Fake Love

Fake Love
Umpan Godaan


__ADS_3

"Cepet banget tuh orang nyampenya?" gerutu Galen saat Aldo mendekat kepadanya.


Pria itu merasa tidak puas setelah seharian bersama Aline. Rasanya ingin selalu bersama.


Aline hanya tersenyum geli melihat Galen yang terus menggerutu.


"Apa aku tidak ditawari nginap di sini?" ucap Galen menawarkan diri. Rasanya malas untuk pulang.


Aline menggelengkan kepala sambil menipiskan bibir.


"Tega sekali kamu, Yang! aku lelah, ingin istirahat." keluh Galen lemas.


Pria itu hanya berpura-pura, ia masih betah bersama Aline.


"Sabar! kita akan bersama selamanya nanti, setelah kita melewati dan menikmati masa menjelang pernikahan. akan lebih terasa indahnya kalau kita menjalaninya."


Aline menepuk pelan wajah Galen yang terlihat lesu tak bersemangat.


Dengan terpaksa Galen harus mengakhiri kebersamaannya bersama Aline.


"Mana Ayah? apa mereka sudah tidur? aku mau pamit." ucap Galen seraya berdiri.


"Kayaknya sih, belum! sebentar aku liat dulu." Aline beranjak masuk ke dalam rumah untuk memanggil ayahnya, diikuti Galen di belakangnya.


"Yah," panggil Aline pelan.


Saat masuk ke dalam rumah, Ayah Zaki terlihat tidur di pangkuan Bu Winda.


"Enak banget ayah, Bu. Sampe tertidur gitu, dipijit kepalanya," ucap Aline mendekati kedua orang tuanya. "Kenapa gak di kamar aja, kasian harus terbangun nantinya," sambungnya.


Bu Winda mengangkat bahunya, sambil menepuk pelan pipi ayah Zaki dengan rahang yang mulai ditumbuhi bulu halus karena sudah beberapa hari tak mencukurnya.


"Yah, Bangun! itu Galen mau pamit." usapan lembut dari Bu Winda langsung membuat Ayah Zaki terbangun.


"Sudah mau pulang dia. Kenapa tidak dari tadi? ayah sampai harus menjadi satpam di sini!" ucap Ayah Zaki sambil mengucek matanya lalu berdiri menyambut Galen yang berdiri di belakang Aline.


"Ayah, kebiasaan deh!" Bu Winda mencubit pinggang Ayah Zaki memperingatinya.


"Aww, iya bu, maaf." Ayah Zaki mengusap bekas cubitan yang terasa panas. "Duh, dari dulu sampe sekarang tuh cubitan masih aja rasanya sakit." Ayah Zaki berdiri sambil meringis.


Aline terlihat menahan tawa melihat kedua orang tuanya. Sikap mereka itulah yang sangat di harapkan Aline untuk rumah tangganua kelak.


Pasangan suami istri yang bisa menjadi teman saat ingin bercanda, menjadi sahabat saat ingin bercerita, menjadi pasangan halal saat mencurahkan kasih sayang dan keluhan.


Semua ada dalam rumah tangga kedua orang tuanya.


"Yah, Galen mau pamit," ucap Aline kemudian menoleh ke belakang menatap Galen.


Galen yang paham dengan tatapan Aline yang mengharuskannya ijin terlebih dulu kepada ayahnya lekas mendekati Ayah Zaki untuk berpamitan. Karena Ayah Zaki sangat mementingkan adab kesopanan. Ia sangat tidak menyukai jika ada yang berkunjung pulang tanpa pamit. Dulu itu juga berlaku kepada Derald mantan kekasih Aline.


"Saya, pamit pulang, Yah."

__ADS_1


"Sendiri?" tanya Ayah Zaki.


"Ada Aldo di luar, saya titip motor di sini! besok ada yang ambil."


"Ya, simpan saja di sini. Tak baik calon pengantin berkendara sendiri. mulai besok kalian jangan terlalu sering ketemu. Dan ajaklah orang lain jangan sampai kalian harus berdua di waktu yang lama saat bertemu." Nasehat Ayah Zaki.


Aline mengerucutkan bibirnya mendengar nasehat ayahnya.


"Baik, Yah. Saya mengerti. Kalau begitu saya pamit pulang!"


"Ya, hati-hati. Pulang kemana, Gal?" tanya Ayah lagi. "Kerumah Oma, apa Papamu."


"Kerumah Papa, Yah! Oma juga ikut tinggal di sana. Kartika ingin di temani."


"Ya, sebaiknya temani dia, kasihan anak itu, ia harus menerima kenyataan kebenaran tentang mamanya." ucap Ayah Zaki prihatin.


Galen hanya tersenyum kecut mendengar Ayah Zaki menyinggung soal Nyonya Mariska, mama tirinya.


"Maaf, bukan maksud Ayah menyinggung .... " ucapannya tak berlajut.


"Tidak masalah, Yah. Tapi Saya benar-benar tidak peduli dengan Mama Mariska saat ini. Saya hanya ingin menjaga perasaan Kartika saja," tutur Galen.


"Ya, kamu sebagai kakak harus melindungi dia!" Ayah Zaki menepuk pelan pundak Galen memberi dukungan kepadanya.


"Kalau begitu, Saya pamit, Yah, Bu!" ucap Galen seraya menyalami keduanya.


"Hati-hati, Gal" sahut Bu Winda.


Galen lantas berbalik langkah ke depan rumah. Saat melewati teras ia mengambil satu permen manis yang ada di sana, membuka lalu memasukan ke dalam mulutnya. Melepaskan kepahitan berpisah dengan Aline. Padahal kedepannya meraka akan lebih sering bertemu untuk persiapan pernikahan. Tapi tidak bisa berdua, peringatan Ayah Zaki tadi pastilah harus dilakukan, tidak boleh berdua takut ada setan yang akan menjadi orang ketiga.


"Aline antar Galen dulu, kedepan, Yah, Bu! biar pintu Aline yang kunci."


Setelah Aline berucap, Ayah Zaki dan Bu Winda pergi ke kamarnya.


"Bu, kita lanjutin yang tadi di kamar!" goda Ayah Zaki.


"Apaan sih, Yah?" Bu Winda terlihat malu, entah apa yang dipikirkannya.


"Pijitin kepala Ayah. Emang ibu pikir ngapain coba?" Ayah Zaki mengerlingkan mata genit.


Sambil berjalan Ayah Zaki terus menggoda Bu Winda.


"Kalau begitu, kita wujudkan pemikiran ibu tadi, sayang kan kalau di lewatin."


"Ayah!" Bu Winda membungkam mulut Ayah Zaki ketika tiba di depan kamarnya.


Ayah Zaki menarik Bu Winda ke dalam kamar, pintu itu segera di kunci oleh Pria berumur yang selalu terlihat romantis itu.


...***...


"Hati-hati, Ya! kabari aku kalau sudah sampai rumah," ucap Aline saat keduanya sudah tiba di dekat mobil Galen.

__ADS_1


"Ya," jawab Galen tak bersemangat.


Mereka saling berhadapan. Aline tersenyum manis kepada Galen. Gadis cantik itu maju dia melangkah mendekati Galen. Dengan gerakan cepat Aline mencium pipi pria tampan di hadapannya itu.


"Sampai jumpa lagi anak combro," setelah berbisik Aline segera berbalik hendak berlari masuk ke dalam rumah.


Dengan gerakan cepat pula Galen menarik Aline sehingga tubuh gadis itu menabrak dada bidang Galen.


Tanpa permisi, Galen menyambar bibir sensual Aline. Memberi hukuman pada gadis itu karena sudah berani meledeknya anak combro, seperti Ayah Zaki.


Gadis itu membulatkan matanya mendapatkan serangan dadakan itu.


Awalnya hanya ingin menggoda Galen. Ternyata umpan godaan yang Aline sodorkan malah menjadi santapan nikmat penembus hasrat yang sedari tadi Galen tahan.


Aline mencoba melepaskan jeratan pelukan Galen tapi pria itu makin memperdalam ciumannya, menahan kepala Aline agar tidak menjauh dari sentuhannya.


Galen sama sekali tidak mempedulikan keberadaan Aldo yang tengah menunggu dirinya tepat di depan mobil miliknya.


Sadar diri, asisten Galen itu berbalik badan membelakangi mereka berdua, tak ingin menyaksikan aksi panas tuannya. Aldo melangkah menjauh dari tuannya itu, memberi privasi kepada mereka.


"Sial, kenapa saya harus menyaksikan ini. Tuan muda tidak sadarkah ada aku di sana!" batin Aldo sebal.


Melihat lampu kamar Ayah Zaki yang terlihat oleh Aline telah mati menandakan pemilik kamar itu sudah tertidur.


Aline mulai menikmati sentuhan lembut Galen. Gadis itu mulai membuka mulutnya perlahan.


Galen memasukan permen rasa strobery mint yang tadi ia buka ke dalam mulut Aline. Lidah pria itu terus memutar permen itu, lidah Aline pun ikut bermain di dalamnya.


Keduanya bermain lembut, saling memejamkan mata merasakan cinta yang tersalur dalam ciuman tersebut.


Hingga Aline harus melepaskan sentuhan itu terlebih dulu setelah permen yang jadi bahan permainan lidah mereka habis.


Sambil menunduk napas Aline tersengal-sengal dibuatnya. Gadis itu menghirup napas. Malu, rasanya malu. Apalagi tadi ada keberadaan Aldo di sana, tapi saat Aline mengedarkan pandangannya ke sekitar, tak ada kehadiran asisten calon suaminya itu. Entah dia berada di mana.


Galen meraih dagu Aline lalu mendongakkan kepala gadis itu agar menatapnya. Ditangkupnya kedua pipi putih itu. kemudian dikecupnya kening Aline lama. "Sudah malam, masuklah! Aku akan pergi setelah kamu masuk, Yang."


Aline mengangguk pelan. Seperti seekor kerbau yang dicocok hidungnya, agar menurut. Aline juga mengikuti apa yang Galen ucapkan. Gadis itu berbalik badan kemudian melangkah meninggalkan Galen.


sesekali menoleh hanya untuk memberikan senyuman dan melambaikan tangan kepada calon suaminya itu.


.


.


.


.


Hai, baru jumpa lagi kita. Semoga kalian dalam keadaan sehat sehat ya..


sehat hati, sehat pikiran terutama sehat kantong. Karena semua, kalau sehat kàntong pasti baik baik terus.

__ADS_1


Terima kasih Author ucapkan untuk kalian semua.


__ADS_2