
Sandra tersadar setelah beberapa waktu pingsan karena tampran keras dari Tuan Burns. Ia merasakan sakit pada seluruh tubuhnya.
Sandra lekas bangun dari tidurannya. Ia merasa sedikti bingung dengan sekitarnya.
Dimana ini?
Kenapa berbeda dengan ruangan tadi?
Sandra terdiam sesaat, Ia lekas membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Ia berpikir kalau Tuan Burns telah melakukan sesuatu saat ia tidak sadarkan diri. Ternyata pikirannya salah lagi. pakaian dalam nya masih utuh. Bahkan ia tidak merasakan sakit pada bagian tubuh bawahnya. Berarti Tuan Burns sama sekali tidak menyentuhnya.
Sandra merasa ini tidak benar. Ia sungguh menyesal dengan apa yang terjadi saat ini. Kebodohan membuat dirinya harus terjebak dalam situasi ini. Lusa adalah jadwal operasi Ibunya. Sandra harus segera pulang dan menyelesaikan sisa pembayaran yang ada. Meskipun biaya operasi belum lunas pihak rumah sakit akan terus melanjutkan operasi yang sudah terjadwal. Sisanya keluarga pasien bisa membayarnya setelah si pasien diijinkan pulang pasca operasi.
Sandra tidak mau membuat Ibunya khawatir. ia berpikir harus pergi dari tempat ini. Bagaimana pun caranya. Yang penting ia sudah mendapatkan seputuh juta, menurutnya itu sebanding dengan kesakitan yangbiabrasakan saat ini.
Sandra bangun dari tempat tidur itu dengan sangat pelan. Ia takut menimbukan suara.
Melihat ada baju kimono tergantung rapi di penggantung baju bundar dalam kamar itu. Sandra lekas memakainya. Tanpa alas kaki Sandra terus berjalan keluar kamar. Apartemen ini memang sangat luas ada beberapa kamar di dalamnya. Sandra tidak tahu kamar yang mana wanita yang pertama kali ia lihat itu berada.
Sandra mencari tasnya, Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling. Tetap nihil, dia lupa kalau tas itu berada dalam ruang permainan Tuan Burns.
Sandra berpikir untuk mengabaikan saja tas miliknya itu. Sebab di dalamnya tidak ada barang berharga. Hanya ponsel saja dan dompet yang tidak berisi.
Dengan mengendap-endap Sandra berjalan ke arah pintu keluar. Keberuntungan tidak berpihak kepadanya. Pintu itu terkunci dan akses untuk membukanya hanya ada pada Tuan Burns. Kartu akses apartemen itu berada tak jauh dari tubuh pria yang sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja sambil berceloteh tak jelas tepat di depan kamar yang Sandra tempati tadi
Tuan Burns sedikit mabuk karena ia menghabiskan satu botol minuman kerasnya.
Srett...
Sabda berhasil menarik kartu Id satu-satunya alat akses masuk ke tempat ini. Tuan Burns tidak menyadari itu.
Sepertinya dia mabuk.
Ini adalah kesempatan bagus untuk melarikan diri.
Pikir Sandra, lalu tidak ingin mengulur waktu. Dengan pelan dan hati-hati, Sandra berjalan menuju pintu keluar. Ia harus keluar dari tempat ini.
Tolong... Tuan, keluarkan saya dari sini!" teriak seorang wanita dari kamar yang baru saja ia lewati.
Langkah Sandra sempat terhenti, ingin rasanya ia menolong wanita itu. Tapi tidak saat ini, Sandra harus lebih dulu keluar dari tempat ini.
Klik...
pintu apartemen berhasil dibuka. Sandra mengembangkan senyuman. Tapi di satu yang bersamaan Tuan Burns bangun lalu bangkit dari tidurnya. Ternyata ia masih kuat untuk berjalan.
__ADS_1
"Hei... Mau kemana kamu!" teriaknya membuat Sandra dengan cepat keluar dari sana.
Tanpa alas kaki Sandra berlari secepat mungkin sambil berteriak meminta tolong. Tapi tidak ada yang mau menolongnya. Semua penghuni apartemen ini seakan hidup masing-masing.
Sandra berpikir harus segera turun ke lobi. Ya tak bisa ia mengharapkan bantuan orang lain selain ia harus berusaha sendiri.
Sandra berjalan cepat ke arah lift. Ia menekan tombol turun pada lift tersebut. Tapi masih belum terbuka. Lift berhenti di lantai sebelum lantai yang ia pijaki sekarang ini.
"Cepatlah terbuka....!" Sandra menunggu dengan tidak sabar. Ada tangga darurat tapi posisinya harus melewati kamar Tuan Burns lagi.
"Ah... lama sekali!" Sandra tidak mau mengulur waktu. Ia lekas kembali dan harus cepat melewati kamar yang bagaikan neraka itu sebel Tuan Burns bisa keluar dari kamarnya.
Sandra telah mengunci dan membuang kartu akses itu ke sembarang arah. Jadi Sandra bisa mengulur sedikit waktu.
Baru beberapa langkah berjalan hendak mendekati tangga darurat, Tuan Burns sudah ada di depannya.
Refleks Sandra menghentikan langkah
Kenapa dia bisa cepat sekali keluar dari kamarnya, padahal aku sudah menguncinya.
Sandra dengan cepat membalikkan badan kembali menuju pintu lift berada.
Sandra dengan panik memencet tombol yang ada di samping lift. Ketakutan itulah yang Sandra rasakan saat ini.
"Aku tidak boleh kembali ke tempat itu. Aku harus cepat pergi dari sini. Lama sekali lift ini? Sialan... Buka, Njir!" makinya pada lift yang masih saja belum terbuka sambil memukul dengan tangannya.
Happ...
Tangan Sandra ditarik oleh Tuan Burns dengan kasar.
"Lepaskan... " teriak Sandra seraya berusaha memberontak.
"Saya tidak akan pernah melepaskan kamu, pekerjaan mu belum selesai!"
"Saya tidak sudi bekerja sama dengan pria saiko dan gila seperti Anda!" balas Sandra yang terus memberontak agar tangannya terlepas dari Tuan Burns.
"Kamu harus mengganti uang yang aku bayar kepada pria yang telah menjualmu dua kali lipat, jika kamu ingin lepas dariku!" pinta Tuan Burns tanpa melepaskan tangan Sandra.
"Gila... Anda benar-benar gila! Jangan harap saya akan membayar itu kepada Anda, Lepas!" Sentak Sandra membuat Tuan Burns semakin brutal kepadanya.
Tubuh Sandra di dorong ke dinding kedua tangan yang wanita itu diletakkan di atas kepala Tuan Burns mencumbui leher jenjang Sandra dengan ganas.
Sandra tidak bisa melawan karena tenaganya kalah kuat dengan pria yang berubah garang di hadapannya itu.
__ADS_1
Sanda berusaha menghindar dengan sekuat tenaga ia masih bisa melawan. Meski tangannya di tahan, tapi kakinya masih leluasa untuk bergerak.
Satu kaki Sanda di angkat lalu dengan cepat ia menendang bagian penting Tuan Burns.
Kesakitan terlihat dirasakan oleh pria yang meringis sembari memegangi bagian tengah tubuhnya.
"Rasain biar burungmu tidak bisa bangun sekalian," geram Sandra yang berhasil melepaskan diri segera ia berjalan cepat meninggalkan Tuan Burns yang merobohkan tubuhnya ke lantai sambil mengerang kesakitan pada inti tubuhnya.
Sandra berhasil masuk ke dalam lift. Tidak ada siapapun di dalam sana. Sunyi, sendiri, ia merutuki kebodohan yang lakukan saat ini.
Bodoh... bodoh sekali dirimu.
Hampir saja kamu mengantarkan nyawamu sendiri, Sandra.
Harusnya kamu berpikir panjang untuk setiap tidakanmu.
Sandra memejamkan matanya sembari bersandar pada dinding lift. Ia melihat tubuhnya sendiri. Dirinya tertawa kecil saat menyadari baju yang ia kenakan. Bagaimana pemikiran orang lain saat melihat Sandra yang hanya mengenakan kimono tidur berbahan elegan yang membuat tubuh aduhai nya semakin terlihat menggoda.
Tanpa mereka lihat dibalik balutan mewah itu terdapat luka lebam bekas pecutan yang ia dapat dari penyiksaan pria saiko yang sudah membeli dirinya.
Ting...
Lift terbuka tepat di lantai satu apartement itu. Saat Sandra hendak keluar dari sana, sesosok tubuh kekar berbau alkohol menabrak tubuhnya, membuat Sandra harus menahan tubuh kekar pria tersebut.
"Bawa saya ke lantai 9," bisik pria tersebut dengan suara parau nya. "Tolong...!"
Meskipun ia sendiri sedang menahan sakit pada tubuhnya rasanya tidak tega jika menolak permintaan seseorang yang memang membutuhkan bantuannya.
"Baiklah." Akhirnya Sandra menyetujui permintaan pria itu.
Sandra sedikit kesulitan karena berat tubuh pria yang ia tolong itu terasa berat. Padahal ia ingin membalikkan tubuh pria itu agar bisa melihat wajahnya.
.
.
.
Baca kelanjutan ceritanya ya..
Sambil nunggu cerita ini up..
mampir ke karya temanku yuk.
__ADS_1
karya Pipihpermatasari