
Aline masih menjalani kesehariannya sebagai model. Ayah Zaki melarang Risa- Manager dari putrinya itu menerima tawaran pekerjaan yang lain. Cukup kontrak kerja yang sedang berjalan saat ini yang harus ia selesaikan. Beliau akan membawa Aline ke daerah asalnya di Cianjur, setelah semua pekerjaan nya selesai.
"Kenapa tidak diterima tawaran main film, Lin? sayang loh! bukannya kamu lebih senang bermain film dari pada sinetron kejar tayang?" tanya Pretty salah satu pemain film yang akan bermain dalam film layar lebar yang masih dalam proses syuting itu.
"Aku mau vakum dulu di dunia hiburan, Ty!" ucap Aline seraya merapikan barang-barang miliknya. Gadis itu berusaha ceria dan bersikap profesional menjalani sisa pekerjaan yang belum usai.
"Sayang banget sih, nama lu tuh lagi tenar- tenarnya loh. Apa tidak sayang tuh?" sahut Pretty. Teman satu rumah produksi dengan Aline. Dia menyayangkan karier Aline yang sedang naik itu harus berakhir.
Aline hanya tersenyum menanggapinya.
Jika dihitungkan memang sangat disayangkan jika Aline menolak tawaran main film itu, tapi sudah cukup baginya.
Aline juga merasa dunia keartisan bukanlah dirinya. Semua itu hanya berdasar atas dendamnya dulu kepada Derald sehingga membuat Aline terjun di dunia entertainment. Tidak dipungkiri semenjak Ia terkenal di media sosial perubahan sangat dirasakan untuk dirinya dan keluarga.
Aline telah mengambil keputusan sejak awal, setelah bisa mengalahkan Derald dan Chyntia, dia ingin kembali pada kehidupan sebelumnya.
Dua orang yang diperintahkan Ayah Zaki menjemput Aline sudah tiba di lokasi pemotretan. Risa yang melihatnya membisikkan kepada Aline agar bersiap untuk pulang.
"Mereka sudah datang, Mbak!" bisiknya kepada Aline. Lalu menunjuk ke arah dua orang yang baru saja datang dengan tatapannya.
Aline mengarahkan pandangannya kepada dua orang yang berdiri jauh dari ruangan ganti tempatnya saat ini berada.
Aline memang menerima pengawalan dari Ayah Zaki. Tapi gadis itu meminta agar kedua orang suruhan Ayahnya itu menjaga jarak dengannya.
...๐๐๐...
Aline dan Risa berada dalam mobil yang membawanya pulang ke rumah. Ayah Zaki tak membiarkan barang sebentarpun untuk Aline pergi tanpa ijinnya. Sepanjang perjalanan Aline hanya menatap kosong keluar jendela. pikirannya menerawang jauh memikirkan Galen.
"Gal ..., gimana kondisi kamu? kenapa harus kita yang menerima keegoisan dari orang tua kita!" batin Aline seraya memejamkan mata.
Bayangan kenangannya bersama Galen muncul begitu saja. Wajah tengil pria yang ia cintai itu tertawa renyah saat dirinya dikerjai oleh Galen.
Aline menarik sudut bibirnya sambil memejamkan mata. Membiarkan bayangan itu terus hadir dalam lamunannya. Seakan kehadiran Galen nyata saat ini.
Risa terus memperhatikan tingkah Aline merasa kasian tapi tak bisa membantu banyak. Perintah dari Ayah Zaki tak bisa di bantah. Aline tidak mau membuat ayahnya kecewa untuk kedua kalinya.
Sampai notifikasi pesan dari ponsel Risa terdengar dan mengalihkan perhatian gadis itu.
Ting
__ADS_1
Rosa membuka notifikasi pesan di ponselnya.
"Mas Aldo," gumam Risa pelan tapi tak membuat wanita di sampingnya terusik.
[Siang, Sa. Apa kabar? kamu bersama Nona Aline 'kah?] Aldo.
[Siang juga, Mas. Kabarku baik! Mbak Risa ada bersamaku! kenapa?] Risa.
[Saya hanya mau memberi kabar Tuan Muda Alex akan di terbangkan ke Singapura untuk melakukannya operasi. Harus ada tindakan medis lanjutan] Aldo.
[Terima kasih atas informasinya ya, Mas. Aku akan kasih tau Mba Aline nanti! tolong beri kabar lagi kalau ada apa-apa!] Risa.
[Siap, Sa! kalau ada waktu tolong Nona Aline hubungi nomer ini, Saya ingin membuat Tuan Muda Alex semangat untuk pengobatannya] Aldo.
Risa menutup chatnya dengan Aldo. Perjalanan menuju ke rumah sebentar lagi sampai. Ia membisikkan informasi yang diberikan Aldo tadi kepada Aline sehingga membuat gadis yang lama terdiam itu membulatkan matanya.
"Yang benar, Sa?" tanya Aline pelan.
Risa mengangguk mengiyakannya.
"Kita hubungi nanti kalau sudah sampai rumah, Mbak! tenang saja masih ada waktu."
Sesampainya di rumah, Aline langsung masuk ke kamarnya bersiap untuk menghubungi Galen.
Orang suruhan yang di perintahkan menjemput dan mengantarkan Aline memberi kabar kepada Ayah Zaki bahwa putrinya sudah sampai rumah dengan selamat melalui sambungan telpon.
"Terima kasih, kalian sudah bekerja dengan baik! tidak perlu di awasi lagi karena sudah ada pak Joko dan Bi kesih di rumah!" Ayah Zaki lekas menutup sambungan telponnya.
"Apa tidak keterlaluan kita membatasi kegiatan Aline, Yah?" tanya Bu Winda saat ia mendengar pembicaraan suaminya dengan orang suruhannya.
"Sebenarnya Ayah juga tidak tega, Bu! tapi Ayah takut ada yang akan mencelakai Aline kembali. Untung saja anak itu tidak memberontak sama kita," jawab Ayah Zaki seraya mendaratkan bokongnya di sofa.
Ayah Zaki dan Bu Winda berada di ruangan istirahat yang berada di kedai. Sarubruangan khusus untuk Ayah Zaki saat berada di sana.
Di Rumah Aline.
Aline melempar asal tas selempang nya di atas tempat tidur. Ia segera menghubungi Aldo menggunakan ponsel milik Risa. Tak sabar rasanya ingin melihat keadaan Galen. meski hanya melalui video call. Terlebih Aline mendengar kabar pria yang ia cintai itu akan pergi jauh ke luar negeri.
"Sa, cepetan mana ponselnya?" Aline mendekati Risa yang baru saja sampai di kamarnya.
__ADS_1
"Sebentar, Mbak! Aku simpan perlengkapan Mbak Aline dulu!" Risa malah melangkah menjauh dari Aline, membuat gadis yang sudah tak sabar ingin menghubungi Galen itu terlihat memenyunkan bibirnya.
Risa terkekeh melihatnya. "Cie yang udah enggak sabar!" ledek Risa seraya merogoh isi tasnya lalu mendapati ponselnya. Nih!" Risa memberikan benda pipih itu ke hadapan Aline.
"Biarin, Aku do'ain biar kamu merasakan apa yang Mbak rasakan saat ini." Aline menerima ponsel tersebut seraya menyumpahi Risa karena ia merasakan kesal dengan asisten sekaligus menegernya itu.
"Amit-amit deh, jangan dong, Mbak! kisah percintaan Mbak itu rumit. Aku mau yang netral aja lurus kaya jalan tol." Risa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur empuk milik Aline.
Kebersamaan membuat kedua orang yang berada dalam satu kamar itu sudah seperti kakak beradik. Risa yang masih muda tapi mempunyai pengalaman menjadi manager artis itu membuat Aline yang percaya kepadanya.
Tut... tut...
Aline terus mencoba menghubungi Aldo. Sambungan telpon masih belum direspon.
"Ck, ko gak di angkat sih? kemana dia?" gerutu Aline tak sabar. Aline menoleh ke arah Risa, gadis yang berbaring di atas tempat tidur itu malah memejamkan matanya.
Aline yang tadinya ingin membangunkan Risa, merasa tak enak hati. Ia merasa kasihan dengannya. Beberapa hari ini Risa harus melakukan pembatalan kontrak yang belum berjalan dan memberitahu kepada beberapa label iklan yang memakai jasa Aline agar tidak memperpanjang kontrak otomatis nya.
Aline kembali fokus ke ponsel yang ia genggam. Berharap sambungan telpon kali ini berhasil terhubung. Ia mencoba kembali menghubungi Aldo.
Tut...
"Halo," Sapa seseorang dari sebrang telpon. Suara itu membuat Aline menarik kedua sudut bibirnya.
.
.
.
bersambung
Mohon maaf beberapa hari tak bisa up. kemarin kondisi tubuh tak memungkinkan untuk ngetik dan berpikir.
Maaf juga jika up kali ini kurang greget...
Semoga kalian suka. Doakan Aurhor segera pulih..
.
__ADS_1
.
.