
Setelah saling bertukar cincin, kedua pengantin baru itu berfoto memperlihatkan buku nikah yang mereka dapat. Rasa haru, lega dan bahagia dirasakan Bu Winda. Tidak menyangka putrinya akan secepat ini menikah. Semua persiapan yang direncanakan selama ini terlewatkan begitu saja. Impian yang Aline ingin rasakan sebelum menikah.
Kejadian menyakitkan yang dialami Aline membuat putrinya enggan menikah dalam acara resepi dan keramaian. Ia merasa malu, seakan tidak punya harga diri. Padahal Bu Winda sudah menjelaskan kejadian ini tak ada yang tahu. Galen sudah meredam semua berita perihak kejadian itu, pihak tertentu yang mengetahuipun sudah ditekankan agar tidak membocorkan kejadian itu.
Aline masih menangis dalam pelukan Bu Winda. "Selamat, Sayang! Waktunya kamu bahagia, tutup masa lalu dan kejadian yang sudah terlewati dengan senyum bahagiamu." Bu Winda meregangkan pelukannya. "Hei ... sudah, jangan menangis lagi! Nanti make up nya luntur." Bu Winda menggoda Aline. Diusapnya air mata yang membasahi wajah putrinya pelan menggunakan tissu yang ada di tangannya, sangat pelan dan hati-hati agar tidak merusak riasannya.
"Terima kasih, Bu!" lirih Aline.
Aline beralih kepada Oma Ratih, Wanita tua itu duduk di kursi karena tidak kuat untuk berdiri lebih lama.
"Cucu menantuku!" Aline duduk bersimpuh dihadapan wanita tua itu.
"Oma," Aline dan Oma Ratih saling memeluk erat.
"Selamat, Sayang! Oma senang sekali kalian bisa bersama secepat ini. Semoga jadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah, Ya!" ucap Oma di sela pelukannya.
Aline mengangguk pelan, kecupan lembut di kening, Oma berikan padanya. Saat saling berhadapan, Oma Ratih melihat benda yang sangat ia kenal mengantung di leher Aline. Ya, kalung cantik berliontin love. kalung milik putrinya yang telah tiada, Indira Pratiwi.
Aline tak pernah melepaskan barang itu semenjak berasa di tangannya Oma Ratih meraih benda tersebut. Lalu menatap Aline. Aline mengerti maksud Oma. "Ini milik Galen, Oma." Aline menjelaskan
"Oma tau, ini milik Indira! Putri Oma. Cucu Oma tidak salah pilih pasangan, dia memberikan kalung ini pada orang yang tepat" Oma Ratih menangkup pipi Aline. memang tidak salah memilih pasangan.
"Tapi... Aku tidak sempurna untuk Cu--"
"Manusia tidak ada yang sempurna. Tapi hiduplah dengan saling melengkapi dan memahami. Hanya kamu yang mampu melengkapi kebahagiaan Galen. Jangan pikirkan yang sudah berlalu, sambutlah kehidupan barumu, Sayang!"
Aline menatap Oma Ratih dengan mata yang berkaca-kaca. "Terima kasih, Oma!"
Kedua pengantin itu terus bergantian meminta doa kepada kedua orang tua dan kerabat dekat yang ikut menghadiri akad nikah itu. Nasehat dan ucapan selamat mereka dapatkan.
Pras dan Wendi juga memberikan selamat kepada Galen.
"Widih, Abang, gercep banget!" udah jadi pak suami aja." ledek Pras sambil mengulurkan tangan memberikan semangat kepada pria tampan berpakaian jas putih itu.
"Harus cepat! sebelum dia berubah pikiran!" cetus Galen.
"Hilang ingatan maksudnya, Bang? ko bisa?" sambung Wendi yang langsung mendapat toyoran di kepala oleh Pras.
__ADS_1
"Bukan itu, bro! tapi takut Mbak Aline merubah keputusannya."
"Ooo.... " Wendi membulatkan mulutnya.
Galen memutuskan mengacuhkan dua bocah itu. Meninggalkan mereka berdua yang sibuk dengan hidangan yang disediakan. Pras dan Wendi menyampaikan kepada Galen selamat atas pernikahannya dari Ustad Arifin. Beliau menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa datang. Galen pun memahaminya.
Begitu juga dengan Bara. Kakak berbeda ibu itu memberinya ucapan melalui sambungan telepon. Ada Nada sedikit ancaman untuk Galen darinya.
"Aku yang akan membawa pergi Aline jika kedepannya kamu tidak bisa melindunginya," cetus Bara dari seberang telepon
"Aku akan menghabisimu lebih dulu, kalau kamu berani melakukannya." Kekehan kecil terdengar oleh Galen saat ia berbicara.
Keduanya terdiam sesaat. Geming di antara hening.
"Selamat atas pernikahanmu, Gal!"
"Hm.. "
"Aku menitipkan sesuatu kepada Aldo, semoga kamu suka." Galen mengerutkan alis dengan ucapan Bara. "Sekali lagi, maaf tidak bisa ikut hadir dalam hari bahagiamu." Sebelum Galen menjawab sambungan telepon sudah terputus.
"Heh, Dasar tidak pandai memberi perhatian. Pantas saja, Kartika canggung dengannya, padahal mereka satu ibu." sungut Galen setelahnya senyum tipis terbesit di wajahnya. "Terima kasih," ucapnya kemudian dalam hati, berterima kasih atas perhatian dari kakaknya itu.
Kartika lebih dekat dengan Galen. Sikap dingin Bara membuat adik perempuannya begitu canggung padanya, tapi sikap manja kadang selalu ada saat bertemu dengan kakak tertuanya itu. Didikan Tuan Wijaya kepada Bara yang usianya lebih tua empat tahun dari Galen itu, berhasil membuat anak dari Nyonya Mariska berhasil dan sukses sekarang ini.
Setelah kedatangannya kemarin sore di kantor Aksara grup. Bara langsung terbang ke luar negeri, melakukan perjalanan bisnis di sana. Menjadi sebuah kebanggan untuk Tuan Wijaya, semua anak-anaknya mampu melebarkan sayap untuk usahanya.
Tak terasa waktu berlalu, karena acara berlangsung malam hari, Keluarga dari pengantin pria pamit untuk pulang. Begitu juga dengan Oma Ratih, Kartika serta Tuan Wijaya. Karena kesehatan Oma Ratih yang gampang sakit akhir-akhir ini, Tuan Wijaya memutuskan agar beliau tinggal bersama dengannya. Karena ada Kartika dan beberapa asisten rumah tangga yang berada di sana.
Mereka bertiga berjalan beriringan di antar Bu Winda Dan Ayah Zaki. Kedua pengantin pun ikut mengantarkannya.
Aline dan Galen berjalan lebih dulu di depan bersama Oma Ratih, Kartika dan Bu Winda.
Zainab ikut serta di antaranya, dia membantu Bi Kesih membawa beberapa bingkisan untuk di bawa pulang oleh besan. Setelah menyimpan bingkisan di bagasi mobil belakang di bantu Supir pribadi Tuan Wijaya. Zainab dan Bi Kesih kembali melangkah ke dalam rumah.
Galen dengan sangat hati-hati memapah Oma Ratih lalu membantunya memasuki mobil. "Jaga kesehatan, Oma! Maaf, Galen hanya mengantarkan sampai di sini!" ucap Galen lembut seraya mencium pipi kiri dan kanan Oma Ratih.
Wanita tua itu mengangguk sambil tersenyum, perhatian cucu nya itu tak pernah berubah.
__ADS_1
"Kar, temani Oma selama Kakak belum pulang ke rumah!" titahnya pada Kartika yang sudah berada di dalam mobil tepat di sebelah oma Ratih. Gadis itu mengangguk pelan.
"Iya, Kak! Tapi Kakak dan Kak Aline kapan pindah ke rumah?" tanya Gadis itu.
Galen lekas menoleh kearah Aline. Wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya itu tengah menatapnya, seakan meminta penjelasan. Galen belum sempat membicarakan hal ini dengan Aline.
"Nanti Kakak kabari jika sudah siap," balasnya singkat agar Kartika tidak bertanya lebih lanjut.
Aline pun berpamitan kepada Oma Ratih, nasehat dan penyemangat tak lupa ia dapatkan dari wanita tua itu. Oma Ratih sangat senang, dari dulu ia mengharapkan Aline lah yang menjadi cucu menantunya. Ia pun berharap keceriaan dan sikap Aline segera kembali seperti Aline yang dulu, sebelum kejadian itu.
"Oma pulang ya, Sayang!"
Aline mengangguk pelan menjawabnya.
Beralih kepada Bu Winda, Oma Ratih juga pamit kepadanya.
Tuan Wijaya berjalan di belakang bersama Ayah Zaki. Obrolan kecil pun mengiringi langkah keduanya menuju mobil di mana Oma Ratih dan Kartika sudah menunggu.
Tepat di anak tangga yang menurun Tuan Wijaya berpapasan dengan Zainab. Gadis yang membuat perasaannya belum lama ini menjadi terbagi. Antara rasa debar yang baru ia rasakan setelah sekian lama mati dengan perasaan sama yang dari dulu ia punya untuk seorang wanita bernama Indira Pratiwi.
Tak ada sapaan yang Zainab berikan kepada Pria yang tengah mengharap sapaan itu.
Janda cantik berlesung pipi itu, enggan menampilkan senyum manisnya kepada Tuan Wijaya. Hanya anggukan kecil yang ia berikan, itupun sambil menatap Ayah Zaki. Tanpa menatapnya sedikitpun.
Kecewa sudah hati duda kaya itu, berharap mendapatkan senyum. Hatinya mendadak kempis mendapat wajah cuek Zainab.
Kepalanya sampai memutar mengikuti gerak langkah Zainab, wanita itu sama sekali tidak menoleh sedikitpun kepadanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kasian banget deh duren kaya ini, makanya move on....... ๐๐๐๐