Fake Love

Fake Love
Aline Tersenyum


__ADS_3

Galen kembali ke dalam ruangan. Pria tampan itu sedikit merasa lega mendapat kabar dari Aldo yang mengabarkan Ferdi, orang yang telah membuat Aline mengalami trauma telah tertangkap.


Saat melihat Aline telah sadar dari pengaruh obat biusnya. Galen cepat melangkahkan kakinya mendekat ke arah Aline yang terlihat sedang berbicara dengan Bu Winda dan Zainab. Langkah pria itu terhenti begitu saja saat mengingat teriakan Aline saat di kamar mandi tadi.


Calon istrinya itu meminta ia untuk pergi, Galen berpikir Aline akan kembali histeris saat melihat dirinya. Tubuhnya pria itu kini berdiri mematung tak berani untuk mendekat.


Bu Winda hanya melirik sebentar ke arah Galen. Dia mengerti kenapa Galen tak jadi mendekat ke arah dirinya dan Aline, kemudian Bu Winda kembali berbicara pelan kepada Aline. Entah apa yang sedang dibicarakan Bu Winda kepada Aline. Gadis itu hanya terlihat memanggut pelan.


Saat pandangan Aline dan Galen bertemu. Aline terdiam. Sedangkan Galen serba salah. Ingin mendekat tapi dirinya takut, ingin pergi menjauh, Galen sangat rindu dengan Aline.


Dengan berat hati, tanpa berkata apapun Galen berbalik lalu berjalan hendak keluar dari ruangan itu. Pria itu lebih memilih menghindar.


"Gal... " suara lirih Aline terdengar, saat Galen berjalan beberapa langkah. Gadis itu hendak bangun dari tidurnya untuk duduk.


Galen tak berani berbalik badan. Ia terdiam sesaat. Menunggu ucapan apa yang akan Aline ucapkan.


"Mau kemana? Apa kamu mau ninggalin aku, setelah kejadian ini?" ucap Aline lirih.


Satu detik....


Dua detik....


Tiga detik....


Tak ada yang berani berbicara, semuanya terdiam.


"Saat ini memang aku tidak pantas buat siapapun, termasuk kamu. Aku sadar diri, Kamu... punya hak buat pergi dariku, Gal." ucap Aline dengan suara gemetar. Gadis itu menunduk seraya meremas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


Perlahan air matanya mengalir, kali ini tidak ada teriak histeris dari Aline. Jiwanya sudah berangsur membaik. Kata-kata yang Bu Winda ucapkan kepadanya, perlahan membuat hati gadis itu lebih tegar menerima kenyataan.


'Hidup tidak sampai di sini, ikhlaskan semuanya. Terimalah kalau jalan takdirmu harus seperti ini. Ayah dan Ibu akan selalu bersama Aline, dan ingat ada seseorang yang selalu menanti keceriaan dan senyum darimu, dia merindukanmu, Nak! Apapun kondisi kamu!'

__ADS_1


Rasanya malu untuk meminta Galen agar terus bersamanya, tapi ia sadar akan kekurangan dirinya saat ini. Menurutnya ini tidak adil untuk Galen. Tapi berbeda dengan pemikiran Pria yang kini membalikkan tubuhnya dengan cepat lalu berjalan dengan sedikit berlari menghampiri Aline.


Galen meraih tubuh gadis yang tengah terisak sambil tertunduk itu. Membawanya ke dalam pelukan.


"Maafkan, aku! Maaf, jika bukan aku yang terus memaksamu untuk bertemu, tidak mungkin semua terjadi padamu, Sayang. Maaf...!" ucap Galen di sela pelukannya. Berulang kali Galen mengucapkan kata maaf, rasanya tak cukup sekali dua kali, bahkan ribuan kalipun itu takkan mampu membuat keadaan kembali seperti semula.


Penyesalan di hati Galen makin menjadi, karena secara tidak langsung dirinya lah penyebab hal buruk itu terjadi kepada calon istrinya itu.


"Jangan pernah berpikir, kalau aku akan pergi meninggalkanmu. Aku akan tetap bersamamu, apapun yang terjadi. Bukan karena rasa bersalah. Tapi karena Kamu adalah jiwaku. Aku tidak bisa jika tanpa dirimu... Sayang!" Galen melonggarkan pelukannya.


Kedua tangannya menangkup wajah Aline. Mendongakkannya agar bisa saling menatap. Air mata Aline masih membasahi pipi. "Kita akan lewati ini sama-sama, jangan menyuruhku pergi untuk meninggalkanmu. Karena sama saja kamu menghentikan napasku saat itu."


Aline mengangguk pelan. Di usapnya air mata itu oleh Galen. Terakhir ia mengecup pelan kening Aline. Seakan memberikan kekuatan di sana.


Beruntungnya keadaan sekarang ini dalam kondisi yang berbeda dari biasanya. kalau saja tidak ada kejadian ini, Ayah Zaki akan memasang wajah sangarnya melihat putrinya dipeluk dan dicium. Meskipun itu kecupan sayang.


Bahagianya Galen, tak ada penolakan dari Aline. Tak ada teriakan yang memerintahkan dirinya untuk pergi.


Semua orang yang berada di ruangan itu menatap penuh keharuan pada pasangan muda ini.


Zainab merangkul Bu Winda, kelegaan dirasakan oleh Bu Winda. Ia berdoa, semoga Alinenya akan kembali, gadis yang penuh ceria dan tawa. Meski ia tahu waktulah yang akan menyembuhkan semua. Dengan hadirnya Galen yang akan mendampingi dan selalu ada untuk Aline. Bu Winda berharap semua cepat berlalu.


Kini, suasana di dalam ruangan sudah terasa tenang dan damai. Ayah Zaki dan Tuan Wijaya bergantian pamit ke ruangan yang ada di samping ruang rawat itu untuk melaksanakan solat Magrib.


Saat Tuan Wijaya kembali ke ruang perawatan. Zainab terlihat duduk di sofa, tangannya terulur untuk mengambil makanan yang ia letakkan tadi siang di meja. Sedari tadi mereka belum ada yang memulai untuk makan. Semua masih tegang karena menunggu Aline melakukan pemeriksaan untuk pihak kepolisian.


"E-eh, Tuan! mau makan?" tawar Zainab saat menyadari kedatangan Tuan Wijaya.


Tuan Wijaya melirik pada makanan di dalam rantang di atas meja. Masakan rumahan yang di masak Zainab.


"Boleh." Tuan Wijaya menerima tawaran Zainab.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Tuan Wijaya, Zainab berdiri, lalu melayani Pria tua yang masih berwajah dingin tapi ingin diperhatikan itu. Membantunya menyendokkan nasi, sesekali menanyakan mau makan dengan lauk apa.


Zainab hanya membawa beberapa masakan rumahan yang ia masak sendiri. Cumi balado, prekedel kentang, ayam goreng lengkoas dan Sayur capcay saja.


"Tuan mau makan sama apa?" tanya Zainab sesaat setelah menyendokkan nasi untuknya.


Melihat cumi balado Tuan Wijaya menelan ludah. warnanya yang merah sampai menggugah selera, tapi ia takut kejadian tempo hari saat acara lamaran Aline itu, setelah makan jengkol balado. Dirinya tak henntinya bulak balik kamar mandi karena mulas, memakan sambal balado.


"Ayam goreng lengkuas sama capcay saja."


Zainab segera mengambilkannya, lalu menaruh lauk dan sayur yang di minta di atas piring berisi nasi.


"Silakan di makan Tuan." Zainab meletakkan piring berisi makanan di hadapan Tuan Wijaya yang duduk bertepian dengan Zainab.


"Terima kasih." ucap Tuan Wijaya.


Perlahan pria tua yang masih tampan itu mencoba memasukkan makanan yang Zainab siapkan untuknya.


Satu suapan sendok sudah meluncur ke dalam mulut Tuan Wijaya.


Sensasi dari rasa masakan yang Zainab berikan untuknya membuatnya mematung sambil terus mengunyah makanan tersebut. "Hmm... enak sekali makanannya. masakan rumahan. Rasanya seperti... " Tuan Wijaya masih mengunyah sambil mengingat sesuatu, rasa masakannya sama dengan masakan ...." Tuan wijaya menghentikan gerakan mengunyahnya.


"Masakan Indira" batin Tuan Wijaya.


Perlahan ia coba menelan makanan yang ada di dalam mulutnya. Kenangan Nyonya Indira saat memasak bersama dengannya melintas dalam benaknya.


Di sisi lain ada Galen yang masih setia menemani Aline. Meski tak banyak bicara. Hanya anggukan dan gelengan respon dari Aline saat Galen selalu menawarinya makan dan minum. Galen begitu sabar menemani kekasihnya itu.


.


.

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2