
Derald meletakkan Zara di bangku samping kemudinya. Beruntung ketika memasukan barang-barang tadi ke mobil, Derald sudah memasang tempat tidur khusus bayi untuk di dalam mobil. sehingga Zara aman meskipun tidak ada yang memeganginya.
Zara terlihat tenang dalam tempat tidur itu.
Setalah dirasa aman, Derald segera memasuki mobilnya. Ia ingin segera pergi dari sana.
Bingung, itu yang Derald rasakan saat ini. Pikirannya buntu, sekarang ini Derald hanya mempunyai pegangan uang sedikit. Apakah ia mampu membiayai Zara ditambah lagi Derald dan putrinya akan tinggal dengan Bu Leli serta Siska, Otomatis biaya kebutuhan mereka ikut bergantung kepada Derald.
Aku harus memulainya dari mana.
Semua tabunganku habis.
Harusnya aku abaikan saja ucapan Papa Baskoro. Aku 'kan terbiasa dapat hinaan dari dia. Ah... Tidak... tidak, jangan dibiasakan seperti pengemis, mulai saat ini hiduplah dari hasil kerja kerasmu, Derald. Buktikan kepada putri kecilmu, kalau kamu pantas disebut sebagai Ayah. Yang suatu saat nanti dibanggakan olehnya.
Derald menyemangati dirinya sendiri.
"Kita pasti bisa, Sayang," ucap Derald seraya memandang Zara yang tertidur lelap. Dan saat bersamaan gadis kecil itu tersenyum kepadanya dengan mata yang masih tertutup.
"Kamu dengar apa yang Ayah ucapkan, Nak!" Derald mengelus pelan pipi cubby Zara. "Semoga kebahagiaan akan selalu mendampingi kehidupanmu, Ayah akan memperbaiki semuanya demi kamu. Putri cantik Ayah, Zahera Zara." lirih Derald seraya mengecup pelan kening Zara.
Bayi mungil itu hanya terusik sesaat selebihnya ia kembali tertidur. Karena siang ini memang sudah waktunya untuk dia tidur.
Mobil Derald lekas melaju meninggalkan kediaman Tuan Baskoro. Tapi mobil itu sempat berhenti di depan gerbang yang masih tertutup rapat.
Tin... tin..
Derald menekan klakson mobilnya. Tapi security yang berjaga sepertinya sedang tidak ada di tempat.
Dengan terpaksa Derald keluar mobil untuk membuka pintu gerbang sendiri, ia tidak mau menunggu terlalu lama. Rasanya ia sudah lelah, hanya tinggal sebentar lagi ia terbebas dari kediaman Baskoro. Keluar dari kediaman itu selasa bebas dari sangkar.
Saat Derlad memasuki mobil lagi, Jasmin sudah berada di bangku belakang.
"Kamu... " Derald terkejut dengan keberadaan Jasmin.
"Huss.... Jangan berisik, Mas. Nanti Zara bangun.
__ADS_1
" Tolonglah, Jasmin. Jangan membuat aku semakin di benci Papa Baskoro. Sebaiknya kamu turun dari mobil saya," titah Derald tapi sama sekali tidak didengar Jasmin.
"Anggap saja aku membengkak sampai lampu merah, Mas! toh aku sekalian mau pulang," ucap Jasmin sambil memainkan jemari Zara yang mengepal.
"Kamu tidur pulas banget sih!" Jasmin beralih memainkan pipi cubby Zara.
"Jangan begitu, nanti dia bangun. Aku akan susah mengemudi, nantinya!" tegur Derald.
"Makanya, aku cuma nebeng doang kok sampai lampu merah." Jasmin tawar menawar dengan Derlad. Gadis itu duduk manis di bangku belakang. Tangannya tak lepas memainkan jemari mungil keponakannya.
Entah kenapa Jasmin merasa sedih saat melihat Derlad dan Zara pergi dari rumahnya. Keberadaan mereka berdua sudah jadi hal biasa untuknya. Sewaktu libur kuliah, Jasmin akan menghabiskan waktu bersama Zara, kadang kali Derlad pun ada di sana.
Bu Mirna hanya bisa melakukan video call saat ia menanyakan Zara. Entah kapan Bu Mirna akan kembali ke tanah air, menurut kabar yang ia dengar. Bu Mirna akan berada di negeri singa putih itu sekitar satu bulanan lagi. Banyak terapi yang harus ia jalankan di sana.
Derald akhirnya pasrah, ia mengijinkan Jasmin untuk ikut bersama dengannya. Security yang berjaga telah kembali langsung mendekati mobil itu lalu meminta kepada keduanya. Mobil Derald pun akhirnya meluncur meninggalkan kediaman Tuan Baskoro.
Baru setengah jam berkendara. Zara, si bayi montok itu membuka mata. Seakan sedang mencari sesuatu.
"Mas, Zara bangun!" Jasmin memberitahu. Derald tengah sibuk mengemudikan mobilnya.
"Dia pasti haus." Derald meraih satu botol susu formula yang sudah ia siapkan sebelumnya. "Aku minta tolong, bisa gak gendong Zara dulu, bisa tersedak kamu tidak dipegangi!" pinta Derald.
Srot... srot...
Suara Zara sedang menyedot susu di botol sampai terdengar cepat. Bayi montok itu dengan cepat menghabiskan susu formula yang isinya tinggal separuh itu.
"Wah... Haus ya, Sayang!" tanya Jasmin saat melihat kuatnya Zara saat menyedot susu sama botolnya. "Mas, mana cadangan susunya kayaknya Zara masih haus deh." ujar Jasmin.
"Kayaknya di belakang! Tolong, coba dilihat!Aku sudah siapkan semua di tas hitam---"
Derald tidak meneruskan ucapannya. karena ia teringat dengan tas terakhir yang ia bawa saat keluar bersama Jasmin dari kamar.
Derald meninggalkannya di dalam rumah. Saat ia menyerahkan buku tabungan dan kartu ATM miliknya kepada Tuan Baskoro.
"Ya ampun... Susu formula serta airnya ketinggalan di rumah, Jasmin! Derald sedikit panik, sedangkan Zara sudah mulai meronta meminta tambahan susu botol.
__ADS_1
Bayi montok itu semakin kesal saat botol susu yang ia sedot tidak mengeluarkan cairannya.
Plupp...
Zara melepaskan benda yang ujungnya terbuat dari karet itu. Merasa kesal karena cairan putih itu tak kunjung keluar dari ujung botol itu.
"Owek.... owekkk... Owek.
Zara menangis keras. Membuat Derlad dan Jasmin panik di dalam mobil.
"Kok bisa tertinggal sih, Mas. Terus ini, Zara gimana? kasihan dia kalau nangis terus." Jasmin mencoba menenangkan Zara.
Gadis itu sedikit mengoyangkan tubuhnya tanpa berdiri. Tapi percuma Zara semakin menangia kencang.
Derald menghentikan mobilnya tepat di depan cafe, tepat di samping cafe tersebut ada supermarket. Derlad pikir Jasmin bisa menunggu di cafe sebentar sedangkan Derald membeli susu formula.
"Kita berhenti sebentar ya? Apa kamu tidak keberatan, Jasmin? Aku mau beli susu formula dulu, di sana!" tanya Derald ia melihat Jasmin dari kaca spion tengah di dalam mobilnya. Sambil menunjuk supermaket si pinggir jalan.
"Iya Mas, berhenti saja. Kasian Zara kehausan." balas Jasmin sambil terus menenangkan Zara.
Mobil yang si kendarai Derald dan Jasmin akhirnya berhenti di pinggir jalan.
Derald mengajak Jasmin menunggu di dalam cafe karena hari ini matahari begitu terik.
"Kamu tunggu sebentar, ya. Maaf merepotkan mu, Jas!"
"Santai saja, Mas. Aku tidak merasa si repotkan sama sekali." Jasmin tidak mau duduk di tempat yang sudah di sediakan Ia berdiri sambil menggendong Zara yang mulai tenang karena Jasmin terus mengajaknya berbicara dengan menunjukan beberapa benda di cafe tersebut agar Zara teralihkan.
"Wah... pantas saja dede bayinya cantik begini, orang Papa dan mamanya, cantik dan ganteng ya, Dek!" puji seorang waiters datang sambil membawakan minuman untuk Jasmin. Derald yang memesankan minuman itu.
Jasmin membulatkan mata saat mendengar ucapan waiters tersebut. Ia dikira pasangan suami istri dengan Derald.
.
.
__ADS_1
.
Baca kelanjutan ceritanya ya.