Fake Love

Fake Love
Hatiku Lega Setelah Melihat Wajahmu


__ADS_3

"Halo ... Al, ini Aku- Aline! Apa kamu sedang bersama Galen?" tanya Aline tak sabar langsung menanyakan keberadaan Galen.


"Maaf Nona, tadi Saya berada di dalam lift. Sebentar lagi sampai ruangan Tuan Muda. Nomer telpon Nona beberapa hari ini tidak aktif, jadi Saya mengabarinya lewat Risa!"


"Ponselku disita Ayah!" Baiklah tolong hubungi nomer ini kalau kamu sudah bersama Galen. Terima kasih sudah mengabariku, maaf merepotkan mu!" seru Aline.


"Ini sudah tugas Saya, Nona! tidak perlu sungkan," sahut Aldo.


Sambungan telpon itu berakhir. Aline menggengam erat ponsel Risa di tangannya. Berharap Galen segera menghubunginya.


Aline termenung menghadap balkon kamarnya. Sedangkan Risa sudah terlelap karena kelelahan.


Aline tidak menyalahkan Ayahnya akan situasi yang terjadi saat ini. Dia mengerti perasaan sangat Ayah dulu. Berada di posisi tertuduh dan harus terlunta-lunta mencari pekerjaan padahal pengalaman yang dimiliki Ayahnya itu bisa diperhitungkan dalam sebuah perusahaan. Tak bisa dipungkiri kekuasaan Tuan Wijaya sangat berpengaruh saat itu. Salah paham masih terjadi saat itu, hingga kepergiaan Nyonya Indira lah yang memperjelas semuanya.


Ayah Zaki sudah menceritakan semuanya kepada Aline. Gadis itu juga tahu, sifat Ayahnya itu tak akan berlangsung lama. Oleh karena itu, dia menuruti semua perintah Ayahnya kali ini. Tak memberontak dan memaksa untuk bertemu Galen.


Ayah Zaki tak akan mungkin menyimpan dendam selama ini, karena beliau selalu mengajarkan kepada Aline agar selalu memaafkan kesalahan seseorang sebesar apapun kesalahan itu. Dan belajar ikhlas akan semua yang terjadi.


Kali ini Aline harus bersabar menyikapi kemauan sang ayah. Selagi menunggu Aldo menghubunginya. Aline duduk di sofa seraya merebahkan kepalanya sana. Seakan ingin melepaskan kegundahan yang ada, Merasakan hembusan angin yang masuk ke kamar itu melalui jendela yang sengaja ia buka sebelumnya.


"Gal, semoga kesalahpahaman ini bisa cepat terselesaikan," gumam Aline. Pandangannya ia tujukan ke arah langit biru sore itu.


Hembusan semilir angin membuat gadis yang tengah termenung itu perlahan memejamkan mata. Seakan terbuai oleh semilir angin sepoi-sepoi yang masuk ke dalam kamarnya. Membuat helaian rambut Aline terhempas menutupi wajahnya.


Baru saja Aline memejamkan mata. Nada dering dari ponsel milik Risa membuatnya harus terjaga dari tidur yang singkat itu.


Aline lekas menggeser tombol hijau yang berada di layar ponsel tersebut. Sebuah kejutan untuknya. Wajah pria yang beberapa hari ini membuatnya cemas muncul di balik layar.


Tubuh bagian atas dari pria itu tengah bersandar di heard board brankar rumah sakit yang bisa diatur posisinya itu membuat Aline menarik kedua sudut bibirnya. Memberikan senyuman termanis nya.


"Hai, Aku ganggu ya? kayak baru bangun tidur!" Galen berusaha bersikap biasa saja, tapi wajah pucatnya menunjukkan bahwa pria itu sedang tidak baik dan itu membuat senyum Aline sedikit memudar.


Aline menggelengkan kepala. Gadis itu merapikan helaian rambut yang menutupi wajahnya, lalu duduk tegak di sofa. Matanya mulai memerah seakan ada yang mendorong ingin keluar dari netra miliknya itu setelah melihat kondisi Galen.

__ADS_1


"Aku hanya ingin kamu tahu, Pol. Aku akan pergi besok, doakan semoga kondisi ku pulih kembali. Aku janji akan menemui Ayahmu. Pasti kamu sudah tau masalah yang terjadi 'kan?" tanya Galen.


Aline mengangguk pelan.


"Maaf! karena Aku, kamu seperti ini lagi Gal." Aline tertunduk lesulesu seraya mengusap cairan bening yang lolos begitu saja di pipinya.


"Hei, pegang yang benar ponselnya. kurang kanan sedikit. Lihat posisi dia jadi miring di layar!" bentak Galen kepada Aldo.


Aline mendongak ke arah kamera melihat posisi Aldo juga miring di layar ponsel yang ia genggam.


Gadis itu merasa bingung dengan apa yang terjadi.


"Sory bukan sama kamu, pol. Nih sama Aldo kurang pas megangjn ponselnya," seru Galen tanpa Aline bertanya.


"Maaf Tuan! posisi saya terlalu jauh untuk memegangi ponselnya?" bantah Aldo. Aldo berasa di sisi ranjang, sedangkan brankar yang di tempati Galen cukup besar sehingga menyulitkan asistennya itu untuk memberikan posisi pas untuk Galen.


Aline bisa mendengar percakapan mereka. Gadis itu jadi tersenyum karenanya.


Layar ponsel pun jadi tak beraturan. Galen meraih ponsel itu dengan cepat karena video call nya dengan Aline menjadi terhambat.


"Kenapa tidak dari tadi aja bos megang sendiri," gumam Aldo pelan. Ia heran dengan tingkah bosnya itu. Ia lekas menyingkir dari samping Brankar itu.


"Pol ... kamu masih di sana 'kan?"


"Hm ..."


"Jangan menangis! tersenyumlah Aku ingin melihat senyum manismu sebelum Aku pergi ke Singapura! Aku janji akan segera menemuimu. Tolong jaga hati untukku ya, Pol!" Galen sudah mulai merasa pusing dan mual kembali. Ia tak mau Aline melihat keadaan dirinya saat merasakan kesakitan itu.


"Aku tunggu janjimu, Gal! cepat kembali dan segera pulih." Aline merasa ada yang aneh dari tingkah Galen. Pria di hadapannya itu sesekali memejamkn matanya dan menutup mulutnya. "Kamu kenapa, Gal?" Aline terlihat panik dari sebrang telpon.


"Aku gak pa-pa ko! hanya pengaruh obat jadi sedikit mual. Pol ... kamu tau? rasanya hatiku lega sudah melihat wajahmu sebelum bertolak ke Singapur."


"Gal, maaf tidak bisa mengantarmu!"

__ADS_1


"Cukup doakan Aku, Aku mengerti situasi saat ini. Tolong bantu Papa ku untuk menjelaskan semua kepada Ayahmu, Papa sangat menyesalai kejadian yang sudah la itu. Ia pun sama baru saja menjalani perawatan di sini?" Galen merasa semakin mual.


"Loh Papamu kenapa, Gal? Aku juga akan berusaha berbicara sama Ayah, Gal."


"Papa hanya mengalami sedikit syok saja. Pol sudah dulu ya, ingat pesanku. Aku akan segera menemuimu sekembalinya dari operasiku, tunggu Aku! Love u Aline" Galen lantas menutup sambungan video call itu tanpa menunggu jawaban dari Aline.


Aline menatap ponsel yang terputus bingung.


"Love u to Galen" ucap Aline pelan.


Pemikiran dan perasaan yang tak menentu menghinggapinya saat ini. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Galen. Aline masih terdiam dengan segala pemikirannya menatap ponsel tersebut.


Ucapan Galen yang memberi kekuatan untuknya. Ia kan setia menunggu sampai Galen kembali dan menemuinya.


Aldo yang terus mengawasi Tuanya itu, dengan sigal memberikan wadah steinles itu ke hadapan Galen.


"Wuuek.... Wueekk... "


Galen terus muntah saat pusing tiba-tiba terasa olehnya. Menurut dokter yang menanganinya hal itu akan terus terjadi jika tidak cepat di tangani. Olah karena itu, kali ini Galen bersedia bertolak keluar negeri untuk melakukan operasi meski berat hati harus berpisah dengan Aline.


Setelah kondisi Galen membaik. Pria itu menitipkan sesuatu kepada asisten yang selalu setia menemaninya itu.


Kotak merah bludru dengan sepucuk sudah Galen siapkan untuk Aline, berharap setelah Ia berada di Singapura Aline sudah menerimanya. Benda yang amat berarti untuk Galen iti ia serahkan untuk Aline.


Galen tahu kemungkinan setelah operasi itu. Dan berharap apa yang ia pikirkan tidak akan menjadi kenyataan. Dan benda yang ia berikan kepada Aline akan membantunya nanti.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2