Fake Love

Fake Love
Mengubur Dalam Perasaan Ini


__ADS_3

Setibanya di hotel, Aline mengantarkan Galen ke kamar hotel yang ia tempati bersama Tuan Wijaya letak kamar mereka saling berdampingan.


Oma Ratih, Sandra dan Kartika memilih masuk ke kamar mereka dan menyuruh Aline membantu Galen untuk istirahat. Sedangkan Tuan Wijaya masih sibuk dengan telpon bisnisnya di loby hotel.


Galen berada satu kamar dengan Tuan Wijaya, Sedangkan Aline bersama Oma, Sandra dan Kartika. Awalnya Tuan Wijaya menyiapkan satu kamar lagi untuk mereka tapi Aline dan Kartika menolak. Mereka lebih memilih bersama dalam satu kamar hotel. karena hanya satu malam mereka menginap di sana. Esok hari mereka semua akan kembali ke Indonesia.


"Gal ..., kamu istirahat dulu." Aline merapikan tempat tidur agar Galen leluasa dan nyaman beristirahat.


Galen yang berdiri di depan pintu kamar mendekatinya. "Terima kasih, tunggu Aku nanti sore, kita akan pergi ke suatu tempat," ajak Galen membuat Aline membuat gadis itu menghentikan gerakannya lalu menoleh ke arah Galen karena penasaran.


"Kemana?"


"Nanti kamu juga tau!"


"Ish, apa susahnya kasih tau sekarang." Aline memanyunkan bibirnya membuat Galen menarik sedikit sudut bibirnya melihat tingkah Aline.


Setelah merapikan tempat tidur tak lupa Aline menyiapkan obat yang harus di minum Galen.


"Ini diminum dulu obatnya," Aline menyodorkan beberapa obat dan segelas air putih untuk Galen.


Selesai melihat Galen meminum obat, Aline hendak keluar dari kamar. Gadis itu merasa tak enak jika harus berdua dalam satu kamar hotel dengan Galen.


"Aku kembali ke kamar, dulu! nanti sore kabari saja jika kamu ingin keluar. Jangan terlalu lelah, kamu belum pulih benar. Istirahat. Ok!" ucap Aline kaku, ia makin merasa tidak nyaman melihat Galen terus memperhatikannya.


Aline berbalik hendak meninggalkan Galen. tapi dengan cepat Galen meraih tubuhnya memeluk tubuh ramping itu dari belakang.


"Terima kasih sudah memperhatikanku!" setelah berbisik pelan Galen merebahkan kepalanya di pundak Aline. Gadis itu diam membeku karena sebelumnya tak pernah sedekat ini dengan Galen. Terakhir mereka dekat sesaat sebelum kecelakaan itu terjadi. Kenangan indah yang Aline miliki bersama Galen.


Galen memutar tubuh Aline agar menghadap kepadanya. Aline menunduk menahan malu.


"Tak perduli ingatan ini kembali atau tidak tapi aku bersyukur bisa mengenal kamu."


Galen melihat kalung miliknya menggantung di leher Aline menjuntai sampai ke dada lalu meraih liontinnya pelan. "Jaga hatimu seperti kamu menjaga benda ini."


Aline hanya bisa mengangguk pelan menanggapinya. Tangannya ikut menyentuh liontin yang Galen sentuh hingga kedua tangan itu menggenggamnya bersama.


Keduanya mendongak saling menatap, ada desiran aneh yang Aline rasa saat wajah Galen berada sangat dekat dengannya. Pria ini kini ada bersamanya. saling menggenggam dan saling menatap rindu. Perlahan Galen makin mendekatkan dan memiringkan wajahnya hendak menyentuh bibir gadis yang ada di hadapannya itu.


Aline perlahan menutup matanya saat Galen mencoba terus mendekat.


"Ehmm...," Suara dehaeman dari luar kamar membuat Aline terkejut sontak membuat gadia itu mendorong tubuh Galen agar menjauh darinya.


Tubuh Galen sempat terhuyung tapi Ia masih bisa menyeimbangkannya agar tidak terjatuh.


"Maaf!" Aline meraih tangan Galen agar bisa menyeimbangkan tubuhnya. "Kamu tidak apa-apa?"


"Aku tidak pa-pa. tidak perlu hawatir!"

__ADS_1


Tuan Wijaya muncul dari arah dapur bersih sambil membawa air minum di botol yang ia pegang lalu merebahkan tubuhnya di sofa.


"Gal, Papa sudah pesanan beberapa tiket ke tempat wisata malam hari di sini, ajak Aline dan yang lain berkunjung kesana!" teriak Tuam Wijaya dari ruang tamu.


Aline merasa canggung mendengarnya. Ia keluar dari kamar yang memang pintunya tak tertutup dari tadi.


"Loh, kamu mau kemana?" tanya Tuan Wijaya saat melihat Aline keluar dari kamar.


Aline mendekati Tuan Wijaya lalu menyalaminya. "Aline mau ke kamar sebelah ya, Om! Galen tinggal istirahat aja ko. barusan abis Aline kasih obat," pamitnya. Sebenarnya Aline merasa malu karena Tuan Wijaya hampir saja melihat dirinya dan Galen berciu-man.


Galen menyusul keluar kamar dengan wajah masamnya merasa kesal karena Papanya sudah menganggu waktunya berdua dengan Aline.


"Gal, Aku pamit, jangan lupa istirahat." Aline mengingatkan."


"Hm," jawab Galen malas.


Aline keluar kamar hotel di antar Galen sampai pintu karena pintu kamar mereka bersebelahan. Terlihat wajah cemberut Galen karena kejadian tadi.


"Sudah sana masuk, istirahat," titah Aline saat hendak melewati pintu.


"Hm." Galen hendak membalikkan badannya masuk kembali ke dalam kamar.


"Gal," panggil Aline membuat tubuh Galen yang terlihat lesu membalik ke arahnya.


Dengan gerakan cepat tanpa menunggu Galen membalas panggilannya. Aline mendekat lalu berjinjit, di ciumnya pipi Galen sekilas, tingkahnya itu sontak membuat pria yang terlihat lesu itu membulatkan mata mendongak ke arah Aline seraya memegangi pipinya.


"Selamat istirahat, Jangan lupa janjimu nanti sore!" ucap Aline seraya berlari kecil menjauh darinya lalu melambaikan tangan kepada Galen. Wajah Aline bersemu merah merasa malu telah melakukan hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.


"Sebahagia ini 'kah Aku dalam kenangan yang hilang itu. Jika memang benar, akan Aku ciptakan kebahagiaan selamanya bersamamu. Aline ...," gumum Galen lalu menggelengkan kepala melihat tingkah malu Aline.


*


*


*


Aline menutup pintu kamar hotel dengan perasaan bahagia, pancaran senyum pun tak lepas dari wajahnya.


"Duh, agresif banget gak sih, cium dia duluan?" tanyanya pada diri sendiri.


"Kak Aline, sini!" panggil Kartika membuyarkan lamunan Aline. Lekas Aline mendekati Kartika yang terlihat bahagia seperti seorang anak yang mendapat lotre. Padahal umurnya sudah meranjak dewasa.


"Cie, ada apa ni kayaknya ada yang lagi kasmaran kedua dengan orang yang sama," goda Kartika.


"Gak ada apa-apa kok. Biasa aja!" Aline berusaha menyembunyikan rasa malunya. tapi wajahnya tak bisa membohongi. Semburat wajah yang merona masih saja terlihat di wajahnya.


Oma Ratih memahami yang terjadi kepada Aline. Sedangkan Sandra hanya diam tak berkomentar apapun.

__ADS_1


"Sudahlah, kalian istirahat dulu, nanti sore kita pergi ke Orchard Road. Mumpung Papanya Kartika sedang berbaik hati," sela Oma Ratih membuat Kartika yang mendengar merasa terkejut dengan ucapan Omanya itu.


"Wah yang bener Oma? wah kita shoping bareng dong? asek kapan lagi Aku bisa jalan bareng-bareng gini biasanya tuh selalu sendiri, ngebosenin!" sorak Kartika lalu melirik ke arah Sandra yang terdiam seperti sedang berpikir. "Kamu kenapa, San?" Kartika menyentuh pundak Sandra pelan.


"Maaf! Kartika, Oma, Aline. Sepertinya Aku tidak bisa ikut dengan kalian. Orchard Road 'kan tempat belanja kelas elite, Aku tidak punya uang untuk ke sana. Hidup aja numpang sekarang ini!" keluh Sandra sambil menunduk sedih.


Semenjak permasalahan dengan mantan majikannya. Sekarang ini Sandra sama sekali tidak mempunyai uang beruntung ia bertemu dengan Galen dan Oma Ratih yang mau menampungnya sementara hingga mereka tiba ke tanah air.


"Kita sekarang berteman. Kamu harus ikut, Aku punya kartu blackcard dari Papa, jadi tidak perlu khawatir," Kartika merangkul Sandra dengan semangat.


"Tapi kamu harus bisa mengontrol keinginan mu saat belanja. Jangan semua kamu beli, Kar! beli yang kamu butuhkan dan beberapa cendera mata saja. Jangan terlalu berlebihan!" Oma Ratih mengingatkan.


"Siap, Oma!" Aline, Sandra dan Oma tertawa kecil melihat antusias Kartika.


Putri dari Tuan Wijaya sering berlibur termasuk ke tempat yang akan mereka kunjungi saat ini, tapi itu sendiri. Jadi tak ada keseruan saat berbelanja di sana. Berbeda dengan hari ini. Gadis itu terlihat bersemangat karena bisa bersama-sama berbelanja di pusat perbelanjaan ternama di Negeri Singa tersebut.


"Kar? Maaf! Aku juga tidak bisa ikut bersama kalian!" celetuk Aline.


"Kenapa, Nak?" tanya Oma Ratih.


"Yah ... Kak Aline gak seru nih!"


"Maaf! tapi Aku sudah ada janji dengan Galen."


"Oh, Kalau bersama Kak Galen sih gak masalah, tapi nanti kita janjian ya, di sana," balas Kartika. Gadis itu seperti nya tak mempermasalahkan Aline yang tidak bisa ikut dengannya.


"Ya, itu benar. nanti kita bisa bertemu untuk makan malam diluar. Tapi tolong jaga Galen, harus ada penjaga yang mengikuti kalian. Karna Galen masih belum pulih bwnar."


"Iya, Oma." sahut Aline.


Kartika dan Sandra menghabiskan waktu dengan saling bercertia kisah mereka. Oma dan Aline lebih memilih beristirahat sebentar sebelum beberapa jam lagi pergi ke Orchard Road.


Sandra melirik ke arah Aline yang sedang beristirahat di sofabed.


"Sepertinya Aku harus mengubur dalam-dalam perasaan ini. Ketulusan Cinta Aline tidak sebanding dengan rasa yang ku miliki untuk Galen."


.


.


.


.


.


Like... komen... ya....

__ADS_1


Udah ah itu aja..


Bersambung>>>


__ADS_2