
Tak lama setelah Aline pulang. Sandra dan Aldo masuk ke dalam ruangan Galen.
Sandra sudah siap menemani Galen dengan beberapa berkas yang ia bawa. Sedangkan Aldo bersiap untuk pertemuan bisnisnya.
"Kita berangkat sekarang!" titahnya pada Sandra dan Aldo.
"Saya berangkat sendiri saja, Pak! akan ada Wilman yang menemani," cegah Aldo membuat Galen sejenak menghentikan langkahnya lalu menatap Aldo tajam.
Aldo tahu Galen merasa tidak nyaman harus berdua saja dengan Sandra. "Maaf, Tuan! karena tempat pertemuan berlawanan arah dengan tempat tujuan Tuan kali ini, saya tidak bisa ikut dengan Tuan dan Sandra." Aldo menjelaskan seraya menundukkan kepala.
Galen membenarkan ucapan Aldo. "Baiklah... kabari saya untuk hasil pertemuannya." Galen pun keluar dari ruangannya, Sandra pun mengikutinya dari belakang.
Sandra menyadari perubahan sikap Galen kepadanya akhir-akhir ini. Perlahan Sandra mulai terbiasa dengan sikap acuh Gaken kepadanya. Yang biasanya pria itu selalu menanyakan kabar ibunya, sekarang Galen lebih menjaga jarak dengannya.
Sepanjang perjalanan Galen diam karena memang itu sikapnya. Tak pernah memulai pembicaraan dengan orang lain kecuali dengan Aline istrinya. Pria bertampang cuek dan dingin itu tetap fokus mengendarai mobilnya. Karena tak lama lagi mereka sampai di tempat tujuan.
"Maaf, Gal! Aku boleh bertanya sama kamu?" ucap Sandra membuka suara, meski dengan perasaan ragu, tapi Sandra bersikeras untuk menanyakan hal ini. Selagi ada waktu berdua, jika di kantor ia tahu Galen sangat sulit untuk di ajak berbicara santai. Bukan seperti bos dan bawahan.
"Silakan," balas Galen singkat.
"Apa aku punya salah sama kamu, Gal? Beberapa bulan ini sikapmu sangat berbeda kepadaku?" Akhirnya Sandra bisa menanyakan hal yang beberapa bulan ini ia pendam. Wanitabitubmenubdukkan kepala merasa takut Galen akan marah karena pertanyaannya. "Jika memang sikap dan perkataan ku salah, aku minta maaf! Maaf juga telah lancang berkunjung menemui Oma tanpa ijin kalian."
Sandra berpikir Galen atau Aline merasa terganggu karena ia sesekali berkunjung bertemu Oma Ratih. Karena Sandra sadar dia hanya orang lain, yang dengan berani masuk ke dalam lingkungan keluarga Wijaya semaunya, kedekatannya dengan Oma Ratih yang membuka jalan seringnya Sandra datang ke sana.
Galen membuang napas berat. Ia sudah memperkirakan ini, Sandra pasti akan bertanya seperti itu kepadanya.
"Aku tidak pernah membatasi siapa saja yang akan berkunjung ke rumah. Asal mereka datang dengan niat baik, pintu kediaman Wijaya terbuka lebar. Oma juga merasa senang dengan kehadiranmu. Jadi untuk hal itu tidak masalah bagiku dan Aline. Tapi ada sesuatu yang harus aku tegaskan padamu. Kebaikan dan perhatianku kepada ibumu, tolong jangan disalah artikan. Semua murni karena aku ingin menolong. Aku tahu kalau kamu mempunyai perasaan kepadaku." Galen menjeda ucapannya sontak membuat Sandra menoleh ke arah Galen yang tanpa sedikitpun melirik kepadanya.
"Buang jauh-jauh perasaan itu. Aku tidak mau kamu menanam pengharapan yang tak akan ada balasannya dariku, Sand!" ucap Galen tegas.
"Kamu tahu kalau aku---," ucapan Sandra terhenti karena Galen melanjutkan ucapanya
"Bukan hanya aku tapi Aline juga tahu perasaan yang kamu punya terhadapku." lanjut Galen.
"Darimana kalian tahu tentang perasaan ini, aku tidak pernah memberitahunya kepada siapapun. Meskipun cinta ini tak terbalas, aku sudah bersyukur karena aku selalu ada di dekatmu. Dan aku tahu ... Pengobatan Ibuku murni dari kebaikanmu, bukan dana dari perusahaan," ungkap Sandra. Ia mengetahui kebenaran yang ada, bahwa biaya pengobatan Bu Sarah selama ini bukan dari dana perusahaan tapi murni dana dari Galen dari beberapa data sumbangan perusahaan yang pernah ia teliti.
Setelah mengetahui kebenaran itu, perasaan Sandra semakin besar kepada Galen.
__ADS_1
"Tidak perlu kamu tahu aku mengetahuinya darimana, Kamu tahu betapa besar rasa ini kepada Aline. Saat ini kami berdua sudah bahagia, jangan sampai kamu berpikir untuk masuk ke dalam celah rumah tangga kami."
Biasanya seorang wanita lah yang akan mengancam rivalnya agar tidak berbuat macam-macam kali ini berbeda. Pihak lelakilah yang memberi ancamam agar tidak menganggu rumah tangganya.
"Maaf... Jika perasaan ini salah menempatkan posisinya. Aku tahu ini salah, Gal. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia datang tanpa aku minta. Perasaan ini semakin tumbuh seiring seringnya kita bertemu, saling berinteraksi dan perhatianmu kepada Ibuku semakin membuatku kagum kepadamu." lirih Sandra. Ini kesempatan untuk dia mengungkapkan perasaannya
"Ini tidak benar, Sand. Jangan salah sangka dengan perhatianku kepada Ibumu! Kamu tahu aku akan memuliakan seorang ibu. Apalagi Bu Sarah sangat memerlukan bantuan pengobatan. Aku hanya berniat menolongnya, tidak lebih." Hati Galen semakin bergemuruh mendengar ungkapan hati Sandra bukan iba, lebih tepatnya kecewa. Ternyata Sandra menyalah artikan kebaikan dan perhatiannya.
Mereka berdua sampai pada tempat yang di tuju. Galen mengarahkan mobilnya ke arah proyek yang tidak beroperasi pengerjaannya karena ada sedikit masalah.
"Sudah cukup membahas masalah perasaan mu kepadaku. Aku tegaskan jangan berharap lebih. Mulai saat ini, hubungan kita cukup atasan dan bawahan saja. Kita tidak begitu dekat selama ini. Jadi aku harap kamu ngerti, perasaan Aline lebih aku perhatikan daripada yang lain." ucap Galen tegas.
Sandra mencengkram erat berkas yang ia pangku. ucapan Galen begitu menyakiti hatinya. Padahal selama ini perasaan itu tak pernah ia ungkapkan kepada siapapun. Ia memilih mencintai Galen dalam diam.
"Maaf, Gal... Aku pastikan, kalau aku tidak akan pernah menganggu pernikahan kalian. Aku masih tahu diri dan sadar siapa diri ini!" balas Sandra dengan suara sendu.
"Baguslah, bersikaplah seperti biasa. Jangan bawa masalah pribadi dalm pekerjaan. Saat ini kita dalam posisi bekerja. Jangan menghambat langkah pekerjaan karena perasaanmu." Galen kembali berbicara tegas, tak memikirkan perasaan Sandra sedikitpun.
Ia tidak peduli yang pasti Galen merasa lega sudah menekankan perasaan yang tidak pantas tumbuh di hati Sandra untuknya.
"Baik... Pak!" balas Sandra yang sudah kembali bersikap profesional sebagai bawahan dari Tuan G. Alexander.
Sandra tidak menyangka rasa cinta Galen kepada Aline begitu besar sampaibtidak mau membuat perasaan Aline tersakiti.
Beruntung sekali jadi dirimu, Aline. Mendapatkan cinta sebesar itu dari pria seperti Galen. Tuhan... Apakah aku salah jika mengharapkan kasih sayang seorang pria yang tulus kepadaku. Apa aku tidak berhak bahagia, apa aku memang pembawa sial seperti kata Bi Erma.
Sandra menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan Galen. Meratapi nasibnya yang belum pernah merasakan kebahagiaan sama sekali.
Kedatangan Galen di sambut beberapa pegawai yang memang menunggunya.
"Selamat datang Tuan Alex!" sapa salah satu kontraktor yang saat ini berada di lokasi
"Selamat siang, Pak... Budi!" balas Galen seraya membaca name tag yang menempel di pakaian pria itu. Karena Galen memang tidak tahu namanya.
Sandra pun ikut menyapa setelah Galen.
Setelah saling menyapa dua orang pria yang baru saja datang dari arah berlawanan mendekati mereka.
__ADS_1
Dia adalah salah satu orang kepercayaan Tuan Pokcoy yang ikut memantau proyek yang baru saja berjalan belum lama ini.
"Saya dengar proyek ini ada kendala. Tuan Pokcoy memerintahkan kami untuk menekankan kepada Anda agar tidak ada penundaan karena masalah ini," ancam orang kepercayaan Tuan Pokcoy.
Galen menyipitkan matanya.
Cepat sekali berita ini sampai ke telinga Tuan Pokcoy. Apa dia punya pemberi berita yang tajam dan terpercaya di sini.
Galen melipat tangan di depan dada. "Beritahu Tuan mu agar tidak usah risau dengan pekerjaanku. Bukankah dia hanya menikmati hasil dari penanaman sahamnya di sini," ger Galen merasa tersudutkan oleh kedatangan kedua orang itu.
"Kami hanya mengikuti perintah Beliau, Tuan!" ucap salah satunya.
Galen menyeringai, lekas ia meninggal akibat kedua orang itu. Merasa kedatangna keduanya sama sekali tidak membantu penyelesaian masalahnya. Galen rasa mereka hanya akan memperkeruh suasana. Agar penyelenggara mendapat tekanan.
Galen, seorang kontraktor dan Sandra melangkah menuju sebuah ruangan. Dimana di sana akan membahas jalan keluar yang akan Di tempuh pihak penyelenggara.
Diskusi beberapa orang yang ikut rapat, terasa alot. Beberapa jam terlewatkan untuk penyelesaian masalah ini.
Rincian besar yang di jelaskan Sandra memaksa Galen membuat Keputusan besa.r Keputusan yang harus Galen ambil untuk masalah ini. Ia tahu jalan keluar yang dia ambil akan sedikit merugikan perusahaan. Tapi itu lebih baik daripada kehilangan kepercayaan para investor yang sudah bertahun-tahun bekerja sama dengan Aksara grup. Galen tidak mau itu terjadi.
"Apa Anda yakin akan melakukan ini, Pak?" tanya Sandra. Ia meyakinkan Galen agar tidak gegabah mengambil keputusan.
"Saya lebih baik sedikit merugi daripada kehilangan kepercayaan mereka semua pada kinerja perusahaan kami." Sandra mengangguk pelan.
Membenarkan ucapan Galen. Jika proyek ini terabaikan nama baik perusahaan akan hancur karena pembangunan resort apartement mewah yang sudah menyebar di semua penjuru.
Usai Diskusi dengan jajaran penting dalam pembahasan proyek besar ini. Galen menuntut beberapa pihak yang dianggap lalai dalam bekerja. Ia juga mengusut agar pihak berwajib menekankan beberapa pihak yang terkait agar berterus terang dan membuka suara akan kelalaian yang mereka lakukan.
Secara jelas, mereka mengurangi bahan baku pembangunan sedangkan pembiayaan mereka bengkakkan.
Salah satu kecurangan tercium dari kubu Tuan Pokcoy. Tapi Galen tidak mau gegabah. Ia kan menyuruh Aldo untuk meneliti lebih lanjut agar tidak salah dalam mengambil tindakan.
.
.
.
__ADS_1
.
Baca kelanjutan ceritanya ya....