Fake Love

Fake Love
Perahu Listrik


__ADS_3

Aline menahan malu karena perlakuan romantis Galen terhadapnya di atas perahu listrik itu. Para pengunjung yang ikut naik perahu itu tersenyum melihat kemesraan Galen. Salah satu dari mereka pun ada yang memuji Aline dan Galen secara gamblang sangat serasi sebagai pasangan kekasih.


"Wah, kalian sangat serasi sekali sebagai pasangan kekasih, atau kalian sudah menikah?" tanya salah penumpang yang baru saja menaiki perahu dan akan ikut berkeliling.


Aline menggeleng sambil tersenyum kecil menanggapinya pertanyaannya.


"Kami akan segera menikah. Doakan kami, Bu!" Galen menjawab pertanyaan penumpang itu sontak membuat Aline menoleh ke arahnya. Begitu juga dengan Galen.


Pria itu memandang Aline dengan tatapan kesungguhan seraya meraih tangan Aline lalu menautkan jemari mereka.


Kedua netra Aline dan Galen saling menatap.


"Aku hanya perlu meyakinkan dia agar tidak ragu dengan keadaanku saat ini." Galen menarik tangan Aline lalu menciumnya pelan.


Perlakuannya saat ini sungguh membuat Aline bahagia. Senyum mengembang terpancar di wajah manis berlesung di pipi itu.


"Ibu doakan, jawaban terbaik akan kamu dapatkan, Nak!" Ibu penumpang tadi menepuk pundak Galen pelan lalu melewati mereka berdua memasuki perahu untuk mengisi tempat duduk kosong dalam perahu listrik tersebut.


"Terima kasih atas doanya, Bu!" ucap Galen lalu membungkuk pelan diikuti Aline saat Ibu itu melewarinya.


Keduanya kini duduk di deretan bangku paling depan. Sebuah perahu bertenaga listrik berkapasitas 40 orang itu akan membawa mereka menikmati pemandangan yang berbeda dari siang hari. Keindahan cahaya lampu warna-warni yang terpantul dalam air semakin memanjakan para pengunjung. Menjadikan wisata malam ini semakin berkesan. Di atas bumboat para pengunjung akan melihat keindahan gedung gedung yang menjulang tinggi dengan arsitektur yang megah.


Pemandu Wisata yang mendampingi pun akan memberi penjelasan mengenai setiap landmark yang akan mereka lewati saat berkeliling dengan perahu listrik tersebut.


Galen tak melepaskan tautan jemarinya dengan Aline sesadari tadi. Mereka asik melihat dan mendengar penjelasan dari sang pemandu Wisata.


Hal yang tak pernah Galen lakukan sebelumnya. Meskipun pernah berkunjung ke tempat ini. Ia hanya menikmatinya dengan sendiri. Berbeda dengan malam ini, kegiatan baru yang akan ia lewati dengan Aline telah menumbuhkan semangat untuknya. Ingatan nya boleh di katakan hilang tapi untuk perasaan ia bisa merasakan ada sebuah perasaan nyaman dan tenang saat berada dengan Aline. Ia yakin akan hal itu.


Aline sesekali menoleh ke arah Galen setelah pandangannya berkeliling menikmati pemandangan di hadapannya. Setiap netra mereka bertemu, hanya senyuman mereka lakukan. Keduanya kembali fokus pada penjelasan pemandu. Galen pun sesekali mengelus pelan jemari yang ia genggam dengan jemari tangan yang satunya.


*


*


*

__ADS_1


"Terima kasih untuk malam ini," ucap Aline yang menoleh ke arah Galen saat mereka berjalan santai setelah turun dari perahu listrik itu.


"Sama-sama, ingat Aku pernah berucap akan membuat kenangan indah di ingatanku yang baru ini. Agar saat ingatan lamaku kembali. Kenangan indah itu akan menjadi kebahagiaan untuk kita." Galen mengusap pelan pipi putih Aline.


Aline lantas menghentikan langkahnya. Ia begitu terkesima mendengar setiap ucapan manis yang terus di ungkapkan oleh Galen kepadanya.


"Kenapa?" tanya Galen saat tiba-tiba Aline memandang memandanginya.


Aline malah mengelengkan kepala sambil tersenyum manis kepada Galen.


"Satu lagi!"


Aline mengerutkan alis. "Apa?"


"Jangan pernah tersenyum seperti ini di hadapan pria lain." Galen menunjuk lekungan kecil yang ada di pipi Aline. "Karena senyum ini cuma untuk Aku! tidak boleh ada yang mendapatkan senyum semanis ini selain Aku!" refleks Aline memukul baju Galen pelan. Seakan jengkel dengan gombalan yang terus Galen ungkapkan kepadanya. Padahal sebenarnya Aline sangat menyukai itu.



"Ish, kamu ini! kalau aku tidak senyum nanti di kira Aku judes!" ungkap Aline.


"Gak pa-pa, biar mereka tidak ada yang mau mendekati kamu!"


Galen tertawa pelan melihat tingkah Aline. kemudian mengikuti langkah gadis itu. menganyunkan tangan yang saling bertaut itu. Sepanjang perjalanannya Galen terus membujuk Aline dan banyak bicara dengan gadis itu.


Dalam hati Aline, ia sangat bersyukur. Meskipun Galen belum mengingatnya secara menyeluruh, tapi sikapnya perlahan menunjukan sikap Galen yang banyak bicara seperti dulu saat bersamanya.


Oma Ratih, Kartika, Sandra serta Tuan Wijaya sudah menunggu mereka di restoran yang sudah Oma Ratih kabarkan sebelumnya.


Tak perlu waktu lama bagi Aline dan Galen untuk tiba di restoran tersebut. Sesampainya di sana, mereka berdua langsung disambut oleh beberapa hidangan yang menggugah selera.


Oma Ratih sengaja memesan makanan kesukaan Galen. Membuat pria yang baru saja sampai dari wisata malamnya itu langsung mendudukan diri di kursi yang sudah tersedia untuknya setelah melihat hidangan di atas meja. Sebelum duduk ia memberikan kecupan singkat pada wanita tua yang berada di samping tempat duduknya.


"Wah, ini pasti Oma yang sudah memesankannya." Galen tidak sabar ingin segera mencicipi makanan yang terhidang di hadapannya.


"Kak Aline apa tadi selama jalan bersama Kak Galen, kalian tidak mampir ke tempat makan?" tanah Kartika yang penasaran karena melihat Galen seperti orang lapar saat melihat makanan.

__ADS_1


Aline sedikit berpikir sebelum menjawab. "Kayaknya sih enggak, tadi hanya beli sedikit camilan dan minuman aja sih pas duduk di Merlion Park!" Aline sedikit ragu menjawabnya.


"Dih, jalan sama penerus Aksara grup sama sekali gak di ajak makan. Apa kamu sudah misquen, Kak?" ledek Kartika seraya melirik ke arah Galen.


Galen hanya menoleh sesaat memandang Kartika lalu mengacuhkannya dengan menyendok makanan kesukaannya.


"Terserah, kamu mau bilang apa, dek! kalian ini apa tidak lapar membiarkan makanan seenak ini di diamkam dari tadi!" Galen langsung memasukan suapan pertamanya.


"Dih, Kakak ini. gak sopan deh, kita kan nunggu au, malah duluan menikmari makannanya."


Semua orang yang berada satu meja itu saling melemparkan tawa melihat tingkah kakak adik itu. Meskipun jarang bertemu tapi interaksi Galen dan Kartika selalu hangat karena sikap Galen yang begitu menyanyangi gadis itu walaupun mereka bukan dari lahir dari rahim yang sama.


"Sudah kita makan dulu, lalu segera beristirahat besok kita akan kembali ke tanah air. Sandra nanti kamu akan di antar sampai ke rumahmu." Oma Ratih mengalihkan tatapannya pada gadis yang duduk di samping Kartika.


"Iya, Oma. Sebelumnya Sandra berterima kasih pada ... Galen, karena sudah membantu membebaskan tuntutan terhadapku dan Oma yang baik hati mengijinkanku menemani dan ikut bersama kalian!" ucap Sandra sendu dan terharu saat kembali teringat akan kejadian yang menimpanya.


"Sama-sama, tak perlu kamu pikirkan itu, kita sesama saudara apalagi dari negara yang sama memang harus saling menolong. Sudahlah! ayo kita makan dulu." Oma Ratih kembali mengajak mereka menikmati makanan yang sudah di pesan olehnya.


Mereka pun menikmati makan malam itu dengan tenang. Galen yang masih saja bersikap romantis dengan menawarkan kepada Aline beberapa makanan kesukaannya tak luput dari pandangan Sandra. kebahagiaan yang di rasa Galen dan Aline begitu terlihat membuat Sandra yang melihatnya ikut tersenyum di buatnya.


.


.


.


.


bersambung>>>>


.


.


Tinggalkan jejak kalian jangan lupa..

__ADS_1


like komen vote.... vote... hari senin loh, sayang kalau vote kalian hangus.


Mending kasih ke Author ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ ngarep.


__ADS_2