Fake Love

Fake Love
Welcome To The World Baby Boy


__ADS_3

Galen begitu cemas dan khawatir melihat keadaan Aline. Kontraksi yang dirasakan istrinya semakin terjadi dalam waktu yang sedikit.


Sepuluh menit sekali, Aline meringis saat kontraksi kembali datang.


"Sayang... Operasi saja ya, biar cepat baby boy nya lahir. Aku tidak tega melihatmu seperti ini." ucap Galen menatap Aline dangan tatapan iba. "Aw... Sakit Sayang!" jerit Galen karena Aline mencengkram erat tangannya, apalagi kuku pada jemari istrinya itu panjang-panjang. Sudah bisa dibayangkan kalau kuku itu menusuk kulit.


Aline menggelengkan kepalanya. "Aku mau normal, Mas!" lirih Aline disela kontraksinya."


Krekk...


Pintu ruangan terbuka, Bu Winda dan Ayah Zaki masuk bersamaan.


"Nak..., Maaf... Ibu baru datang." Bu Winda meletakkan tas nya di sofa. Lalu berjalan mendekati Aline yang sedang berjalan pelan dibantu Galen. "Bagaimana sudah pembukaan berapa?" tanya Bu Winda yang langsung menggantikan Galen.


"Baru masuk pembukan tujuh, lama sekali kenaikannya, Bu! Aku tidak tega melihat Aline kesakitan seperti ini," ucap Galen dengan wajah lelah kurang tidur.


Bu Winda hanya membalas dengan senyuman. "Ini biasa terjadi pada ibu hamil saat melahirkan. Apalagi anak pertama, nikmati saja sayang. Nikmati kesakitan yang saat ini kamu rasakan. Sabar dan terus beristighfar. Sakitmu akan terbalaskan nanti setelah bayi ini lahir." Bu Winda mengelus pelan perut Aline.


"Kenapa tidak pakai sarung saja, biar lebih mudah," cetus Bu Winda. "Kalau tahu kamu tidak pakai sarung, Ibu bawa dari rumah."


Saat ini Aline hanya memakai dress sebatas paha.


Tanpa memakai kain segitiga di dalamnya.


Alline masih mengikuti saran Dokter Laila, berjalan pelan agar bayi cepat masuk ke jalan lahir.


"Ini juga nyaman ko, Bu!" sanggah Aline yang kembali meringis saat kontraksi datang.


"Ssshh... Aw..." jerit Aline saat kontaksi kembali datang. Dengan tenang sambil menarik napas dan membuangnya perlahan Aline mengatasinya.


Kening Aline dipenuhi peluh karena merasakan sensasi yang sangat nikmat oleh seorang wanita yang akan melahirkan.


Bu Winda membantu meringankan sakit dengan mengelus pelan tulang punggung bagain bawah. Karena di situ lah seorang wanita merasakan panas, Semua tulang seakan remuk secara bersamaan.


"Sabar ya, Nak!" Bu Winda terus mengelus pinggang Aline.


Beda hal dengan Galen. Suami siaga itu selalu heboh saat istrinya mengalami kontraksi.


Dokter Laila datang kembali untuk memeriksa Aline. Dengan perlahan Aline kembali berbaring di atas brankar. Saat Dokter Laila memakai sarung tangan medis dan akan mengecek pembukaan pada Aline. Galen sedikit terkejut, Sebab untuk kesekian kalinya Dokter Laila memasukan jari telunjuk ke dalam lembah favoritnya itu.


"Dokter... Kenapa melakukan hal itu lagi! Istri saya sedang kesakitan apa tidak tambah sakit nantinya." gerutu Galen kepada Dokter Laila.


Aline ingin sekali mengomel pada Galen. Tapi ia tidak ada tenaga untuk itu.


Dokter Laila tak menghiraukan ocehan Galen. Kalau bukan putra dari pemilik rumah sakit ini, ingin rasanya Dokter Laila mengusirnya. Sebab dari tadi Galen hanya bisa protes kepadanya.


"Nyonya, lebih baik sekarang Anda berbaring saja, sudah masuk pembukaan delapan. Ingat jangan mengejan dulu, sebelum waktunya! Saya akan mempersiapkan ruang persalian untuk Anda."


"Apa istri saya akan pindah ruangan lagi, Dok?" serobot Galen seraya mengikuti langkah dokter Laila.


"Ya, Saya memindahkannya ke ruang persalinan, karena di sana lebih lengkap persiapannya setelah lahir baru kita pindahkan lagi Nyonya Aline ke ruangan ini!" Dokter Laila menjelaskan.


Galen kembali mendekati Aline yang berbaring miring ke sebelah kiri. "Sayang... Pasti sakit sekali, ya?" tanyanya dengan nada cemas.


Aline hanya bisa mengangguk pelan.


"Andai rasa sakit itu bisa berpindah kepadaku!" lirih Galen.


"Bu... Aku mau Pup!" ucap Aline seraya bangun dari berbaringnya. Galen dengan siaga membantu nya.


"Pelan-pelan, Nak!" Bu Winda ikut memegangi Aline.


"Mau aku gendong, Sayang!"


Aline menggelengkan kepalanya. "Jalan saja!"

__ADS_1


Akhirnya Galen memapah istirnya ke kamar mandi. Aline menyuruh Galen menunggunya di luar. Ia tidak mau Galen menunggunya di dalam kamar mandi. Suaminya itu sempat menolak tapi akhirnya Galen menyetujuinya asal pintunya tidak dikunci.


"Sayang... Masih lama?" tanya Galen yang tidak sabaran menunggu di luar.


Alihe membuka pintu sangat terlihat wajah lelahnya saat ini.


Wajar saja ia sama sekali belum tidur dari semalam.


Aline menggeleng lemah. "Nggak mau keluar pup nya!" keluh Aline.


"Itu hanya dorongan bayi saja, Nak! Rasanay memang seperti ingin buang air besar. Itu pertanda bayinya akan segera lahir. Ingat pesan Dokter Laila. Jangan sampai ikut mengejan saat terasa ingin buang air besar karena pembukaan belum sempurna. Sekarang lebih baik kamu tiduran dulu. Pejamkan matamu, agar tenaga kamu bertahan sampai waktunya melahirkan," ucap Bu Winda memberi penjelasan kepada Aline.


Saat Aline melangkahkan kakinya. Setetes cairan jatuh kemudian terinjak olehnya.


"Mas...," Panggil Aline lalu mengarahkan tatapan ke bawah tubuhnya.


Cairan kental berwarna merah bercampur lendir jatuh tepat di bawah Aline.


Bu Winda hendak mengambil tisu untuk membersihkannya.


"Itu adalah darah dadara kalau kata orang sunda. Setelah ini biasanya akan cepat mendekati persalinan."


"Kayaknya darahnya kecampur sama cairan punyaku tadi malem deh, Yang. Apanya yang tadi sore, kita sempet main sebentar sebelum kamu mules. Noh... Ada lendir-lendirnya gitu!" Galen jongkok untuk memastikannya.


Galen berbicara tanpa Filter dan tanpa malu di hadapan Bu Winda. Untung saja Ayah Zaki menunggu di luar ruangan. kalau tidak sudah kena semprot dia.


Plettuk...


"Aww..." jerit Galen saat kepalanya dipukul tongkat oleh seseorang.


Galen menoleh ke belakang.


"Oma..."


"Oma datang kok gak ada suaranya. Masuk , maen pukul aja." Galen mengelus-elus kepalanya yang dipukul pakai tongkat.


Oma Ratih menggelengkan kepala karena kelakuan Galen.


"Win, maafkan kelakuan cucuku!" ucap Oma Ratih.


Bu Winda mengangguk pelan memakluminya. Aline kembali berbaring di atas brankar. Mendengar istrinya semakin dekat dengan proses melahirkan. Galen terlihat bolak-balik kekamar mandi.


"Kamu kenapa sih, Gal?" tanya Oma Ratih.


"Entahlah, Oma. Perutku mulas tapi tidak mau keluar. hanya mulas saja." cetus Aline sudah tiga kali mundur mandir ke kamar mandi.


"Kamu itu tegang, menghadapi Aline yang mau melahirkan. Itu... Sama persis dengan Ayah Zaki saat ibu melahirkan Aline."


"Benarkah?" sela Oma Ratih.


Bu Winda mengangguk pasti.


"Kamu ini, bukannya menenangkan istri yang menahan sakit, malah tegang sendiri." cemooh Oma kepada Galen.


"Biar kamu saja Winda, yang nemenin Aline di ruang persalinan. Oma ragu sama Galen," ucap Oma Ratih meremehkan.


"Jangan, Oma! Aku 'kan mau lihat baby boy ku lahir." balas Galen sambil memegangi perutnya.


"Kamu harus tenang, salurkan ketenangan itu kepada istrimu. Beri dia kekuatan saat ia yang akan berjuang melahirkan buah hati kalian." Bu Winda ikut menasehati dengan lembut.


Mungkin benar, mulas yang ia rasakan saat ini karena Galen merasa tegang.


Dokter Laila kembali datang kali ini ia membawa Aline ke ruang persalinan, karena saat ini posisi bayi sudah dalam pembukaan lengkap. Aline juga sudah beberapa kali merasakan ingin mengejan.


Dokter Laila minta satu orang saja yang menemani di ruang persalinan.

__ADS_1


Melihat istrinya yang meringis, Galen berusaha menenangkan diri. Ia harus menemani Aline saat berjuang mempertaruhkan nyawa.


"Aku temani kamu, Sayang!" Galen meraih jemari Aline lalu mengecup keningnya singkat. Kemudian dengan pelan dan hati-hati mendorong brankar menuju ruang persalinan.


Selamat proses persalinan Galen terus menggenggam tangan Aline. Mengusap peluh di kening istrinya.


"Kamu bisa Sayang!" bisik Galen di telinga Aline saat aba-aba kedua diberikan oleh Dokter Laila.


"Kita coba lagi ya, ingat saat merasakan ingin mengejan, tarik napas tahan lalu dorong buang kuat pada bagian bawah, usahakan pinggul jangan diangkat, ya!" Dokter Laila kembali memberi arahan.


Aline mengangguk paham dengan ucapan Dokter Laila.


Galen terus menggenggam tangan Aline agar bisa menyalurkan kekuatan kepada istrinya itu.


Aline merasakan rasa ingin mengejan lagi. Dengan arahan yang ia dengar sebelumnya, Aline melakukannya dengan benar.


Aline mengejan dalam satu tarikan napas seraya menggenggam tangan Galen dengan kuat.


"Ya... dorong! sedikit lagi, tarik napas.... Ya, benar dorong...."


Owekk... Owekkk...


Tangisannya begitu melengking memenuhi ruangan.


"Welcome to the world baby boy," ucap Dokter Laila saat bayi mungil berasa di tangannya.


Galen begitu terkesima melihatnya. Ia sampai menagis melihat baby boy. Lekas ia beralih kembali kepada Aline yang terlihat sangat lelah. Aline memejamkan matanya sesaat, napasnya masih terengah-engah.


Salah satu suster mengambil alih baby boy agar bayi mungil itu cepat dibersihkan dan segera mendapat Inisiasi Menyusu Dini atau biasa di sebut IMD.


"Terima kasih, Sayang! Terima kasih telah berjuang untuk melahirkannya." Galen mencium kening Aline begitu lama.


Tetesan air mata terasa oleh Aline jatuh di pipinya.


Aline menatap Galen. Pria itu menangis saat sedang menciumnya.


"Mas... Kamu menangis?" tanya Aline sambil mengulurka tangan ke wajah Galen.


Galen malah meraih tangan itu lalu kembali mendaratkan ciumannha juga di sana.


"I Love you... I Love you... Aline..." Galen masih meneteskan air matanya.


Aline tersenyum bahagia mendengarnya.


"I love you, Mas..." balasnya pelan dengan mata yang mengerjap karena lelah.


.


.


.


Baca kelanjutan ceritanya ya..


Sekalina promo lagi nie bestie.


Mampir ke karya temanku ya...


karya ka Nirwana Asri



.


.

__ADS_1


__ADS_2