Fake Love

Fake Love
Menuju Apartement


__ADS_3

Meski rasa pusing masih terasa, Galen berupaya untuk berdiri. Ia masih bisa menahannya. Tapi rasa mual yang kembali ia rasakan tidak bisa tertahankan.


"Keluar dari kamar ini!" teriak Galen sambil menunjuk pintu kamarnya. Ia mencoba menahan rasa gejolak yang terasa di perut nya.


Sandra turun dari tempat tidur. Hendak keluar dari kamar tapi melihat Galen yang berjalan cepat menuju kamar mandi, Sandra malah mengikutinya ke sana.


"Gal... Maaf! Aku tahu kalau ini salah, tapi aku janji setelah ini aku akan berusaha melupakanmu!" Sandra masih kekeh mengikuti Galen.


Galen makin tersulut emosi dengan Sandra. Pria menoleh kepada wanita keras kepala itu, rasa mual kembali terasa.


"Kamu....!" Tanpa bisa di cegah Galen memuntahkan sesuatu yang keluar dari mulutnya lalu mengenai pakaian depan Sanda.


"Ah..." Sandra menjerit saat tumpahan muntah mengenai tubuhnya. Wanita itu mengibas-ngibaskan pakaian pelan.


"Aku sudah bilang keluar dari kamar ini, kenapa masih terus mengikuti ku!" Tanpa merasa bersalah Galen menjauhi Sandra, meraih handuk kecil untuk mengelap bibirnya.


Galen kembali ke arah Sandra yang masih tidak bergerak dari tempatnya. Galen begitu heran dengan wanita di hadapannya ini. Selalu berucap ingin menjauh tapi tak pernah di lakukan.


Sandra seperti menanamkan duri di atas tumbuhan yang akan bersemi. sama artinya dengan menghancurkan rumah tangga yang baru saja berjalan indah dan bahagia.


"Keluar!" Galen menarik kasar Sandra keluar dari kamarnya.


"Sakit, Gal... kamu menyakiti tanganku!"


Galen melepaskan kasar tangan Sandra. Membuat tubuh Sandra sedikit terlempar karena gerakan itu.


"Dengar Sandra sebanyak apapun kamu mendekatiku, aku tidak akan pernah berpaling dari Aline. Aku masih berbaik hati kepadamu. Jangan sampai aku berbuat kasar sama kamu. Mulai besok, kamu tidak perlu berangkat ke kantor ku lagi!" ucap Galen tegas dan penuh penekanan. Saat ini sikap itulah yang harus ia ambil. Galen harus membuat pembatas dirinya sendiri.


Sandra merasa terkejut, ia membulatkan matanya mendengar ucapan Galen.


"Gal... Paa kamu memecahkan?" tanya Sandra dengan wajah sedihnya.


"Ya."


Sandra menggeleng cepat. "Tolong jangan lakukan ini padaku, Gal...! Kamu tahu, aku masih membutuhkan biaya untuk ibu, tolong... maafkan aku! Aku janji setelah ini, aku akan menghindarmu. Atau pindahkan aku kebagian lain agar tidak selalu bertemu kamu, Gal. Aku, mohon!" Sandra mencoba mendekati Galen tapi pria itu menepisnya.


Galen membuang napas kasar merasa risih dengan sikap Sandra.Tapi pikirannya membenarkan ucapan wanita itu.


Kalau dia memecat Sandra siapa yang akan bekerja menafkahi keluarganya. Galen dilema dengan keputusannya sendiri. Meskipun tegas tapi jika mengungkit masalah kehidupan orang lain Galen begitu perasa.


Galen mencari keberadaan ponselnya. ternyata ponsel itu ada di atas nakas tak jauh dari tempatnya berdiri. Lekas ia meraih ponsel tersebut untuk menghubungi Aldo secepatnya. menyuruh asiatennya itu kembali bertugas di luar jam kantor.


Tanpa melihat waktu Galen kembali menganggu pagi yang menyenangkan bagi Aldo. Tidur nyaman sambil memeluk Rima dari belakang. Karena Rima sudah tidak bisa dipeluk berhadapan. Baby Bump nya sudah mulai terlihat.


Selama menghubungi Aldo. Sandra masih terus berusaha memohon kepada Galen. Tapi tidak dihiraukan.


"Baiklah, Gal... Kalau ini memang keputusanmu, Aku terima! Maaf aku sudah membuat kamu kecewa. Tapi aku hanya meminta waktu untuk membersihkan bajuku yang terkena muntahan ini." Sandra menunduk sambil menatap pakaiannya sendiri.


Galen menatap Sandra dengan raut wajah yang masih kesal. "Cepat bersihkan dirimu di sana! Setelah itu cepat pergi dari sini!" sentak Galen sambil menunjuk kamar mandi yang ada di dekat dapur bersihnya.


Galen kembli mencoba menghubungi Aldo. Tak lama sambungan telepon yang terangkat.

__ADS_1


"Cepatlah ke apartement ku sekalian bawakan baju ukuran tubuh Sandra ke sini. Cepat aku tidak mau dia terlalu lama di sini!" titah Galen tanpa mau mendengar balasan dari Aldo.


Galen menutup teleponnya sepihak.


Aldo yang masih mengantuk memaksakan diri agar terjaga. Memberi waktu sejenak untuk tubuhnya, mengumpulkan nyawa setelah itu bergegas melaksanakan perintah Tuannya. Padahal Baru saja ia terpejam. Beruntung Rima mengerti dengan pekerjaannya. Itulah resiko bekerja dengan Tuan muda.


"Hati-hati, Kak!" Rima mengantarnya sampai di depan rumah. Aldo mengecup kening dan tak lupa berpamitan kepada bayi yang masih di dalam kandungan ibunya.


"Sayang... Inilah pekerjaan Ayah, suatu saat nanti ayah harap kamu mengerti dengan semua ini!"


Setelah berpamitan pada si cabang bayi, mobil yang Aldo kendarai melesat pergi.


.


.


Di kediaman Wijaya


"Apa aku harus pakai alat test ini sekarang?" gumam Aline yang tengah memegangi alat respect kehamilan. Ia merasa ragu melakukannya, takut kecewa lagi dengan hasilnya seperti yang sudah pernah ia lakukan setiap bulannya.


"Ah... nanti saja deh, kalau ada mas Galen." Aline meletakkan alat test itu di atas wastafel tempatnya menggosok gigi.


Pagi ini setelah melakukan ibadah subuhnya, Aline bersiap masak beberapa masakan sederhana untuk Galen di bantu Mbak Ira. Rencananya ia akan membawa makanan itu ke apartement. Setelah mengetahui keberadaan suaminya Aline begitu bersemangat, Ia akan membuat kejutan kepada Galen.


"Mbak Ira... Tolong ayam, daun bawang sama kacang polong nya di pisah dulu ya, biar nanti saya campur pas mau di tuang ke mangkuk saja," titah Aline.


"Iya, Nyah," jawab Mbak Ira.


"Ok, Nyah!" ucap Mbak Ira sambil menyatukan jari telunjuk dengan ibu jari sehingga membentuk huruf O.


Aline tersenyum melihatnya. Ternyata semangatnya pagi ini menular kepada Mbak Ira.


Pagi ini Aline membuat bubur ayam. Tak lupa satu kikil dan sate ati ampela juga ia buat.


Semua makanan sudah siap. Aline kembali ke kamar untuk mempercantik diri. Awalnya ia ingin menghubungi Galen terlebih dulu. Tapi Aline ingat kalau suaminya pasti sangat lelah, jadi ia tidak ingin mengganggu Galen istirahat.


Dengan langkah penuh semangat Aline turun menuruni tangga.


"Hati-hati, Nak!" teriak Oma Ratih yang melihat Aline menuruni tangga dengan cepat.


"Pagi... Oma!" sapa Aline dengan senyum bahagianya.


"Pelan-pelan jika menuruni tangga, bagaimana jika di dalam sini sudah ada cicit Oma?" tunjuk Oma ke arah perut Aline. Memang sangat jelas perubahan tubuh Aline yang semakin berisi. "Mau kemana, pagi-pagi begini?" tanya Oma.


"Mau apartement, Oma! Mas Galen semalam tidak pulang. Aku sih sudah kirim pesan untuk pulang ke apartement saja karena jaraknya lebih dekat."


Oma mengerutkan alis." Memangnya dari mana sampai Galen harus pulang sampai larut begitu, tak biasanya!" celetuk Oma.


"Dari Tangerang Oma. Aline takut Mas Galen sakit lagi, soalnya kemarin ngeluh ngerasain pusing sama mual lagi, kemarin juga makannya sedikit."


Sepertinya benar dugaan Oma. Galen mengalami sindrom Couvade karena hampir beberapa minggu ini Galen mengalami mual, pusing dan ngidam.

__ADS_1


"Nak... Apa kamu sudah coba alat test kehamilan yang Oma berikan semalam?" tanya Oma Ratih.


Aline menggelengkan kepala pelan. "Belum Oma. Aline takut hasilnya kan smaa seperti bulan lalu!" ujar Aline. "Maaf, Oma... Mungkin besok pagi, Aline akan coba test saat ada Mas Galen!" ucap Aline sendu.


Oma sangat mengharapkan aku hamil, bagaimana kalau hasil test nanti tetap negatif. Pasti akan membuat Oma sedih.


Batin Aline sambil meraba perutnya pelan.


Oma Ratih melihat raut wajah Aline berubah seketika.


"Tidak apa-apa sayang. Cobalah saat kamu merasa yakin. Apapun hasilnya nanti kita harus tetap mensyukurinya. Jangan dijadikan ini beban untukmu, Sayang... Maafkan Oma sudah memaksamu."


"Tidak apa Oma." Raut wajahnya Aline masih terlihat sedih.


"Senyumlah jangan sedih seperti itu, bukannya kamu mau menyusul Galen?" Oma Ratih mencoba mengembalikan keceriaan Aline.


"Iya, Oma." Aline kembali tersenyum meski sedikit dipaksakan. "Maaf, pagi ini Aline tidak bisa menemani Oma!"


"Tidak masalah. Ada mbok Yem nanti ke sini."


"Wah... benarkah? bakalan seru dong ada teman ngobrol!" Oka Ratih dan Aline tertawa pelan. Mengingat kebersamaan bersama Mbok Yem yang membuat mereka lupa waktu, sampai lupa mandi sampai siang hari. Asik merangkai bunga dan tanaman di belakang rumah.


Lahan kosong yang di jadikan taman bunga oleh Aline. Oma Ratih dan Mbok Yem juga ikut membantunya.


Semenjak Kartika pergi kuliah ke Amerika, Mbok yem memilih berhenti bekerja karena usianya sudah tua sama seperti oka Ratih. Daripada berada di kediaman Wijaya tanpa bekerja apapun, malah membuat wanita tua itu merasa tidak enak hati dengan asisten rumah tangga yang lai. Meskipun tak ada yang mempermasalahkan. Tapi Mbok Yem cukup sadar itu akan hal itu.


"Ya sudah cepatlah pergi! Nanti keburu Galen bangun," ucap Oma Ratih.


"Tidka mungkin Mas Galen bangun sepagi ini, Oma." Aline tertawa pelan karena merasa tak yakin jika Galen sudah bangun. "Disini saja, kalau aku bangunkan sulit sekali," ujar Aline sambil melangkah menuju ruang makan di mana ia meletakkan makanan yang sudah disiapkan.


"Ya betul sekali. Anak itu susah sekali untuk bangun pagi!" Oma Ratih ikut tertawa pelan membenarkannya.


Aline kembali dengan paper bag di tangannya. "Aline pergi dulu, Oma! Hari ini aku masak bubur ayam kampung. Oma makan ya?" pamit Aline seraya mencium pipi yang sudah terlihat kerutan halus di wajahnya.


"Terima kasih, Sayang. Pasti Oma makan! Hati-hati dijalan."


"Iya, Oma." Balas Aline seraya melambaikan tangannya ke arah Oma Ratih lalu berjalan menuju pintu keluar, dimana pak supir sudah menunggunya.


Ada rasa tak sabar ingin bertemu Galen. Rasanya ingin segera bertemu. Padahal baru semalam mereka melewatkan tidur bersamanya.


"Aku kangen kamu, Mas!" ucap Aline sambil tersenyum. Pandangannya beralih ke paper bag yang ia pegang. Masakan yang ia buat dengan cinta dan sayang mampu membuat Galen makan dengan lahap.


Hanya masakan Aline yang mampu ka makan sampai habis. Sedangkan masakan yang lain rasanya kurang berselera di lidah Galen. Karena itulah Aline bersemangat untuk memasak, karena dengan masakan Aline setidaknya asupan makanan akan terus terjaga selama keadaan Galen yang kurang fit agar cepat pulih seperti sedia kala.


Mobil yang Aline tumpangi melesat cepat pagi ini menuju Apartement dimana suaminya berada saat ini.


Baca kelanjutan ceritanya ya..


Jangan lupa ya like dan komen kalian.


yang banyak poin bolehlah kirim hadiahnya ke sini 😄😄😄

__ADS_1


__ADS_2