
Di kediaman Aline.
"Bi," panggil Zainab kepada Bi Kesih saat ia baru saja selesai menyiapkan makanan di dalam rantang.
"Ya, teh," jawab Bi Kesih dari arah pintu belakang. Ia datang dengan jalan yang tergesa-gesa.
"Bibi tau alamat rumah sakit, tempat si Neng si rawat?" tanya Zainab. Tangannya sambil bergerak merapikan makanan yang sengaja ia pisahkan untuk dirumah.
Pagi ini rencananya Zainab akan pulang ke Cianjur, tapi mengetahui musibah yang menimpa Aline. Ia mengundur waktu kepulangannya.
Satu rantang berisi makanan sudah siap di meja. Tapi Zainab bingung, bagaimana mau menyusul Bu Winda dan Ayah Zaki. Ia tidak tahu jalanan ibu kota Jakarta. bulak-balik ke warung soto Kang Zaki saja ia masih diantar oleh Pak Joko.
Saat menghubungi Bu Winda, Zainab disuruh menunggu Pak Jokowi yang akan menjemputnya, tapi wanita itu menolak. akan memakan waktu jika harus menunggu. Ia meminta alamat lengkap rumah sakit itu, Zainab akan memesan Mobil Online untuk ke sana.
Sambil menunggu mobil online nya datang. Zainab berganti pakaian dan berhias diri di kamarnya.
"Teteh, itu pesenan mobilnya udah datang!" seru Bi Kesih dengan suara agak keras agar di dengar Zainab.
"Ya, sebentar Bik!" Zainab bergegas turun dari lantai dua menuju ruang tamu.
Tampilan sederhana namun bisa membuat para lelaki terpana melihat penampilannya saat ini.
Wajah manisnya tak menunjukan bahwa Zainab adalah wanita yang pernah menikah. Umurnya yang hampir kepala empat pun seperti wanita seumuran Aline.
"Ini Teh, makanannya." Bi Kesih menyodorkan rantang makanan yang sudah dipersiapkan dari tadi.
"Terima kasih, Bi. Bibi nggak ikut?" tawar Zainab sambil melangkah keluar rumah menuju mobil online yang sudah menunggunya.
"Kalau Bibi ikut yang jaga rumah siapa?" sahut Bi Kesih.
Zainah tersenyum. "Oh, iya. Ya sudah! saya pergi dulu, nanti agak sorean juga balik lagi. pengen ketemu sama si Neng dulu sebelum pulang kampung." Zainab sampai di depan gerbang. Mobil online menunggunya di sana.
Wanita cantik itu masuk ke dalam mobil setelah supir online membukakan pintu mobil untuknya.
"Terima kasih, Pak!" ucap Zainab.
"Sama-sama, Mbak!" lekas supir itu berlari kecil memutari mobil menuju kemudinya.
"Saya berangkat ya, Bik." pamit Zainab sambil melambaikan tangan
"Hati-hati, Teh! Salam buat Neng Aline." seru Bi Kesih ikut melambaikan tangan ke arah Zainab.
Mobil yang ditumpangi wanita cantik itu perlahan melaju meninggalkan kediaman Aline.
...***...
"Mbak maaf, sepertinya ban mobilnya bocor! Saya harus ganti pakai ban cadangan dulu," Pak supir menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu keluar mobil untuk mengeceknya.
"Aduh, kumaha atuh, Pak? Lama nggak ya kira-kira, ganti ban nya?" tanya Zainab dengan perasaan was was. Pasalnya ia tidak tahu dimana mereka berada saat ini.
Zainab ikut keluar dari dalam mobil mengikuti pak supir.
__ADS_1
"Sebentar ko, Mbak! atau Mbak mau saya carikan ojek aja? rumah sakitnya deket ko dari sini," ujar supir itu sambil mendongak ke arah Aline, setelah mengecek ban mobilnya. Dan terrnyata benar, ban depan pada mobilnya bocor.
"Nggak Pak supir, saya teh takut, ah! mending nungguin bapak aja deh," kilah Zainab cemas sambil berdiri di dekat mobil online yang ia tumpangi.
"Kalau Mbak mau nunggu, di sana saja! biar gak kepanasan. Saya mau ganti dulu pakai ban cadangan." Pak sopir menunjuk pohon rindang yang membuat bawahnya teduh.
Zainab mengikuti arah yang ditunjuk pak supir. Lalu mengangguk pelan. "Baiklah saya tunggu di sana aja, Pak? Tapi beneran jangan ditinggalin kalau sudah selesai." pekik Zainab sedikit mengancam membuat Pak Supir tersenyum.
"Ya, enggak atuh Mbak. Orang si Mbak aja belum bayar, masa mau saya tinggalin gitu aja." Pak supir menggelengkan kepala.
Penumpang wanita ini sungguh unik, cantik dan manis, Pak supir kembali tersenyum melihat penumpangnya itu.
Gaya bicara yang lembut kadang bercampur dengan bahasa sunda membuat Pak supir betah mengajak Zainab ngobrol sepanjang perjalanannya.
Tiga puluh menit sudah Zainab menunggu Pak Supir mengganti ban. Ada sedikit kendala saat memasangnya.
...***...
"Berhenti, Tom" titah Tuan Wijaya secara tiba-tiba.
Tomy segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Ada apa, Tuan. Apa ada yang ketinggalan di kantor?" tanya Tomy sopan.
Tuan Wijaya baru saja kembali dari kantor, ikut menghadiri rapat yang di pimpin oleh Putranya, Galen Alexander Wijaya.
"Wanita itu, sepertinya saya kenal" Ucap Tuan Wijaya seraya menoleh ke belakang mobil.
Wanita dengan rambut di gerai sedang duduk di bawah pohon rindang di pinggir pembatas jalur pejalan kaki.
"Dia Nona Zainab, saudara Bu Winda, Tuan!" ujar Tomy.
"Kamu yakin, dan tidak salah lihat?"
"Yakin, Tuan."
"Coba kamu ke sana, sedang apa dia di sini." titah Tuan Wijaya.
Sebenarnya dia tahu kalau itu Zainab tapi Tuan Wijaya gengsi mengakuinya di hadapan Tomy.
"Permisi, Nona!" sapa Tomy sambil sedikit membungkuk sopan.
Zainab lekas berdiri lalu menyipitkan mata melihat Tomy, wanita itu sedikit ketakutan dengan orang baru yang mendatanginya. Ia ingat pesan Bu Winda, hati-hati di Kota besar ini, banyak kejahatan yang tidak kita duga. Bahkan ada hipnotis untuk mencukik dan merebut barang yang kita bawa.
"Ya, Anda siapa ya? mau ngapain?" Zainab terlihat ketakutan, di raihnya rantang dan di peluknya barang itu.
Tuan Wijaya terkekeh kecil melihat interaksi Tomy dan Zainab. Terlebih ia suka dengan ekspresi wajah Zainab saat ini.
Wanita itu lucu sekali, dengan wajah ketakutannya.
👣 Dasar Tuan Wijaya orang ketakutan malah di ketawain.
"Saya Tomy, asisten Tuan Wijaya! Nona ingat sekarang."
__ADS_1
"Oh... iya benar, Anda penjaga nya Tuan itu kan? Syukurlah... saya kira Anda penculik yang mau menghipnotis saya, lalu menculik dan mengambil organ dalam saya untuk di jual."
"Saya asistennya, Nona." elak Tomy seraya menggaruk tekuknya yang tidak gatal.
Percakapan mereka masih terdengar oleh Tuan Wijaya dari dalam mobil. Pria itu makin tertawa geli mendengarnya.
"Anda sedang apa di sini, Nona?" tanya Tomy.
"Saya lagi nunggu pak supir online ganti ban. Mau pergi sendiri ke rumah sakit, gak berani. Saya gak tau daerah sini, Mas! Jadi lebih baik nungguin Pak Supir aja pasang ban cadangannya." ujar Zainab jujur.
"Lalu kemana pak sopirnya."
Zainab langsung gelagapan melihat ke arah mobil yang tadi ia tumpangi.
"Loh, kemana Pak Supir. Yah, ko dia ninggalin sih? terus saya ke rumah sakit sama siapa dong?" Zainab terlihat panik. Ia tidak sadar Tuan Wijaya makin merekahkan senyumnya melihat tingkahnya.
"Kenapa dia tidak berpikir meminta tolong pada saya."
Tuan Wijaya keluar dari mobil lalu berjalan mendekati kedua orang yang tengah berseru pertanyaan itu.
"Kamu bisa ikut denganku ke rumah sakit. Kita berangkat bersama ke sana!" ucap Tuan Wijaya membuat Zainab lekas menoleh kepadanya.
"Tuan Wijaya," pekik Zainab. Wanita itu lekas menunduk hormat melihat kedatanganya.
Wanita itu tidak menyangka bertemu dengan Tuan Wijaya di tengah jalan begini.
.
.
.
.
.
Bersambung>>>>>
Selingan dulu, sama kisahnya Tuan Wijaya ya. biar gak meres hati dan perasaan terus.
Kita dampingi juga nih kisahnya Si Duren kaya sama Janda berlesung pipi itu.
Akan sampai mana kisah kedua insan yang sama sama memasuki usia senja itu.
Akankah cinta bersemi diantara mereka. Atau mereka bertahan dengan cinta lama yang lama bersemayam di hati masing-masing.
.
.
.
__ADS_1