
Di luar kamar Aline, Ayah Zaki mendengar semua percakapan putrinya dengan Galen. Dia merasa bersalah, melihat Aline harus menjadi keegoisan darinya tapi kejadian masa lalu membuatnya takut akan menimpa Aline. Apalagi Ia melihat sendiri seberapa kesalnya Wijaya kepada Aline beberapa waktu lalu.
"Maafkan Ayah, Nak! masalah Ayah memang sudah lama berlalu, semua sudah Ayah ikhlaskan dan maafkan. Tapi melihat putri Ayah di perlakukan buruk rasa sakit hati itu muncul kembali, meski itu hanya salah paham," gumam Ayah Zaki. Tubuh lelaki tua iti bersandar dan bersembunyi di balik dinding kamar Aline.
Ayah Zaki merasa senang mengetahui Galen adalah putra dari Indira Pratiwi. Wanita yang ia manjakan saat masa kehamilannya dulu, karena hanya Ayah Zaki yang bisa dimintai pertolongan waktu itu. Seakan dia menjadi suami pengganti untuk Indira. Dirinya benar-benar tulus membantu istri dari sahabatnya saat itu, tak ada sedikit pun niat untuk merebut Indira dari sisi Wijaya.
Dari sanalah kedekatannya dengan Oma Ratih terjalin. Orang tua satu-satunya Nyonya Indira itu pun sudah menganggap Zaki sebagai anak lelakinya. Meski dari latar belakang keluarga tidak mampu dan berkat bantuan dari Tuan Wijaya, Ayah Zaki bisa berpendidikan tinggi.
...๐๐๐...
Sehari setelah kepergian Galen ke luar negeri untuk menjalani operasi. Aline menjalani hari barunya. Rutinitas santai tanpa banyak kegiatan dan pekerjaan. Tinggal beberapa pertunjukan show dan beberapa kontrak kerja yang masih berjalan. Sisa pekerjaan yang di pilih Risa untuk Aline, sesuai perintah Ayah Zaki. Pekerjaan yang hanya memerlukan waktu sebentar dan tidak terikat kerja setiap hari.
Siang ini, Di Kedai kopi yang letaknya tak jauh dari Kedai Soto Ayah Zaki itu, Aline bertemu dengan Aldo. Asisten Galen itu menghubunginya karena ada sesuatu yang harus ia berikan.
"Maaf Saya terlambat." Aline sampai dengan tergesa kemudian sedikit membungkuk ketika berhadapan dengan Aldo.
Aldo melihat kedatangan Aline lekas berdiri. "Tidak apa, Nona! Saya juga belum lama datang ko!" balas Aldo seraya membungkuk sopan. " Silakan duduk, Nona!"
Aline dan Aldo duduk bersama di satu meja yang sudah di pesan sebelumnya.
"Ada apa? apa ada kabar tentang Galen, Al. Kapan dia di operasi?" Aline langsung bertanya kepada Aldo.
"Besok pagi Tuan Muda di jadwalkan untuk operasi, Anda bisa menghubungi Oma Ratih untuk kabar selanjutnya. Saya hanya mau memberikan titipan dari Tuan Muda Alex untuk Anda." Aldo mengeluarkan kotak merah lalu menyerahkannya kehadapan Aline.
Aline terpaku melihat benda yang disodorkan kepadanya.
"Apa ini?" tanya Aline seraya meraih benda itu lalu menatap kotak tersebut dengan heran.
"Sepengetahuan Saya itu adalah benda yang paling di jaga oleh Tuan Muda, karena itu adalah peninggalan dari Almarhumah Nyonya Indira, mama dari Tuan Muda Alex.
Aline meneliti kotak merah tersebut.
"Kenapa kamu memberikan benda berharga ini kepadaku, Gal?" batin Aline seraya menggenggam eret kotak merah tersebut.
"Kalau begitu saya permisi, Nona. Mohon Maaf saya tidak bisa berlama-lama." Aldo lekas berdiri lalu membungkuk sopan sebagai tanda hormat kepada Aline.
Aline membalas dengan senyum dan anggukkan.
Kini, tinggal Aline sendiri di restoran itu. Aldo memang paling pintar memilih tempat duduk di ujung ruangan yang berlapis kaca itu menghadap ke arah jalanan. Memperlihatkan kendaraan yang berlalu lalang di jalan. Sehingga keberadaan Aline di sana tak terganggu pengunjung lainnya.
__ADS_1
Aline penasaran dengan isi kotak merah yang ia terima. Perlahan ia buka kotak tersebut. Satu buah kalung berlian berliontin love berada di dalamnya.
"Bagus sekali, kalungnya!" gumam Aline seraya meraih kalung itu. Liontin love yang bisa di buka itu membuat dirinya penasaran ingin membukanya.
klek
Liontin itu terbelah menjadi dua, menampilkan dua foto berukuran kecil di setiap bagiannya.
Satu bagian kiri menampilkan foto wanita cantik matanya sangat mirip dengan Galen.
Satu sisi lainnya, wajah yang Aline kenal. Sosok Tuan Wijaya selagi muda. Karena tak banyak perubahan sampai saat ini. Hanya rambut yang memutih yang membedakannya.
Aline tersenyum melihat foto kedua orang tua dari pria yang ia cintai itu. Perlahan di tutup kembali linton tersebut kemudian tatapannya beralih pada selembar kertas yang dilipat dan terselip di dalam kotak tersebut.
Perlahan Aline buka kertas itu sesuai lipatan.
"Kenapa harus mengirim surat segala? kamu itu lucu, Gal! bukannya di ucapkan saja kemarin," gumam Aline.
Aline dengan serius membaca kata demi kata yang Galen tulis pada selembar kertas itu.
Hai ... Cepol ... Tersenyum sebelum membaca ya!
Kalung yang kamu pegang saat ini adalah benda yang sangat berharga untukku, termasuk dirimu. Jaga baik-baik benda itu.
Aku tau resiko yang akan di alami usai operasi nanti. Tapi yakinlah, resiko sebesar apapun hanya satu keinginan terbesarku nanti. Bisa bersama dirimu, tunggu Aku.
Pakai terus kalung itu agar kamu merasa selalu bersamaku. Dan apapun yang akan terjadi nanti, kamu akan selalu ada di hatiku Aline Barsha.
Sampai bertemu lagi Cepolku...
Aku mencintaimu ...
Galen
Aline termenung setelah membaca setiap kata yang Galen tulis. Ada perasaan aneh yang ia rasa.
"Kenapa Galen seakan ingin pergi dariku. Ya Allah lindungi dia, lancarkan operasinya. ijinkan kami bersatu!" Aline memejamkan mata seraya berdoa dalam hati. Tak terasa air matanya mengalir begitu saja.
...๐๐๐...
__ADS_1
Dua hari berlalu. Aline selalu meminta kabar kepada Oma Ratih. Beliau memberitahunya bahwa hari ni adalah jadwal operasi Galen. Oma Ratih tak banyak bicara, hanya doa yang ia minta dari Aline. Gadis itu juga mengabarkan kepada Oma Ratih bahwa Ayah Zaki akan memberi kesempatan kepada Tuan Wijaya untuk menemuinya.
"Benarkan? Ayahmu memang orang baik, Oma percaya padanya. Kamu tidak perlu khawatir, Oma akan mengabarimu nanti. Doakan yang terbaik untuk Galen." Oma Ratih menenangkan Aline dari sambungan telponnya sesaat setelah Galen masuk ke ruang operasi.
Oma Ratih merasa bersyukur. Sayangnya waktu tidak mendukung untuk kedua sahabat lama itu bertemu. Tuan Wijaya harus berada di Singapura untuk menemani Oma Ratih selama operasi di lakukan.
Mourt Hospital adalah Rumah sakit ternama di negara yang terkenal dengan sebutan The Lion City atau negeri singa. Rumah sakit inilah yang di rekomendasikan dokter dari Indonesia untuk Galen.
Lampu indikator di ruang operasi pun menyala. Mengadakan tindakan operasi sedang di lakukan.
Oma Ratih dan Tuan Wijaya beserta Nyonya Mariska sedang menunggu di luar ruang operasi.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat tapi tidak dengan tindakan di dalam ruangan operasi. Meski waktu berjalan cepat tak lantas ruangan itu terbuka. Tindakan operasi yang begitu lama membuat Oma Ratih dan Tuan Wijaya merasa cemas dan khawatir.
Tidak ada lagi yang bisa di lakukan selain pasrah dan berdoa. Sebelumnya Dokter Syirsyarif selaku dokter yang akan menangani operasi kali ini sudah menjelaskan kepada keluarga pasien akan resiko yang akan terjadi pasca operasi.
Cedera pada tengkorak kepala bagian belakang yang mengalami benturan keras itu mengakibatkan Galen mengalami Ederma serebri. Itu merupakan pembengkakan otak terjadi akibat kerusakan jaringan, penumpukan cairan atau darah, juga pembengkakan pembuluh darah dalam otak. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan gangguan tersebut adalah Cedera otak akibat benturan.
Gejala pusing dan sering terasa mual adalah awal gejala tersebut. Sehingga tindakan Ventrikulostomi harus segera dilakukan. Tindakan penyedotan cairan yang berakibat kehilangan sebagian memori dalam otak pasien selama beberapa tahun kebelakang.
"Kenapa lama sekali operasinya?" gumam Oma Ratih seraya melihat lampu masih menyala. Beliau terlihat begitu cemas, sama dengan Tuan Wijaya. Ia duduk di kursi besi seraya menangkupkan kedua tangan pada dahi dengan siku yang bertumpu di atas pahanya.
Matanya terpejam berharap operasi putranya kali ini berhasil, meski akan ada banyak kemungkinan yang terjadi setelahnya.
"Maafkan Papa, Gal! sikap Papa yang tak mau mendengarkan penjelasan terlebih dulu membuat penyesalan ini semakin bertambah." Tuan Wijaya semakin tertunduk lesu.
.
.
.
.
.
Bersambung
Semoga kalian suka...
__ADS_1