
Aline melepas pelukannya merasa tidak enak hati bertingkah manja di hadapan wanita itu. Lalu tersenyum kaku kepadanya.
"Tak apa Nona Aline, tidak perlu sungkan. Saya mengerti ko perasaan Anda!" ucap Wanita yang usianya tidak muda lagi itu kepada Aline.
"Kalian juga tidak perlu risau masalah hujan, Tuan, Nona! Kami bisa menambahkan pelindung hujan di atas tempat acara resepsi. Di bawah Pelindung hujan itu bergantung lampu kecil - kecil, jadi kalau acara kalian sampai malam hari, lampun itu akan menyala sehingga membuat suasananya menjadi romantis." Wanita itu menjelaskan secara rinci.
Aline semakin bersemangat memilih tema Rustic wedding sebagai tema pilihannya.
*
*
"Terima kasih sudah memilih EO kami sebagai penyelenggara di acara pernikahan Tuan Muda Alex dan Nona Aline."
"Sama-sama, Saya harap kerja kalian tidak akan mengecewakan kami," seru Galen dengan wajah seriusnya.
"Kami akan berusaha, Tuan! Tuan percayakan pada tim kami untuk itu. Saya yakin tidak akan mengecewakan Tuan muda," sanggah Wanita itu.
"Dan ini, ada beberapa jadwal untuk Nona Aline dan Tuan Muda." Wanita dari tim EO itu memberikan selembar kertas kepada Aline. "Di sana tertera jadwal pemotretan, pemilihan kartu undangan dan fitting baju pengantin. Semua sudah terjadwal di sini tinggal menyesuaikan dengan jadwal Tuan dan Nona,"
Aline membaca tulisan yang ada di selembar kertas itu lalu menatap Galen. "Apa kamu bisa mengikuti jadwal ini?" tanyanya lembut.
Aline berpikir calon suaminya itu tidak pasti akan sibuk karena ia sudah aktif bekerja setelah penyerahan jabatan dari Tuan Wijaya kepadanya.
"Untukmu aku akan meluangkan waktu sesibuk apapun aku nantinya, kita ikuti saja jadwal yang sudah di buat tim EO!" ucap Galen mengerti dengan pemikiran Aline saat menatapnya wajah cantik Aline.
Gadis itu tersenyum simpul kepada Galen lalu beralih kepada wanita yang telah setia memberi penjelasan dan waktunya untuk kedua calon pengantin ini.
"Kita ikuti sesuai jadwal aja, Mbak!"
"Baiklah, Nona. Kami akan menghubungi Anda sehari sebelum jadwal yang sudah di buat."
Aline mengangguk pelan lalu melipat kertas bertuliskan jadwal tersebut kedalam tas selempangnya.
"Kalau begitu saya ambilkan surat perjanjiannya dulu untuk acara ini," ucap Wanita tim EO itu lekas ia berdiri lalu meninggalkan Aline dan Galen hanya berdua di ruangan itu.
"Setelah ini kita kemana, Yank? masih jam lima sore, loh!" Galen melihat waktu di jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Aline nampak berpikir sesaat. Lesung pipi lekas timbul di pipi putihnya. Senyuman itu membuat Galen mengerutkan alis seraya menatap Aline.
"Malah senyum gitu sih, Yank? Aku serius nanya nih?"
"Ke kota tua yuk!" ajak Aline.
__ADS_1
"Ngapain?" Galen mengerutkan alisnya.
"Bukannya kamu ingin mengunjungi tempat yang pernah kita datangi? setelah dari sana, kita ketemuan sama Pras, Wendi sama temen kamu yang lain?" usul Aline membuat Galen menganggukan kepalanya.
"Benar juga, Ayo!" Galen lekas berdiri dari duduknya, saking semangatnya Galen melupakan kalau mereka belum menandatangani perjanjian kesepakatan dengan tim Event Organizing yang akan mereka sewa.
"Sabar! kita tunggu si Mbak yang tadi dulu," cegah Aline membuat Galen menepuk jidatnya sendiri.
"Oh, ya. lupa aku, Yank!" Galen duduk kembali menunggu pihak EO itu kembali, Lalu mendekatkan tubuhnga gar dekat dengan Aline. "Abisnya kalau ada hubungannya sama kamu, bikin aku penasaran, Yank? ko bisa, gadis berkacamata empat ini menguasai hatiku sampai saat ini pula? gimana ceritanya coba?" Aline melayangkan cubitan kecil pada perut Galen membuat pria yang hampir tak berjarak dengannya itu mengaduh.
Aline memberi jarak saat seseorang memasuki ruangan tersebut.
"Maafkan Saya, Nona, Tuan! sudah membuat kalian menunggu," ucap Wanita dari tim EO datang dengan membawa map berisi surat perjanjian kesepakatan.
"Tak apa, Mbak!" jawab Aline dengan gerakan agar sedikit menjauh dari Galen.
"Tolong dibaca dulu dan diteliti untuk tanggal acaranya apa sesuai atau tidak dengan tanggal yang sudah ditentukan kedua pihak keluarga calon pengantin." titah wanita itu.
Pihak EO benar benar bekerja dengan rapi dan teliti.
Aline membaca berkas itu lalu mendekat kepada Galen untuk sama sama menelitimya bersama.
Aline tidak mau jika hanya dia yang menentukan dalam segala sesuatunya. Gadis itu menginginkan pendapat dan usul Galen dalam hal ini, karena pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan mereka harapkan untuk satu kali seumur hidup.
Seperti yang sudah disepakati, menjelang pernikahan Aline akan mengadakan prosesi siraman adat Sunda dan pengajian di rumahnya. Prosesi ini bertujuan agar menyucikan calon mempelai wanita.
Sama dengan pihak mempelai wanita, di keluarga pihak mempelai pria pun melakukan hal yang sama dengan pengantin wanita.
Aline merasa kagum dengan rincian acara yang sudah di buat pihak EO, menurutnya semua sudah sangat jelas dan terperinci. Mereka sangat berpengalaman dalam hal mengurusi acara pernikahan.
Di sana juga tertulis adat dan pakaian yang akan di gunakan oleh pengantin pria dan wanita.
Aline melebarkan senyum saat melihat tulisan yang menyatakan bahwa mempelai wanita 'kan memakai pakaian adat Sunda modern.
"Akhirnya aku akan memakai Siger Sunda juga di pernikahan ku nanti!" ucap Aline pelan namun masih bisa di dengar Galen.
Dari dulu keinginan Ingin memakai Siger Sunda merupakan impiannya dari kecil. Gadis itu membayangkan memakainya saat acara pernikahannya nanti. Rasanya Aline makin tidak sabar untuk itu.
Pra yang tengah ikut meneliti surat perjanjian itu pun menoleh ke arah Aline. Senyuman kembali ia lihat di wajah Aline.
"Apapun yang kamu mau akan terlaksana, asalkan senyuman ini terus terpancar dari wajahmu, Yank," Galen menyentuh dagu Aline agar menatapnya.
Kedua manik mata itu bertemu. Pancaran kebahagiaan saling menyalur di sana.
__ADS_1
Aline memalingkan wajahnya dengan meletakkan surat perjanjian itu di atas meja, agar segera ia tanda tangani. Seraya menyembunyikan rona merah di pipi.
Keduanya kini telah selesai menanda tangani surat kesepakatan dengan tim EO, semua yang berhubungan dalam pernikahan Aline dan Galen pun sudah disesuaikan dengan keinginan kedua calon pengantin ini.
"Sekali lagi Saya ucapkan terima kasih, Mbak! Saya minta maaf jika terlalu banyak permintaan untuk acara nanti," ucap Aline seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Sama-sama sama, Nona. Tidak masalah bagi kami, kami mengerti kalian pasti menginginkan acara yang spasial dan berkesan untuk pernikahan ini," balas Wanita dari tim EO.
Galen pun ikut berjabat tangan dengannya.
"Terima kasih," ucapnya singkat.
"Sama-sama, Tuan!"
*
*
Usai menyelesaikan pertemuannya dengan Event Organizing. Aline dan Galen kini tiba di Kota Tua, sesuai dengan rencana mereka tadi. Sebuah kota di Jakarta yang berpusat di alun alun Fatahillah.
Alone dan Galen berjalan bersama saat hendak memasuki wilayah kota tua tersebut. Tapi ada yang tak biasa dari sikap Galen.
"Gal... kenapa?" panggil Aline dengan nada khawatir karena melihat Galen diam membeku dengan tatapan kosongnya.
.
.
.
bersambung>>>>
**Nah loh, kenapa tuh Galen, kesurupan apa ya... beloman juga masuk ke kota tuanya.
apa jangan jangan????? kenapa ya?
Author terhura sama beberapa dari kalian yang terus jadi semangat Author untuk melanjutkan novel ini.
Sebenernya tak semangat tapi alur cerita dari novel ini masih jauh, mau ku end mendadak kayaknya jiwa author ku ko, seakan tidak rela. karena ingin meninggalkan kesan dalam cerita ini.
tapi karena beberapa readers yang selalu setia juga, si pohon semangat akhirnya mendorong Author untuk terus lanjut.
Semangatin Author ya like, komen dan vote. ok.. ๐๐๐
__ADS_1
Mampir ke karya teman author lagi yuk**..