Fake Love

Fake Love
Kelelahan


__ADS_3

"Wah... Bagus Banget pemandangannya, Mas!" Aline semakin takjub saat melihat sekelilingnya.


Rasanya terbayarkan sudah saat berada di atas bukit itu. Semua bisa terlihat dari sana.


Saat ini, Aline dan Galen berada di atas Bukit Bendera beserta beberapa wisatawan lain yang ikut trekking ke sana. Bukit yang ada di sekitar Desa Sawai, dimana dari atas bukit kita dapat melihat pemandangan Laut Seram yang sangat indah.


Aline dan Galen bersama pemandu lokal yang mereka sewa untuk melakukan trekking ke Bukit Bendera beristirahat sejenak sebelum melakukan perjalanan nya kembali.


Keindahan alam Desa Sawai membuatnya menjadi sebuah desa wisata yang telah dikenal bukan hanya oleh wisatawan lokal saja bahkan hingga ke mancanegara.


"Kamu cape nggak, Yang?" tanya Galen cemas karena melihat Aline terlihat kecapean dengan bercucuran keringat sedang duduk di atas bebatuan yang ada dibatas bukit.


Galen membuka penutup kepala berbentuk bulat yang Aline pakai. Ia mengelap keringat di kening istrinya itu.


Aline tersenyum dengan perhatian Galen.


"Aku masih kuat, Mas! Terima kasih, kamu selalu bersikap manis padaku!" ucap Aline bahagia seraya menyodorkan air botol kepada Galen.


"Itu kewajibanku, Sayang!" Galen menerima air yang Aline berikan kepadanya.


Gluk... gluk... Ah....!


Galen merasa lega setelah tenggorokan nya teraliri air minum. Ia ikut duduk di samping Aline.


"Mas, bukanlah itu tempat kita menyelam tadi?" Aline menujuk laut di bawah sana membuat Galen mengubah atensinya ke arah yang Aline tunjuk.


"Ya... Benar sekali."


"Semakin indah saat kita lihat dari sini, Ya, Mas!" ucap Aline semakin takjub menatap keindahan Pantai Ora. Pemandangan Teluk sawai juga terlihat dari atas bukit. Bahkan rumah panggung tempat Galen dan Aline menginap pun terlihat dari sana.



"Itu tempat kita menginap, Mas!" Aline kembali menunjuk rumah panggung di atas air.


"Ya, benar sekali, Yang."


"Paling besar dari penginapan yang lain ya?" Aline menatap jauh ke arah penginapannya.


Galen ikut memperhatikan. Kemudian ia mengangguk kembali membenarkan ucapan Aline.

__ADS_1


Tempat menginap Aline dan Galen adalah satu-satunya rumah panggung yang paling besar yang mereka tempati. Tempat itu menjadi satu-satunya penginapan yang mempunyai kamar tidur lengkap dengan dapur kecil dan tempat bersantai.


Aline kembali fokus menatap keindahan dan pemandangan yang menakjubkan ke bawah seluruh pulau bahkan juga ke tanah utama di seberang laut. Terdapat selain bisa melihat tempat penginapannya, Alone juga bisa melihat taman yang menyenangkan, restoran dan laut indah yang memanjakan mata.


Hampir satu jam Aline dan Galen berada di puncak Bukit Bendera. Setelah puas menyaksikan pemandangan yang terhampar indah di seberang pandangan mereka. Aline dan Galen beserta beberapa wisatawan yang lain mengikuti pemandu wisata untuk kembali ke daratan.


Dengan hati-hati mereka menuruni bukit. sampai akhirnya Aline dan Galen sudah di tunggu oleh perahu kecil di bawah bukit. Perahu yang akan kembali mengajak mereka berkeliling pantai dan pulau.


"Kamu tidak mau istirahat dulu, Yang?Masih kuat atau kita kembali ke penginapan saja?" tanya Galen merasa khawatir pasalnya hari ini begitu banyak aktivitas yang mereka lakukan. Termasuk aktivitas jos jos nya yang sempat ia ulang beberapa kali, pagi ini. Galen tidak mau Aline sampai sakit karena terlalu lelah.


Aline tersenyum manis kepada Galen yang sangat mengkhawatirkannya.


"Mas... Mumpung kita di sini, aku mau mengunjungi semua tempat wisata ada! Aku masih kuat, Ok!" Aline menegaskan kepada Galen agar tidak terlalu mengkhawatirkan nya.


Galen membuang napas berat lalu mengelengkan kepala. Tenyata istrinya masih begitu bersemangat untuk menjelajahi temapt indah lainnya yang berada di sekitar Ora Beach Resort itu.


Suami dari Aline itu ikut berjalan dan menaiki perahu. Perahu kecil yang akan mengantarkan mereka berkeliling pulau.


Di sekitar Pantai Ora ada beberapa pulau yang akan mereka singgahi. Di antaranya Pulau Sawai, Pulau Raja, Pulau Kelelawar, Pulau Tujuh, Pulau Tengah, Pulau Sapalewa.


Pulau-pulau tersebut akan memberikan sensasi yang berbeda, salah satunya kamu akan menemukan kebudayaan lokal dari masyarakat yang mendiaminya.


Awalnya Aline sangat ingin mengunjungi Taman Nasional Manusela yang ada di Pulau Seram. Tapi waktu yang harus di tempuh untuk menjelajahi tempat itu tidak akan cukup untuk hari ini. Jadi Aline dan Galen hanya berlayar memutari beberapa pulau yang jaraknua sangat berdekatan itu.


Suasana yang nyaman dan tenaga membuat hatinya begitu damai. Sampai Aline tidak sadar ia sudah terlelap di bahu Galen karena saking nyamannya menikmati suara burung-burung yang berkicau dan semilir angin yang berhembus sejuk yang membuat Aline perlahan terpejam.


Hingga sampai di rumah panggung tempat mereka menginap. Galen sengaja tidak membangunkan Aline.


Galen perlahan merubah posisi Aline agar lebih mudah untuk ia gendong.


Aline sama sekali tidak terusik dengan apa yang di lakukan Galen padanya.


Pengemudi perahu yang mereka tumpangi membantu Galen untuk menepi pada jembatan yang menghubungkan nya dengan rumah panggung tempat ia menginap.


"Terima kasih, Pak!" ucap Galen sopan seraya menundukkan sedikit kepalanya kepada bapak pengemudi perahu.


"Sama-sama, Den!" Pengemudi itu berlalu meninggalkan Galen menuju tempat berkumpulnya para perahu yang lain.


Sedangkan Galen berjalan gagah dengan menggendong Aline yang tertidur.

__ADS_1


"Kamu pasti cape, Yang!" bisik Galen membuat Aline sedikit terusik tanpa membuka matanya.


Perlahan Galen membaringkan tubuh Aline di tempat tidur.


"Dasar, selalu bilang kuat, tapi ternyata lelah." Galen mengecup kening Aline lalu tersenyum melihat wajah istinya yang terlelap itu.


Dengan sangat hati-hati Galen membantu Aline membuka sepatu hiking nya. Agar ia lebih nyaman dan leluasa.


"Euhh..." lengkuhan Aline terdengar saat Galen membuka sepatu yang terakhir, istirnya merubah posisi tidurnya. Tubuh yang tadinya terlentang berubah sedikit miring.


Setelah semuanya terlepas. Galen membiarkan Aline untuk berisi sejenak. Ia akan membersihkan diri terlebih dulu.


Tadinya ia ingin Aline juga mandi terlebih dulu, tapi Galen tidak tega untuk membangunkannya.


Galen terlihat lebih segar setelah mandi. Pria itu melangkahkan kakinya ke dapur kecil yang ada di kamar itu. Membuat kopi sederhana yang tersedia. Kopi hitam khas maluku. Kopi asli buatan penduduk sana.


"Hm..., Wangi sekali kopinya!" Galen mencium aroma kopi buatannya sendiri.


Galen melirik ke arah tempat tidur, di mana istrinya masih memejamkan mata. Dengan rambut yang terurai menutupi wajahnya. Istrinya terlihat begitu pulas.



Sinar senja mulai terlihat di arah barat. menandakan bahwa pemilik siang hari akan meninggalkan peraduanya.


Sambil menunggu istrinya bangun Galen hendak membawa secangkir kopi yang ia buat ke luar kamarnya. Galen teringat dengan ponsel yang kembali ia nonaktifkan setelah tadi siang ia nyalakan. Ada banyak berita yang ia lewatkan. Galen tidak peduli, Ia ingin bebas dari masalah pekerjaan selama honeymoon nya.


Tapi sayang ketika ponsel miliknya kembali di aktifkan. Nama Oma Ratih langsung muncul pada layar ponselnya.


Galen menggelengkan kepala, lalu segera melangkahkan kakinya ke luar kamar. Ia tidak mau obrolannya mengganggu Aline.


Sungguh Aline sangat di perlakuan istimewa selama bulan madu mereka.


Segera Galen menggeser tombol hijau di ponselnya. Saat Galen ingin menempelkan ponsel ke dekat telinganya suara yang sangat ia kenal sudah nyaring terdengar meski ponsel itu belum sampai di dekat telinganya.


.


.


.

__ADS_1


.


Baca kelanjutan ceritanya ya.....


__ADS_2