
Suara deru mesin mobil yang berhenti di depan rumahnya membuat Aline segera keluar dari kamarnya.
Dengan cepat ia meraih tas selempang yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Saat hendak melewati pintu kamar, Aline kembali berbalik karena merasa ada yang tertinggal. Ia lupa membawa kacamata besarnya. Rasanya rindu berpenampilan gaya Aline tempo dulu, ia ingin mengulang kenangan yang Galen lupakan. Sedikit demi sedikit ia harap ingatan calon suaminya itu bisa kembali.
"Belum di panggil udah turun aja nih, calon penganten?" sindir Zainab yang sedang menata oleh-oleh hasil belanjanya tadi dengan Bi Winda.
Buah tangan yang ia beli bersama Bu Winda di pasar Tanah Abang itu akan ia bagikan kepada para tetangganya. Rencananya Zainab akan pulang besok pagi ke Cianjur.
"Loh, teteh emang jadi pulang ke Cianjur Besok?" tanya Aline menghampiri Zainab yang tengah sibuk merekatkan lem pada kardus.
"InsyaAllah."
"Nanti aja teh pulangnya! pernikahan Aline 'kan sebentar lagi. Biar gak bolak-balik. kalau Aki Madi, biar nanti di jemput sama Pak Joko!" saran Aline.
"Bukan soal Aki Madi aja, Neng! banyak yang harus teteh kerjain di kampung. Gampang deh, kalau Neng nikahan mah, teteh juga balik lagi ke Jakarta. Teteh 'kan bilangnya ke Jakarta mau jemput kamu, eh malah gak jadi, kasian juga Aki sendirian di kampung," sahut Zainab yang baru saja selesai merapikan kardus berisi oleh-oleb untuk para tetangganya.
"Lagian si ayah juga, segala mau misahin Aline sama Galen. Orang kita udah sehati, jadi pasti nyambung lagi." Aline tertawa geli seraya menutup mulutnya sendiri. "Do'ain ya teh acaranya Aline lancar," ucap Aline manja.
"Amin, Teteh do'ain sing lancar sampai hari pernikahan, rumah tangga Neng sing berkah sakinah mawadah warohmah." cecar Zainab dengan doa. Wanita yang lebih muda umurnya dari Ibunya itu meraih tubuh Aline untuk didekapnya.
"Amin, Teh. hatur nuhun," ucap Aline di sela dekapannya Zainab.
"Eh, dia malah peluk-pelukan di sini! Tuh Galen udah nungguin di depan juga." omel Bu Winda yang menyusul Aline karena tak kunjung keluar dari dalam rumah.
"E-eh iya Bu, maaf, Aline lupa abisnya dengerin dulu Bu ustadz do'ain Aline, jadi agak lama," kilah Aline seraya menyengir kuda.
Bu Winda menggelengkan kepalanya mendengarnya lalu mendekati Zainab yang tengah memindahkan barang yang akan ia bawa besok pagi.
Dengan gaya casualnya Aline mendekati Galen yang tengah duduk menunggunya di teras rumah.
"Kenapa tidak menunggu di dalam?" sapa Aline membuat Galen langsung berdiri menyambutnya.
Galen mengembangkan senyum saat melihat Aline. "Kalau ke dalam dulu, takut betah. Rasanya malas beranjak kalau udah masuk rumahmu. Makin lama lagi kita temu janjinya!"
Aline menyunggingkan senyum mendengarnya. "Iya, males beranjak kalau kamunya meremin mata sambil meluk aku," celetuk Aline.
"Nah, bener banget! itu kamu tau jawabannya." Tangan Galen menyebutkan hidung Aline membuat gadis itu mengaduh pelan.
__ADS_1
"Ishh, sakit tau!" Aline mengibaskan tangan Galen lalu mengelus pelan hidungnya.
Galen tertawa renyah. "Jadi berangkat?"
"Jadilah ..." jawab Aline lantang seraya memanggil Bu Winda dari luar. "Bu, Aline pergi dulu!" pamitnya pada Bu Winda sambil berteriak.
Bu Winda dan Zainab menghampiri ke teras rumah.
"Kamu ini depan calon suami gak ada manis - manisnya bersikap," protes Bu Winda yang baru saja muncul dari dalam rumah.
"Aline 'kan mau nunjukin sikap sebenarnya Bu, dari pada harus menjadi orang lain, nanti kaget lagi liat aslinya pas udah nikah!" Gadis itu lekas menyalami Bu Winda dan Zainab diikuti Galen di belakangnya.
"Tak apa, Bu! sikapnya kayak gini aja aku suka, apalagi manis dan lembut wah bisa klepek-klepek nantinya," seru Galen saat ia bergantian menyalami Bu Winda dan Zainab.
Aline memutar bola mata ,malas menanggapinya. " Ayo ah, kita berangkat," ajak Aline.
"Kita berangkat dulu, Bu, Teh!" pamit Galen sambil menganggukan kepala.
"Ya, Hati-hati," balas Bu Winda lalu mengantarkan Aline dan Galen yang akan pergi janji temu dengan pihak EO yang akan bertanggung jawab atas semua persiapan rencana pernikahan mereka.
*
*
*
Kedua calon pengantin itu beradu argumen mengenai tema yang akan mereka pilih.
"Aku lebih suka ini, Gal! Keliatannya unik loh. Lihat deh!" Aline menunjukan gambar tema rustic wedding pada Galen yang tengah melihat- lihat foto dekorasi pernikahan di album foto yang lain.
"Bagus juga, tapi kalau di luar ruangan takutnya hujan, Yank. Kasian para tamu kalau kehujanan," ucap Galen saat melihat tema di luar ruangan.
"Pakai pawang hujan aja, kalau takut kehujanan." desis Aline. "Namanya juga outdoor, Gal! lihat deh kita ambil gaya pedesaan ya? sekarang 'kan lagi banyak tuh yang pakai tema ini. Benar 'kan Mba?" tanya Aline pada pengurus EO itu lalu kembali menatap Galen dengan tatapan mohon.
"Betul sekali, tema ini memang lagi banyak di pakai untuk acara pernikahan sekarang ini."
Sesuai dengan namanya rustic, atau pedesaan. Rustic wedding lebih mengedepankan sisi sederhana, menyatu dengan alam tapi tidak menghilangkan sisi elegan dan kemewahan di dalamnya.
__ADS_1
Konsep rustic wedding biasanya dominan dengan unsur kayu, warna coklat atau keemasan, bisa juga dipermanis dengan sentuhan unsur alam seperti tumbuhan alang-alang, aneka macam bunga, bahkan akar-akar pohon sintetis.
Melihat tatapan memohon Aline terhadapnya membuat Galen menganggukan kepala. Sebenarnya tidak masalah bagi pria tampan ini, mau tema apa yang di pilih nantinya. yang pasti ia ingin acara pernikahannya nanti akan menjadi acara yang paling berkesan untuk Aline dan dirinya.
"Bagaimana, Kalian akan pilih tema yang mana?" tanya wanita pengurus EO tersebut.
Aline masih menatap Galen dengan tatapan tak biasa. Pria itu tersenyum kecil karena wajah Aline begitu menggemaskan menurutnya.
"Ikuti keinginannya saja. Apapun ia pilih aku menyetujuinya!" tangan Galen mengacak rambut Aline pelan.
"Terima kasih, kamu sudah mau mengikuti keinginanku." Aline mengulurkan kedua tangannya lalu memeluk tubuh kekar calon suaminya dari samping karena posisi duduk mereka berdekatan jadi Aline merebahkan kepalanya di pundak Galen.
Rasa bahagia membuncah di dada Aline seakan kebahagiaan mereka berdua ada di depan mata. Tak sabar rasanya melewati hari-hari menjelang pernikahan. Terlebih tak ada sikap penolakan dari kekasihnya yang sempat tak mengingatnya sama sekali. Senyum bahagia terus mengembang di wajah keduanya.
"Tak usah berterima kasih, Yank! itu memang sudah seharusnya aku berikan untukmu." Galen mencium pucuk kepala Aline lama seakan menyalurkan rasa sayangnya kepada gadis yang tak lama akan menjadi istrinya itu.
Sikap romantis Galen membuat wanita yang berada di hadapan mereka merasa iri.
"Duh, kalian ini romantis sekali! Saya jadi ingin mengulang pernikahan dengan suami," sindir wanita itu.
*
*
*
Bersambung>>>>
**Eh... si Mbak gangu aja, orang lagi romantis, daripada ngeliat mereka kaya Tom and Jerry bakalan pusing loh Mbak 😆😆😆
Ikuti juga karya teman Author**.
Terima kasih buat kalian semua.
__ADS_1