Fake Love

Fake Love
Melepas Rindu


__ADS_3

Aline tertawa geli melihat penampakan yang menonjol itu, ia membungkam mulutnya sendiri menahan tawa agar tidak membangunkan si pemilik Benjhon. Kalau si pemilik itu bangun bisa jadi akan bergadang mereka, kembali mempertemukan Benjhon dan Vivi yang tak bisa di pisahkan jika sudah bertemu.


Tok ... tok ...tok ...


Terdengar suara ketukan pada pintu kamarnya. Aline tahu siapa orang yang mengetuk pelan pintu kamarnya.


Aline berjalan pelan mendekati pintu.


Ceklek


Aline melihat Mbok Y berdiri dengan membawa nampan berisi dua gelas cangkir yang masih mengepul.


"Permisi, Non! Maaf Mbok tidak tahu kalau Tuan Muda Alex pulang malam ini! Ini ada minuman hangat untuk menghangatkan badan sebelum tidur," ucap Mbok Yem sopan. Wanita paruh baya yang masih terlihat segar itu sangat tahu kebiasaan Galen.


Galen akan meminta di bawakan minuman hangat setelah pulang bekerja larut malam. Menurutnya akan menghangatkan badan juga sebelum tidur.


"Terima kasih, Mbok Yem! Maaf kami merepotkan. Padahal saya sudah bilang jangan membangunkan siapapun, setibanya kami di sini. Karena sudah malam juga." Aline merasa tidak enak hati pada Mbok Yem.


"Itu sudah tugas Mbok, Jadi jangan merasa sungkan, Non Aline." Mbok Yem menyerahkan nampan berisi teh hangat jahe kepada Aline lekas Aline menerimanya .


Aline berbalik masuk ke kamar tapi membiarkan pintu terbuka setengahnya, membuat Mbok Yem menunggu.


Setelah meletakkan nampan berisi dua cangkir di atas nakas. Aline kembali mendekati Mbok Yem.


"Mbok, terima kasih ya. Sudah membawakan teh hangat untuk saya dan Mas Galen. Sekarang sudah malam, Mbok Yem sebaiknya istirahat." Aline menyentuh pundak wanita tua itu, mengelusnya pelan dengan penuh kasih sayang.


"Apa Nona tidak ingin di buatkan makan?" tanya Mbok Yem.


Wanita tua itu sangat perhatian kepada majikannya termasuk kepada Tuan Wijaya dan Kartika. Padahal ada beberapa asisten yang bekerja di sana. Tapi ia lebih senang turun tangan sendiri untuk tuannya.


Aline menggeleng kepala pelan. "Tidak, Mbok! Saya masih kenyang. Mas Galen juga sudah tidur." Aline melirik ke arah Galen yang tertidur di atas tempat tidurnya. Selimut putih sudah menutupi tubuhnya memberikan kehangatan untuk tubuh kekarnya.


Mbok Yem mengikuti arah tatapan Aline, ia sedikit mengkhawatirkan Tuan Muda.


Tatapannya kembali kepada wanita tua yang langsung menunduk di hadapan Aline.


Aline tersenyum hangat kepadanya.


"Sebaiknya, Mbok istirahat. Tidak perlu khawatir ada saya sebagai istrinya kalau Mas Galen perlu sesuatu. Mbok lupa dia sudah beristri sekarang? Saya akan melayani semua kebutuhan dan keperluan Mas Galen, Mbok!" ucap Aline hangat dan lembut.

__ADS_1


Aline tahu kekhawatiran Mbok Yem. Tak bisa dipungkiri selama ini wanita tua inilah yang banyak membantu keperluan Galen sslama suaminya tinggal di kediaman Wijaya. Mbok Yem seakan hapal dengan semua kebutuhan anak-anak Papa Wijaya dan juga Tuan besarnya itu.


"Mbok senang, Tuan Muda Alex mendapat istri yang baik seperti Anda, Nona!" Mbok Yem menatap Aline dengan penuh haru.


"Saya yang bersyukur bisa mendapat suami sepertinya, Mbok!"


"Ya sudah, kalau begitu Mbok, permisi, Non! Kalau ada sesuatu bisa panggil Mbok di belakang sana!" ucap Mbok Yem sambil menunjuk arah belakang dengan ibu jarinya.


"Iya, Mbok. Sekali lagi terima kasih."


Aline menutup pintu setelah Mbok Yem kembali ke lantai bawah. Aline merasa tidak tega kepada wanita tua itu. Saat ingin membantunya ketika menuruni tangga, beliau menolak. Beliau berkata, masih kuat.


Aline tetap tak melepaskan pandangannya sebelum Mbok Yem sampai di lantai dasar.


Memang benar melihat kondisi Mbok Yem memang terlihat masih segar, tapi tetap saja Aline merasa kasihan. Seharusnya seumurannya sudah berkumpul dengan keluarganya.


Setelah Mbok Yem tak terlihat, Aline kembali masuk ke kamarnya. ia berjalan mendekati tempat tidur. Membaringkan tubuh di sisi suaminya. Tangan Aline menyelinap memeluk tubuh kekar Galen. tidur.


Galen yang merasa di peluk lekas membalas pelukan Aline. Sambil membuka mata berat, dengan samar menatap Aline.


"Tidur di sini, Sayang!" Galen merentangkan tangan. menunjuk tangan kekarnya agar kepala Aline tidur berbantalkan lengannya.


Tanpa banyak protes Aline langsung menuruti perintah suaminya itu.


Malam ini tanpa ada pertempuran panas. Hanya ada pelukan hangat yang membawa mereka ke alam mimpi yang indah.


.


.


Suara burung peliharaan Tuan Wijaya berkicau nyaring membuat suasana pagi di kediamannya terdengar ramai oleh suaranya.


Galen terusik dari tidurnya saat matahari menelusuk masuk ke dalam kamar melalui celah jendela yang sengaja Aline buka sebelum dirinya turun ke ruangan bawah.


"Arghh... Galen merentangkan kedua tangannya dengan posisi duduk. Seakan membebaskan tubuh dari rasa pegal akibat terlalu lama tidur.


Mendapati tidak ada keberadaan Aline di sisinya, Galen lekas bangun. Sambil mengucek matanya yang masih berat untuk melihat.


"Sayang...!" panggil Galen kepada Aline. tidak ada jawaban yang ia dapat.

__ADS_1


Galen menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh kekarnya.


Baju yang semalam Aline pakaikan susah payah ke tubuhnya di lepas begitu saja. Karena kebiasaan Galen yang suka tidur tanpa mengenakan baju. Kadang hanya memakai kaos oblong tanpa lengan.


Dengan wajah bangun tidurnya Galen mencari Aline hingga ke lantai bawah.


Galen terus berjalan melewati beberapa ruangan. Beberapa asisten rumah tangga yang bekerja membersihkan rumah besar itu menatap takjub dengan pemandangan berjalan. Mereka hanya bisa menunduk hormat tanpa berani menatap lama pada Tuan Muda Alex.


Suara canda dan obrolan terdengar dari arah dapur. Galen segera melangkahkan kakinya ke ruangan itu.


Aline dan Oma Ratih beserta Kartika saling melepas rindu setelah beberapa hari tidak bertemu. Mereka sedang duduk di meja makan menikmati teh hangat dan di temani kue enak untuk melengkapi sarapan pagi mereka.


Aline sangat bersemangat menceritakan kegiatan saat liburannya beberapa hari kemarin.


"Lain kali kita datang ke sana lagi bersama Oma. Suasananya sangat sejuk, loh Oma. Pasti dengan udara yang sejuk dan suasana yang tenang, Oma akan merasa betah." ucap Aline sungguh-sungguh.


"Oma lebih betah berada bersama kalian di sisi Oma!" elak wanita paruh baya itu.


"Ternyata kamu di sini, Sayang!" Galen mencium pipi Aline dari belakang, membuat istrinya sedikit terkejut di buatnya.


"Mas, apaan sih? Malu di lihat Oma." Aline tersenyum kikuk kepada Kartika dan Oma Ratih.


Galen sebagai tertuduh sama sekali tidak merasa malu. Pria itu malah duduk di sebelah Aline dengan tampang yang biasa saja. Oma Ratih dan Kartika hanya menggelengkan kepala dengan sikap cuek Galen. Memang sudah biasa pria itu bersikap cuek. berbeda dengan Bara. Kakak tiri dari Galen sangat terlihat dewasa dan tegas.


"Bik, susu murni hangatnya satu ya," ucapnya pada asisten rumah tangga lain yang sedang berada di dapur. Karena Mbok Yem yang biasa melayaninya terlihat sedang memotong kue untuk di suguhkan di atas meja.


"Susu?" celetuk Kartika heran, jarang sekali Galen meminta susu. Biasanya ia minta di buatkan kopi atau teh hangat. "Biasanya kopi. Sepertinya Kak Galen ketagihan sama yang namanya susu," canda Kartika membuat Aline tersedak. "Kak Aline hati-hati minum teh nya.


Adiknya itu mulai terbiasa berbicara santai dan bercanda kepada Galen. Jadi, menambah keakraban diantara mereka. Hanya Bara, pria yang sulit untuk diajak bersama dan bercengkrama.


"Kalau yang itu beda lagi susunya. Itu asupan pertumbuhan agar aku tumbuh tinggi dan kuat." ocehnya membuat Galen tersenyum nakal. "Itu juga membuat aku candu pengennya mimi lagi, mimi lagi.


"Mas ...." Aline melotot ke arah Galen. Tatapan tajam ia berikan karena ucapannya yang tidak bisa di filter di hadapan orang tua.


Aline merasakan malu, sangat malu.


.


.

__ADS_1


.


Baca terus kelanjutan ceritanya ya.


__ADS_2