Fake Love

Fake Love
Kehangatan Dan Kebersamaan Keluarga


__ADS_3

Sandra merasa senang sekali saat tiba di warung soto milik Ayah Zaki masih tersedia menu makanan yang ia idamkan.


Soto daging dengan kuah bening. Makanan yang tadi ia bayangkan.


“Kebetulan sekali soto beningnya masih ada, ini juga tinggal empat porsi lagi! Biasanya jam segini sudah habis,” ucap Bu Winda yang mengantarkan soto kepada Sandra.


“Terima kasih, Bu! Maaf merepotkan.” Bara membantu Bu Winda menurunkan nasi dari nampan yang ia bawa.


Kebetulan juga Bu Winda masih berada di kedai soto itu, menunggu suaminya Ayah Zaki yang sedang pergi melihat tempat baru untuk pembukaan kedai sotonya yang ke-3.


Sandra hanya tersenyum ke arah Bu Winda sebab ia tidak terlalu dekat dengan beliau hanya sekedar kenal dan menyapa saja jika bertemu.


Bu Winda kembali ke dalam untuk mengambil sesuatu. Tak lama ia pun balik lagi dengan satu gelas jus berwarna hijau di tangannya.


“Minum ini, akan sangat bagus untuk ibu hamil.” Bu Winda menyodorkan satu gelas jus buah blueberry kepada Sandra.


Segar sekali di minum sehabis makan makanan yang berkuah dan pedas.


“Terima kasih, Bu! Maaf aku merepotkan,” ucap Sandra lalu melanjutkan menyantap sotonya tanpa nasi.


“Sama-sama, Nak! Lanjutkan makannya.” Bu Winda membalas dengan senyum.


“Kamu tidak makan?” tanyanya kepada Bara.


Bara menggelengkan kepalanya kemudian menyeruput kopi yang ia minta pada pelayan sebelumnya.


“Aku sudah makan di rumah tadi! Istriku tiba-tiba saja ingin ke sini. Ternyata perkiraan ibu hamil tidak meleset, soto daging kuah bening masih ada. Aku kira sudah habis!" ucap Bara menatap Sandra yang sedang menikmati makanannya.


“Firasat ibu hamil biasanya benar. Bahkan dia bisa mengendus aroma perselingkuhan meskipun tertutup rapat oleh sang suami.”


Deg.


Sandra langsung menghentikan suapannya kemudian melirik kepada Bara.


Bara merasa terintimidasi oleh tatapan istrinya. Kemudian menggelengkan kepalanya. Bu Winda terkekeh melihat ketakutan Bara.


Dengan santai Sandra kembali fokus dengan makanannya. Wanita itu tidak merasa ada yang keganjalan dalam diri suaminya.


Bara merasa lega, ia takut Sandra curiga yang tidak benar kepadanya. Sebab melakukan perselingkuhan tidak pernah terbayang olehnya. Mendapat kekasih waktu masih bujang saja susah apalagi sekarang, pikirnya.


“Istrimu merasa tenang berarti kamu tidak bermain api di belakang dia!” Bu Winda menenangkan Bara.


“Memang aku tidak pernah melakukan itu, Bu! Sama sekali tidak berpikir untuk berpaling darinya.” Bara melirik Sandra. Istrinya itu menghentikan makannya lalu menyedot jus blueberry yang dibuatkan Bu Winda kepadanya.


“Loh, kenapa gak di habiskan,” ucap Bara ketika melihat masih ada sisa makanan di mangkuk soto milik Sandra.


“Kenyang, Mas!” balas Sandra yang kemudian menyedot jus buatan Bu Winda. “Emm... Seger banget Bu, jusnya, Terima kasih, ya Bu!” ucapnya pada Bu Winda.


“Sama-sama, Nak! Ibu mau minta tolong juga sama kalian," balas Bu Winda.


“Apa, Bu?” Bara yang menyahuti.


“Titip jus juga buat Aline. Dia saat suka sekali dengan jus ini! Boleh?”


“Boleh, Bu! Habis dari sini kami akan ke sana.”


“Ya, sudah! Ibu ke belakang dulu, nyiapin jusnya, ya.” Bu Winda pamit dan undur diri untuk membuat jus yang akan ia titipkan pada Bara.


Sandra dan Bara mengangguk bersamaan.


Sandra menatap kepergian Bu Winda dengan perasaan haru.

__ADS_1


“Andai Ibuku masih ada, Mas! Aku ingin diperhatikan seperti itu!” Sandra berucap sedih.


Kehamilannya ini membuat sikapnya sering berubah-ubah. Seperti malam ini, baru saja ia senang karena keinginannya terpenuhi. Ibu hamil itu kembali bersedih. Beruntung Bara peka terhadap perubahan sikapnya.


Lekas Bara berjongkok di hadapan Sandra.


“Mas yang akan menggantikan perhatian ibumu. Sepenuhnya, Mas tidak akan membiarkan istri Mas merasa sedih dan kesepian. Kasian anak kita ini, jadi berbahagialah. Mas akan selalu ada buat kamu,” ucap Bara kemudian mengelus pelan perut buncit itu dan menciumnya. “Papa akan selalu ada buat kamu dan mama-mu, Sayang!” ucapnya lembut membuat Sandra yang menatapnya mulai berkaca-kaca hendak menangis.


Sandra merasa Bara benar-benar memenuhi ucapannya. Perhatian dan kasih sayangnya selalu membuat Sandra tenang.


Bara berdiri lekas Sandra memeluk pinggang suaminya tanpa ikut berdiri dari duduknya.


“Terima kasih, Mas! Sudah hadir dalam hidupku. Aku benar-benar bersyukur bisa mendapatkanmu.”


“Sama-sama, Sayang! Jangan terlalu banyak bersedih. Ingat salurkan energi positif dengan kebahagiaan agar bayi kita ikut merasakannya.”


Sandra mengangguk pelan. “Iya, Mas!”


Ciuman lembut dan menenangkan kembali Bara berikan di pucuk kepala Sandra.


Kedua pasangan yang sama-sama mengalami berbagai kejadian tak terduga dalam hidup mereka belajar dari pengalaman masing-masing. Berusaha menjadikan keluarga yang sedang mereka bangun menjadi keluarga yang utuh dan saling menguatkan satu sama lain.


Bu Winda tersenyum melihat pemandangan indah di hadapannya. Ia lekas mendekati keduanya lalu memberikan jus yang sudah ia buat.


Sandra juga mendapatkan jus yang sama seperti Aline. Keduanya mendapat 3 jus yang sama.


“Ini buat Aline tiga dan buat kamu tiga masing-masing 3 rasa yang sama ya!” ucap Bu Winda yang menyerahkan titipannya kepada Bara.


“Loh aku dapat lagi?” sahut Sandra.


“Agar bayi yang ada dalam kandunganmu ini sehat juga, juga gak ileran. Nanti sedih, gak dibuatkan sama Ibu. Sehat-sehat, dede utun!” Bu Winda mengelus pelan perut Sandra.


Wajah ibu hamil itu begitu semringah. Senyuman kebahagiaan langsung terpancar di wajah cantiknya.


Ia menatap Bara dengan suka cita, Bara mengedipkan mata sebagai balasannya.


****


Empat kantong soto dengan enam jus yang di bawa Bara menjadi pusat perhatian penghuni yang ada di kediaman Tuan Wijaya.


Kebetulan sekali mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.


Sandra menyapa semuanya. Setelah itu ia langsung ikut duduk di sofa. Ibu hamil itu merasa cepat lelah. Semenjak perubahan terjadi pada tubuhnya. Padahal usia kandungannya baru menginjak enam bulan.


“Bagaimana keadaan cucu, Oma?” tanya Oma Ratih yang duduk di sisi Sandra sambil mengelus pelan perutnya.


“Alhamdulillah, Sehat, Oma!”


“Banyak makan dia sekarang!” Bara ikut menimpali.


“Bagus dong! Lebih pilih mana Sandra yang doyan makan dengan yang susah makan saat kehamilan pertamanya?” tanya Aline yang mengajari baby Zayn berjalan.


Bayi itu serasa tumbuh begitu cepat, saat ini baby Zayn sedang belajar berjalan. Begitu lucu dan menggemaskan melihat tingkahnya saat ini. Bara pun mendekatinya untuk mengajaknya bermain.


Di sofa lain, Kartika hanya tersenyum melihat tingkah baby Zayn yang sangat lucu. Perlahan kondisinya berangsur membaik setelah trauma yang begitu dalam ia rasakan.


Aline tidak pernah meninggalkan gadis itu sendirian. Gadis itu butuh teman agar tidak banyak melamun, Oma Ratih pun sama meskipun kondisinya sedikit kesulitan saat berjalan dan harus memakai tongkat. Tapi Oma bersemangat dan selalu menyemangati Kartika.


Kebersamaan dan kehangatan keluarga mampu membuat Kartika pulih. Terlebih perhatian Tuan Wijaya yang tak pernah terlewati untuk Kartika. Gadis itu merasa seperti anak kecil kembali diperlakukan semanja itu oleh Tuan Wijaya. Tapi itu membuat Kartika merasa terlindungi dan dicintai.


“Wah, ada soto. Kebetulan sekali nih, perutku lapar!” uang Galen yang baru saja turun dari kamarnya. Belum lama ia baru pulang dari kantor dan tidak sempat ikut makan malam. “Bik... Bik Ira!” Panggil Galen.

__ADS_1


Jika Aline sering memanggil sopan dengan panggilan Mbak Ira, berbeda dengan Galen. Ia terbiasa dengan sebutan Bibi tapi tak masalah bagi wanita yang bekerja di kediaman Wijaya itu. Baginya mau di panggil Mbak atau pun Bibi, yang penting ia di gaji bekerja di sana.


Bik Ira berlari kecil dari arah dapur.


“Iya, Tuan. Ada apa?” jawab Mbak Ira sopan.


“Tolong ambilkan mangkuk dan sendok!” titahnya.


Aline langsung menatap suaminya.


“Mas mau makan di sini?” tanya Aline.


Galen mengangguk pelan.


“Tidak boleh, di sini lagi kumpul,” cegah Aline. “Lebih baik makan di meja makan, ada Zayn di sini! Nanti malah direcokin sama dia! Biar aku yang siapkan," ujarnya. "Mas Bara, boleh titip Zayn sebentar. Aku mau siapkan makan buat suamiku dulu!”


pinta Aline pada Bara.


Bara mengangguk. “Silakan,” jawab Bara kemudian mengangkat Zayn untuk mendekati Kartika.


Gadis itu tersenyum saat Zayn menepuk-nepuk wajahnya. Kekompakan dan kebersamaan yang mereka lakukan untuk menyembuhkan mental Kartika perlahan berhasil. Gadis itu tidak diam seribu bahasa lagi. Perlahan mau berbicara meski hanya beberapa kata.


Sandra dan Oma Ratih saling pandang kemudian tersenyum, mereka merasa lega dengan pulihnya Sandra dari rasa traumanya.


Menuju dapur, Galen hanya bisa mengikuti perintah nyonya besar. Ia begitu penurut kepada Aline. Dengan cekatan Aline 'lah yang mempersiapkan makan dan menuangkan soto untuk Galen. Mbak Ira yang tadinya ingin membantu Aline di suruh kembali beristirahat oleh nyonya besar itu.


Selagi Aline menyiapkan makan malam untuk Galen seperti biasa pria itu sering jahil kepadanya.


Dipeluknya Aline dari belakang, diciumnya tengkuk leher Aline yang tak tertutup rambut, sebab Aline menggulung rambutnya sehingga leher jenjang dan putih itu terekspos membuat Galen ingin sekali meninggalkan jejak kepemilikannya di sana.


“Mas... Diem deh, makan dulu!” gerutunya Aline yang merasa risih sebab tangan suaminya ikut menjalar ke mana-mana.


“Makan kamu, boleh?”


Aline menoleh dan memberikan pelototan tajam, membuat Galen menyengir kuda.


“Ok... Ok... Makan dulu, ikut kumpul bareng, abis itu... Makan kamu, di kamar nanti, Ya? bisik Galen kemudian mendaratkan ciuman gemasnya di pipi Aline.


“Muaacchhh!” Sampai terdengar decakan bibir Galen ke pipi Aline.


Aline hanya bisa menggelengkan kepala dengan kelakuan suaminya itu.


.


.


.


Bersambung.


Mohon dukungannya untuk karya baruku readers. Masih sangat sepi di sana. Bantu like dan favorit di sana.


Karya terbaruku judulnya "PEMILIK KEHORMATANKU"


Aku tunggu kehadiran kalian di sana ya.


Tinggalkan jejak agar aku bisa sapa se.. Hai kalian di sana.


😘😘😋 Tengku Forever buat kalian semua.


__ADS_1


...


Bye... bye.... 😘


__ADS_2