Fake Love

Fake Love
Tongkat Sakti


__ADS_3

Setelah menghabiskan jahe hangat yang dibuatkan oleh Zainab. Tuan Wijaya merasa perutnya sudah mulai membaik, rasa mulas dan melilit yang di rasakannya sudah berangsur mengilang.


Bu Winda dan Zainab pindah ruangan ke ruang keluarga, menghampiri Aline dan Galen yang terdengar seru berdua du ruangan tersebut.


Tak ingin tambah merepotkan si pemilik rumah Tuan Wijaya berniat mengajak Galen untuk pulang. Tapi saat melihat Galen, dirinya terdiam melihat tawa yang terpancar di wajah putranya itu.


“Baru kali ini, aku melihat tawa lepas dari putraku, Zak!” ucap Tuan Wijaya pada Ayah Zaki yang ikut memandang Galen yang tengah asyik melempar canda dan tawa dengan gadis yang tak lama lagi akan menjadi istrinya itu.


Galen terlihat sedang membolak balikkan album foto yang ia pegang. Sesekali ia mengejek Aline karena foto yang di lihatnya. Bu winda dan Zainab yang terlihat bersama mereka ikut tertawa karena Galen terus saja mengejek Aline, membuat gadis itu cemberut dan mengadu pada Ibunya.


“Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, Jay! Sampai kamu melewatkan masa kebersamaanmu bersama anak-anakmu, bahkan Mariska. Wanita yang sudah membuat kita salah paham,” ujar Ayah Zaki serius, lalu meneguk kopi jahe yang di buatkan istrinya tadi.


“Aku hanya mengalihkan rasa bersalahku dari Indira. Aku sengaja menyibukkan diriku pada pekerjaan setelah kehilangannya. Hingga aku melewati kebersamaan dengan mereka, anak-anakku.” Tuan Wijaya masih memandangi Galen. Sekarang Aku bersyukur bisa berpisah dengan Mariska. Karena saat bersamanya rasa bersalah itu terus saja datang padaku. Aku hanya bertanggung jawab atas perbuatanku kepadanya. Dulu saat aku ingin bercerai darinya, wanita itu malah mengandung Kartika, dengan terpaksa aku meneruskan pernikahanku. Tapi aku tak pernah menyentuhnya sampai saat ini,” tutur Tuan Wijaya.


“Sudahlah, yang lalu biarkan lah berlalu. Sekarang ini tanggung jawabmu besar, Jay. Setelah perpisahanmu dengan Mariska kamu harus lebih memperhatikan putrimu. Galen akan lepas dari tanggung jawabmu, dia akan jadi imam untuk putriku.” Sambung Ayah Zaki.


“Ya, kamu benar, Zak! Galen juga akan meneruskan kepemimpinan pada perusahaanku. Rapat dewan direksi sudah meng-sah kan bahwa Galen adalah pemimpin perusahaan selanjutnya.


Ayah Zaki mengerutkan alis. “Aku kira kamu mengalihkannya kepada Bara karena aku lihat dialah yang sering kamu ajak menjalani perjalanan bisnis.”


Tuan Wijaya menggelengkan kepala. “Dia bukan keturunanku, Aku hanyalah ayah sambungnya. Tak bisa di pungkiri anak itu berbakat dalam dunia bisnis, karena itulah aku mempercayakannya satu perusahanku untuk ia kelola. Dan ternyata benar, Bara bisa membawa perusahaan itu sukses di tangannya,” ungkap Tuan Wijaya.


“Kamu tidak takut dia akan seperti Mariska?’ tanya Ayah Zaki.


“Silahkan saja kalau dia berani, sifat anak itu sangatlah jauh dari Mariska, Mungkin sifat dari Ayahnya yang menurun kepadanya.”


“Kamu pernah bertemu ayah dari Bara?”


“Ya, pernah. Ayahnya bernama Fahmi. Dulu dia seorang montir di bengkel kecil, sekarang dia sudah memiliki bengkel sendiri meski tidak begitu besar. Bara pernah memberinya bantuan untuk mendirikan bengkel yang lebih besar tapi dia menolak.”


Ayah Zaki mengangguk paham. “Semoga anak itu tau akan namanya balas budi.”


“Aku tak mengharapkan balas budi, Zak! Aku sudah menganggapnya anakku sendiri! Sekarang aku hanya ingin melihat anak-anakku bahagia dan sukses dengan pilihan yang mereka pilih. Aku tidak mau melewatkannya lagi.


“Bagaimana dengan Mariska?” tanya Ayah Zaki lagi.

__ADS_1


“Aku sudah resmi berpisah darinya. Sekarang wanita itu bersama selingkuhannya!” ucap Tuan Wijaya geram.


“Sepertinya kamu cemburu?” selidik Ayah Zaki yang langsung mendapat pelototan tajam dari sahabatnya itu lekas pria yang mengejek Tuan Wijaya itu mengangkat tangan tanda perdamaian. “Sorry, Jay! Ya, aku tau kamu, paling anti dengan pengkhianatan.”


“Hah.” Tuan Wijaya membuang napas berat. “Sebenarnya aku juga tidak begitu mempermasalahkan pengkhianatan Mariska karena aku sadar selama ini hanya nafkah lahir yang aku berikan padanya. Hingga ia harus mencari kehangatan batin dari orang lain.” Lirih Tuan Wijaya pelan. Pandangannya lurus memandang ke arah depan. Wajahnya tidak sedih malah tersenyum, ternyata pandangannya tertuju kepada Galen yang tertawa geli bersama Aline.


“Apa tongkat ajaibmu sudah tidak berfungsi sampai kamu tidak bisa memberi nafkah batin sama Mariska?” ejek Ayah Zaki yang langsung mendapat lemparan sendok dari Tuan Wijaya.


“Tongkat ajaibku masih kuat berdiri dan gagah. Apa kamu mau melihatnya,” ujar Tuan Wijaya membuat Ayah Zaki bergidik ngeri,


“Cih … percuma kuat berdiri tapi tak pernah di ajak berkelana ke hutan rimba. Pasti dia bosan selalu di ajak bermain lima jari oleh jemari mu!” lagi-lagi Ayah Zaki meledek Tuan Wijaya membuat sahabatnya itu terlihat kesal di buatnya.


Ayah Zaki sangat puas sudah membuat Wijaya kesal.


“Lihat saja, nanti kalau kalau aku sudah menemukan hutan rimbaku, Aku akan membuktikan kalau tongkat saktiku masih bisa berproduksi!” sungutnya kesal seraya berdiri dari duduknya meninggalkan meja makan.


Ayah Zaki tertawa renyah. Tawanya sampai terdengar sampai ruangan di mana Galen dan Aline berada.


“Ayah lagi ngomongin apa sih, Bu? Kayaknya seru banget sampai tawanya terdengar ke sini!” tanya Aline pada Bu Winda.


Bu Winda mengangkat bahu, “Entahlah, mereka berdua itu kalau lagi ngobrol berdua kadang kaya anak kecil tidak mau mengalah. Kadang saling meledek, saling jotos, tapi baikkan lagi. Sama kaya kamu dan Galen, kaya gitu ayahmu dan Papanya Galen.” Bu winda menjelaskan.


“Aduduu” Galen meringis seraya memegangi perutnya. “Tan, ni Aline doyan banget sih nyubit, mana sakit banget kaya kepiting cubitannya.”


“Kamu ini gimana sih, Gal! Sebentar lagi mau jadi menantu di sini, masih manggil tante aja sama calon mertuamu ini.” Zainab mengingatkan.


Galen masih meringis sambil tersenyum kaku menunjukkan deretan gigi putihnya. “Emang boleh sekarang, Tan?” tanya galen ragu seraya menoleh ke Bu Winda.


“Senyaman kamu aja, Gal!” jawab Bu Winda lembut.


“Terima kasih, Bu! Aku bersyukur berada di keluarga yang hangat seperti keluarga ini. “Sshh,” desis Galen masih memegangi perut yang terkena cubitan dari Aline.


“Dih lebay, aku cubitnya pelan, loh!” seru Aline.


“Tapi sakit, Yank! Bu ... lihat deh, merah 'kan?” Galen mengangkat setengah bajunya, menunjukkan bekas cubitan Aline.

__ADS_1


Bu Winda melihatnya lalu menggelengkan kepala. “Aline!” panggil Bu Winda seraya memandang Aline. “Ambilkan minyak tawon, olesi bekas cubitanmu itu!” titahnya.


“Biarin aja, Bu! Itu akibatnya dari tadi terus ledekin aku!”


Bu Winda dan Zainab saling pandang. Bu Winda menggelengkan kepalanya lagi sedangkan Zainab tersenyum menanggapi tingkah kedua calon pengantin itu. dari tadi ada saja tingkah keduanya yang membuat heran. Galen bisa bersikap manis sampai terlihat bucin, tapi ia begitu senang menjahili Aline bahkan meledeknya sampai membuat Aline hampir menangis, sedangkan Aline tangannya tak bisa diam kadang mencubit atau memukul pelan tangan Galen membalas ledekan yang di tunjukkan kepadanya.


“Kalian ini, sebelas dua belas dengan ayah kalian,’ cibir Bu Winda.


“ Gal ... kita pulang sekarang!” titah Tuan wijaya yang baru saja muncul dari arah dapur dengan wajah kesalnya.


Pria itu Ia berjalan dengan langkah cepat melewati ruang keluarga hendak keluar dari rumah Ayah Zaki tanpa menoleh ke arah mereka yang berada di ruangan tersebut.


“Papa mu kenapa, Gal?” tanya aline dengan berbisik kepada Galen.


“Ngambek dia!” sahut Ayah Zaki yang ikut muncul dari dapur.


“Ngambek kenapa, Yah?” tanya Aline. Gadis itu makin penasaran apa yang sudah membuat calon mertuanya itu marah.”


“Rindu berkelana di hutan rimba.”


Aline dan Galen mengerutkan alisnya tak mengerti apa yang di ucapkan Ayah Zaki sedangkan Bu Winda dan Zainab menyunggingkan senyum mendengarnya.


.


.


.


.


.


"Deh ternyata pundungan ni Tuan Wijaya. Apa gak sabar pengen berkelana ke hutan rimba?" 😁


Buat readers yang mampir baca di sini. tinggalin jejak kalian dong....

__ADS_1


baca juga karya temn Author yuk



__ADS_2