Fake Love

Fake Love
Kita Bertemu Lagi!


__ADS_3

Mendengar penjelasan Dokter Laila kepadanya Galen terlihat sangat lemas. Pria yang duduk bersandar lemas di hadapan sangat dokter itu diam sambil berpikir. Usia kandungan istrinya saat ini baru 10 minggu, trimester kedua berakhir pada usia kandungan 26 minggu. berarti selama 16 minggu Galen harus berpuasa agar tidak menyentuh istrinya. Bisa habis semangatnya, Galen menggelengkan kepala. Ia bangkit dari duduk bersandarnya.


"Dokter apa tidak ada keringanan sedikit saja buat saya?" tanya Galen saat dokter meresepkan obat untuk Aline dan Galen.


"Keringanan apa?" Dokter balik bertanya.


"Sehari tidak dekat dengan istri saya saja, rasanya ingin mati, apalagi ini selama beberapa minggu harus berpuasa tidak menyentuhnya!" lirih Galen membuat Aline kembali dibuat malu.


"Mas... Apaan sih?"


"Sayang... Aku gak bisa, masa harus selama itu berpuasa. Bolehkah dokter sekali kali? Aku 'kan mau nengokin dede bayi nya biar dia kenal dengan Ayahnya!" celetuk Galen langsung mendapat cubitan di perut oleh Aline.


"Mas... difilter napa kalau ngomong," ucap Aline sedikit kesal.


"Hahaha... Berarti dari tadi Anda memikirkan itu?"


Galen mengangguk pelan.


"Jangan di dengarkan ucapan suami saya, Dok!" sela Aline.


Dokter Laila menggelengkan kepala, Ia selesai menuliskan resepnya untuk mereka berdua.


"Anda bisa melakukan tapi ingat hati-hati dan pelan. Jangan sampai guncangan yang ditimbulkan menggangu kenyamanan janin. Dan ingat tidak diperbolehkan setiap hari. karena usia kandungan Bunda masih muda, Nanti saat usia kandungan Bunda sudah memasuki minggu persalinan, baru hal itu bagus untuk membuka jalan lahir bayi," tutur Dokter Laila.


Serasa mendapat angin segar yang menyejukkan jiwa dan raga Galen. Senyumnya kembali cerah dan bersinar, rasanya semangat hidupnya telah kembali.


Bagaimana bisa ia absen dari kegiatan yang paling ia suka bersama Aline. Saling bercampur keringat dan mendengar lantunan suara merdu dari Aline yang menjadi candu untuknya.


"Ya, saya janji akan pelan dan sangat hati-hati." Galen beralih kepada Aline yang memberikan wajah cembetut nya. "Kita akan sering-sering bertemu, Nak! Sampai jumpa, Nanti!"


"Tidak sering, Mas! Tapi sesekali."


"Hehehe... Iya sesekali, nanti kalau kamu sudah besar di dalam sana, dan mau lahir baru kita sering bahkan akan sering sekali bertemu!" Galen mencium perut Aline yang masih rata. Mungkin karena perubahan tubuhnya yang begitu jelas menjadi lebih berisi sehingga kehamilannya belum kelihatan.


"Mas... Ih... kamu ini, ucapanmu itu loh!" pekik Aline kembali membuat Dokter Laila terkekeh mendengarnya.


"Maaf... Dokter! Suami saya tidak punya filter untuk ucapannya," ujar Aline.


"Tidak apa Bunda, yang penting calon ayah ini harus bisa jadi suami siaga nantinya." Dokter Laila menatap Galen.


"Siap, Dokter! mulai detik ini saya akan jadi suami siaga buat istri saya!" ucap Galen semangat.


Akhirnya pemeriksaan kali ini selesai. Saat ini Aline dan Galen berada di dalam mobilnya. Mereka hendak menuju kediaman Wijaya. Oma sudah menghubungi Galen agar segera pulang. Wanita paruh baya itu membuat acara syukuran atas kehamilan Aline. Galen tidak lupa mengirimkan foto hasil USG nya kepada Beliau. sungguh kabar yang sangat membahagiakan untuk Oma Ratih.


Sepanjang perjalanan, tangan Aline tak lepas dari gengaman Galen.

__ADS_1


"Mas... fokus ke jalanan deh! Lepasin dulu tanganku, Aku gak akan lari!" Galen menggelengkan kepalanya pelan. Rasanya tidak ingin melepaskannya.


"Aku takut, kalau mas mengendarai kenderaan seperti ini, ingat kita sempat mengalami kecelakaan jangan sampai--," ucapan Aline terhenti saat Galen tiba-tiba menghentikan mobilnya.


"Maaf... Maaf, Sayang! Mas terlalu bahagia. Ok... Mas akan fokus sekarang." Galen mencium punggung tangan Aline yang sejak tadi ia genggan erat.


Galen tidak mau hal mengerikan kembali mereka alami. Pria yang terus mengembangkan senyuman itu kembali fokus pada kemudinya.


Aline merasa tenang sekarang. Sepanjang perjalanan, Aline dan Galen berbicara soal jenis kelamin bayi mereka. Aline jadi teringat dengan Zara. Seorang bayi yang tidak diharapkan kelahirannya oleh sang Kakek.


"Aku jadi teringat Zara, Mas! Kasihan sekali bayi cantik itu," ucap Aline dengan wajah sedihnya.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka," sahut Galen sambil menekan klakson saat mereka tiba di kediaman mewahnya.


Aline mengangguk pelan.


Kalau anakku nanti perempuan, Zara dan anakku bisa jadi teman dekat.


Andaikata anakku laki-laki,


Aku berharap, tali silaturahmi akan bersambung dengan pernikahan.


semoga nanti mereka berjodoh.


Bukan karena aku kasihan pada Zara. Entah mengapa perasaan ini tulus menyayanginya.


"Ah.. iya, Mas! Kenapa?" Aline terlihat bingung.


"Kita sudah sampai, Sayang! Ayo kita turun!" ajak Galen.


Aline mengedarkan pandangannya. Lalu tersenyum dan mengangguk ke arah Galen.


Baru beberapa langkah berjalan suara mobil berhenti terdengar oleh mereka. Keduanya menoleh kebelakang.


Sosok pria tinggi tampan dengan pakaian santainya keluar dari mobil mewahnya. Pria itu terlihat kembali membuka pintu depan sebelah kemudi, mengambil sesuatu disana.


Satu buket bunga kini berada di tangan Bara. Pria itu menebarkan senyumannya.


"Itu Bara 'kan?" bisik Aline sempat tidak mengenali sosok pria yang berjalan ke arahnya itu.


Galen mengangguk pelan.


"Hai... Apa kabar, calon Ayah?" sapa Bara sambil mengulurkan tangannya ke arah Galen dengan senyum smirk nya.


"Baik.. bahkan sangat baik!" balas Galen menyambut ukuran tangan Bara. "Saya kira dirimu tidak ingat jalan ke rumah ini," sindir Galen.

__ADS_1


Bara hanya membalas dengan sedikit senyum. "Saya mendapat undangan khusus dari Oma malam ini, ternyata ucapan syukur untuk cucu menantu yang sedang hamil." Bara menatap Aline.


Pria yang makin terlihat makin tampan dengan jambang di rahangnya membuat Aline terkesima saat ditatapnya. Entah mengapa Aline tiba-tiba kagum dengan Bara.


"Selamat malam... Nonya Alex! Sudah lama kita tidak bertemu," sapa Bara sedikit membungkuk di hadapan Aline


Aline balas dengan senyuman. "Malam... Mas Bara!" jawab Aline gugup.


Sebenarnya Aline bingung harus menyebut Bara dengan sebutan apa, dulu sebelum Aline menikah dengan Galen mereka saling menyebut aku, kamu. Tapi kali ini berbeda, Bara adalah Kakak tiri dari Galen. Dia harus menghormati Bara sebagai pria yang lebih tua dari suaminya.


"Kehamilanmu semakin membuat aura cantik mu semakin terpancar. Dan ini bunga indah untuk calon ibu yang cantik," puji Bara membuat Aline tersipu malu seraya menyodorkan sebuket bunga kepada Aline.


"Terima kasih, Mas!" Aline menerima bunga tersebut.


Bara sedikit melirik ke arah Galen, sengaja memanas-manasi suami dari wanita yang ada di hadapannya itu.


Bara lalu mengulurkan tangannya mengajak Aline agar masuk ke dalam kediaman Wijaya bersamanya.


"Masukah Nyonya Alex berjalan bersamaku saat ini?" ucap Bara masih menunggu jawaban dari Aline.


Akibe terkejut, ia memegangi dada sambil melirik ke arah Galen. Seakan meminta persetujuan dari Galen, Aline takut Galen akan emosi dan marah. Tapi melihat raut wajah datar dari suaminya, Aline tahu kalau Galen mengijinkannya.


Seulas senyum Aline berikan kepada Galen terlebih dulu. Lalu beralih menatap Bara yang masih setia dengan tangan yang terulur kepadanya. Aline menyambut ukuran tangan itu. Sehingga saat ini, Aline berjalan berpegangan tangan dengan Bara, menaiki satu persatu anak tangga menuju pintu masuk dengan pelan dan sangat hati-hati.


Galen menghela napas panjang, meski tidak rela Bara bersentuhan dengan istrinya tapi Galen meyakini kakak tirinya itu hanya mengerjainya. Sehingga Galen mau tak mau mengikuti langkah mereka di belakang.


"Harus ada lift agar memudahkan ibu hamil yang cantik ini, saat masuk ke dalam rumah. Akan repot jika beberapa bulan kedepan ia kesulitan menaiki anak tangga," ucap Bara dengan nada sedikit tinggi agar Galen yang berada di belakangnya mendengar ucapannya.


Terlintas sebersit ide mengenai hal itu, Galen juga berpikir semakin besar kandungan Aline tidak mungkin istrinya harus menaiki anak tangga ini satu masuk pintu utama kediaman Wijaya. Dalam hati Galen menyalahkan Papanya atas pembangunan rumahnya ini.


"Benar juga, kenapa Papa membuat tangga menuju pintu utama. Tidak berpikir panjang!" gerutunya tidak sadar langkahnya sudah tertinggal jauh dari Bara dan Aline.


.


.


.


Baca terus kelanjutan ceritanya ya...


Bagaimana kalau Galen tahu kalau Bara pernah menyimpan perasaan kepada Aline istrinya, Apakah ia akan sesantai itu?


Mampir yuk ke karya temanku.


karya dari Author Shan_Neen

__ADS_1



.


__ADS_2