Fake Love

Fake Love
Sah


__ADS_3

Pria yang bisa dipercaya adalah pria yang bisa memegang teguh ucapannya. Ketika seorang pria sudah berucap dan berjanji. Sudah dipastikan pria tersebut adalah seseorang yang mampu bertanggung jawab.


Sama hal nya dengan Bara. Seperti apa yang ia janjikan kepada Sandra. Pria itu akan menikahi Sandra.


Hari ini, Dokter yang menangani Sandra sudah mengizinkan wanita itu untuk pulang karena kondisi yang semakin membaik.


Sandra mengikuti apa yang pernah diucapkan Bu Mirna kepadanya kemarin. Berpamitan kepada tetangga dan mengambil beberapa barang penting milik Sandra.


Haru dan sedih di rasakan Bu Mirna dan Pak Budi sebab selama ini Sandra sudah ia anggap seperti anak sendiri.


Tidak terlihat kehadiran Rara di sana. Sepertinya ia sedang melancarkan aksinya untuk memikat hati Tuan Braja.


Lambaikan tangan dari Sandra kepada dua orang yang berdiri melepas kepergian begitu memilukan. Untaian doa dan harapan dari Pa Budi kepada Sandra ia ucapkan. Pak Budi sangat hapal begitu beratnya perjuangan Sandra sampai di detik Bu Sarah menghembuskan napas yang terakhir kalinya.


“Mudah-mudahan kebahagiaan selalu menemani anak itu, dia patut bahagia setelah banyak pengorbanan dan sedih yang ia rasakan,” ucap Pak Budi.


“Amin!” jawab Bu Mirna.


Kedua orang itu kemudian masuk ke dalam rumah kontrakan Sandra.


Mereka hendak mengangkut barang-barang yang ditinggal pemiliknya itu. Sandra hanya membawa berkas-berkas penting miliknya itu sesuai dengan perintah Bara. Untuk pakaian pun Bara menyuruh untuk meninggalkannya.


Calon suaminya itu akan menyediakan semua keperluan Sandra mulai saat ini.


***


Dua hari sudah Sandra tinggal di kediaman Bara. Bara sendiri memilih tinggal di apartemen, pria itu memilih tidak tinggal bersama sebelum mereka sah menjadi suami istri. Itu pun atas nasehat dari Ayah Wira, ayah kandung dari Bara.


Hari ini, Sandra diajak bertemu dengan ayah kandung Bara. Ia bahkan tidak menyangka dengan kehidupan calon mertuanya itu. Hidup sederhana jauh dari kata mewah. Padahal putranya adalah pemilik perusahaan terkenal yang sedang beranjak naik saat ini.


Ayah Wira banyak memberi nasehat kepada Bara dan Sandra saat mereka berkunjung ke sana belum lama ini. Nasehat yang begitu menenangkan hati.


‘Terima apapun yang diberikan suamimu, baik itu besar atau kecil. Hargailah suami dan temanilah dia saat sedang berjaya ataupun redup'


Nasehat itu yang Sandra terima.


Kesederhanaan keluarga itu membuat Sandra teringat dengan kehidupannya dulu. Sepintas bayangan ayahnya muncul begitu saja membuat Sandra sedikit melamun saat Bara hendak pamit pulang kepada Ayah Wira.


“Kamu melamun?” Bara menegaskan dengan mengibaskan jemarinya di hadapan wajah Sandra.


“Ah... tidak!” jawab Sandra tergagap karena terkejut.


“Kita pulang!” ajak Bara.


Sandra pun mengangguk setuju.


Sebelum hari pernikahannya Bara berusaha mencari keberadaan ayah dari Sandra. Sebab jika masih hidup, beliau harus diminta untuk menjadi wali nikah putrinya tapi jika sudah tiada bisa diwakilkan oleh wali hakim.


Sebelum akhirnya harus hakim sendiri yang memperbolehkan ijab berlangsung.


Sandra dan Bara pamit kepada keluarga Ayah Wira.


Istri dan Kedua adik Wira yang sudah remaja sangat terlihat baik dan penurut ikut mengantarkan kepulangan Bara.

__ADS_1


Ayah Wira tidak lagi bekerja sebagai montir di bengkel. Berkat bantuan yang Bara berikan, itu pun harus secara paksa ketika memberikannya. Ayah Wira mendirikan bengkel mobil dari hasil bantuan yang Bara berikan kepadanya.


Anak dari hasil pernikahannya dengan Mariska itu memaksa ayah Wira agar melihat anak-anaknya yang lain mereka butuh biaya tidak mungkin harus tetap bekerja sebagai butuh montir sedangkan ia berbakat mengelola sebuah bengkel yang bersih dan rapi dalam pengerjaan servisnya.


Tak terasa, mereka telah sampai di kediaman Bara. Pria itu hanya mampir sebentar mengantarkan Sandra sampai ke dalam rumah.


“Aku pergi dulu!” pamit Bara seraya mencium kening Sandra.


“Kamu tidak mau tidur di rumah mu sendiri?”


“Mau banget, tapi nanti ya setelah kita sah jadi suami istri,” sanggah Bara. “Kita mulai dari kebaikan untuk rumah tangga kita, kehadiran bayi ini menjadi anugerah untukku. Aku ingin memulai semua dari awal. Meskipun aku tahu hadirnya dia adalah awal kesalahan kita.” Bara sedikit berjongkok kemudian mencium perut Sandra yang masih rata.


Sandra tersenyum. Lagi-lagi sikap hangat Bara mampu memberikan ketenangan dalam hatinya.


Bara lekas berdiri. “Aku pamit, mau ke tempat mama dulu!”


“Mama Mariska?” tanya Sandra ragu. “Em... Mas!”


“Hm...,“ jawab Bara sambil menyingkirkan surai yang menutupi mata indah Sandra.


“Kalau mama tidak merestui pernikahan ini, gimana?” tanya Sandra dengan nada khawatir. Ia ingat betul dengan ketidaksukaan Mama Mariska kepadanya.


“Merestui atau tidak, tetap aku akan menikahimu!” sahut Bara melihat wajah kecemasan pada Sandra.


“Tapi dia wanita yang melahirkan kamu, Mas! Lebih baik bujuk dulu. Restu kedua orang tua akan lebih membuat pernikahan kita bahagia nantinya.”


“Iya, Sayang!” Akhirnya Bara mengalah mengiyakan ucapan Sandra.


Bara pun pamit kemudian mencium kening Sandra lebih dulu, kemudian sedikit membungkuk lalu mencium perut wanita itu. “sehat-sehat, dalam perut bunda, Ya!” ucapnya pelan tapi masih bisa terdengar oleh Sandra.


“Mama tidak setuju kamu menikah dengan wanita itu. Dia tidak jelas asal usulnya, Bara.” Sarkas nyonya Mariska.


“Setuju ataupun tidak aku akan tetap menikahinya. Aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat padanya.”


“Kamu jangan percaya, bisa jadi itu adalah anak orang lain dan hanya kamu yang kaya, jadi dia meminta kamu untuk bertanggung jawab.”


“Mah... Bara mohon, kali ini Bara tidak ingin tengkar dan berdebat. Jika memang tidak suka Bara tidak keberatan. Tapi jangan harap Bara akan memberikan biaya bulanan untuk mama,”ucap Bara degan sedikit ancaman.


“Ok... Ok... Mama turuti apa mau kamu.” Akhirnya nyonya Mariska mau mengalah dan merestui pernikahan itu.


Semua restu sudah di dapat. Bara menghubungi Joni yang mengurus segala sesuatunya dengan cepat. Bara pun pergi dari apartemen milik ibunya itu.


Benar kata orang kebanyakan ada uang, kerjaan cepat. Tak ada uang semua santai. Seperti hal nya saat ini semua persiapan pernikahan sudah selesai dalam waktu hanya beberapa hari saja.


Sebuah ruangan yang dihias begitu indah dengan berbagai hiasan bunga. Privat room adalah ruangan yang akan Bara gunakan sebagai tempat pernikahan mereka. Tak banyak yang Bara undang untuk menyaksikan pernikahannya itu. Hanya beberapa orang yang Bara kenal yang bisa menyaksikan hari bahagia Mereka.


Acara yang di tunggu telah tiba. Pernikahan Sandra dan Bara akhirnya terjadi juga. Rasa bahagia begitu terasa oleh keluarga Wijaya. Sebab Putra pertama keluarga Wijaya akan segera mengucapkan ijab kabul.


Nyonya Mariska berusaha mendekati mantan suaminya. Ia berpura-pura bersikap manis dan mencoba mendekati Tuan Wijaya. Tentu saja Kartika dijadikan alat untuk memperlancar aksinya.


Melihat kehadiran Bu Mirna dan Pak Budi membuat rasa bahagia yang Sandra rasakan makin bertambah. Ia tidak merasa sendiri di sana.


Keduanya enggan untuk mendekati Sandra terlebih dulu. Mungkin setelah ijab kabul baru Pak Budi akan menghampiri Sandra.

__ADS_1


Ayah Wira istri dan anak-anaknya juga ikut datang ke gedung itu, memberikan restu kepada putra pertamanya.


“Kamu mengundang mereka datang ke sini?” bisik Nyonya Mariska merasa kesal melihat kehadiran mantan suaminya datang bersama keluarganya.


Perasaan senang karena berbicara dengan mantan suaminya atas bantuan Kartika hilang begitu saja melihat mantan suami pertamanya datang. Apalagi membawa keluarga. Seakan tersindir sebab ia masih sendiri, buat status. Tidak dengan kehidupannya karena hubungannya dengan Seno masih tetap berlanjut tanpa sepengetahuan Bara.


“Mereka orang tuaku juga Mah!” balas Bara dengan suara pelan.


“Tapi mereka---,” Nyonya Mariska menghentikan ucapannya saat pak penghulu mulai berbicara.


Ucapan pak penghulu membuat debat antara ibu dan anak itu berakhir.


Sandra di keluarkan untuk ikut dalam melaksanakan ijab kabul.


Tak berselang lama pernikahan dimulai. Semua undangan dan kedua mempelai sudah duduk berdampingan. Semuanya tampak begitu tegang saat Bara mengucapkan ijab kabul sambil memegangi tangan wali hakim


Sandra gagal menemukan ayahnya di waktu yang singkat. Padahal ia berharap di saat seperti ini sekali saja ayahnya bisa menjadi wali nikah untuknya. Harapan hanya sekedar harapan. Keinginannya masih belum terkabul. Tapi Sandra menerimanya. Sudah terbiasa bagi Sandra tidak pernah diperhatikan.


“Sah?” tanya penghulu kepada kedua saksi. Setelah ijab kabul yang diucapkan terjawab lancar oleh baranm


“Sah.....” semua tampak kompak menjawabnya.


“Alhamdulilah irobilalamin.”


Setelah sah, penghulu kemudian membacakan doa untuk kedua mempelai. Setelah itu Sandra dan Bara berjalan sebentar meminta restu kepada keluarga.


Oma Ratih berjalan pelan menggunakan tongkat menghampiri Bara.


“Oma tidak menyangka kalau kamu akan menikah dengannya. Selamat, Sayang. Semoga pernikahan kalian selalu berlimpah kebahagiaan.” Oma Ratih lekas memeluk Sandra.


“Terima kasih, Oma! Terima kasih atas doa doa yang Oma panjatkan untukku. Keduanya melemparkan senyum bahagia.


Semua orang bergantian memberikan selamat. Termasuk Galen. Adik tiri nya itu memberi selamat dan memeluk Bara.


“Selamat atas pernikahan kalian,” ucap Galen kemudian memeluk tubuh Bara menepuk pelan pindah kakaknya itu.


“Terima kasih, Gal”


Ucapan terus berlanjut dengan yang lain. Melihat acara pernikahan ini. Galen teringat dengan kehidupan rumah tangganya. Dulu pernikahan dirinya dan Aline sama sekali tidak ada pesta meskipun sekarang semua orang sudah mengetahui siapa istri dari CEO Aksara grup.


Galen berencana untuk memberikan kejutan pesta untuk Aline. Anggap saja itu adalah pesta yang tertunda. Senyum mengembang di wajah tampan Galen. Rencananya harus disusun dari sekarang.


Acara pernikahan kali ini berlangsung privat. Sesuai keinginan Sandra. Ia juga tidak ingin diadakan terlalu mewah dan meriah. Cukup mengundang rekan bisnis dan orang terdekat saja.


Bara mengikuti kemauannya. Semua yang Sandra inginkan, Bara selalu berusaha memenuhinya. Sandra berasa seperti ratu. Ratu teristimewa untuk Bara.


.


.


.


...Bersambung

__ADS_1


...


__ADS_2