanti sore, Love u Aline Barsha."


Aline tersenyum mendengar ungkapan cinta Galen. " Ya, Love you to calon imamku."


Galen tersenyum mendengar ucapan Aline kepadanya.


Sambungan telepon terputus saat Galen harus segera memasuki ruangan untuk meeting. Pria itu memasuki ruang meeting sambil tersenyum. Rasanya tidak sabar untuk pertemuannya dengan Aline nanti sore.

__ADS_1


"Kenapa memilih tempat yang jauh seperti ini?" gumam Aline meneliti kertas kecil berisi tulisan kata cinta dan sebuah alamat di sana.


Aline manyimpan buket bunga di atas tempat tidur. Ia hendak mencari vas bunga besar untuk tempat menaruh bunga lili kesukaannya itu, pemberian calon suaminya.


Aline dengan semangat menuruni anak tangga menuju dapur.


"Bi, ada vas bunga yang agak gede gak sih?" tanya Aline yang baru saja sampai di dapur.


"Ada, Neng! sebentar Bibi ambilkan," sahut Bi Kesih lalu melangkah ke arah bufet dimana vas bunga itu disimpan. "Ini, Neng. Buat bunga cantik tadi ya?" tanya Bi Kesih.


Aline tersenyum malu. "Iya, Bi. Terima kasih ya, Bi!" Bi kesih mengangguk pelan lalu melanjutkan pekerjaannya di dapur.


Dengan pelan Aline meletakkan bunga itu ke dalam vas. Disimpannya bunga cantik itu di nakas dekat tempat tidur Aline. Aline tersenyum senang dengan perhatian Galen.


Selalu terucap dalam do'a Aline agar semua rencana yang sudah dirangkai berjalan lancar sampai waktunya tiba.


"Bagaimana sudah sampai ke tangan gadis itu, bunganya?" tanya seseorang sedang berbicara dengan kurir pengantar bunga di seberang jalan.


"Sudah!" jawab si kurir dengan nada takut.


Terlihat wajah tegang dan cemas dari kurir tersebut.


Kedua tangannya yang termor saling menggenggam erat. Pria yang terpaksa melakukan suatu perintah dari orang yang tidak ia kenal membuatnya merasa terintimidasi, karena jika tidak melaksanakan nyawanya akan melayang. Dan jika melakukannya, nyawanya selamat tapi apabila yang ia lakukan merugikan orang lain tetap saja ia akan kehilangan pekerjaannya sebagai kurir dan akan membuat hidupnya hancur tak memiliki pekerjaan. Pilihan yang tidak menguntungkan untuk kurir tersebut, tapi setidaknya nyawanya bisa selamat dari ancaman pria dengan penampilan ganas, bertato dan sedikit pincang itu.


Bu Winda pulang lebih dulu dari warung sotonya. Ayah Zaki menyuruhnya pulang duluan, seperti biasa warung soto miliknya selalu ramai. Apalagi banyak yang tau, kadang di warung ada Aline yang sesekali berada di sana. Artis yang sempat heboh oleh prestasinya.


Para penggemarnya sangat menyayangkan hengkangnya Aline dari dunia entertainment, tapi mereka juga sangat mendukung keputusan Aline. Karena dasarnya seorang wanita lebih mulia dengan pekerjaannya sebagai seorang ibu rumah tangga, itulah keputusan Aline ingin off dari pekerjaannya.


Bu Winda masuk ke dalam kamar Aline. Tak terlihat keberadaan putrinya di sana. Tapi gemercik air terdengar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Rupanya anak itu sedang mandi. Kirain lupa kalau hari ini Galen ngajak ketemuan." Bu Winda berjalan mendekat ke arah tempat tidur.


Di lihatnya Bunga cantik terpajang di atas nakas tepat di samping tempat tidurnya. Serta kertas kecil berisi ucapan di depannya.


Bu Winda meraih kertas kecil itu, di bacanya dlam hati kata yang tertulis di sana.


Anugerah terindah yang aku dapat saat ini adalah kamu, kamu yang akan jadi pelengkap hidupku. Love u forever, Aline Barsha.


Itulah kata-kata indah yang Galen tulis untuk Aline.


Di bagian bawah tertulis alamat yang akan Aline datangi untuk bertemu Galen.


"Semoga hidupmu dengan Galen selalu dilimpahkan kebahagiaan," ucap Bu Winda dalam hati.


Matanya menyipit melihat alamat yang tertulis di bawah tulisan ungkapan manis itu. "Restaurant Billcurt, kenapa alamatnya jauh sekali? bukannya tadi ayah bilang tempat mereka bertemu dekat dari rumah!"


Ada perasaan tidak enak dalam hati Bu Winda, tapi ia menepis pikiran buruknya. Berharap semua akan baik-baik saja.


.


.


.


.


.


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2