Fake Love

Fake Love
Sandra


__ADS_3

Sore itu, setelah pindah ke ruang perawatan VIP yang berukuran luas dengan fasilitas lengkap. Galen berusaha bangkit dan bangun dari rebahannya. Rasa pegal mulai terasa. Perlahan ia bangkit berdiri dengan bantuan Joni salah satu orang anak buah yang selalu siap berjaga untuknya.


Oma Ratih terlihat sedang beristirahat di atas smallbed yang berdampingan dengan brankar yang Galen tempati.


Merasa bosan, Galen memerintahkan salah satu anak buah Papanya, Boni nama yang tertera di name tag bajunya untuk menemani Oma Ratih, sedangkan Joni menemaninya mencari udara segar di luar ruangan. Galen tidak mau nenek kesayangannya itu khawatir melihat ketiadaannya di ruangan .. Galen hanya ingin mencari udara segar di luar ruangan.


Kondisi tubuh Galen sudah stabil hanya sesekali merasa pusing. Tapi untuk keluar ruangan, perawat sudah mengijinkannya.


"Tolong temani, Oma! jika dia menanyakan, beitahu dia Saya keluar untuk mencari udara segar, " titahnya pada Boni.


"Siap Tuan."


Diantar Joni, Galen yang duduk di kursi roda meminta untuk diantar ke atas rooftop rumah sakit. Ia ingin melihat pemandangan Negeri Singa ini dari ketinggian.


Lama Galen termenung memandangi keindahan negeri itu dari rooftop rumah sakit. Ia merasakan ada yang berbeda dengan dirinya. Setelah mengetahui bahwa dirinya mengalami Amnesia Anterograde ia mulai berusaha perlahan untuk mengingat kenangan yang terhapus dari memory ingatannya.


“Ahhh ... “ teriak Galen. Ia merasa bingung membuat penjaga yang menemainya dari kejauhan datang mendekat padanya.


Joni yang melihatnya langsung berlari mendekat. "Apa yang terjadi Tuan?" tanya Joni sigap.


"Saya tidak apa-apa! tolong ambilkan saya minum."


"Baik, Tuan. Apa tidak apa-apa saya tinggalkan Tuan sendiri di sini?"


Galen mengibaskan tangannya tanpa menjawab.


"Siap Tuan." Joni berbalik dan berjalan cepat mencari minum untuk Galen.


Tinggal Galen sendiri. Dia berdiri dari kursi roda. Kakinya melangkah mendekat ke pembatas besi di sisi gedung. Ada yang mengganjal dalam benaknya. Hatinya terasa sepi. Kedua tangannya berpegang erat di pembatas besi. Wajahnya menengadah ke atas langit sambil memejamkan mata.


Seperti ada yang kurang dalam dirinya. Galen masih menelisik perasaannya. Orang yang melihat posisi nya saat ini seperti melihat seseorang yang hendak terjun dari atas gedung.


...🌴🌴🌴...


"Hei ... jangan bunuh diri," teriak seorang gadis yang berlari menghampiri Galen.


Sandra masih dengan pakaian pasien berlari ke arah Galen lalu menarik tubuhnya hingga tubuh merka berdua berputar sampai jatuh terjengkang bersama. Posisi Galen berada di atas Sandra.

__ADS_1


Dukk


"Aww," jerit Sandra saat kepalanya terbentur lantai.


Ketika membuka mata, Sandra terkejut dengan wajah tampan di hadaoannha. Galen menahan tubuhnya dengan kedua tangannya agar tidak menimpa tubuh Sandra.


"Eh ... minggir! kurang ajar ya?" bentak Sandra seraya mendorong tubuh Galen agar menyingkir dari atas tubuhnya. Hingga membuat Galen sedikit terpental karena dorongannya.


"Harusnya Saya yang bilang kurang ajar, kenapa malah kamu yang sewot. Narik orang seenak jidat." Galen lekas berdiri sambil menggerutu.


Sandra ikut berdiri. Kini mereka berdua berhadapan kemudian saling memperhatikan pakaian yang mereka pakai masing-masing.


"Kamu pasien di sini?" tanya Sandra dan Galen kompak


Keduanya kemudian mengangguk bersamaan.


Sandra tertawa canggung sedangkan Galen hanya menarik satu sudut bibirnya.


Galen kemudian kembali berdiri memandang hamparan keindahan kota dari tempatnya berdiri saat ini, tanpa ingin memperdulikan Sandra.


"Kamu frustasi sampai mau bunuh diri?" tanya Sandra tanpa menoleh ke arah Galen.


"Yang mau bunuh diri siapa?"


"Kamu!"


"Siapa Bilang?"


"Aku lihat kamu tadi?" kaya orang mau loncat dari sini! makanya langsung ku tarik." ujar Sandra menoleh sekilas ke arah Galen.


Galen tertawa meremehkan. "Sok tahu"


"Gara-gara kamu, nyaliku jadi menciut mau bunuh diri! tadinya mau langsung lari trus loncat sambil merem. Eh liat kamu berdiri kaya tadi, ambar deh rencanaku. Serem juga ya liat ketinggian gedung ini! kalau langsung mati enggak ngerasain sakit apa-apa. gimana kalau tetep hidup duh pasti sakit banget deh. Ih ... serem, gax jadi deh bunuh dirinya!" Sandra mengedikkan bahunya seraya berceloteh sendiri membuat Galen yang mendengar ucapannya mengerutkan alisnya.


"Berisik, Sana!" Galen mengibaskan tangannya mengusir Sandra agar menjauh darinya. Ingin menyendiri dengan tenang, gagal seketika karena kedatangan Sandra.


Sandra mengerucutkan bibirnya mendapat pengusiran dari Galen.

__ADS_1


"Tega banget sih? setidaknya meski kita gak saling kenal tapi dengerin keluhanku kasih saran gitu harus gimana? buntu banget nih otak!" Sandra berbalik, tubuhnya merosot ke lantai dengan kepala yang dijedot-jedotkan ke tiang besi pembatas dan kaki yang ia tekuk."


Galen menunduk memperhatikan Sandra, gadis aneh yang duduk memeluk kedua kakinya. Setelah menjedotkan kepala, gadis itu menenggelamkan kepalanya di atas lutut.


Galen melihatnya menyedihkan, tapi ia tak mau bertanya ataupun menanyakan masalah apa yang di alami gadis itu.


"Sepertinya masalah yang di alami dia lumayan berat," batin Galen.


Galen mendiamkan gadis yang berada di sampingnya. Ia tidak mau menanyakan apa yang terjadi padanya. Sesekali hanya terdengar suara sesegukan dari gadis yang membenamkan wajahnya di atas lutut yang ia tekuk.


Sandra memutuskan untuk mengakhiri hidupnya saat desakan bertubi-tubi menimpanya. Gadis itu merupakan tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Negara Singa tersebut


Bukannya mendapat keadilan, Sandra malah mendapat pilihan yang menyudutkannya. Membayar denda atas apa yang pernah ia lakukan. Sandra menancapkan benda tipis tajam kepada Johan karena anak dari majikannya itu mencoba melecehkannya.


Keluarga liaw mengancamnya akan memasukan Sandra ke dalam penjara kalau ia mengangkat kejadian yang menimpanya ke polisi. Keluarga Liaw memiliki bukti cctv kalau Sandra sering mencuri beberapa barang dalam beberapa bulan ini.


Sandra mengakui kesalahannya. Tapi itu karena terpaksa, gadis itu harus membiayai pengobatan Ibunya yang sedang menjalani pengobatan di tanah air.


Uang yang ia kirim tidak bisa mencukupi biaya pengobatan ibunya karena itu ia nekad mencuri barang dan menjualnya agar bisa mendapat uang lebih. Sandra tidak menyangka semua akan berbalik kepadanya. Harus mengganti biaya perawatan Johan dan membayar denda dengan nominal uang yang tidak sedikit. Kebutuhan ibunya di kampung saja tidak bisa ia penuhi apalagi mengeluarkan uang untuk masalahnya ini. Masalah inilah yang membuat Sandra ingin mengakhiri hidupnya.


Joni datang dengan sedikit berlari menghampiri Galen. Ia membawa dua botol air mineral di tangannya.


"Maaf Anda harus menunggu Tuan!" Joni menyerahkan minuman itu kepada Galen.


Galen menerima dan memberi kode agar Joni menjauh darinya.


"Minum dulu! Saya tidak bisa mendengarkan masalahmu. Maaf, kita punya masalah sendiri- sendiri." Galen menyodorkan minuman yang ia punya kepada Sandra.


Sandra mendongak lalu menerima air botol yang di berikan padanya. Setelah air mineral itu berpindah tangan, tanpa basa basi Galen pergi melangkah meninggalkan Sandra yang masih bersedih karena masalahnya.


"Apa tidak ada yang bisa membantuku!" lirih Sandra.


Joni yang melihat kepegian Galen berlari mengambil kursi roda yang dipakai Galen seblumnya lalu beranjak mengikuti langkah Galen.


.


.

__ADS_1


Ada pemain baru masuk lagi... nemenin kisah Aline dan Galen.


__ADS_2