Fake Love

Fake Love
Gagal Lagi


__ADS_3

Aline dan Galen tertawa bersama karena kejadian yang terjadi barusan, itu pun usai Pak Polisi meninggalkan mereka berdua. Kini surat tilang Galen berada di tangan Aline. Surat kendaraan pun di tahan kepolisian.


Aline masih terkekeh membaca surat tilang atas nama G.Alexander yang melanggar aturan lalu lintas berhenti di jalur yang tidak seharusnya berhenti.


"Mas, sih, gak lihat tempat. Main sosor aja!" ucap Aline masih dengan kekehan kecilnya.


Galen meraih tangan Aline lalu mengecupnya pelan. "Kalau sudah berurusan sama kamu kayaknya di mana saja, jadi, Yang."


"Dan di sini." Galen mencium pipi dan bibir Aline singkat. "Dan Vivi jadi favorit ku sekarang ini," ungkap Galen berhasil membuat rona merah di pipi Aline menguar.


"Mas.... ih, mesum deh!"


"Kita lanjut di rumah, ya?" celetuk Galen dan mendapat senyuman malu-malu dari Aline ingin membalas mau tapi ia malu.


Mobil pun melesat cepat meninggalkan tempat yang menjadi saksi tilangnya Galen. Andai Pak Polisi tahu, kenapa Galen berhenti di tempat itu. Pasti akan ada sanksi berlapis untuk Tuan Muda.


.


.


Aline dan Galen sampai di kediaman Wijaya. Wanita itu masuk lebih dulu, meninggalkan Galen yang memasukan mobilnya ke garasi. Karena ada beberapa mobil mewah yang ada di garasi tersebut. Galen harus lebih berhati-hati.


Satu garasi terdapat hampir lima mobil, belum lagi ada beberapa motor gede koleksi Tuan Wijaya, dan motor trail milik Galen. Satu motor sport kesayangan Galen pun terparkir di garasi itu. Bisa di bayangkan berapa luasnya garasi tersebut.


Aline lebih dulu masuk ke dalam rumah. Saat melewati ruang keluarga Aline menoleh, ia melihat Oma Ratih dan Kartika sedang berada di sana. "Loh, Oma belum tidur?" tanya Aline saat melihat wanita paruh baya masih duduk bersandar pada sofa di ruang keluarga. Lekas ia mendekati Oma Ratih, mencium kedua pipi wanita paruh baya itu.


Oma sedang menikmati tontonan drama ikan terbang di televisi. Sedangkan Kartika hanya menemani saja tidak tertarik untuk ikut menonton drama yang lebay, menurutnya Gadis itu tengah tengkurap sambil asik di depan laptopnya.


"Oma tidak bisa tidur. Kemarilah, temani Oma nonton sinetron. Gak rame, dari tadi Kartika asik sendiri sama laptopnya," keluh Oma Ratih seraya menengok ke arah Kartika.


"Aku sedang menyelesaikan beberapa proposal untuk persiapan kuliah, Oma! Biar tidak terlalu menumpuk saat waktunya tiba," sela Kartika. Lagian, Oma lihat sinetron malah jadi nangis, suka ke bawa ceritanya." ledek Kartika.


"Habisnya sedih, kasihan sekali. Ibu dan anak itu baru bisa bertemu sebentar, ibunya udah keburu meninggal," ungkap Oma dengan ekspresi sedihnya bahkan sampai meneteskan air mata.


Aline tersenyum kecil melihat Oma Ratih.


"Oma sangat menghayati sekali tontonannya, ya?" ujar Aline yang mendapat anggukan dari Oma Ratih.

__ADS_1


"Oma ...lebay," celetuk Kartika. Gadis itu kembali fokus dengan tugasnya.


"Ya sudah, nanti Aline temani. Sekarang Aline mau ganti baju sama bersih-bersih sebentar ya!" ucap Aline.


"Ya, cepat, temani Oma di sini!"


Galen yang baru saja masuk ke ruang keluarga lekas mendekati Oma Ratih memberi kecupan sayang di kedua pipi wanita paruh baya itu.


"Aku langsung masuk, ya! Mau mandi dulu." Galen pamit kepada Oma Ratih. "Aku duluan, Sayang!" ucapnya pada Aline.


"Ya, Mas... nanti aku menyusul." balas Aline.


"Masih belum selesai proposal nya, Dek?" tanya Galen saat melewati Kartika, ia berhenti sejenak. Mengintip ke arah layar laptop. "Kamu ambil jurusan managemen bisnis?" tanyanya pada Kartika.


"Ya," jawab Kartika singkat.


"Sekolah yang benar." ucap Galen sambil mengacak rambut Kartika kemudian berlalu menuju kamarnya.


"Oma... Aline masuk kamar dulu, ya! nanti balik lagi ke sini," pamit Aline lalu mendapat anggukan pelan dari Oma Ratih.


.


.


"Mas, mau makan dulu, apa langsung tidur?" tanya Aline sambil membelakangi Galen. Wanita itu berdiri di saling tempat tidur.


Galen berjalan menghamipirinya. "Aku mau makan kamu!" bisik Galen yang menyelipkan kedua tangannya, memeluk Aline dari belakang.


"Mas... " Aline sedikit menghindar saat Galen memberi kecupan dan menggigit telinganya. Menimbulkan desiran yang bisa membuat Aline luluh karena sentuhannya.


"Bukankah kita mu melanjutkan yang tadi tertunda." Galen dengan cepat membalikkan tubuh Aline agar menghadapnya.


"Oma, nungguin aku, Mas!" Aline meletakkan kedua tangan di dada suaminya, menahan agar Galen tidak semakin menempel padanya.


Mereka saling pandang. "Ada banyak waktu untuk kita berdua! Oma butuh di temani jangan sampai ia merasa teracuhkan, Mas!" ucap Aline lembut, sambil tersenyum ke arah Galen.


"Memang istriku luar biasa sekali, perasaannya. Habis menemani Oma, cepat kembali. Aku juga tidak mau di acuhkan." ucap Galen manja sambil memeluk Aline.

__ADS_1


Aline melepas pelukan manja suaminya. "Manja banget sih!" ucap Aline menjawil hidung mancung suaminya.


"Huh... Gagal lagi," keluh Galen sambil membuang napas berat. Ia harus menahan diri, berencana meneruskan kegiatan yang sempat tertunda. Saat ini ia juga harus menahannya kembali.


"Aku mandi dulu, nanti aku siapkan makanan dan minuman hangat buat, Mas! Untuk kedepannya biarkan aku yang melayani semua kebutuhan Mas. Jangan Mbok Yem, nanti juga aku akan memberitahu dia agar tidak usah repot-repot mempersiapkan kebutuhan Mas, bolehkan?"


"Boleh sekali, itu kan memang sudah kewajibanmu sebagai istriku." Galen mencuri ciuman bibir dari Aline. Lalu berbisik, "main dulu yuk, sebentar sambil ku temani kamu mandi."


Alin memberikan pelotototan tajam kepada Galen. "Mas...," pekik Aline sambil menggelengkan kepalanya. Segera ia berjalan cepat menuju kamar mandi meninggalkan Galen yang lesu karena penolakan istrinya.


"Ok... Ok..., aku tunggu kamu dan Oma, selesai menonton saja. Lagian, nonton sinetron segala di temani. Oma... oma...!" Galen meraih pakaian yang Aline sediakan lekas ia memakainya.


Setelah rapi, Galen keluar kamar. Ia bermaksud ingin menemui Papa nya. "Biasanya jam segini dia di ruang kerja." gumam Galen. Segera ia melangkahkan kaki menuju ruang kerja Tuan Wijaya. sebelum sampai tempat tujuan Galen melihat Tuan Wijaya duduk sendiri di balkon. Tempat terbuka di lantai atas untuk bersantai.


Galen melihat Tuan Wijaya sedang menghisap sebatang roko yang ia pegang. membuang asap rokok sambil meresapinya.


Galen berjalan mendekati papanya. "Kenapa tidak mencari teman, setidaknya untuk berbagi keluh kesah dirimu," celetuk Galen tapi Tuan Wijaya sama sekali tidak menoleh kepada Galen.


Pria yang menolak tua itu hanya menarik satu sudut bibirnya, sambil menyingkirkan abu yang menempel pada batang rokok miliknya ke dalam asbak yang ada di sampingnya.


"Teman seperti apa maksudmu?" Tuan Wijaya baru menoleh ke arah Galen, lalu kembali menghisap benda kecil panjang yang masih menyala di tangannya.


Galen mengambil satu batang rokok yang di letakkan di atas meja oleh Tuan Wijaya.


Tuan Wijaya yang melihat putranya akan melakukan hal yang sama dengannya lekas menyalakan pematik api yang berada di tangannya, mengarahkannya kepada Galen yang siap menyalakan sebatang rokok di bibirnya.


"Teman yang bisa menggantikan posisi Mama!" ucap Galen kembali membuat Tuan Wijaya menoleh kepadanya.


.


.


.


.


Baca kelanjutan ceritanya ya. ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2