
"Mas sudah makan?" tanya Aline saat menyiapkan rujak sambel kacang ke dalam piring.
Galen menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalau belum makan jangan coba-coba makan rujak dulu. ini pedas loh, nanti Mas sakit perut." ujar Aline memperingati.
"Mas pingin yang seger-seger, Yang!"
"Nyemplung ke kolam renang panas-panas gini, baru seger!" celetuk Aline lalu membuang kertas pembungkus rujak ke dalam tempat sampah
Galen mendekati Aline lalu memeluknya dari belakang. "Kalau nyemplungnya sama kamu, Mas mau!" goda Galen sambil menciumi rengkuk leher Aline.
"Mas, ih lepasin deh! Aku mau siapin makan kamu dulu." Aline melepaskan tangan Galen yang membelit di tubuhnya.
"Berarti habis makan boleh Mas makan kamu." cetus Galen membuat Aline berkacak pinggang sambil menghadapnya.
Aline menggelengkan kepala. "Cukup, ya Mas. Semalam Kamu juga minta nambah! Kondisi Mas kurang fit tapi sama begituan minta nambah. Coba minta makan yang nambah," celetuk Aline sambil membawa rujak sambel kacang sedikit menjauh dari Galen.
"Yang, ko di jauhin rujaknya?" protes Galen, Aline mengibaskan tangan Galen yang hendak mengambil potongan rujak.
"Mas harus makan dulu, nanti sore Mas ada pertemuan penting, kalau Mas sakit perut gimana?" omel Aline membuat Galen pasrah.
Akhirnya Galen menuruti ucapan Aline. sehabis makan meski tidak banyak, Aline baru memberikan rujak sambek kacang yang Galen inginkan dari tadi.
"Mas, gak asem apa?" tanya Aline saat melihat Galen dengan lahapnya memakan mangga muda beserta buah yang lain.
Galen hanya menggelengkan kepalanya, tanpa bersuara.
Aline sampai menelan salive melihatnya. Saat ini, istri Galen itu malah tidak berselera memakan rujak. Ia lebih asik dengan cilok dan batagor yang ia beli tadi.
"Mas mau nggak?" Aline menyodorkan cilok dengan saus yang sudah diganti oleh Aline kepada Galen.
Galen hanya melirik sesaat, kemudian kembali fokus dengan rujaknya.
Keduanya sibuk dengan makanan mereka sendiri-sendiri.
Galen merasa puas karena keinginannya sudah terpenuhi. Satu gelas susu hangat yang Aline siapkan untuknya pun tandas tak tersisa. Susu hangat itu berkhasiat untuk menghilangkan pedas akibat sambal rujak yang ia makan.
Melihat Istrinya yang sudah terlelap di sofa. Lekas Galen mengangkat tubuh Aline yang tampak berisi. Ia membawa Aline ke sebuah ruangan tempatnya beristirahat dalam ruangan kerja Galen. Ruangan itu yang belum lama baru selesai pembuatannya.
Usai memindahkan Aline ke ruangan istirahat nya, Aldo datang dengan tergesa-gesa. Memberi kabar kepada Galen bahwa ada kendala pada pengerjaan proyek yang ada di Tangerang.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Galen tegas karena dua hari yang lalu Galen dan Aldo baru saja memantau proyek tersebut.
"Sepertinya ada yang berbuat curang pada pengadaan bahan bangunannya, Tuan! Saya sudah menyelidikinya dan ternyata benar mandor yang bekerja membuat sedikit kecurangan yang berakibat fatal pada proyek ini." ungkap Aldo membuat Galen harus berpikir keras mencari jalan keluarnya, karena pembangunan sudah setengah jalan.
__ADS_1
Tidak mungkin ia menghentikannya begitu saja, Galen harus turun tangan sendiri mengecsk proyek tersebut. Tapi, sebentar lagi pertemuan bisnis yang juga penting untuk ia hadiri.
Aldo mengertk kegelisahan yang dirasakan Tuannya itu.
"Bagaimana kalau saya yang pergi ke Tangerang Tuan?" Aldo memberi ide.
Galen menggelengkan kepala membantah Aldo. "Tidak ... Aku harus turun tangan sendiri menangani masalah ini," Galen tidak sejalan dengan Aldo.
"Lalu bagaimana, Tuan?" tanya Aldo kemudian.
"Kamu harus menggantikan saya untuk pertemuan sore nanti, Kamu sudah paham betul dengan isi proposal yang akan kita jabarkan di pertemuan kali ini! Sekarang saya akan ke Tangerang. Kamu berikan saja berkas dan apa saja yang harus saya pantau lebih jelasnya saat saya ke sana, nanti!" Galen mengambil keputusan dengan tegas dan cepat. Ia tidak mau kendala pada proyek pembangunan apartement gagal begitu saja. Karena para investor pasti akan merasa kecewa.
"Maaf, Tuan. Yang lebih tau jelas soal proyek di Tangerang adalah Sandra. Dia yang ikut saya mencatat secara detail rinciannya."
"Baiklah segera perintahkan Sandra untuk ikut denganku. Beritahu dia agar bersiap siap," titah Galen tegas.
Galen langsung mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya. Sedikit memijit kepala yang mendadak pusing karena masalah ini.
Ceklek.
Pintu ruangan istirahat yang ada dalam ruang kerja Galen terbuka, Alibe keluar dari sana.
"Mas... Kenapa?" tanya Aline sambil mendekati Galen yang sedang memijit keningnya pelan.
"Aku harus berangkat ke Tangerang. Ada proyek yang bermasalah di sana!" ungkap Galen sambil menguyel-nguyel kepalanya ke tubuh Aline.
"Mas... geli ih... " Aline lantas berdiri dari pangkuan Galen. Ia takut jika terus menuruti berdekatan dengan suaminya, ruangan kerja ini akan kembali panas karena hal yang tak terduga bisa saja membangunkan benjhon yang masih terlelap.
Aline berdiri di hadapan suaminya sambil menangkup wajah tampan itu.
"Harus semangat dog kerjanya." Aline mengecup singkat bibir Galen. "Terus pertemuan sore nanti siapa yang nangani?" tanya Aline seraya berjalan memutari meja agar duduk di hadapan Galen. Hanya dibatasi meja kerja saja.
"Ada Aldo yang menanganinya. Sayang ... " Galen diam sesaat, ia masih ragu untuk mengungkapkannya kepada Aline soal Sandra lah yang akan menemaninya mamantau proyek di Tangerang.
"Syukurlah kalau ada yang menggantikannya. Lalu Mas berangkat kapan?" tanya Aline lagi.
"Sebentar lagi."
"Oh, ya sudah kalau begitu. Aku pulang saja ya, kebetulan pak supir sudah ada di parkiran jemput aku!" ucap Aline lalu bergegas siap-siap untuk keluar kantor.
"Maaf, ya Sayang... Mas juga bakalan telat pulang malam ini!" Ada rasa sesal dalam diri Galen soal kepergiannya bersama Sandra.
Aline sudah memberitahunya kalau Sandra mempunyai perasaan kepadanya. Dari situlah Galen sangat menjaga perasaan Aline agar tidak dekat-dekat dengan Sandra. Ia tidak mau menjadi beban buat istrinya, karena Aline sedang mengikuti program kehamilan tidak dianjurkan untuk stress dan terlalu banyak berpikir.
Mungkin lebih baik aku tidak usah bilang sama Aline soal kepergianku dengan Sandra. Biar nanti setalah dari sana, aku akan cerita sendiri kepadanya.
__ADS_1
Batin Galen menatap Aline yang tengah sibuk merapikan barang- barang miliknya yang sedang si rapikan.
"Mas, aku siapkan baju ganti juga ya. supaya kalau pulangnya kemalaman, Mas bisa ganti baju dulu di sana," ucap Aline sambil berlalu masuk ke dalam ruangan istirahatnya. mengambil satu pasang baju yang akan di bawah Galen.
Aline keluar dari ruangan istirahat nya. Satu buah paper bag yang sudah di isi pakaian suaminya.
"Mas, semuanya sudah siap di sini, ya! Maaf aku tidak bisa ikut sama kamu, Mas. Kasihan Oma sendiri di rumah," ucap Aline membuat Galen sedikit bersedih. Ia kira Aline bisa ikut dengannya ternyata tidak.
Andai Aline yang akan menemaninya ke Tangerang akan sangat bahagia buat Galen.
Sebernarnya Galen tidak pernah membenci Sandra karena telah memiliki perasaan kepadanya. Ia hanya ingin lebih menghargai perasaan istrinya. Meski berat untuk tidak memberi tahu Aline tetapi tetap ia lakukan karena tidak mau Aline merasa gelisah saat Galen pergi bersama Sandra.
Maaf sayang... Mas harus menutupi ini dari kamu. Mas tidak mau kamu cemas dan tidak tenang saat Mas pergi bersama Sandra. Yakinlah... Mas tidak akan pernah tergoda ataupun berpaling dari mu.
Akhirnya keputusan Galen ambil untuk tidak memberitahu istrinya.
"Terima kasih, Sayang... sudah mempersiapkan keperluan Mas!" Kecupan singkat pada kening Galen berikan sebelum istrinya pulang ke kediaman Wijaya.
"Itu sudah jadi tugasku, Mas!" Aline balas dengan senyuman andalannya. Aku pulang dulu! Mas... hati-hati ya saat berangkat nanti. Kabari aku kalau akan pergi, jangan lupa telepon aku juga kalau sudah sampai sana!" ceccar Aline dengan berbagai perintahnya.
"Siap, Nyonya!"
Aline terkekeh mendengarnya.
"Aku pulang, Mas!"
"Ya, Hati-hati, Sayang! Maaf... Mas tidak bisa mengantarmu."
"Tidak apa-apa, Mas!" sahut Aline. "Jangan lupa vitaminnya diminum dan di tas kecil juga aku siapkan obat, jaga-jaga kalau mas merasa pusing lagi!" Aline memberitahu secara detail apa yang ia siapkan untuk Galen.
"Iya, Sayang... Terima kasih!"
Aline mendekati Galen meraih tangan kanan suaminya lalu menciumnya dengan takzim. Tak lupa Galen mengecup singkat keningnya.
"Dah.... Mas!" Aline melambaikan tangan saat berjalan menjauhi Galen, hendak meninggalkan ruangan kerja suaminya itu.
"Hati-hati... Sayang!" Galen membalas lambaian tangan juga kepada Aline.
.
.
.
.
__ADS_1