
"Oma ..., Aku pamit pulang dulu!" ucap Aline Kepada Oma Ratih lalu melangkah ke arah Galen.
Oma Ratih heran melihat Aline tergesa pamit kepadanya.
Aline berjalan mendekati Galen, lalu berbisik padanya. "Gal... Ayahku lagi menuju ke sini buat jemput Aku! gimana nih? Aku pulang duluan saja, ya?"
Galen menautkan alisnya saat mendengar Aline berucap pelan. "Aku akan bertemu dengan ayahmu. Biarkan Aku bicara padanya. Kamu tak perlu khawatir," ucap Galen. Ia berusaha menenangkan Aline.
Oma Ratih melihat tingkah cemas Aline dan mendengar percakapan mereka.
"Kenapa? sepertinya kamu terlihat cemas sekali! apa yang terjadi, Do?" Oma Ratih bertanya kepada Aline lalu beralih kepada Aldo, menanyakan berita yang dikabarkan oleh Aldo.
"Ayah melarang Aline bertemu dengan Galen, Oma! itu semenjak Ayah mengantar Aline menjenguk Galen saat dia dari koma tempo hari. Setelah pulang dari rumah sakit, ayah benar-benar melarang Aline bertemu dengan Galen lagi!" keluh Aline.
Aline bercerita singkat perihal larangan dari ayahnya. Aline merasa tak ada alasan kuat yang di berikan Ayah Zaki padanya.
Oma Ratih termenung sesaat mendengar penuturan Aline. "Apa Wijaya mengancam ayahnya Aline, ya? sampai ayahnya Aline melarang gadis ini ke sini! atau ada alasan lain?" batin Oma Ratih, lalu beliau memandang Galen. "Apa kamu ada masalah sebelumnya dengan ayahnya Aline, Gal?" selidik Oma. Nenek itu sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
Galen terlihat berpikir. Ia mengingat perjalanan kisahnya bersama Aline. Seingatnya, Ia tidak pernah melakukan hal yang membuat Ayah Zaki membencinya.
"Gal...!" panggil Oma yang kedua kalinya.
"Tidak ada, Oma. Aku selalu bersikap baik sama Ayah Zaki, " ujar Galen.
"Zaki! nama ayahmu Zaki Rahmadi?" Oma Rarih beralih memandang Aline.
"Benar Oma! Oma kenal ayahku?"
"Entahlah, kalau bertemu sih, Oma bisa lihat Zaki ayahmu apakah orang yang Oma kenal atau bukan?" cetus Oma Ratih.
Aldo pemberi kabar hanya mendengarkan percakapan ketiga orang yang tengah berpikir menerka-nerka masalah yang tengah di hadapi Aline.
"Apapun alasan ayahmu, Aku akan menghadapinya. Kalaupun Aku memang bersalah tanpa kesadaranku, Aku akan meminta maaf dan memperbaiki semuanya. Aku ingin memperkuat hubungan kita." Galen berucap tegas seraya meraih tangan Aline agar menghadapi Ayah Zaki bersamanya.
__ADS_1
Pria itu berani menghadapi apapun yang terjadi, meskipun ia tak tahu penyebab Ayah Zaki melarang keras Aline bertemu dengannya yang ia tahu selama ini sikap Ayah Zaki saat bertemu Galen baik dan biasa saja.
Oma Ratih tersenyum bangga mendengar keberanian cucunya.
"Itu, baru pria bertanggung jawab. Oma setuju sekali dengan ucapan mu. Sekarang ayo kita pulang. Apalagi yang kita tunggu di sini? apa kamu mau di rawat lagi?" Oma Ratih menepuk pelan berjalan mendahului Galen dan Aline. diikuti Aldo di belakangnya.
Asisten Galen itu terlihat membawa satu tas milik Oma Ratih di tangan kanannya. dan satu tas yang berisi berkas yang tadi Galen tanda tangani. Sedangkan pakaian ganti dan keperluan lain yang digunakan selama di rumah sakit, akan ada anak buah Tuan Wijaya yang membawanya.
Langkah Oma Ratih terhenti tepat di depan pintu ruangan. Beliau memberi jalan terlebih dulu untuk Aldo agar bisa melewatinya. Saat menyadari Galen dan Aline masih berdiri berhadapan dengan tangan saling menggenggam di dalam ruangan. Oma Ratih memanggil Aline agar keluar bersamanya.
"Kalian cepat keluar! apa masih mau berlama-lama di sini? Ayo, Nak! bareng sama Oma aja. Kelamaan di dalam nanti ada serangga hitam lagi yang gigit bibir mu," sindir Oma Ratih kepada mereka berdua.
Aline mengangguk pelan lalu tersenyum memandang Galen. Lekas ia memberi kode kepada kekasihnya agar mengikuti Oma Ratih.
Galen yang merasa tersindir akan ucapan Oma menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Aku bukan serangga Oma!" sahut Galen seraya mengikuti langkah mereka.
"Dengarkan! sekarang Oma tau, serangga apa yang membuat bibirmu bentol begitu," ucap Oma Ratih pelan kepada Aline.
Baru dua langkah mereka berjalan. Terdengar suara keluhan dari arah belakang.
"Aww... "
Aline terkejut saat dirinya menoleh ke arah Galen. Ia melihat pria itu memegangi kepala bagian belakangnya seraya mengeluh.
Lekas Aline menghampiri Galen lalu merangkul tubuhnya. Wajahnya terlihat khawatir dan cemas. Beda halnya dengan Oma Ratih. Beliau hapal betul cucunya itu sedang mencuri perhatian Aline.
Oma Ratih melipat tangan di depan dada melihat tingkah Galen. Ia hapal betul sikapnya itu. Tapi Oma Ratih membiarkan saja cucunya itu berbuat semaunya.
Galen mengedipkan sebelah matanya lalu tersenyum simpul ke arah Oma. Kali ini ia berhasil merebut Aline dari neneknya yang sedari tadi menganggu kebersamaannya itu.
"Ck... pintar sekali bocah itu bersandiwara." Oma Ratih pun mendekati Aline yang memapah Galen agar duduk di kursi roda yang ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Apa perlu perawatan lagi, Gal? kalau masih sakit lebih baik di sini dulu!" Aline dengan cekatan memberikan perhatian kepada Galen. lalu memeriksa bagian belakang kepala pria yang sedang berpura-pura sakit itu.
"Ngga perlu, Aku di rawat di rumah saja, asal kamu nemenin Aku, ya?" ucap Galen dengan mimik manja dan memohon kepada Aline.
"Sudah selesai bucinnya? main tetap di sini atau pulang?" tegur Oma Ratih.
"Pulang Oma," sahut Galen.
Aline akhirnya mendorong Galen yang duduk di kursi roda yang terus mengembangkan senyum nya.
"Jangan lupa kabari Papa mu kalau kita sudah meninggalkan ruangan. Tadi Aldo bilang dia sudah ada di sini bersama si Sundel itu!" titah Oma Ratih.
"Iya, Oma!".
Sepanjang lorong menuju lift mereka berbicara sambil sesekali tertawa menanggapi sikap bucin Galen.
Aline tidak menyadari ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka, Ayah Zaki tak berani muncul di hadapan Oma Ratih. Dia dan Pak Mulyo masih memperhatikan mereka dari kejauhan.
Ayah Zaki merasa tidak tega menghancurkan kebahagiaan putrinya. sebenarnya ingin sekali ia menghampiri Oma Ratih untuk bertegur sapa kepadanya.
Tapi rasanya masih belum mampu untuknya. Akhirnya ia biarkan saja Aline menemani Galen dan Oma Ratih dulu.
Semenjak kepergiannya dulu, Ayah Zaki tidak pernah lagi bertemu Oma Ratih. Ia tak pernah muncul terakhir kali bertemu di rumah sakit saat ia di pojokkan dan dihina oleh Anggara Wijaya sahabatnya itu.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Bantu like dan komennya dong.. biar Author semangat buat up.
Rasanya sepi kali ya... tunjukkan kalau kalian hadir di sini.