Fake Love

Fake Love
Catatan Kecil Sandra


__ADS_3

Saat Sandra dan Galen pergi ke ruang pertemuan. Aline berencana masuk lagi ke ruangan Galen. Karena tidak akan lama pikirnya.


Aline berbalik badan lagi hendak masuk ke ruangan, sekilas Aline melirik ke arah meja kerja Sandra. Laci meja yang ada di bawah meja sedikit terbuka dengan kunci yang masih menyangkut di sana. Aline berniat untuk menutupnya. Lekas ia memutari meja tersebut, Aline sedikit penasaran dengan isi di dalam laci itu.


Sebuah buku keci, ia lihat ada di dalamnya. Tangan Aline terulur mengambilnya. Ada tulisan Galen pada kertas kecil itu. Aline semakin penasaran di buatnya.


Perlahan Aline duduk di bangku putar yang biasa Sandra pakai untuk bekerja.


Aline begitu terkejut membaca setiap tulisan yang ada dalam catatan itu.


Itu sebuah ungkapan perasaan seorang wanita. Dan Aline sangat tahu kepada siapa maksud dan tujuan catatan itu.


Kebaikan hatiku membuat perasaan ini tak bisa berpaling. Salahkah jika aku terus memendam perasaan ini kepadamu, Gal. Meskipun aku tahu tak akan ada tempat untuk orang lain di hatimu selain Aline.


Bersamamu beberapa waktu lalu begitu membuat perasan ini senang. Beginilah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Sakit ternyata, tapi aku tahu dan sadar diri. Siapakah aku untuk dirimu. Aku merasakan iri dengan rasa cinta mu kepada Aline, yang tak pudar walau hilang ingatan pernah kamu alami.


Ijinkan perasaan ini terus ada untuk mu. meski tidak bersama setidaknya aku senang melihatmu bahagia. Perlahan akan ku kubur perasaan ini.


Seperti itulah catatan kecil yang Aline baca. Dari satu lembar itu, Aline bisa menyimpulkan bahwa Sandra memang mempunyai rasa cinta kepada Galen.


Sandara lupa mengunci lagunya karena mendengar Galen berbicara kepadanya dengan anda sedikit meninggi tadi.


AAline tersenyum miris membacanya. Entah kenapa ia memang curiga kepada Sandra. Tapi ia memaklumi, semua wanita yang diperlakukan baik oleh Galen pasti akan bersikap seperti itu.


Aline memahami, kedekatan Sandra dan Galen yang bisa akrab hanya dalam waktu sebentar saja, Di Singapura saat Galen mengalami hilang ingatan keduanya menjadi teman mengobrol. Dan Sandra termasuk wanita yang supel untuk di ajak berteman.


Selama Sandra tidak melewati batas, Aline akan bersikap santai. Tapi jika Sandra sudah melewati batas kewajaran, Aline tidak akan tinggal diam.


"Ternyata apa yang aku pikirkan selama ini benar. Kamu memang mencintai Galen." Aline tersenyum miring. Lalu mendorong laci kemudian ia kunci Aline manaruh kunci laci di dekat tempat pensil yang ada di meja kerja Sandra.


Aline pun bergegas masuk ke dalam ruangan Galen. Menunggu suaminya di sana.


.


.


Satu jam lebih Galen melakukan meeting bersama Tuan Pokcoy. Benar kata Aldo, klien nya yang satu ini sangat susah untuk diajak bekerja sama.Tapi beruntung Galen berhasil menunjukan beberapa proposal dan kinerja perusahaan nya yang membuat Tuan Pokcoy kembali melakukan kerja sama dengan perusahaannya.


Beruntung Sandra juga membantunya. Usulan yang Sandra berikan kepada Tuan Pokcoy makin mempermudah pertemuannya kali ini.

__ADS_1


"Semoga kerjasama ini, membuat keuntungan pada perusahaan kami Tuan Alex," ucap Tuan Pokcoy setelah berjabat tangan dengan Galen.


"Usaha tidak akan menghianati hasil, Tuan! Para pekerja saya selalu bekerja dengan baik, buktinya selama ini perusahaan kami tidak pernah membuat Anda kecewa bukan?" Sindir Galen karena Tuan Pokcoy seperti merendahkannya.


Karena Galen adalah pemimpin perusahaan yang baru. Sebelumnya Ia selalu menghadapi Tuan Wijaya.


Tuan Pokcoy menarik satu sudut bibirnya. "Sepertinya sepak terjang Tuan Alex akan berbeda dengan Tuan Wijaya. Saya tunggu hasil baiknya."


"Jangan menyamakan saya dengan orang tua saya, kami berbeda! Bukankah Anda tinggal merasakan hasilnya, Karena kamilah yang bekerja," balas Galen tegas membuat Tuan Pokcoy tak bisa berkata lagi.


Pertemuan dengan Tuan Pokcoy akhirnya selesai juga. Banyak hal mudah yang diputarbakikkan oleh klien Galen itu. Galen sampai menggelengkan kepala setelah kepergian Tuan Pokcoy dari ruang pertemuan.


"Ternyata benar, kata Papa dan Aldo. Dia sulit dan sering mempersulit pekerjaan kita," ucapnya pada Sandra.


Kini tinggal Sandra dan Galen dalam ruangan itu. Karna aturan Pokcoy sudah meninggalkan ruangan tersebut.


"Kita harus lebih berhati-hati bekerja sama dengan dia, Gal! Salah sedikit saja. kita akan disalahkan olehnya," sahut Sabdra dan meGalen melihat waktu di pergelangan tangannya. Teringat dengan Aline yang menunggu dirinya.


Sesaat Galen memejamkan mata lalu memijat keningnya pelan. Merasa pusing saat hendak berdiri. Sandra yang melihatnya langsung mendekati Galen.


"Kamu tidak pa-pa, Gal? tanya Sandra khawatir melihat kondisi Galen.


"Mau ku antar ke ruanganmu?" tanya Sandra lagi.


Galen mengeleng kepalanya pelan. Menolak penawaran pertolongan dari Sandra.


"Tidak perlu, aku masih kuat!" Galen lekas berdiri dari duduknya. Meski masih terasa sedikit pusing.


Sandra mengikuti langkah Galen dari belakang. Wanita itu masih khawatir melihat dengan atasannya itu.


Ceklek...


Suara pintu terbuka membuat wanita yang berdiri di dekat jendela menoleh ke arah pintu.


Galen datang dengan wajah yang sedikit pucat. Suami dari Aline itu langsung mendudukan tubuhnya di sofa. Aline menyadari itu.


Tak lama Sandra memasuki ruangan dengan beberapa berkas yang ia bawa.


"Permisi, Bu. Ini berkas hasil pertemuan tadi." Sandra memberikannya kepada Aline, karena melihat Galen yang menyandarkan kepalanya di sofa. Ia tahu Galen pasti merasakan pusing lagi seperti tadi. "Tadi Pak Galen juga sempat merasakan pusing saat mau keluar ruangan," ungkap Sandra membuat Aline menatap Sandra.

__ADS_1


"Benarkah?" sahut Aline seraya menerima berkas dari tangan Sandra lalu anggukan pelan pun Sandra berikan.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Aline sambil menghampiri Galen, menaruh berkas di atas meja. Aline duduk di samping Galen.Ia sangat khawatir mendengar penuturan Sandra.


"Hanya pusing saja! Mungkin kurang tidur!" pikir Galen, karena beberapa hari ini memang pekerjaan nya begitu banyak sampai beberapa pekerjaan harus di bawa pulang. Dan Aline membenarkan itu.


"Kita ke rumah sakit sekarang, Mas!" ajak Aline.


"Aku cuman butuh istirahat saja, Sayang! Bukankah memang kita akan ke rumah sakit buat periksa kamu?"


Aline menggeleng pelan. "Tidak, lain kali saja. Itu tidak penting, Mas lebih penting sekarang ini! Mas harus di periksa!" Aline kembali mengajak Galen.


"Kita pulang aja, ya? Mas hanya ingin istirahat!" pintanya.


Alin mengembuskan napas berat. "Baiklah... Sand, tolong bereskan berkasnya ya, Saya mau pulang dulu. Mas Galen sepertinya harus benar-benar istirahat," ucap Aline pada Sandra.


"Iya...," jawab Sandra singkat.


Tanpa banyak berasa basi lagi, Alin segera mengakak Galen untuk pulang.


"Mas... Kuat tidak jalan kaki sampai parkiran? atau mau telepon supir dulu?"


"Aku masih kuat, Sayang!" Galen mencubit pelan hidung Aline, tapi tidak membuat Aline merasa lega.


"Ok, tapi aku yang bawa mobilnya. Biar nanti dokter langgan yang periksa Mas di rumah?"


"Baiklah... Bagaimana baiknya saja!" sahut Galen masih memijat keningnya pelan.


Aline dan Galen akhirnya memutuskan akan pulang ke rumah, tidak jadi pergi ke rumah sakit untuk konsultasi program kehamilan sesuai keinginan Aline.


"Berkasnya belum di tanda tangani, Gal." Sandra mendekati Galen sambil menyodorkan berkas hasil pertemuannya dengan Tuan Pokcoy


"Biar di bawa saja pulang saja, nanti ditandatangani tangani di rumah! Dan ini masih lingkungan kantor, rasanya tidak pantas kamu memanggil bosmu dengan sebutan nama. Aku tidak mempermasalahkan kedekatan pertemanan kalian. Tapi kamu harus tahu waktu dan tempatnya." ucap Aline tegas, ada perasaan kecewa kepada Sandra setelah melihat catatan kecil milik wanita itu.


.


.


.

__ADS_1


Baca terus kelanjutan ceritanya ya....


__ADS_2